Islam Indonesia

Prof Oman: Moderasi Beragama Harus Jadi Perspektif Bersama Umat

ICC Jakarta – Staf Ahli Menteri Agama Oman Fathurahman mengatakan bahwa moderasi beragama harus menjadi cara pandang (perspektif) bersama seluruh komponen umat beragama, termasuk mahasiswa Budhdhis.

“Perspektif ini penting agar tercipta suasana rukun dan damai dalam kehidupan kampus khususnya, dan dalam kehidupan ber masyarakat pada umumnya,” terang Oman dalam “Pembinaan Mahasiswa Buddhis Tingkat Nasional Tahun 2019” di Yogyakarta, Sabtu (17/05). Kegiatan ini ydiselenggarakan Direktorat Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Direktorat Jenderal Bimas Buddha.

Dalam kesempatan itu, Oman menyampaikan materi tentang “Artikulasi Moderasi Beragama dalam Kehidupan Kampus”. Mengawali paparan, dia mengisahkan pengalaman pribadi ketika pada 2016 merasakan ‘pencerahan’ spiritual setelah berinteraksi dengan keluarga Ijiri di Kyoto, Jepang. Keluarga ini sangat terinspirasi oleh spiritualitas Borobudur, sehingga mendirikan museum Enzan Memorial Arts Museum di daerah Himeji.

Menurut Oman,  untuk memahami moderasi beragama dengan baik, seseorang harus betul-betul memahami esensi setiap agama, yakni menjaga harkat dan derajat manusia, atau dengan kata lain untuk: memanusiakan manusia. Sikap dan tindakan ekstrem apapun yang berakibat pada penghancuran kehormatan sesama manusia pada dasarnya bertentangan dengan esensi agama, meski tindakan itu mengatasnamakan agama. 

“Karenanya, mahasiswa Buddhis harus cerdas dan memahami dengan paripurna pokok ajaran agama dengan berbagai tafsir pemahamannya sekaligus. Pengetahuan atas esensi agama yang hakiki adalah benteng paling efektif dalam menangkal hoaks, atau eksploitasi agama untuk kepentingan yang destruktif,” pesan Oman. 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kata Oman, sering mendefinisikan moderasi beragama sebagai: “Sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, berimbang,  dan tidak ekstrem dalam praktik beragama”. Karenanya, setiap individu pemeluk agama, apapun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan pemahaman keagamaan di antara mereka.

Oman menegaskan bahwa moderasi beragama itu penting karena tiga alasan. Pertama, esensi agama adalah untuk menjaga martabat manusia. “Sayangnya, akibat berbagai kepentingan, agama sering dieksploitasi sehingga merusak martabat manusia sebagai makhluk mulia. Karenanya, moderasi beragama bertujuan untuk mengembalikan esensi agama tersebut,” tuturnya. 

Alasan kedua, agama telah melalui sejarah panjang peradaban umat manusia, mengalami penafsiran berkali-kali, sehingga teksnya dipahami secara multitafsir. Perbedaan tafsir antarpemeluk agama itu sering menimbulkan sikap ekstrem dan fanatik berlebihan atas kebenaran tafsir agamanya. “Moderasi beragama bertujuan menetralisir sikap fanatik yang berlebihan tersebut,” jelasnya. 

“Ketiga,  moderasi beragama adalah strategi untuk merawat ke-Indonesiaan yang sangat heterogen, plural, dan multikultural,” sambungnya. 

Oman mengajak mahasiswa Buddhis untuk memahami bahwa musuh bersama saat ini adalah ekstremisme akut (fanatic extremism), hasrat saling memusnahkan (destruction), perang (war), intoleransi (intolerance), serta rasa benci (hateful attitudes) di antara sesama umat manusia, yang semuanya mengatasnamakan agama. Cara melawan musuh bersama itu adalah dengan terus menginternalisasi cara pandang moderasi beragama, menghindarkan diri dari ekstremitas.

“Dalam kehidupan kampus, baik belajar maupun riset, mahasiswa harus mengelaborasi dua prinsip moderasi beragama, yakni adil dan seimbang. Kedua prinsip dasar moderasi beragama ini tidak mungkin diperoleh jika seseorang tidak memiliki pengetahuan keagamaan yang paripurna, yang ditambah dengan kebijaksanaan (wisdom),” paparnya. 

Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Supriadi, menjelaskan bahwa selama kegiatan yang berlangsung pada 17-19 Mei 2019 ini, mahasiswa yang berasal dari seluruh Indonesia diajarkan yel-yel “Salam DuaBe”, yang dijawab dengan “Beragama Ber-Indonesia”.

Menurut Supriadi, setelah sesi ceramah, seluruh peserta diajak melakukan praktik beragama dan berindonesia, dengan cara ikut serta dalam prosesi waisak dengan pradaksina, yakni berjalan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, disertai praktik cinta lingkungan melalui berbaris di paling belakang sambil mengambil sampah sisa-sisa botol minum dan makanan yang berserakan di jalan. Di akhir acara, sampai di Candi Borobudur, peserta akan mengikuti seremoni Waisak yang dihadiri Menteri Agama Lukman. Acara ditutup dengan meditasi detik Waisak tepat pukul 04.11.00 tanggal 19 Mei 2019. [Kemenag]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *