Info ICC

Tanggung Jawab Keluarga Menurut Pandangan Imam Ja’far Shadiq as

ICC Jakarta –  Acara Halal bi Halal dan Peringatan Syahadah Imam Shodiq as di ICC Jakarta bersama Ustaz Muhammad Bin Alwi BSA di ICC Jakarta mengangkat tema tanggung jawab keluarga menurut Imam Ja’far Shadiq as. berikut ulasan sebagian isi dari ceramah beliau.

Tujuan Utama Ibadah adalah Mendapat Ampunan

Tujuan paling penting dalam kegiatan ibadah dan taqarub kepada Allah SWT adalah demi mendapatkan ampunan Allah SWT. Hal ini sebagaimana diajarkan dalam doa-doa dari Imam Ahlul Bayt as.

Halal bihalal adalah memaafkan dan meminta maaf kepada selain kita. Imam Husain as dalam memberikan sesuatu memiliki penjelasan yang sangat cantik, beliau berkata, Allah telah membiasakan untuk memberikan kepadaku pemberiannya, aku pun ingin membiasakan memberikan kepada hamba-hamba-Nya, aku takut kalau aku mengurangi pemberian kepada hamba-Nya, Allah akan mengurangi pemberiannya kepadaku. Begitu juga dalam meminta maaf, belajar dari penjelasan Imam Husain as ini harapan terbesar kita adalah kita bisa meminta maaf kepada Allah, berharap mendapatkan ampunanNya, karena itu maka kita harus membiasakan diri memberikan maaf kepada hamba-hamba-Nya sehingga Allah tidak mengurangi ampunanNya kepada kita. Siapa yang selalu memberikan maaf kepada hamba-Nya maka dia akan selalu mendapatkan ampunan dari-Nya.

Disebutkan bahwa barangsiapa hari jumat sukses, yakni pada hari itu dia bisa menjalankan semua kewajiban dengan baik dan juga meninggalkan semua larangannya, Allah akan menjaga dia hingga jumat yang akan datang. Begitu juga orang yang hajinya mabrur, maka Allah akan menjaga sepanjang hidupnya. Semoga ibadah dibulan ramadhan yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT. Dan kita dalam penjagaan hingga kita bertemu kembali dengan ramadan berikutnya, atau kalau kita meninggal maka kita meninggal dalam ampunan dariNya.

Berkaitan dengan syahadah Imam Shodiq as, kita ucapkan bela sungkawa kita kepada bunda kita, sayidah Fatimah zahra, kita juga ucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya kepada Rasullallah Saw berikut para Imam Maksum as, khususnya kita ucapkan belasungkawa ini kepada Baqiyatullah afs. Ucapan duka atas syahadah Imam Ja’far As Shadiq as.

Madzhab ahlul bait lebih dikenal dengan madzhab ja’fari, ini adalah sanad yang dihubungkan kepada Imam Ja’far As Shadiq as. Sebuah nikmat besar ketika kita mendapat kesempatan mengenali madzhab ini. Mengenali para manusia suci. Ini adalah keberkahan karena kita mendapat kesempatan untuk datang kepada Allah melalui orang yang dipilihnya, yakni para Imam maksum, melalui insan paling mulia yakni Rasulallah Saw untuk kemudian bertemu menghadap kepada-Nya. Kita datang melalui pintu yang diridhai-Nya. Fa’tul buyuta min abwabiha.

Imam Shodiq as hidup dengan kakeknya bernama Imam Zainal Abidin as Sajjad selama 12 Tahun, dan bersama ayahnya yang bernama Imam Muhammad Baqir selama 31 Tahun. Beliau syahid  karena diracun pada tanggal 25 Syawal 148 H ketika berumur 65 tahun.

Akhlak dalam Keluarga dan Kehidupan Imam Shodiq as

Berbicara masalah Akhlak, akhlak itu tumbuh dirumah-rumah manusia suci ini, mereka tumbuh bersama orang-orang yang memiliki akhlak mulia. Imam Malik bin Annas salah satu pimpinan madzhab maliki berkata bahwa setiap kali dia datang ke tempat Ja’far Ibnu Muhammad as maka pasti akan aku dapati dia pada salah satu dari tiga keadaan, kalau tidak sedang shalat, maka dia sedang puasa atau beliau sedang membaca Quran. Imma mushallian au shaiman, au yaqraul Quran, Imam Malik juga berkata bahwa beliau tidak pernah menyebut nama atau hadis Rasulallah Saw kecuali beliau dalam keadaan suci. Imam Ja’far sangat menghormati Nabi Muhammad Saw.

Imam Ja’far Shodiq tidak memberi sesuatu kecuali yang terbaik. Ketika beliau mengadakan jamuan makan, beliau juga ikut menjamu tamu, ketika menemui tamunya satu persatu beliau berkata, yang paling aku cintai dari kalian (tamuku) adalah yang lebih banyak makan dirumahku. Assadukum hubban indana aksarukum aklan Indana. Dengan roman wajah tulus ikhlas dan bahagia, memberikan makanan terbaik yang dimiliki untuk tamu yang datang kerumah-Nya. Demikianlah keadaan yang selalu dilihat oleh keluarga beliau, dilihat langsung oleh budak-budak beliau, menjadi sumber pelajaran bagi mereka sebelum akhirnya dimerdekakan. Pendidikan dalam keseharian manusia mulia yang penuh akhlak dan juga keilmuan.

Seorang Ateis datang kepada orang yang mengaku murid Imam Ja’far Shodiq, dia bertanya dengan ucapan yang kasar, menjawab pertanyaan kasar itu, sang murid juga menyampaikan dengan kasar, sang ateis berkata, aku pernah berkata kepada gurumu dengan perkataan yang jauh lebih kasar dari ini tapi tidak aku dapatkan jawaban kecuali dengan jawaban yang sangat indah dan santun.

Pada saat beliau membuka kelas, dimana orang-orang datang dari berbagai penjuru dunia, ketika mereka bertanya dengan bahasa tidak sopan, tidak pernah beliau menjawab dengan acuh, beliau selalu menjawab penuh kelembutan kepada semua orang yang bertanya kepada beliau. Beliau mencontoh akhlak Nabi dan mempraktikkan dalam kehidupan beliau sehari-hari.

Belajar dari Imam Ja’far ini, alangkah tepat jika kita menyampaikan kebenaran ahlul bayt bukan hanya dengan dalil yang kuat, tapi juga kita sampaikan dengan cara penuh akhlak mulia. Dengan penyampaian yang lebih baik maka akan lebih mudah diterima oleh khalayak. Inilah mengapa disampaikan jadilah hiasan bagi kami jangan menjadi penoda kami kullu lana zainan wal kullu lana syainan.

Keilmuan beliau tidak ada keraguan, akhlak beliau juga tidak diragukan, kesabaran beliau juga kesabaran terbaik. Ketika rumah beliau kebakaran beliau bersama-sama yang lain memadamkan api sekuat tenaga, ketika api sudah reda beliau duduk dan menangis, ketika ada yang bertanya mengapa beliau menangis, beliau menjawab bahwa, aku ingat dengan tawanan-tawanan karbala, ketika kemah mereka dibakar, tidak ada laki-laki yang menemani mereka kecuali seorang pemuda yang sedang sakit parah. Sekarang pada saat aku ada saja semua kepayahan untuk memadamkan api, bagaimana dengan mereka, yang kemahnya dibakar dan diancam oleh tentara-tentara bengis yang telah membantai keluarga Nabi Saw.

Imam Shodiq mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat duka karbala, ketika kita mendapati musibah. Dengan itu kita akan ingat dengan manusia-manusia mulia, kita akan mampu tabah menghadapi cobaan yang dihadapi mereka. [1] 



[1] Disarikan dari ceramah Ust Muhammad Bin Alwi BSA dalam peringatan syahadah Imam Shodiq as

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *