Ahlulbait Info ICC

Imam Ridha as dan Mutiara Ilmu

Imam Ali bin Musa al-Ridha as, imam kedelapan mazhab Syiah dan cicit Rasulullah Saw, dilahirkan ke dunia pada tanggal 11 Dzulkaidah tahun 148 Hijriyah di kota Madinah. Makam Imam Ridha as di kota Mashad selalu dipadati oleh para peziarah dari dalam dan luar Iran, dan jutaan orang datang ke sana untuk berziarah dan mencari keberkahan.

Seorang muallaf wanita dari Thailand, Tasnem Buai datang ke kota Mashad untuk berziarah ke Makam Imam Ridha as. Ia berdiri di hadapan Bab al-Ridha sambil menatap makam dan perlahan mulai meneteskan air matanya. Ia menemukan sebuah tanda di setiap sudut yang ia soroti; seakan tempat ini tidak asing lagi baginya. Mimpi yang menyapanya sekitar 5 bulan lalu kembali terngiang dalam ingatan dan ia mulai menyadari bahwa tempat ini pernah datang dalam mimpinya.

Tasnem Buai melihat Makam Imam Ridha as dalam mimpinya sekitar 5 bulan lalu. Dalam mimpi itu, Imam berkata kepadanya, “Temuilah ibumu sebelum engkau berziarah kepadaku.” Ibunya adalah seorang penganut agama Budha dan ia tidak merestui pernikahan Tasnem dengan seorang Muslim dan untuk itu, memutuskan hubungan kekeluargaan dengan anaknya.

Namun bagi Imam Ridha as, tidak ada bedanya apakah si ibu seorang Muslim atau non-Muslim. Imam pernah berkata kepada para sahabatnya, “Seorang anak wajib berbuat baik kepada ayah dan ibunya meskipun mereka musyrik.”

Ibu dari wanita muallaf itu tinggal di salah satu kota di utara Thailand yang berjarak sangat jauh dari kota Bangkok, tempat si Tasnem tinggal bersama suaminya. Meski demikian, Tasnem dan suaminya memutuskan untuk menemui ibu mereka sesuai dengan permintaan Imam Ridha as dalam mimpinya. Karamah Imam Ridha as membuat hidupnya berubah total dan ia diundang untuk berizarah ke Mashad.

Tasnem Buai telah melewati kegelapan menuju cahaya, dari kekufuran ke pangkuan tauhid, dan dari keraguan menuju keyakinan. Tasnem meneteskan air matanya karena rasa cinta dan ia memberi salam kepada Imam Ridha as sembari membaca doa ziarah.

“Salam kepadamu, duhai kekasih Allah, salam kepadamu, duhai hujjah Allah, salam kepadamu, duhai cahaya Allah dalam kegelapan bumi, salam kepadamu, duhai tiang agama. Aku bersaksi bahwa engkau telah menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kebenaran, melarang kemungkaran, dan menyembah Allah hingga keyakinan tiba padamu. Ya Allah, kepada-Mu aku menuju dari negeriku dengan menyeberangi beberapa negeri hanya mengharapkan kasih-Mu, maka janganlah Kau kecewakan daku dan janganlah Kau usir diriku tanpa memenuhi permintaanku, rahmatilah perjalananku menuju makam putra saudara Rasul-Mu, semoga shalawat-Mu tercurahkan atasnya dan keluarganya.”

Setiap imam dari Ahlul Bait Nabi as adalah sumber kesucian, ilmu pengetahuan, hikmat, dan makrifat, di mana Rasulullah Saw menyebut kebersamaan mereka dengan al-Quran sebagai sumber kebahagiaan dan keberuntungan. Keduanya adalah pusaka yang berharga dan tak terpisahkan.

Imam adalah pemberi petunjuk kepada masyarakat. Dalam hal ini, Imam Ridha as berkata, “… Imam adalah laksana matahari yang terbenam di bawah cakrawala dan jauh dari jangkauan pandangan, tetapi cahayanya menerangi setiap sudut semesta. Imam seperti purnama, cahaya terang, dan bintang-bintang yang menjadi petunjuk di kegelapan malam untuk mereka yang berjalan di kota, gurun, sungai, dan lautan yang berombak.”

Di antara putra-putra Imam Musa bin Jakfar as, Imam Ridha adalah yang paling tua, paling berilmu, memiliki akhlak yang paling mulia, yang paling zuhud, dan suci. Ia bertugas memimpin kaum Muslim setelah ayahnya. Imam Ridha menghabiskan 17 tahun dari 20 tahun periode imamah-nya di kota Madinah dan di samping Ahlul Bait. Dari Madinah, ia memimpin kaum Muslim dan memberi pencerahan kepada mereka.

Imam Ridha as mengumpulkan murid-murid ayahnya dan mengajarkan mereka berbagai disiplin ilmu. Ketika menetap di Madinah, tidak jarang para ulama bertanya pada Imam Ridha tentang persoalan yang tidak mereka ketahui jawabannya. Para ulama, politisi, dan pejabat di tanah Hijaz sangat mengagumi ilmu dan keutamaan Imam Ridha as.

Imam Ridha menjadi tempat rujukan masyarakat di semua urusan duniawi dan ukhrawi. Ketika Makmun berniat menawarkan posisi “putra mahkota” kepadanya, Imam berkata, “Aku telah menjadi putra mahkota di Madinah, jadi tidak perlu lagi menambah apapun padanya, karena di sini aku memiliki kedudukan di mana surat-suratku sampai ke timur dan barat negara Islam. Di sini tidak ada yang lebih mulia dariku dan semua yang memiliki kebutuhan, datang kepadaku dan aku pun memenuhi kebutuhan mereka semampuku.”

Imam Ridha as dikenal sebagai tokoh revolusioner dan pencetus revolusi. Ia senantiasa mengajak masyarakat pada persatuan dan menjauhi kezaliman. Imam menganggap perkembangan masyarakat dan kesempurnaan mereka terletak pada iman dan akhlak mulia. Imam Ridha as berkata, “Mereka yang tidak dapat memuaskan masyarakat dengan hartanya, maka berusahalah untuk memuaskan mereka dengan akhlak mulia.”

Gerakan revolusioner Imam Ridha as bertujuan untuk memperkuat pondasi keluarga dan memajukan masyarakat. Ia selalu berbicara tentang peran penting suami dan istri di tengah keluarga dan berkata, “Orang yang kedudukannya paling dekat di sisiku di hari kiamat adalah mereka yang berlaku mulia dengan keluarganya.” Dalam riwayat lain, Imam Ridha as berkata, “Orang-orang terbaik dalam hal iman adalah mereka yang paling baik dengan keluarganya.”

Dalam pandangan Imam, contoh dari berlaku baik kepada keluarga antara lain; bersikap mulia dengan seluruh anggota keluarga, tidak mengekang tanpa alasan, mendidik anak-anak dengan benar, menyediakan makanan yang halal, dan mewujudkan kesejahteraan sebatas kemampuan.

Banyak riwayat yang menyebutkan tentang bagaimana prilaku dan akhlak Imam Ridha as di masyarakat. Ia selalu bersikap lembut dan akrab dengan para budak dan kalangan bawah. Sama seperti para imam lain, ia menganggap dirinya sebagai hamba Allah Swt dan sangat rendah hati. Dia selalu menyibukkan dirinya dengan ibadah dan hatinya telah dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah.

Imam Ridha as menganggap ibadah yang paling utama adalah banyak berpikir dan memanfaatkan karunia akal. Karena melalui tafakkur dan tadabbur, seseorang bisa mengenal Sang Pencipta dan kemudian tunduk di hadapan-Nya. Di antara amal ibadah, Imam sangat memperhatikan masalah shalat. Ia berkata, “Shalat adalah sarana orang saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

Dalam pandangannya, rumah-rumah yang di dalamnya didirikan shalat dan dibacakan ayat-ayat al-Quran, maka rumah tersebut akan memancarkan cahaya ke langit dan menyinari penduduk langit; seperti benda-benda langit yang memancarkan cahaya kepada penduduk bumi.

Imam Ridha as menaruh perhatian khusus pada masalah diskusi dan debat dengan kelompok atheis untuk membuktikan kebenaran. Dalam debat ini, ia mengedepankan akhlak mulia dan menyajikan bukti-bukti yang kuat untuk menunjukkan kekeliruan berbagai sekte dan kelompok penentang agama Tuhan. Imam Ridha as juga mengikuti debat dengan para ulama lainnya untuk membahas masalah-masalah ideologi dan fikih.

Dalam hal ini, Syeikh Shaduq menulis, “Makmun mendudukan ulama level atas dari setiap mazhab untuk berhadap-hadapan (berdebat) dengan Imam Ridha as sehingga dengan demikian ia dapat menjatuhkan pamor Imam dengan perantara ulama tersebut. Hal ini dilakukan Makmun karena sifat hasud terhadap Imam, kedudukan ilmu dan sosial Imam di tengah masyarakat. Namun tiada satu pun dari ulama yang mampu menandingi Imam kecuali mengakui keutamaan dan argumen yang disuguhkan Imam Ridha as yang membuat mereka tertegun dan menerimanya.”

Imam Ridha as juga menaruh perhatian khusus pada shalat di awal waktu. Ia selalu menghentikan acara debat ketika tiba waktu shalat. Pada satu kesempatan, Imam Ridha as sedang berdiskusi tentang masalah tauhid dengan seorang ulama besar dan teolog, Imran As-Sabi. Ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Imran As-Sabi dan menyaksikan perubahan internal dalam diri ulama tersebut.

Namun ketika waktu shalat sudah dekat, Imam Ridha as berkata kepada Makmun, “Waktu shalat telah tiba.” Imam kemudian bangkit untuk shalat dan ingin meninggalkan acara debat, tetapi Imran As-Sabi memohon agar Imam meneruskan penjelasannya. Imam menolak ajakan itu dan berkata, “Kita shalat terlebih dahulu dan kemudian melanjutkan
debat.”

Sumber parstoday

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *