Islam Indonesia

Kyai Muwafiq Bulan Suro (Muharam), Bulan Dukanya Kanjeng Nabi

Ulama asal Lamongan, Kiai Haji Ahmad Muwafiq, menyebut Suro atau Muharram sebagai bulan dukacita bagi Nabi Muhammad dan keluarganya. Oleh sebab itu, berbagai peringatan digelar umat Islam di bulan Suro sebagai bentuk belasungkawa.

“Ini bulan dukanya Nabi,” kata Kiai yang akrab disapa Gus Muwafiq ketika menjelaskan Suro seperti ditayangkan kanal Youtube Ulama Nusantara, (7/1).

Suro, menurut Gus Muwafiq, berasal dari kata bahasa Arab: Asyuro. Jika ditelusuri akarnya, Asyuro berarti hari kesepuluh pada bulan Muharram.

Sejarah Suro

Kiai 45 tahun ini mulai menerangkan sejarah Suro sejak masa Nabi Muhammad. Islam diturunkan di kota Makkah sebelum tersebar ke Madinah setelah hijrah Nabi.

Setelah Nabi wafat, pengaruh Islam semakin meluas hingga pada masa Sayidina Ali bin Abi Thalib hijrah ke Basrah. Wilayah ini berada di selatan Irak atau berdekatan Teluk Persia.

“Sayidina Ali itu menantu Nabi,” kisah Gus Muwafiq di depan jemaah pengajian. “Dia sahabat Nabi paling pintar, pintar sekali, yang mendapatkan putri Kanjeng Nabi.”

Ketika hijrah ke Basrah, Ali membawa anak-anaknya, Hasan dan Husain untuk membantunya berdakwah di negeri rantau. Pada masa itu, Basrah dalam pengaruh Persia yang masyarakatnya masih menyembah api.

“Tapi Sayidina Ali memang orangnya pintar, halus dan sangat berani,” katanya. Sedemikian sehingga Ali menjadi idola baru di Persia.

Kemuliaan akhlak Ali, kehebatannya dalam medan perang dan kedalaman ilmunya begitu cepat dikenal di masyarakat Persia. Hingga akhirnya nama Ali sampai ke telinga Raja Persia, Rustam. “Seperti apa Ali itu? Bertarung selalu menang, ilmunya pun tinggi,” kisah pria yang pernah menjadi tangan kanan Presiden Indonesia KH. Abdurahman Wahid ini.

Walhasil, Rustam memutuskan untuk menyambangi rumah Ali. Kedatangannya tidak hanya ingin bertemu dengan sosok idola masyarakat itu tapi juga melamar Husain bin Ali.

Dalam perjalanannya sebagai besan Ali, Rustam meninggalkan keyakinan lamanya dan memeluk Islam. Berangsur-angsur, masyarakat Persia pun akhirnya memeluk Islam.

Api-api yang selama ini disembah padam. Namun tempat api bernama ‘menara‘ tetap dilestarikan. Hingga kini, menara menjadi bagian dari tempat ibadah umat Islam dan juga diserap sebagai bahasa Indonesia. Menurut Gus Muawfiq, inilah contoh bagaimana Islam berkembang tanpa harus tertutup dengan budaya lain.

Ketika Islam mulai berkembang di Persia, perselisihan politik di Madinah memanas. Puncaknya ketika Khalifah Usman bin Affan terbunuh.

Sayidina Ali pulang ke Madinah dan umat Islam membaiatnya sebagai khalifah selanjutnya. Namun gejolak politik tidak reda lantaran Bani Umayah juga menginginkan duduk di tampuk kekhalifahan.

Kekacauan politik kemudian berakibat pada wafatnya Ali. Menantu Nabi itu dibunuh ketika sedang memimpin shalat subuh di masjid.

Beberapa waktu kemudian, Hasan putra Ali juga dibunuh dengan racun di Madinah. Situasi semakin tak terkendali.

Dengan berbagai pertimbangan, Husain memilih meninggalkan Madinah dan pulang ke Irak. “Sudahlah, (biarkan) Yazid yang mengambilnya, aku pulang saja bersama semua kelurgaku,” demikian kira-kira pikiran Husain, kata Gus Muwafiq. Ketika itu, Yazid putra Muawiyah telah duduk di tampuk kekuasaan Khalifah Bani Umayah.

Husain pun meninggalkan Madinah bersama keluarga dan para sahabatnya. Karena kepergiannya bukan untuk perang, mereka tidak membawa perlengkapan militer.

“Namun Yazid tidak bisa menahan emosinya,” kata pria yang kini memimpin pesantren di Yogyakarta ini. Khalifah Bani Umayah itu kemudian mengirim pasukan militer dan menghadang perjalanan rombongan Husain di padang pasir Irak bernama Karbala.

Pada 9 Muharram, pasukan Yazid melakukan pembantaian terhadap cucu-cucu Nabi. Keesokan harinya, 10 Muharram, semua keluarga Nabi di Karbala terbantai dan hanya menyisahkan Sayid Ali Zainal Abidin.

Tidak sampai disitu, jenazah cucu Nabi yang bergelimpangan di padang pasir itu diinjak-injak oleh kuda pasukan Yazid. “Saat itulah dunia berduka, semua orang berduka, ko ada orang yang tega kepada cucu kanjeng Nabi,” kata Gus Muwafiq.

Umat Islam akhrinya memperingati 10 Muharram atau Asyuro sebagai bulan duka. Masyarakat Jawa menghormati bulan ini dengan menahan diri untuk menggelar acara yang mengandung kegembiraan seperti pesta pernikahan dan syukuran pindah rumah.

Di sisi lain, beragam bentuk peringatan dilakukan masyarakat Nusantara pada bulan ini, seperti menggelar Tabuik di Sumatera hingga pembuatan bubur merah dan putih atau biasa disebut bubur Suro di Jawa. “Merah artinya darah dan putih berarti tulang,” katanya.

Tidak hanya di Indonesia, umat Islam di berbagai belahan dunia lain juga memperingati hal serupa. Di Iran, kata Gus Muwafiq memberikan contoh, hingga kini masih memperingati Asyuro. Apalagi, Negeri Persia itu memiliki hubungan historis dengan Sayidina Ali dan keluarganya.

Gus Muwafiq mengatakan, berbagai peringatan Suro bukanlah bentuk syirik sebagaimana tudingan sebagian orang. Ini hanyalah bentuk penghormatan masyarakat kepada sosok yang mereka sangat cintai: Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Hal ini tidak jauh berbeda jika suatu keluarga menghindari waktu tertentu untuk dijadikan hari pesta pernikahan. Alasannya, misalnya, pada tanggal atau hari itu merupakan hari wafatnya bapak atau ibu mereka.

“Jadi kalau ada orang bilang bulan Suro itu tidak Islam, saya bingung,” katanya. Justru peringatan-peringatan duka di bulan Suro merupakan bentuk kecintaan umat Islam pada kekasih Allah itu.

“Ini caranya orang Jawa mengingat peristiwa tragis (yang dialami) cucu Kanjeng Nabi,” ujar Gus Muwafiq. “Sampai segitu mahabbahnya orang Jawa terhadap Nabi.”

YS/islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *