Kegiatan ICC Jakarta

Peringatan Malam ke-7 Muharram bersama Ust Hafidh AlKaf, MA

ICC Jakarta -Mengenang kesyahidan anak kecil yang masih beliau sayid Ali Asghar membuat air mata berlinang, membayangkan kesedihan sayidu suhada membobong bayi yang sudah tidak bernyawa, akan menyayat hati para pecintanya.

ICC Jakarta dipandu moderator Mujib Munawan dan pembacaan Quran oleh ust Usep Irawan, menghantarkan pada acara puncak ceramah hikmah Asyuro yang disampaikan oleh Ust. Hafidh Alkaf. (26 Agustus 2020)

Berikut petikan ceramah hikmah Asyuro malam ke-7

Kita patut bersyukur kepada Allah swt karena diberi kesempatan untuk mengadakan malam-malam duka.

Beberapa waktu ini, menjelang bulan Muharram, banyak sekali serangan kepada para pengikut Ahlulbait di Indonesia. Mereka mendatangi pemerintah agar menggagalkan peringatan duka Imam Husain.

Mengapa mereka begitu gerah ketika digelar majlis duka terhadap Imam Husain?  Mereka menuduhkan bahwa Syiahlah yang membunuh Imam Husain. Kita perlu tahu bagaimana jawaban tuduhan itu. Lalu setelah tahu, apa yang akan kita lakukan?

Apakah ada yang bertentangan dengan syariat Islam ketika digelar majlis aza ini? Apakah ada hal-hal yang menjurus kesyirikan?

Di tengah perang tak seimbang Imam Husain melawan kubu Yazid, ketika 73 orang melawan 30.000.

Seseorang datang kepada Imam Husain memberitahu waktu zuhur. Lalu Imam Husain mendirikan salat zuhur di awal waktu. Apa yang ingin disampaikan Imam Husain? Segala kebaikan.

Contoh, malam ini adalah malam ketujuh. Malam Ali Al-Asghar.

Ketika Imam Husain bertemu pasukan musuh yang kehausan, Imam membagi minum kepada mereka. Namun ingatkah bahwa Imam Husain diblokade dari akses air, dibiarkan kehausan.

Apakah penyelenggaraan majlis ini mengganggu, membuat macet jalan?

Mereka mengatakan majlis ini bidah karena tidak pernah diselenggarakan Rasulullah.

Kita akan bertanya, jika ada Nabi, apakah kira-kira beliau akan membubarkan majlis ini atau beliau akan menyelenggarakan majlis semacam ini.

Mereka mengatakan bahwa di dalam majlis ini, ada yang dilakukan sesuatu yang bertentangan dengan keumuman.

Kita sampaikan apakah ada dalil Qath’i yang melarang menangisi orang mati? Nabi Ayub menangis ketika kehilangan Yusuf bahkan sampai memutih dan buta.

Rasulullah menangis ketika anaknya, Ibrahim meninggal.

Mereka mengatakan lagi, mengapa menangisi orang yang sudah mati 1400 tahun lalu? Kita sampikan apakah ada larangan tentang menangisi orang yang sudah lama meninggal.

Mereka mengatakan, bahwa di majlis Imam Husain ini, orang-orang memukul dada. Kita sampaikan bahwa memukul dada hanyalah ekspresi kesedihan. Diriwayatkan bahwa orang yang pertama kali memukul dada sbg ekspresi kesedihan adalah sayyidah Zaenab.

Isu yang paling santer adalah, bahwa Orang Syiah sendirilah yang membunuh Imam Husain.

Kita sampaikan, ada beberapa kelompok.

Kelompok pertama yang secara tulis beriman kepada Nabi. Contoh Abu Dzar Al Ghifari.

Kelompok kedua, yang beriman ketika Islam sudah kuat. Dan ketika Islam melemah, bisa jadi mereka akan berbalik memusuhi Islam.

Kelompok ketiga, yang tidak memusuhi Nabi, tapi tidak mau mengikuti Nabi. Beberapa orang yang tidak ada masalah / tidak memusuhi Nabi, tapi tidak mau ikut Nabi.

Namun nasib mereka berakhir dalam kekufuran.

Kelompok keempat, ketika Nabi mendeklarasikan kenabian, mereka mengibarkan bendera perlawanan.

Di zaman sekarang, juga ada keempat kelompok ini.

Kelompok pertama ini adalah kelompok Syiah sejati.

Kita lihat kondisi pada saat Imam Husain. Ada penguasa yang bernama Muawiyah yang berkuasa melalui perjanjian yang dipaksakan kepada Imam Hasan Al-Mujtaba. Kekuasaan Bani Ummayyah ini pelan-pelan membawa Islam kepada kehancuran.

Kita tidak mengada-ada soal ini. Kita akan bawakan beberapa bukti. Alquran surat Jumuah, seluruh Muslim mengatakan salat Jumat adalah wajib. Namun Muawiyah mengatakan salat Jumat kita laksanakn di hari Rabu saja.

Khutbah-khutbah baik khutbah Jumat, Ied, dsb dilakukan dengan berdiri. Namun Muawiyah khutbah dengan duduk.

Khutbah shalat Ied dilakukan setelah salat Ied, namun Muawiyah berkhutbah dulu sebelum salat Ied.

Dalam kitab Muruju’ dzahab, disebutkan bahwa Mughirah atsaqafi ayahnya Mutharrab, akrab dengan Muawiyah. Suatu kali aku bertamu dan ayahku dalam keadaan gelisah. Kutunggu sampai selesai makan malam agar lebih tenang, ternyata dia tidak makan malam.

Mutharraf memberananikan diri untuk bertanya.

Mugjirah berkata, aku baru datang dari orang yang paling kafir dan paling keji. Mutharraf tahu bahwa ayahnya baru pulang dari Muawiyah.

Mutharrah bertanya ada apakah ayah?

Aku barusan berbicara berdua.

“Engkau sudah jadi pemimpin, dan engkau sudah tua. Minimal engkau tobatlah agar paling tidak engkau berbuat kebaikan untuk rakyat, karena engkau sudah tua. Bani Hasyim masih ada hubungan kekerabatan denganmu, perlakukanlah mereka dengan baik. Kalau engkau lakukan, engkau akan dikenal sebagai orang yang baik di sejarah”.

Jawab Muawiyah, “Tidak mungkin hal itu kulakukan. Tidak ada manfaatnya agar aku dikenang. Saudaraku dari Bani Tamim (abu Bakar) sudah berlaku adil dan mendekati apa yang dilakukan di zaman Rasul. Namun mereka tidak dikenang, kecuali bahwa dulu pernah ada pemimpin yang namanya Abu Bakar.

Juga ada saudaraku dari bani Adiy, selama 10 tahun dia berkuasa. Namun dia tidak dikenang kecuali hanya pernah ada pemimpin bernama Umar.

Sementara (putra Abul Kafsah) Rasulullah, lain dengan dua orang tadi. Nama mereka dikenang di setiap azan, di setiap salat, di setiap waktu. Lalu bagaimana aku akan mengabadikan namaku, setelah ini? Demi Allah, yang harus dilakukan adalah Mengubur agar tidakk ada lagi Asdhadu anna Muhammadan Rasulullah.”

Di zaman Imam Husain, ada kelompok kedua yang tidak bermusuhan dengan Imam Husain. Di hati mereka ada Imam Husain, tetapi perbuatannya tidak bersama Imam Husain.

Penduduk Kuffah mengatakan Muawiyah salah dan yang pantas menjadi pemimpin adalah Imam Husain. Tetapi ketika mereka diancam akan dihabisi oleh 30 ribu pasukan Umar bin Saad. Bahkan mereka diiming-imingi untuk ikut bergabung memerangi Imam Husain dengan imbalan 30 ribu dinnar (setara puluhan Milyar di zaman sekarang).

Kelompok ketiga, merasa netral. Tidak masalah siapapun pemimpinnya. Tidak berbeda yang memimpin adalah sebusuk Yazid atau semulia Imam Husain.

Kelompok keempat adalab pasukan Yazid. Jelas-jelas melawan Imam Husain. Yazid memiliki agenda akan menghapuskan Islam ketika ia berkuasa.

Jika Imam Husain tidak keluar untuk melawan, maka Imam Husain berkata, wa alal Islami salam. Islam akan hilang.

Ketika kita tahu keadaan masyarakat di zaman Imam Husain seperti ini, masihkah kita akan mengatakan bahwa yang membunuh Imam Husain adalah Syiahnya?


Silakan melihat langsung di Chanel Youtube ICC Jakarta TV atau  Group FB ICC Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *