Info ICC

Peringatan Malam ke-8 Muharram bersama Ust. Dr. Muhsin Labib

ICC Jakarta – dipandu moderator Ust Ali Alatas dan pembacaan Quran oleh Ust. Usep Irawan, menghantarkan pada acara puncak ceramah hikmah Asyuro yang disampaikan oleh Ust. Dr. Muhsin Labib. (27 Agustus 2020). Sebelum Ceramah penghormatan kepada ulama besar Ali Tasykhiri, dipandu Ust hafidh Alkaf , jamaah mebacakan doa dan tahlil untuk almarhum. Dr. Hakimelahi sebagai Direktur ICC Jakarta pun memberikan sambutan menjelaskan peran dan betapa banyak yang kehilangan atas wafatnya tokoh ulama ini.

Berikut petikan ceramah hikmah Asyuro malam ke-8

Sambutan:

Dalam sebuah riwayat, jika ada seorang alim wafat, maka akan ada lubang dilangit yang tidak bisa ditambal oleh apapun.

Riwayat yang cukup mengagumkan, karena seorang alim adalah pelita bagi masyarakat yang karena kepergiannya akan menjafikan kekosongan.

Almarhum Syekh Ali Taskhiri adalah salah satunya. Kepergiaannya adalah sebuah kekosongan yang tak seorangpun dapat mengisi posisinya.

Ayatullah Ali Taskhiri menghabiskan waktu belajarnya di Najaf, dan salah satunya belajar dari Ulama besar Ayatullah BagirSadr yang banyak memperngaruhi pemikirannya. Beliau aktif dalam politik sehingga sempat ditangkap dan sempat divonis mati, namun bisa keluar dan kembali ke Iran.

Ketika revolusi Iran, Ali Taskhiri memiliki satu peran yang membangun asas-asas pusat kebudayaan di seluruh dunia. Salah satunya juga adalah menciptakan persatuan di tengah-tengah umat Islam, yang karenanya beliau menginisiasi pendekatan antar mazhab. Beliau berhasil mengumpulkan ulama-ulama dari seluruh dunia untuk menghindarkan perpecahan di antara umat Islam. Hal ini dilakukan sampai akhir-akhir hidupnya. Meski beliau tengah menderita penyakit kronis, beliau tetap bepergian dalam rangka mempersatukan ummat. Banyak ulama dari seluruh dunia mengirimkan surat sebagai tanda duka atas meninggalnya Ulamma ini.

Lebih dari 25 tahun saya kenal beliau, beliau terkenal pekerja keras siang dan malam-malam. Salah satu bahan pemikiran beliau adalah bahwa setiap buku yang hendak terbit di tengah-tengah masyarakat harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Termasuk buku-buku tafsir harus dapat menjawab permasalahan-permasalahan masyarakat. Kemudian beliau mendorong salah seorang untuk menulis tafsir dengan bahasa yang dapat dengan mudah dipahami masyarakat. Termasuk tulisan-tulisan beliau yang sangat sesuai dengan tuntutan zaman dan disebarkan ke seluruh dunia.

Beliau beberapa kali terkena stroke, namun tidak menyurutkannya untuk datang ke seminar2 termasuk 2 tahun lalu beliau datang ke Indonesia, untuk datang ke Konferensi persatuan Umat Islam di negara Indonesia.

Sekali saya sampaikan salam takziyah dan bela sungkawa kepada seluruh masyarakat Indonesia, termasuk beberapa tokoh yang mungkin memiliki hubungan baik dengan Ayatullab Ali Taskhiribaik di ormas Muhammadiyah, NU, MUI, dan ormas lain. Semoga beliau diterima bersama para syuhada disisi Allah swt.

Saya mengajak agar melalui majlis ini, kita semakin teguh dan mantap dengan jalan yang kita sudah tempuh. Di tengah situasi seperti ini, banyak sekali kecemasan baik kesehatan, ekonomi, dan situasi yang genting seperti ini kita akan memekikkan teriakan haihat minadhillah, hal minnashitin yanshuruni, llabbaika ya Husain, semoga kita memiliki imunitas yang berlipat dari dalam diri kita melalui kesadaran intelektual, spiritual, teologis, dan ideologis. Yang karena itu, kita mengabaikan resiko-resiko sosial, konsekuensi-konsekuensi yang berat demi mengikrarkan dan mengekspresikan kecintaan kita terutama di malam-malam Asyura.

Mengapa peristiwa ini begitu kolosal? Karena ia bukan hanya peristiwa genosida, bukan hanya sebuah kejahatan thd keluarga/ kelompok, namun hadil dari sebuah konspirasi dan persekongkolan yang dahsyat. Bukan karena saat itu terjadi, namun saat ini pun, sekelomppk orang akan menghalangi acara yang tidak hanya maksiat, tapi sekelompok orang yang duduk untuk memperingati sebuahperistiwa epik sejarah.

Karenanya jika kita hanya melihat peristiwa ini sebgai kejahatan semata, mungkin kita hanya akan berempati, sedih dan akan terlewat begitu saja. sekedar reaksi psikologis, dan tidak menjafikan kita merasa perlu menjadi bagian dari revolusi besar Imam Husain.

Tapi lebih dari itu, ada sesuatuyang lebih besar dari itu sehingga kita merasa perlu menggali lebih dalam pelajaran dalam peristiwa itu. Apa motivasi utama di balik itu? Apa yang melatarbelakangi Imam Husain berkelana menuju derita, yang tempatnya disebut duka derita.

Ketika kuda Imam berhenti di suatu tempat. Imam bertanya nama tempat ini, ghuraba’, tepi Furat, Nainawa, atau Karbun wa bala. Imam berkata, disinilah kita akan membuktikan bahwa Muhammad tidak membutuhkan kekuasaan.

Semua adalah simbol Kepatuhan. Sehingga orang tidak hanya mengenang Imam Husain hanya sebagai sosok anak kecil yang naik di punggung Rasulullah, hingga mencemooh orang yang menangis karena mengenang tragedi agung ini di saat orang pada umumnya menghabiskan waktu, uang, tenaga hanya untuk hiburan yang tidak jelas, tetapi mempermasalahkan orang yang bertepuk dada karena mengekspresikan cinta.

Ketika kita menghormati orang karena seberapa besar pemberian orang, itu namanya penjilat. Tapi melalui pengorbanan agung Imam Husain inilah kita meneriakkan Labbaika ya Husain.

Ada penegasan bahwa Imam Husain hadir sebagai pencegah kehancuran agama Islam.

Apa agama itu? Sesuatu yang tidak bisa anda temukan karena abstrak. Padahal Liyudhirahu aladdini kullih… Konsep yang seharusnya berkorespondensi dengan fakta.

lebih lengkap silakan melihat langsung di Chanel Youtube ICC Jakarta TV atau  Group FB ICC Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *