Info ICC

Peringatan Puncak Hari Asyuro bersama Habib Ust Musa Kadzim, M.Si

ICC Jakarta – Hari Asyuro bersamaan dengan hari minggu 30 Agustus 2020, Bertindak sebagai pembawa acara, Bapak Mujib Munawan, dan sebagai pemberi ceramah hikmah Asyuro Habib Ust Musa Kadzim, M.Si.

Berikut cuplikan ceramah hikmah Asyuro oleh Ust. Musa Kadzim, M.Si.

Yang terjadi pada 61 Hijriyah di Padang di padang Karbala yang dikenal dalam sejarah umat dengan berbagai nama-nama termasuk di injil dan Taurat dengan nama Nainawa yang terjadi 1300 tahun silam itu adalah sebuah peristiwa yang memiliki sifat Abadi karena nilai-nilai yang diusung oleh para aktor dalam kejadian itu adalah nilai-nilai Abadi. Sehingga peristiwa ini lebih daripada sekedar apa yang dicatat oleh pena para ahli sejarah. Tapi peristiwa ini adalah sebuah Gejolak peristiwa ini adalah detak dalam jantung setiap insan yang hidup karena di dalam peristiwa ini setiap insan yang hidup berpikir dan berperasaan pasti dapat mengambil inspirasi dan mengambil pelajaran bagi dirinya keluarganya sahabatnya masyarakatnya, di manapun dia berada, dan dalam keadaan apapun iya, itulah mengapa salah satu syiar terpenting dalam peristiwa ini yang disebut yang berbunyi Kullu syhahrin muharram wa kullu Yaumin Asyura wa kullu ardhin Karbala tiap bulan adalah Muharram tiap hari adalah asyuro dan tiap tempat adalah Karbala.

Karena peristiwa ini menjangkau semua zaman menjangkau semua dan tempat  melintasi segala geografi peristiwa ini senantiasa membara di hati setiap orang yang memiliki perasaan. Jadi setiap orang yang memiliki perasaan pasti memiliki bara ini. Imam Husain as berangkat dari tempat tinggalnya di Madinah ke suatu tempat di mana beliau di manapun kita berada di saat seperti ini kita bertanya untuk apa sang cucu yang mulia yang telah dijamin surga dalam rangka apa untuk tujuan apa Dan tentu semua itu tidak akan pernah bisa kita pahami 100%, yang bisa kita pahami itu hanya sebagian darinya kita ambil dari peristiwa Agung.

Peristiwa-peristiwa dimana seorang hamba Allah yang suci dengan penuh kecintaan mengorbankan dirinya, untuk agamanya untuk nilai-nilai suci yang dia yakini, dimana seorang pemimpin bukan menyuruh orang lain bukan meminta orang lain untuk berkurban, tapi membawa diri keluarganya bahkan sampai bayinya dan sahabat sahabat setianya di Medan yang penuh dengan cerita yang kesusahan yang semua Antum sudah tahu bagaimana kesulitan yang beliau hadapi ketika itu dan dihadapi oleh keluarganya dan para sahabatnya, dari kehausan, ketakutan, teror menghadapi pasukan yang telah kehilangan akal sehat, kehilangan kesadaran kehilangan perikemanusiaan menghadapi semua itu dan beliau tetap tabah tidak bergeming tidak ketakutan pada hampir semua khotbah yang disampaikan oleh Al Imam Husein pada hari itu adalah istibsyar adalah berita gembira kepada keluarganya, putra-putranya ponakan ponakannya, sahabat-sahabatnya dan perempuan-perempuan yang bersamanya, berita gembira akan pertemuan dengan Allah, dalam proses beliau menuju ke Karbala yang beliau bawa adalah tholabun Islah perbaikan pada umat kakeknya.

Banyak dalil yang menunjukkan bahwa beliau sama sekali tidak mengharapkan adanya kekerasan. Tujuan beliau adalah perbaikan dengan cara tidak melibatkan kekerasan. Jelas beliau bergerak dari Madinah sama sekali tidak untuk tujuan kekerasan atau Agresi Militer lebih daripada itu lebih daripada sekedar   kalimat dan perkataan beliau menunjukkan dengan lisan dengan perbuatan beliau mengajak keluarganya mengajak anak-anaknya mengajak bayinya mengajak perempuan perempuan untuk ikut serta dalam Islam memang sama sekali tidak memiliki tujuan ingin menunjukkan kepada semua bahwa melakukan perbaikan dalam umat bisa dilakukan dengan cara yang terhormat yang tegar yang gagah berani tapi sama sekali tidak terpikir didalamnya aksi-aksi kekerasan inilah inilah keluarga al-husein. Inilah sahabat-sahabat sama seperti kakeknya sama seperti ayahnya sama seperti nabi-nabi sebelumnya melangkah memperbaiki umat dengan cara-cara yang sesuai zaman itu. Bisa juga kita anggap bahwa keluarnya Imam Husein dari Madinah kemudian beliau tinggal di Mekah dan sampai akhirnya berhenti di Karbala pada bulan Muharram. Menunjukkan bahwa Beliau juga tidak mengharap adanya peperangan karena sebagaimana yang kita ketahui dalam tradisi Arab maupun dalam zona muslimin adalah bulan yang diharamkan peperangan di dalam yang termasuk dalam al-quran surat at-taubah kalau kita melihat Allah menyatakan perangi kaum musyrikin setelah bulan-bulan haram, tetap hali itu tidak mengharapkan adanya suatu pertumpahan darah di sana. Penting untuk kita ingat bahwa pada hari-hari ini imam Husein melakukan semua itu tidak untuk tujuan kekuasaan. Jika ada yang mengatakan itu pada 61 Hijriyah jelas hal itu pasti diproduksi oleh musuh-musuh.

Bagaimana mungkin hal itu terjadi sementara rombongan itu hanya terdiri dari 72 orang bahkan dalam riwayat Imam Muhammad Al Baqir yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai bilang yang terbanyak ketika itu ada 140 orang 140 orang melawan pasukan militer yang terdiri dari ribuan orang sebuah rezim Bani Umayyah yang dalam catatan sejarah adalah rezim yang berdiri di atas sendi-sendi militer daulah Bani Umayyah membangun negaranya pemerintahannya dengan kekerasan. Demikian sehingga kita tahu bahwa Bani Umayyah ini termasuk mengakselerasi ekspedisi ekspedisi militer di zamannya menghadapi rombongan kecil ini 72 orang atau dalam riwayat yang paling banyak adalah 140 orang yang jelas jumlahnya sangat sedikit jika disebut mau merekbut kekuasaan.

Lebih lengkap silakan melihat langsung di Chanel Youtube ICC Jakarta TV atau  Group FB ICC Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *