Teologi

Peristiwa Mubahalah: Bukti Keagungan Ahlul Bait di sisi Allah SWT

ICC Jakarta – SAAT ini kita memperingati hari Mubahalah, hari ketika Allah Swt membuktikan keagungan Ahlulbait. Peristiwa mubahalah adalah sebuah peristiwa yang Allah Swt mengenalkan kepada kita akan kemaksuman Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kesucian Fathimah Zahra, dan kebesaran al-Hasan dan al-Husain. 

Tanggal 24 Zulhijah tahun 10 Hijriah atau menurut sebagian riwayat tahun 9 Hijriah, Rasulullah saw kedatangan sekelompok orang Nasrani dari Najran. Mereka mengajak diskusi dan berdialog tentang kebenaran agama ketika mereka tidak lagi menerima apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Beliau saw mengajak mereka untuk melakukan mubahalah, saling mendoakan yang berdusta akan dikutuk oleh Allah Swt. Pada kaitan ini Allah Swt menurunkan ayat suci-Nya yang ayat suci itu dikenal dalam istilah dengan sebutan ayat Mubahalah.

Mubahalah berarti saling melaknat. Dalam tradisi Arab, ketika dua pihak berbicara mengenai kebenaran kemudian tidak menemukan titik temu diantara keduanya, pembicaraan mereka membentur jalan yang buntu, maka untuk menyelesaikan permasalahan ini mereka akan meminta, memohon kepada Allah Swt dan berdoa kepada Allah Swt untuk menghukum siapa yang berdusta di antara keduanya. Ini merupakan salah satu tradisi yang terjadi di Arab pada saat itu, dan sesuai dengan pengalaman, orang yang berdusta akan mendapat celaka dan dihukum oleh Allah Swt.

Tahun 10 H merupakan tahun ketika bangsa Arab menyaksikan Rasulullah saw telah berhasil memenangkan banyak medan peperangan, kemenangan demi kemenangan diraih oleh Rasulullah saw dan kaum muslimin. Bahkan Kota Makkah yang merupakan pusat perlawanan terhadap Rasulullah saw berhasil ditundukkan oleh Rasulullah saw. Benteng Khaibar, yang dikenal dengan kokohnya, juga berhasil dikuasai. Demikianlah, berbagai macam keberhasilan diraih oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Melihat kenyataan seperti itu, banyak sekali delegasi dari suku-suku dan kabilah-kabilah Arab dari berbagai daerah berdatangan kepada Rasulullah saw menyatakan bergabung dengan Rasulullah saw. Termasuk di antaranya ada sekelompok orang dari Najran.

Najran adalah satu kota yang berada di barat daya yang sekarang negara Arab Saudi dan berdekatan dan berbatasan dengan Yaman. Sekelompok orang dari Najran datang ke Rasulullah saw,  termasuk di antaranya kelompok yang beragama Kristen, dan diterima oleh Rasulullah saw di kompleks Masjid Nabawi. Tentunya Rasulullah saw menerima mereka bukan di tempat beliau melaksanakan salat, tetapi di beranda atau di pekarangan masjid karena tidak diperbolehkan orang kafir masuk memasuki Masjid Nabawi, di tempat salat beliau.

Ketika mereka berada di Masjid Nabawi, tiba bagi mereka untuk melaksanakan salat dan ibadah mereka. Manakala waktu untuk beribadah tiba, mereka membunyikan lonceng yang mereka bawa. Kemudian mereka melaksanakan ibadah mereka di Masjid Nabawi. Para sahabat yang menyaksikan itu memprotes dan bertanya kepada Rasulullah saw,  “Ya Rasulullah saw, apakah mereka diperbolehkan untuk melaksanakan ritual keagamaan mereka di tempatmu, di masjidmu seperti ini?” Rasulullah saw lalu menjawab, “Biarkan mereka melaksanakan ibadah mereka.”

Setelah ibadah mereka selesai, mereka mendekati Rasulullah saw dan bertanya, “Seruan apa yang Anda bawa untuk kami?” Rasulullah saw menjawab, “Seruan untuk mengakui bahwasanya tidak ada tuhan kecuali Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah, dan bahwa Isa adalah hamba Allah.”

Kemudian Rasulullah saw mengatakan bahwa Isa, yang merupakan hamba Allah, adalah manusia biasa, dia makan-minum dan berbicara layaknya manusia. Saat itulah kemudian orang-orang Nasrani Najran bertanya kepada Rasulullah saw, “Kalau Isa dikatakan sebagai manusia biasa, katakan kepada kami siapa ayah Isa?” Saat itulah Nabi saw kemudian diperintahkan oleh Allah Swt untuk menanyakan kepada mereka perihal Nabi Adam. Nabi saw pun bertanya, “Wahai orang-orang Nashara Najran, kenalkah kalian dengan Adam? Bukankah Adam adalah manusia yang dia makan minum dan berbicara layaknya manusia.” Mereka menjawab, “Iya benar, Adam adalah manusia seperti itu.” Lalu Nabi saw bertanya lagi kepada mereka, “Jika demikian, katakan kepadaku, siapa ayahnya Adam?” Mereka tidak bisa menjawab dan bungkam seribu bahasa.

Ketika itu Allah Swt menurunkan ayat suci-Nya kepada sang Nabi saw, ayat 59 hingga 61 surah Al-Imran.

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia (kun fayakun). (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (3: 59-60)

Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya, Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Dalam pertemuan dengan orang-orang Nasrani Najran, Rasulullah saw menjelaskan maksud dari misi risalah yang beliau bawa. Nabi mengajak mereka untuk bersyahadat tidak ada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah, dan bersaksi bahwasanya Isa adalah putra Maryam, manusia biasa bukan anak Tuhan sebagaimana yang mereka katakan. Isa bukanlah satu dari tiga oknum Tuhan yang mereka yakini. Semua itu disampaikan oleh Rasulullah saw supaya mereka beriman kepada risalah kenabian Muhammad saw.

Akan tetapi, mereka enggan menerima ajakan dan seruan Nabi saw. Maka  itu turun ayat 61 surah al-Imran yaitu ayat Mubahalah. Dengan ayat itu, Rasulullah saw kemudian mengajak mereka untuk bermubahalah. Nabi  saw mengatakan kepada mereka, “Mari kita bermubahalah. Jika aku berkata jujur, laknat Allah akan jatuh kepada kalian, dan jika aku berdusta, laknat Allah akan menimpaku.” Mereka menjawab, “Engkau telah bersikap adil, wahai Muhammad.” Akhirnya disepakati esok harinya, yaitu tanggal 24 Zulhijah, kedua belah pihak—dari pihak Rasulullah saw dan pihak Nasrani Najran—akan melakukan mubahalah.

Setelah kesepakatan dicapai, kaum Nasrani Najran kembali ke tempat mereka tinggal bersama di Kota Madinah. Malam harinya orang yang paling dituakan di antara mereka angkat bicara dan mengatakan, “Jika Muhammad saw besok datang bersama dengan sahabat-sahabatnya, dengan orang-orang yang mengikutinya dan beriman kepadanya, kita akan bermubahalah dengannya. Namun jika dia datang bersama dengan Ahlulbaitnya, dengan keluarga terdekatnya, maka kita tidak akan bermubahalah dengannya. Sebab dia pasti berada dalam kebenaran, dia yakin dengan kebenaran yang dia bawa karena orang tidak akan mengorbankan keluarganya. Kalau dia datang dengan keluarga yang paling dicintai, ketahuilah bahwa dia memang sedang berbicara jujur.”

Esok paginya Rasulullah saw datang ke tempat yang disepakati. Beliau menggendong al-Husain dan menggandeng al-Hasan. Bersama dengan beliau adalah putri beliau, Fathimah az-Zahra dan saudara beliau serta menantu beliau, Ali bin Abi Thalib. Melihat orang-orang itu kepala kaum Nasrani kemudian bertanya kepada orang-orang Kota Madinah yang ikut menyaksikan peristiwa itu, “Siapa mereka yang dibawa oleh Nabi kalian?” Dijawab, “Perempuan itu adalah putrinya Fathimah, sementara yang digendong dan yang digandeng adalah cucu beliau, [masing-masing] yaitu Al-Husain dan Al-Hasan, laki-laki yang bersama dengan beliau adalah menantu sekaligus saudara dan putra pamannya, Ali bin Abi Thalib.”

Kepala kaum Nasrani Najran langsung mengatakan, “Wahai orang-orang Nashara, aku melihat wajah-wajah yang jika mereka berdoa kepada Allah memohon supaya Allah mencabut gunung, maka akan diijabah oleh Allah. Jangan bermubahalah dengan mereka. Jika kalian tetap bersikeras bermubahalah dengan mereka, kalian akan binasa.”

Kemudian mereka meminta maaf kepada Rasulullah saw dan menyatakan urung untuk melakukan mubahalah dengan Nabi saw. Beliau pun kemudian menerima damai dengan mereka dengan catatan mereka akan memberikan jizyah kepada Nabi saw dan akan membantu Nabi saw dalam beberapa keperluan beliau.Tidak terjadi mubahalah, tapi kemudian mereka kemudian pulang ke Najran walaupun mereka tidak memeluk agama Islam. Mereka harus membayar jizyah kepada Rasulullah saw.

Kisah ini dengan berbagai macam detailnya disebutkan di dalam kitab-kitab sejarah, tafsir, dan hadis yang ditulis oleh para ulama kita. Sebagian menyebutkannya secara ringkas dan sebagian dengan detailnya. Yang tadi saya sebutkan hanya sekelumit dari ringkasan kisah yang berhubungan dengan mubahalah ini.

Pelajaran Penting

Dari kisah ini ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik. Salah satunya adalah kisah ini mengungkapkan dan membuktikan keagungan dan kebesaran serta kedudukan tinggi Ahlulbait disisi AllahSwt. Bagaimana Allah Swt merekam peristiwa itu dan Rasulullah saw membawa mereka pada sebuah peristiwa yang sedemikian genting dalam permasalahan akidah, padahal di saat itu di sekeliling Nabi ada  para sahabat besar, ada orang-orang lain, tetapi justru Nabi saw yang melibatkan orang-orang yang paling beliau kasihi. Di sini juga Allah Swt merekam peristiwa itu dengan menyebutkan masing-masing dengan gelarnya yang pertama adalah menyebut Sayidah Fathimah az-Zahra dengan sebutan nisâ’anâ, wanita-wanita kita atau wanita-wanita kami, yang mengisyaratkan bahwasanya Fathimah bisa mewakili seluruh wanita yang mengikuti syariat Rasulullah saw.

Kemudian Allah Swt menyebut al-Hasan dan al-Husain dengan sebutan abnâ’anâ, yaitu anak-anak kami, yang menunjukkan bahwasanya mereka berdua mewakili seluruh anak-anak yang ada di dalam Islam, atau juga menunjukkan hubungan Rasulullah dengan al-Hasan dan al-Husain, walaupun secara garis keturunan adalah hubungan seorang kakek dengan cucunya tetapi di sini dinisbatkan langsung seakan-akan mereka adalah anak dari beliau. Kemudian yang paling agung dari semuanya ketika Rasulullah, ketika Allah Swt, menyebut Ali bin Abi Thalib sebagai jiwa Nabi dengan sebutan wa anfusanâ. Sebutan anfusanâ  mengisyaratkan bahwasanya Ali adalah jiwa Rasulullah saw. Mengapa layak untuk disebut sebagai jiwa Rasulullah saw? Karena dari semenjak lahir sampai Rasulullah saw wafat, Ali selalu bersama dengan Rasulullah saw.

Yang memberikan pendidikan kepada Ali adalah Rasulullah saw, kata-kata yang keluar dari lisan Ali banyak yang diilhami oleh Rasulullah saw, dia menafsirkan apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. Perilaku Imam Ali adalah perilaku yang meniru Rasulullah saw sebagai gurunya, dan segala hal yang berada pada Rasulullah saw diwujudkan dalam bentuk apa yang dikatakan, dilakukan, dan ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Pelajaran penting kedua yang bisa kita ambil adalah metode berdialog yang ditunjukkan oleh Nabi saw. Dengan sebuah dialog yang tenang yang mengedepankan kepala dingin (akal sehat), Rasulullah saw membuka pintu untuk melakukan dialog, walaupun berhubungan dengan masalah yang paling sensitif, masalah ketuhanan, masalah tauhid juga masalah kenabian yang beliau bawa. Apalagi kalau seandainya kita berhadapan dalam kehidupan kita dengan pembahasan-pembahasan yang hanya berkutat soal masalah politik, ekonomi, sosial dan yang lainnya yang mana hal itu tidak lebih penting dari masalah tauhid dan masalah kenabian, dialog harus dikedepankan dan dialog yang dikedepankan adalah dialog yang penuh dengan suasana keakraban, bukan untuk menjatuhkan pihak lain atau dengan emosi yang meledak-ledak.

Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menyerang pihak lain hanya berbeda keyakinan dan kepercayaan. Islam mengajarkan kepada kita untuk berdialog bahkan dengan orang-orang yang secara akidah berbeda dengan kita. Dalam metode Alquran juga disebutkan, kita disuruh mengajak orang-orang di luar kita untuk berdialog, bukan kemudian kita serang mereka. Ini adalah metode yang dibawa oleh Islam. Islam tidak mengajarkan kepada kita untuk membenci dan menyerang pihak-pihak lainnya.

Pelajaran ketiga adalah Rasulullah saw sedemikian memiliki hati yang lapang, memperlakukan orang-orang Nashara (Nasrani) dengan ramah. Bahkan ketika mereka akan melaksanakan ibadah, mereka dipersilakan untuk melaksanakan ibadah mereka di dalam (pekarangan) Masjid Nabawi, bahkan dengan cara membunyikan lonceng-lonceng. Mereka dipersilakan oleh Nabi saw dan beliau tidak melarangnya. Nabi saw tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk mengeluarkan mereka secara paksa dari masjid atau menyerang mereka. Inilah akhlak yang diperlihatkan oleh Nabi saw. Inilah ajaran yang dibawa oleh beliau.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat  14 Agustus 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Staf Redaksi: Rudhy Suharto, Arif Mulyadi, Hafidh Alkaff

Pemesanan Buletin Hubungi: Islamic Cultural Centre (ICC)

Jl. Buncit Raya Kav.35 Pejaten Barat, Jakarta Selatan 12510. Telepon: (021)7996767

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *