Pesan Imam

Imam Khomeini dimata Rahbar

ICC Jakarta – Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei di pidatonya yang disiarkan secara langsung oleh televisi negara ini membahas poin-poin penting dan karakteristik khusus Imam Khomeini. Menurut perspektif Rahbar, “Mekanisme penyelenggaraan peringatan haul pendiri Republik Islam tidak penting, tapi yang terpenting adalah membicarakan Imam besar ini yang dibutuhkan oleh negara kita saat ini dan untuk masa mendatang. Imam setelah bertahun-tahun meninggalkan kita, tapi ia tetap hidup di sanubari kita dan kita tetap memanfaatkan kehadiran spiritual, ideologi dan petunjuknya.”

Imam Khomeini sosok multidimensi dengan karakteristik unggul. Rahbar menilai karakteristik istimewa Imam Khomeini adalah spirit perubahan dan motivasi beliau akan transformasi. Sekaitan dengan ini, Rahbar mengisyaratkan berbagai dimensi perubahan yang dilakukan Imam Khomeini.

Ayatullah Khamenei saat pidato Haul Imam Khomeini ke 31
Rahbar yang mengenal Imam selama bertahun-tahun menyatakan bahwa spirit perubahan telah tampak sejak usia muda Imam dan sejak saat itu, Imam adalah sosok yang menghendaki transformasi. “Kira-kira di dekade 30-an dari usia beliau, ada catatan tangan beliau yang dicetak dan dimiliki banyak kalangan. Di catatan tersebut, Imam menulis ayat ke-46 Surah Saba«قُل إِنَّما أَعِظُکُم بِواحِدَةٍ أَن تَقوموا لِلَّهِ مَثنىٰ وَ فُرادىٰ» dan menyeru masyarakat untuk bangkit. Beliau dengan spirit ini telah menciptakan perubahan. Kalaian ketahui bahwa Imam tidak puas hanya dengan sekedar berbicara dan perintah, tapi beliau langsung terlibat dalam masalah ini,” papar Rahbar.

Konteks kedua tranformasi yang diciptakan Imam berada di kelas akhlak beliau. Melalui kelas ini beliau membangkitkan dan mengobarkan semangan revolusi. Di antara metode Imam Khomeini dalam hal ini adalah membangkitkan naluri spiritual, fitrah dan sifat kemanusiaan melalui pelajaran akhlak, mengingatkan dan mempersiapkan hati dan kalbu. Rahbar berkata, “Ketika Imam berbicara mengenai akhlak, para santri muda meneteskan air mata. Penjelasan beliau sangat berpengaruh dan menciptakan revolusi mental. Ini adalah metode para nabi. Di awal gerakannya, para nabi memulainya dari revolusi mental.”

Menurut penjelasan Rahbar, “Sebelum dimulainya kebangkitan Imam Khomeini, puluhan tahun telah ada berbagai kelompok yang melakukan perjuangan, namun gerakan mereka terbatas pada sekelompok mahasiswa. Namun untuk Imam Khomeini, ini bukan gerakan terbatas pada segelintir orang, kelompok tertentu atau spesialisasi terbatas, tapi gerakan Imam adalah gerakan rakyat dan bangsa Iran. Rakyat tak ubahnya sebuah samudra. Menciptakan badai di sebuah samudra bukan pekerjaan setiap orang. Mudah untuk menciptakan gelombang di sebuah kolam renang, namun menciptakan gelombang dan badai di samudra adalah sebuah pekerjaan besar dan agung. Imam Khomeini telah melakukan hal ini.”

Salah satu konteks penciptaan perubahan Imam Khomeini adalah perubahan subsidensi dan penyerahan bangsa serta mengubahnya menjadi spritit tuntutan. Ayatullah Khamenei terkait hal ini mengatakan, “Gerakan ini berupa gerakan lapangan, terlibat di lapangan, tuntutan, dan tuntutan tersebut adalah tuntutan besar dan penting yang pada awalnya tidak ada di kepribadian bangsa kita. Ini dimunculkan oleh Imam. Beliau mengubah bangsa subsidensi dan menyerah ini menjadi sebuah bangsa yang berani menyuarakan tuntutannya. Pidato heroik dan bersemangat Imam, pencerahan Imam sangat mengejutkan dan mengubah bangas ini menjadi sebuah bangsa yang berani menyuarakan tuntutan. Ini adalah karakteristik unggul yang dimulai dari kebangkitan tahun 41 Hs dan kemudian kebangkitan 15 Khordad 42 Hs hingga kemenangan Revolusi Islam serta tahun-tahun berikutnya….”

Lebih lanjut Rahbar menurutkan, “….Imam Khomeini lebih lanjut berhasil mengubah perasaan rendah diri bangsa ini dan mengubahnya menjadi bangsa yang percaya diri dan memiliki kehormatan serta memiliki rasa nasionalisme tinggi. Bangsa Iran sampai pada kondisi mereka berani menentukan bentuk pemerintahannya sendiri.”

Imam Khomeini
Imam Khomeini meyakini universalitas agama dan keterlibatannya di bidang sosial. Imam dalam hal ini menampilkan agama memiliki keunggulan dalam membentuk pemerintahan, peradaban, sosial, manusia dan lainnya. Dengan demikian Imam berhasil mengubah secara menyeluruh pandangan masyarakat terkait agama.

Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa pada periode ketika revolusi dimulai, tidak ada masa depan di mata rakyat. Artinya, orang tidak memiliki cakrawala dan masa depan di depan mata mereka; Ini menjadi ciptaan peradaban Islam baru. Ini berarti bahwa Anda melihat bangsa Iran hari ini, tangan berkah dari Imamlah yang menciptakan situasi ini; Orang-orang ingin membentuk dan menciptakan peradaban Islam baru; Pemimpin Tertinggi Revolusi juga menunjukkan bahwa Imam Khomeini, walaupun memiliki pandangan modernis tentang berbagai masalah, adalah ahli hukum modern dan ulama modernis; Pada saat yang sama, ia sangat berkomitmen untuk beribadah. Pada saat itu, ada ulama yang, di bawah pengaruh beberapa keadaan, tidak memiliki kepatuhan yang diperlukan untuk masalah ibadah, Imam datang dan berdiri teguh pada masalah ibadah; Baik ibadah dalam hukum dan ibadah dalam upacara keagamaan.

Ayatullah Khamenei menilai perubahan di pandangan generasi muda sebagai salah satu keistimewaan lain Imam Khomeini. Rahbar mengatakan, “…Beliau percaya terhadap ideologi dan perilaku pemuda. Ini benar-benar arti sebuah perubahan. Artinya, bayangkan Sepah Pasdaran yang dibentuk, beliau menerima kepemimpinan para pemuda yang berusia 20 tahunan…, beliau percaya kepada pemuda sebagai cadangan pemerintah, sebagai sebuah harta bagi negara. Imam juga percaya kepada generasi tua sama seperti kepercayaannya kepada generasi muda.”

Perubahan penting lain yang diciptakan Imam adalah perubahan terkait pandangan terhadap kekuatan global dan adidaya dunia. Saat itu, tidak ada yang membayangkan untuk menolak ucapan Amerika dan bertindak di luar arahan Washington, namun Imam bertindak yang memaksa presiden AS mengatakan Khomeini menghina kita….Imam menunjukkan bahwa adi daya dunia sangat rentan dan dapat dikalahkan. Hal ini juga ditunjukkan di masa mendatang. Ayatullah Khamenei mengingatkan bahwa Imam yang melakukan semua perubahan ini adalah Imam yang menyatakan bahwa semua ini berasal dari Tuhan. Faktanya memang demikian bahwa ini semua dari Tuhan, la hawla wala quwata Ila billah Al-Aliyul al-Adhim “Segala sesuatu dan segala kondisi dan kekuatan datangya dari Tuhan.”

Imam Khomeini, sosok yang ideologi dan pemikirannya selama bertahun-tahun menjadi petunjuk dan arahan umat manusia dan petunjuknya di dunia modern saat ini jika digunakan, maka akan membawa kebaikan dan kebahagiaan umat manusia. Sekaitan dengan ini, Rahbar mengingatkan, pembahasan perubahan yang dibawa Imam Khomeini adalah untuk diambil sebagai pelajaran.

Rahbar menekankan, “Kita dewasa ini membutuhkan perubahan, meski selama 30 tahun terakhir gerakan nasional adalah gerakan perubahan yang diciptakan oleh Imam belum berhenti dan terus maju, dan di sebagai kesempatan berhasil menciptakan infrastruktur transformasi, namun sampai saat ini belum juga sampai pada fase aktivitas dan realisasi; Transformasi yakni sampai pada bentuk yang lebih baik dalam bentuk yang jelas, artinya sebuah rotasi, sebuah gerakan besar di berbagai bidang, kita membutuhkan hal seperti ini; di sebagian bidang secara mutlak kita tidak memiliki kemampuan.”

Rahbar
Kemajuan masyarakat tergantung pada tekad dan kinerja manusia. Manusia jika bergerak dengan benar akan maju secara benar. Tapi jika bergerak keliru maka mereka akan bergerak mundur. Surah al-Raad di al-Quran menunjukkan ketika kalian menciptakan perubahan positif dalam diri kalian, maka Tuhan juga akan menciptakan peristiwa positif dan realita yang positif pula. Sementara di Surah al-Anfal juga mengisyaratkan sisi negatif perbuatan manusia dan menyatakan, ketika Tuhan memberi sebuah nikmat kepada sebuah bangsa dan bangsa ini tidak bergerak secara benar, tidak berbuat secara benar, maka Allah akan mencabut nikmat tersebut dari mereka.

Menurut perspektif Rahbar, perubahan membutuhkan dukungan ideologi, yakni setiap gerakan tanpa dukungan ideologi tidak dapat disebut sebagai sebuah perubahan. Beliau juga memperhatikan bahwa perubahan tidak boleh disalahartikan sebagai transformasi pemikiran dan berkata, “Sebuah bangsa jika kehilangan identitasnya, maka mereka juga akan kehilangan spiritualitasnya. Hal ini sejatinya sama dengan kematian peradaban mereka;….Ini merupakan kebalikan dari ajaran para nabi yang menekankan untuk menghidupkan akal dan berpikir.

Di bagian lain pidatonya Rahbar fokus bahwa perubahan tidak mengharuskan sebuah peristiwa mendadak; terkadang sebuah perubahan terjadi secara bertahap; salah satu syarat perubahan adalah tidak takut pada musuh dan permusuhan mereka. Beliau berkata, Allah Swt berfirman kepada nabi-Nya Jangan takut kepada manusia, jangan takut perkataan mereka. Pada akhirnya setiap langkah positif, setiap pekerjaan penting mungkin akan ditentang oleh sekelompok orang.

Ayatullah Khamenei menilai merosotnya kekuatan global sebagai hasil dari gerakan untuk Tuhan dan kepercayaan kepada-Nya. Beliau menyebut peristiwa terkini di Amerika Serikat sebagai kemunculan realitas yang selama ini disembunyikan, dan wajah asli pemerintah Amerika dipermalukan di dunia oleh perilaku mereka sendiri.

Rahbar menyebut pembunuhan George Floyd, warga kulit hitam AS oleh polisi kota Minneapolis sebagai indikasi wajah sejati Amerika dan penumpasan warga dunia termasuk warga negara ini sendiri.

Ayatullah Khamenei dalam pidato peringatan haul Imam Khomeini hari Rabu (3/6/2020) mengatakan bahwa aksi seorang polisi Amerika Serikat menekan leher seorang pria kulit hitam dengan lututnya hingga meninggal dunia, yang disaksikan oleh para polisi AS lainnya, bukan peristiwa baru.

“Kejahatan ini mencerminkan sepak terjang dan sifat pemerintah AS yang telah melakukan hal yang sama terhadap banyak negara dunia, seperti: Afghanistan, Irak, Suriah, dan sebelumnya Vietnam,” ujar Rahbar.

Ayatullah Khamenei menyebut slogan orang Amerika hari ini, “Kami tidak bisa bernafas,” sebagai suara hati semua negara yang tertindas. Ironisnya, pemerintah AS tidak meminta maaf atas perlakuan tidak tahu malu terhadap warganya sendiri yang jelas menunjukkan kejahatan, dan kemudian mereka mengatakan hak asasi manusia, seorang-olah orang kulit hitam yang terbunuh bukan manusia dan dia tidak memiliki haknya.

Rahbar mengatakan, “…Menurut Saya rakyat Amerika malu atas pemerintahan mereka. Dan sudah pada tempatnya jika rakyat Amerika merasa malu terhadap pemerintah yang kini berkuasa di negara ini.”

Sumber: parstoday

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *