Pesan Imam

Sudut Pandang Rahbar Terhadap Dunia Pendidikan

ICC Jakarta – Pendidikan dan pengajaran merupakan misi utama para Nabi. Membentuk manusia sempurna tidak akan terealisai kecuali di bawah bimbingan Ilahi. Para nabi Ilahi diutus membawa misi penting untuk mengenalkan manusia dengan ajaran tinggi dan membentuk manusia sempurna melalui ajaran Wahyu serta menunjukkan jalan kebahagiaan kepada manusia.

Para nabi ini dengan kesabaran, istiqamah, memaafkan dan pengorbanan, kasih sayang dan ratusan keutamaan moral lainnya menunjukkan perilaku terindah kemanusiaan dan menunjukkan teladan praktis manusia sempurna kepada seluruh umat manusia.

Rasulullah Saw bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Setelah Rasul, manusia sempurna seperti Imam Ali, Fatimah Az-Zahra serta para Imam setelahnya menyebarkan ajaran Ilahi dan akhlak mulia sehingga tujuan penciptaan yakni mendidik manusia sempurna tidak akan terlupakan.

Sejak awal, pendidikan dan pembelajaran menjadi masalah utama dan mendapat perhatian dari agama Ilahi. Di dunia saat ini, wacana penting ini menjadi perhatian utama para pemimpin agama, filsuf, reformis sosial, pemikir moral, dan pemikir humaniora. Perhatian terhadap peran keluarga dan pendidik (guru) serta peran penting lembaga pendidikan (sekolah) juga dikarenakan peran pembentukan manusia oleh mereka.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei senantiasa memaparkan strategi kunci dan poin-poin penting bagi staf lembaga pendidikan nasional demi memulihkan kinerja lembaga penting ini dan memajukannya.

Di pertemuan terbarunya dengan menteri, wakil menteri, direktur di Kementerian Pendidikan Iran di sidang ke 34 Lembaga Pendidikan Nasional yang digelar secara virtual, Rahbar seraya mengucapkan terima kasih kepada rakyat yang menggelar ritual duka Imam Husein as di bulan Muharram di tengah kondisi pandemi Corona dengan menjaga protokol kesehatan, mengisyaratkan mekanisme utama dan tugas penting lembaga pendidikan nasional.

Salah satu kekhawatiran utama Rahbar yang dilontarkan di pertemuan ini adalah perhatian terhadap tujuan pendidikan. Beliau menjelaskan tujuan terpenting pendidikan adalah membentuk manusia yang layak. “Bahan mentah anak, misalnya yang berusia enam tahun dan tujuh tahun, masuk ke pabrik ini dan selama 12 tahun dibentuk di pabrik ini serta nantinya akan menjadi produk dari pabrik ini. Lantas apa produk ini? Produk tersebut adalah manusia yang layak; Devinisi manusia yang layak berbeda di setiap negara, masyarakat yang berbeda, ideologi berbeda dan juga aliran yang berbeda. Mereka tidak sama dalam mendevisinikan manusia yang layak. Untuk itu, model pendidikan di berbagai masyarakat tidak sama. Kita di Republik Islam Iran mengejar tujuan ini, Kita ingin mendidik manusia selama 12 tahun di lembaga pendidikan.”  

Kemudian Ayatullah Khamenei menjelaskan karakteristik manusia layak di sistem dan budaya Iran. Rahbar berkata, “Kita menginginkan output mesin besar ini, sebuah output yang selaras dengan ideologi Islam…seorang manusia yang memiliki karakteristik seperti ini, pertama, beriman. Iman merupakan syarat pertama. Kedua, bijaksana, yakni mampu berpikir. Akal bukan sekedar untuk menemukan jalan praktis kehidpuan, mayoritasnya untuk berpikir dan merenung, ini lebih berharga dari menjadi seorang ilmuwan…Mujahid dan ahli amal, yakni sekedar duduk dan berpikir serta berbicara, masih kurang…Amal juga harus amal perjuangan dan terus ditindaklanjuti; amal yang diliteratur agama disebut jihad, saat itu jika ini menjadi jihad fi sabilillah (jihad di jalan Tuhan), jihad yang dianjutkan oleh agama. Akan muncul manusia yang adil, manusia yang disiplin, dihiasi akhlak Islami. Ini adalah karakteristik manusia yang kami kehendaki di sistem pendidikan yang kalian ajarkan dan manusia seperti ini yang akan kalian hasilkan.”

Untuk mendidik manusia yang layak dan bernilai dibutuhkan seorang guru dan pembimbing yang telah membersihkan dan membentuk dirinya. Manusia yang selain memiliki pengetahuan juga yang mampu membimbing anak didiknya melalui perkataan dan perbuatan ke arah nilai-nilai moral yang tinggi serta agama. Dengan demikian Imam Khomeini menyebut profesi guru sama halnya dengan misi para nabi.

Rahbar di arahannya juga mengatakan, “Di sistem pendidikan tidak ada yang memiliki pengaruh besar seperti guru. Guru sangat menentukan.” Rahbar bukan saja menyebut guru sangat menentukan di sistem pendidikan, bahkan beliau menyebut para guru sebagai perwira Sepah Pasdaran bagi kemajuan negara dan menekankan, “Kita harus melindungi kehormatan guru dan perannya.”

Ayatullah Khamenei terkait melindungi martabat guru, pertama-tama menyatakan bahwa hal ini tugas guru sendiri. Beliau mengatakan,”Terutama guru itu sendiri; Artinya, guru harus memperhatikan dan mengetahui bahwa masa depan negara dipengaruhi oleh usaha dan kebijaksanaannya.” Lebih lanjut Rahbar mengatakan, perlindungan harkat dan martabat guru terkait dengan pendidikan. Rahbar memperkenalkan faktor ketiga untuk mendorong penghormatan dan martabat guru di masyarakat sebagai tugas lembaga kebudayaan negara, khususnya radio dan televisi. ”Lembaga kebudayaan, khususnya IRIB. Rahbar mengatakan, lembaga kebudayaan khususnya IRIB dalam hal ini memainkan peran penting dan menjalankan tugas ini secara kontinyu dan artistik.

Ayatullah Khamenei menekankan pada pertimbangan kompetensi agama, moral dan politik dalam menjaring guru. Menurutnya, karena pentingnya peran guru, maka perlu dilakukan pilihan yang tepat dan bijak dalam merekrut guru dan tidak membiarkan pasukan yang berkualitas rendah masuk ke dunia pendidikan. Karena jika unsur kualitas yang tidak berguna atau merugikan masuk ke dalam perangkat ini, secara alamiah akan memberikan hasil yang sebaliknya dan bukannya mendidik manusia yang layak, justru sebaliknya yang didapat.

Selain keberadaan guru yang layak, kebutuhan pendidikan dasar lainnya adalah adanya “keadilan pendidikan”. Dalam kaitan ini, Ayatullah Khamenei meyakini bahwa buah dari keadilan pendidikan adalah kepercayaan pada pendidikan. Artinya jika seseorang yang berada di desa terpencil juga memiliki fasilitas pendidikan yang berguna dan guru yang baik, ia akan memiliki ingatan yang tenang bahwa ia juga bisa berhasil dalam ujian masuk. Dia merujuk pada situasi di Corona dan tantangan pendidikan selama periode ini.

Ayatullah Khamenei mengatakan,” Tentu saja, sekarang masalah e-learning dan sejenisnya telah muncul, masalah keadilan menjadi sedikit lebih sensitif, karena tidak semua orang dapat menggunakan dunia maya … dan IRIB pada khususnya harus membantu, dan pendidikan melalui IRIB dapat mengimbangi bagian penting dari masalah ini.”

Selama beberapa tahun sekarang, Barat telah secara terbuka mencoba mempengaruhi pendidikan negara dan menanamkan gaya hidup Barat. Dengan tujuan memaksakan cara hidup Barat, mereka mencoba melatih orang-orang yang cenderung pada kebijakan Barat di semua negara. Ayatullah Khamenei, merujuk pada desakan orang Barat untuk mempengaruhi pendidikan di negara-negara yang dimotivasi oleh penerapan gaya hidup Barat, mengutip dokumen 2030 atau pengaruh pendidikan di beberapa negara di kawasan sebagai contoh dan mengatakan: “Saat ini, filosofi sosial Barat, di Barat sendiri telah gagal dan manifestasinya yang korup cukup terlihat dari Hollywood hingga Pentagon.”

Seraya menekankan sensitifitas melawan pengaruh musuh, Rahbar menjelaskan, musuh yang tidak mampu melaksanakan ambisinya melalui pemerintahan,kini berencana menebar pengaruhnya melalui dokumen 2030 dan mendidik manusia yang memiliki ide dan visi seperti mereka sehingga mampu mempersiapkan peluang untuk merampok berbagai bangsa.

Terkait masalah ini Rahbar mengatakan, “Pengaruh di sistem pendidikan di sejumlah negara kawasan yang kami terima beritanya (telah memberi peringatan kepada kita), dilakukan secara senyap dan tanpa keributan, mereka mengubah buku pelajaran, penetapan guru dan pendidikan, dan juga memisahkan orang-orang dari komunitas serta membawanya ke negara mereka dan kemudian mendidiknya. Mereka ingin menembus pengarus ke pendidikan. Menurut Saya ini sangat penting. Harus ada sensitifitas di bidang pengaruh musuh pada semua pihak. Semua pihak harus sensitif dan berhati-hati.”

Ayatullah Khamenei seraya mengucapkan terima kasih atas kerja keras lembaga pendidikan selama bulan-bulan yang sulit karena pandemi Corona dan memberi layanan pendidikan virtual mengatakan, “Hal-hal besar dilakukan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pendidikan, tidak ada pengalaman di bidang ini, dan Anda bekerja; Semoga Tuhan memberkati Anda, InsyaAllah.”

Seraya mengharapkan perhatian seluruh lembaga terhadap posisi penting lembaga pendidikan dan perhatian terhadap anggaran yang tepat untuk lembaga ini, Rahbar mengatakan, “Pandangan terhadap lembaga pendidikan harus dalam bentuk pandangan terhadap sebuah lembaga infrastruktur, bukan konsumsi dan investasi di pendidikan harus dianggap seperti investasi di bidang infrastruktur.”

Sumber : parstoday

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *