Khutbah Jumat

Perempuan Dan Ketahanan Ekonomi Keluarga

ICC Jakarta – Saat ini, kita melihat bahwa masyarakat mengalami berbagai macam permasalahan keluarga. Kita menghadapi berbagai problem yang terkadang problem itu menjurus kepada perpisahan di antara pasangan suami dan istri. Tidak diragukan bahwa semua manusia ingin mencapai kebahagiaan dalam kehidupannya. Salah satu unsur terpenting bagi seorang manusia untuk bisa mencapai kebahagiaan adalah ketika dia berada di dalam suatu lingkungan yang menyediakan segala sarana yang bisa membawanya kepada kebahagiaan. Di dalam sebuah keluarga orang bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan jika keluarga itu adalah keluarga yang berbahagia.

Dengan demikian, masing-masing anggotanya lebih dekat kepada kebahagiaan dibandingkan orang-orang yang lain. Ketika seseorang merasakan bahwa di lingkungan keluarganya dia bisa mendapatkan ketenangan dan mendapatkan kepuasan dari sisi aktivitas dan sisi emosi, orang yang seperti ini akan lebih dekat kepada kebahagiaan yang dia idam-idamkan. Yang kacau balau jika hubungan di antara mereka tidak baik, maka orang semacam ini akan menghadapi penyakit-penyakit kejiwaan, penyakit-penyakit yang bersifat nonmateri.

Data menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku kejahatan dan mereka yang terlibat di dalam perilaku penyimpangan secara kesusilaan berasal dari mereka yang hidup dan tumbuh di tengah keluarga yang broken home dan keluarga yang kacau dalam hubungan di antara anggota keluarganya. Keluarga semacam ini tidak mengedepankan masalah pendidikan di antara mereka.

Ada berbagai macam unsur dan faktor yang bisa menjadikan keluarga itu menjadi keluarga yang baik, keluarga yang tenang, dan penuh dengan sakinah. Ada pula unsur-unsur yang jika tidak diperhatikan, maka akan mengakibatkan keluarga itu menjadi keluarga yang kacau dan keluarga yang tidak memiliki kebahagiaan. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai salah satu unsur yang bisa mengakibatkan sebuah rumah tangga dan keluarga itu retak yaitu unsur tekanan ekonomi.

Tekanan Ekonomi

Karena itu, kita harus melihat tekanan ekonomi yang mungkin terjadi. Kita harus mengaturnya sebaik mungkin dan mengelolanya dengan bijaksana, supaya jangan sampai masalah tekanan ekonomi berujung kepada keretakan rumah tangga. Bagaimana kita bisa mengelola tekanan ekonomi ini? Tidak diragukan dalam masalah yang pertama yang perlu kita bahas adalah bahwa sebuah rumah tangga ketika memiliki kelapangan dari sisi ekonomi, maka  tidak akan banyak tekanan yang dihadapi oleh keluarga itu dari sisi kehidupan normal secara materi.

Karena itu, setiap orang dalam hal ini, kaitannya adalah kaum pria, diperintahkan dalam agama untuk bekerja semaksimal mungkin, sebisa mungkin sesuai dengan kemampuannya untuk bisa memberikan kehidupan bagi istri anak-anak, juga mungkin orang tua yang membutuhkan. Juga jika dia memilik orang tua yang perlu untuk dibantu, atau mungkin juga saudara-saudara yang perlu dibantu. Dalam ajaran Islam setiap orang diperintahkan untuk bekerja supaya bisa memberikan sarana kehidupan bagi orang-orang terdekatnya.

Karena itu, jangan sampai muncul sebuah pertanyaan yang mempertanyakan kepada kita, “Mengapa engkau biarkan keluargamu hidup dalam tekanan ekonomi? Mengapa engkau biarkan keluargamu hidup tanpa ada sarana kehidupan yang layak bagi mereka?” Tentunya di dalam kamus Islam, dalam kamus agama, kelayakan untuk masing-masing status sosial juga perlu untuk diperhatikan.

Unsur kedua yang mungkin bisa menjadikan sebuah keluarga itu hidup dalam kenyamanan dari sisi kehidupan materi adalah ketika kepala rumah tangga memberikan hingga lebih dari porsi yang mestinya. Ketika dia punya kemampuan untuk memberikannya, ketika memiliki suatu hal yang bisa memberikan lebih kepada keluarga, mengapa tidak diberikan? Dalam sebuah hadis Imam Zainal Abidin mengatakan bahwa orang yang paling diridai oleh Allah di antara kalian adalah orang yang paling banyak memberi untuk keluarganya.

Sebagian orang menyangka bahwasanya untuk mendapatkan rida Allah, kita perlu banyak melakukan ibadah salat, dan hal-hal semacam ritual-ritual ibadah. Padahal berdasarkan hadis dari Imam Zainal Abidin tadi, bisa kita ambil kesimpulan bahwa rida Allah tidak hanya bisa dicapai dengan ibadah. Ada unsur penting yang bisa kita lakukan supaya kita bisa mendapatkan rida Allah, yakni memberikan hal yang terbaik kepada keluarga kita. Hadis yang tadi dikuatkan lagi oleh hadis dari Imam Ridha as ketika beliau bersabda dalam kata-katanya. Imam Ridha as mengatakan begini, “Orang yang memiliki kelapangan dari sisi ekonomi, hendaknya dia memberikan kelapangan juga untuk warganya, memberikan kepada keluarganya lebih banyak daripada yang semestinya jika memang dia mampu memberikannya.”

Mungkin sebagian orang bertanya-tanya mengapa kita harus menyusahkan diri kita, membuat diri kita capai dan bahkan berhadapan dengan kondisi-kondisi yang sulit dan berbahaya demi untuk bisa mencari rezeki dan memberikannya kepada keluarga kita? Apakah kita harus menyusahkan diri kita? Di dalam hadis dari Rasulullah saw, beliau bersabda bahwa “orang yang bekerja untuk bisa memberikan kehidupan kepada keluarganya maka posisi dia persis seperti orang yang jihad fi sabilillah.”

Unsur ketiga adalah unsur kebijaksanaan di dalam membelanjakan apa yang ada di tangan kita. Sebagai seorang yang memiliki tanggung jawab dalam keluarga, salah satu tugas kepala keluarga adalah memberikan pengertian dan arahan kepada anggota keluarganya untuk tidak mengeluarkan atau membelanjakan harta di jalan yang tidak perlu harus diberikan. Pelajaran tentang kecerdasan dalam memanajemen, apa yang Allah berikan jangan sampai dibelikan kepada hal-hal yang tidak perlu, sementara hal-hal yang perlu ditinggalkan. Apalagi kita hidup di zaman yang serba sulit semacam ini, di saat tekanan ekonomi sedemikian besar, mengapa masalah-masalah prioritas dalam pengeluaran tidak kita kedepankan?

Kepala rumah tangga layak untuk memanggil seluruh anggota keluarganya, memahamkan kepada mereka, tentang kondisi yang saat ini dihadapi. Misalnya, ketika saat ini Corona melumpuhkan banyak sisi dan lini kehidupan umat manusia, perlu diberikan pemahaman kepada mereka, jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang tidak cerdas dan tidak bijak di dalam membelanjakan apa yang telah Allah berikan kepada mereka.

Salah satu unsur pula ketika kita ingin menciptakan ketahanan ekonomi dalam keluarga adalah keikutsertaan ibu rumah tangga di dalam melakukan pekerjaan. Jika dia memang memiliki kemampuan-kemampuan untuk bisa melakukan hal-hal semacam itu, seorang wanita dalam Islam diperbolehkan untuk mencari nafkah. Seorang wanita yang memiliki keahlian bisa bekerja sesuai dengan keahliannya dan mendapatkan harta atau uang dari hasil pekerjaan dia. Tetapi ini adalah suatu hal yang mustahab dan sunah dilakukan orang yang bisa menghasilkan uang dengan keahliannya untuk dibawa ke keluarga. Tetapi ini bukan suatu hal yang wajib dilakukan oleh seorang perempuan. Jika itu dilakukan, dia akan bisa meringankan beban yang ada di pundak suaminya atau yang menjadi kepala rumah tangga, dan bisa tercipta ketahanan ekonomi di keluarga yang lebih dari pada kondisi jika perempuan itu tidak ikut serta dalam mencari nafkah.

Di sini perlu ditekankan bahwa apa pun yang didapatkan oleh seorang istri dalam bekerja, apa pun yang dia dapat, suami tidak berhak untuk mengelola uang itu karena uang itu mutlak milik istrinya. Tetapi sayangnya jangan sampai pemahaman semacam ini membuat istri-istri yang melakukan pekerjaan di luar rumah atau melakukan pekerjaan ekonomi kemudian merasa bahwasanya semua itu adalah miliknya, dan dia tidak merasa perlu untuk ikut memikul beban pengeluaran di keluarga hingga kemudian uang yang dia miliki, digunakan untuk hal-hal yang tidak penting, untuk mempercantik diri atau untuk dibelanjakan pada hal-hal yang tidak terlalu penting dalam kehidupannya. Sementara suaminya kesulitan dalam memberikan nafkah untuk keluarga.

Saya ingin sampaikan kepada ibu-ibu atau mereka yang terlibat dari kalangan perempuan dalam kegiatan ekonomi, jika Anda melihat bahwa suami Anda sedang kesulitan untuk mendatangkan rezeki yang bisa menopang kehidupan keluarga, jangan biarkan uang yang ada pada dirimu bagai milikmu untuk digunakan untuk dengan belanja hal-hal yang tidak penting, membeli pakaian-pakaian yang hanya mengikuti mode, dan aksesoris-aksesoris yang tidak ada kebaikannya untuk keluarga dan untuk diri sama sekali.

Meringankan Beban

Hal yang lain yang perlu dibahas dalam kesempatan ini adalah ketika masyarakat sedang mengalami kesulitan secara ekonomi dan mendapatkan tekanan ekonomi karena munculnya pandemi semacam ini, atau mungkin di luar kondisi pandemi, diharapkan orang-orang yang memiliki kekayaan, orang-orang yang memiliki toko yang bisa menjual hal-hal yang merupakan kebutuhan bagi masyarakat untuk ikut serta dalam meringankan beban masyarakat yang tertekan oleh kondisi perekonomian. Jika memiliki tempat, misalnya, hal-hal yang dijual, maka juallah dengan keuntungan yang seminim mungkin, supaya bisa memberikan bantuan kepada mereka yang tidak mampu. Masyarakat berharap orang-orang kaya terlibat dalam meringankan beban yang mereka hadapi. Jangan sampai kondisi masyarakat Islam menjadi kondisi yang justru memanfaatkan keadaan ini untuk memperkaya diri sendiri. Melihat bahwa masyarakat membutuhkan sesuatu, maka harganya ditambah ditinggikan, ketika melihat bahwasanya sekarang masyarakat membutuhkan rumah misalnya, maka sewa rumah ditinggikan. Masyarakat membutuhkan suatu komoditas, maka komoditas itu ditinggikan harganya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, “Ada dua hal yang paling baik. Tidak ada hal yang lebih baik dari itu. Pertama adalah keimanan kepada Allah dan yang kedua adalah memberikan manfaat bagi umat manusia.”

Kita bisa perhatikan bagaimana Rasulullah saw menyebut manfaat bagi masyarakat setelah menyebut keimanan kepada Allah. Kelak di hari kiamat setiap orang akan menghadapi petaka dan derita. Setiap orang akan menghadapi kesulitan di hari kiamat. Maukah kita ketika di hari kiamat nanti kesulitan yang kita hadapi diringankan oleh Allah Swt? Hadis dari Nabi saw ketika beliau bersabda, “Barang siapa yang membantu seorang mukmin meringankan beban, seorang mukmin, membantu seorang mukmin dalam suatu kesulitan yang sedang menghimpitnya, maka Allah Swt kelak di hari kiamat akan membantunya dan menyelamatkannya, membebaskannya dari 70 kesulitan di hari kiamat.”

Unsur berikutnya yang perlu diperhatikan dalam membantu kondisi tekanan ekonomi supaya masyarakat bisa terlepas dari masalah adalah sedekah. Sayang sekali sedekah yang ada di kepala kebanyakan orang adalah membantu orang yang sedang dihimpit oleh kesulitan, seakan-akan sedekah itu diberikan kepada orang yang jika tidak menerima itu, maka orang itu akan mati kelaparan. Sedekah diberikan kepada orang yang jika tidak diberi, maka dia akan tinggal di jalanan, lalu kemudian kita bersedekah kepadanya. Padahal para Imam maksumin as dan para pemuka agama mengajarkan kepada kita, ketika kita bersedekah bukan supaya menyelamatkannya dari kematian tetapi mengangkat seseorang kehidupannya ke taraf kehidupan yang normal. Kita lihat bagaimana Imam memerintahkan orang-orang yang ada sebagai pembantu di rumahnya untuk menyerahkan kepada seseorang yang meminta bantuan sebanyak 50.000 dinar, 60.000 dinar, 70.000 dinar, yang mana uang itu adalah uang yang sangat besar supaya orang tersebut bisa hidup layaknya orang-orang yang lain dan tidak merasa dirinya lebih rendah dibandingkan masyarakat yang lain. Itulah makna sedekah yang diajarkan oleh Imam maksumin as kepada kita. Semoga Allah berkenan untuk meluaskan rezeki kita seluas-luasnya dan supaya Allah Swt melapangkan hati kita selapang lapangnya supaya rezeki yang Allah berikan kepada kita dengan mudah kita bisa infakkan kepada orang-orang yang lain. Semoga Allah Swt juga memberikan taufik kepada kita supaya kita bisa meringankan beban saudara-saudara kita.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat  11 September 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *