Teologi

Syiah dimata Ahlu Sunnah 1

ICC Jakarta – Mentari hidayah Islam terbit dari tempat ini pada saat risalah terputus dan manusia tersesat, perbedaan pendapat atas dorongan hawa nafsu dan syahwat, terzaliminya kaum lemah oleh kaum kuat, tertindasnya rakyat oleh penguasa jahat, merebaknya kekuatan perusak yang menyebabkan kelemahan dan perpecahan hingga kejatuhan ke dalam jurang kehinaan. Akibatnya, manusia sebagai makhluk berakal jatuh ke derajat binatang, urusan menjadi kacau, keseimbangannya terganggu, dan ilmu tergantung di tepi jurang neraka dan kehancuran.

Ketika mentari terang ini terbit, dengannya Allah menyerakkan awan kegelapan yang pekat dan menghidupkan hati yang mati. Dia jadikan cahaya berkilaunya menguasai setiap sektor kehidupan. Dengannya Dia menyatukan pihak-pihak yang berselisih, mendamaikan kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, meredakan permusuhan yang menggerogoti kekuatan, dan mencerabut dendam kesumat yang menihilkan bakat serta merusak akal.

Tiba-tiba ada umat yang tumbuh belia, bersatu padu dan saling menolong, yang di kanannya terkibar panji reformasi dunia dalam akidah, syariat, tatanan, pengetahuan, dan akhlak. Untuk pertama kalinya umat ini menyatakan hak manusia untuk hidup sebagaimana mereka diciptakan Allah taala, hak berpikir untuk bergerak bebas dalam penjuru alam semesta—untuk memikirkan, menyelidiki, dan meneliti hingga menarik kesimpulan dan menghasilkan hukum, juga hak masyarakat untuk mendapatkan rasa aman, ketenteraman, dan ketenangan. Kaum muslim mulai membawa panji ini dan menyebarkan risalahnya hingga di hadapan mereka terbuka pintu-pintu alam semesta dan mereka menciptakan peradaban-peradaban.

Dalam kecendekiaan mereka tergambar budaya-budaya, sebagaimana dalam hisapan lebah tergambar bunga-bunga tanaman dan sari buah-buahan. Dengan berbekal al-Quran mereka masuki setiap pintu dan dengan sunah yang suci mereka perjelas segala yang samar. Akal mereka jernih dan hati mereka bersih sehingga sangkaan dan khurafat tidak bercampur dengan yang pertama, kedengkian dan keirihatian tidak merusak yang kedua. Dalam hal pengetahuan dan pemikiran, mereka adalah pemandu dan pembimbing, dalam hal kerja sama dan saling menolong, mereka adalah model utama bagi orang-orang bertakwa.

Dunia berdiri menatap mereka dalam ketakjuban dan keheranan. Para pemangku kekuasaan dan pemimpin tiran di muka bumi merasa terguncang dan bergetar karena mereka. Pendukung kebatilan dan pelaku kerusakan menyadari bahwa ada satu kekuatan yang tidak bisa dilawan, yang akan mengguncang singgasana dan merobohkan bangunan mereka. Nasib mereka di hadapan kekuatan ini adalah terkalahkan dan terusir atau tertundukkan dan terlantar.

Pada dasarnya kaum muslim bersatu, tidak tercerai-berai. Prinsip dan jalan mereka satu. Perbedaan hanya terjadi dalam penerapan. Jika dimaklumi terjadinya perbedaan di tengah kaum muslim dalam fikih dan furuk sehingga ada mazhab Hanafi, Maliki, Hanbali, Syafi’i, Zaidi, dan Imamiyah, dan pada masa ini Allah menghilangkan permusuhan dan kebencian di antara mereka, mengapa tidak bisa dimaklumi adanya sedikit perbedaan dalam hal-hal yang berada di luar prinsip-prinsip yang disepakati ini, yaitu berbagai bentuk pengetahuan hasil pemikiran yang bukan merupakan bagian dari akidah?

Tampak jelas bagi pembaca bijaksana apa yang dialami umat Islam pada masa kini, yaitu munculnya gelombang teror dan takfir (menilai pihak lain sebagai kafir) melalui cara-cara yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, norma-norma kemanusiaan, dan nilai-nilai keadilan antarbangsa. Dari sini, kajian khas dari peneliti, Profesor Muhammad Sa’idi, adalah seputar sudut pandang para pemuka, pemikir, dan peneliti Ahlusunnah tentang Syi’ah. Mengingat pentingnya subjek ini, Ayatullah Syekh Muhsin Araki

Menitipkan tugas ini kepada Profesor Muhammad Sa’idi sehingga beliau melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Mengingat kajian ini sangat penting, kami usulkan untuk diterbitkan sebagai suatu bentuk khidmat terhadap Islam dan kaum muslim. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih kepada penulis seraya berharap umat Islam mendapatkan perlindungan, kemajuan, dan keamanan.

Penulis : Doktor Syekh Muhammad Husain Mukhtari

Direktur Al-Markaz al-‘Ali li al-Dirasat al-Taqribiyyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *