Khutbah Jumat Khutbah Jumat

Berlindung dari Godaan Setan

ICC Jakarta – adalah menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Ketika seorang meniti jalan menuju takwa, maka dia berarti meniti jalan menuju Allah. Orang yang bertakwa adalah orang yang dekat kepada Allah. Dengan ketakwaan orang bisa mencapai derajat-derajat spiritual yang tinggi. Derajat-derajat yang bisa membawanya ke tingkatan ikhlas. Ketika orang mencapai tingkatan ikhlas, maka pertama dia akan mencapai tingkatan mukhlis dan kemudian dia akan sampai kepada tingkat mukhlas. Dia akan menjadi hamba Allah yang setiap gerak-geriknya, pikirannya, dan gerakan hatinya hanya untuk Allah Swt.
Seorang yang dekat kepada Allah adalah orang yang akan terselamatkan dari setan. Ketika hati sudah diisi oleh Allah, maka tidak ada tempat bagi setan di sana. Ketika pikiran diisi dengan al-Rahman maka yang akan pergi darinya adalah setan. Ini adalah suatu keniscayaan. Karena itu ketika Iblis setelah diusir oleh Allah Swt gara-gara tidak mau sujud kepada Adam, Iblis mengatakan bahwa aku akan menggoda anak-anak Adam. “Laughuwiyannahum ajma’în. Aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (38:82). Seluruh anak Adam sampai hari kiamat akan aku goda dan akan aku palingkan dari jalan-Mu ya Allah. Tetapi iblis sendiri mengatakan, “illa ‘ibâdaka minhum al-mukhlashîn. Kecuali hamba hamba-Mu yang mukhlas, hamba-hamba-Mu yang telah dibersihkan.” (38: 83).
Allah akan membersihkan seorang hamba menjadikannya murni, tetapi itu akan terjadi setelah manusia itu memurnikan dirinya, membersihkan dirinya dan menjadi orang yang mukhlis. Buah dari itu adalah jauh dari setan. Sebaliknya ketika orang melumuri dirinya dengan dosa, melumuri dirinya dengan maksiat, meninggalkan perintah Allah, mendekatkan diri dengan kemaksiatan kepada Allah, maka saat itulah hatinya dipenuhi oleh setan. Pikirannya dipenuhi oleh setan saat itu. Rahman tidak ada lagi di hatinya dan tidak ada lagi pada pikirannya orang yang berlumur diri dengan dosa. Dia jauh dari Allah. Yang dikhawatirkan adalah ketika orang sudah sedemikian jauh dari Allah, sedemikian tenggelam dalam dosa, maka akhirnya dia akan mendustakan ayat-ayat Allah. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu firman Allah, tsumma ‘âqibatalladzîna asâ’u sû’a akkadzabu bi âyâtillah. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya. (30: 10) Akhir atau babak akhir dari orang-orang yang hobi penimbun dosa adalah mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Na’udzu billah min dzalik.
Ketika hati sudah dipenuhi oleh setan, perbuatan-perbuatan manusia bercorak syaithoni, maka dia akan akrab dengan setan. Jangan heran ketika Allah Swt berfirman mengenai orang-orang yang berada di neraka dengan firman-Nya, Wa man ya’syu ‘an dzikri al-rahman nuqayyidh lahu syaithânân fahuwa lahu qarîn. Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (43:36). (Yakni), barang siapa yang berpaling dari al-Rahman, berpaling dari mengingat Allah, berpaling dari hal-hal yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, maka, kata Allah, nuqayyidh syaithânân, Kami akan ikat dia, setan, yang akan selalu bersama dia dan menemaninya. Itu terjadi karena manusia sendiri yang menceburkan dirinya di dalam lumuran dosa, dia mengotori dirinya dengan dosa; dia menjauhkan al-Rahman dari dirinya sehingga yang masuk adalah setan, padahal kita semua telah diingatkan oleh Allah Swt.
Ketika Allah mengingatkan Nabi Adam as, saat disuruh keluar dari surga, Nabi Adam dipesani oleh Allah Swt, “Aku ingatkan iblis akan menjadi musuh bagi kalian. Iblis akan selalu menjauhkan kalian dari kebenaran.” Itu adalah peringatan dari Allah kepada Adam. Peringatan itu diceritakan oleh Allah dalam Alquran, dan tentunya ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa kita punya musuh yang bernama setan-setan yang tidak mau kita menyembah Allah. Setan-setan yang tidak mau kita dekat kepada Allah, yang tidak mau kita menjadi hamba-hamba Allah yang baik, yang suci, yang bersih, yang mengabdi kepada-Nya.
Allah Swt dalam Alquran surah an-Nisa mengatakan, Alam tara ilalladzîna yaz’umûna annahum âmanû bimâ unzila ilaika wa mâ unzila min qablika yurîdûna ay yatahâkamû ilâththâghûti wa qad umirû ayyakfurû bihi wa yurîdusysyaithânu ayyudillahum dhalâlam ba’îdâ. “Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada tagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (4: 60). Diingatkan oleh Allah melalui surah an-Nisa ayat 60 bahwa setan berupaya sekuat tenaga supaya manusia itu disesatkan dari jalan kebenaran. Misi utama setan adalah menjauhkan manusia dari kebenaran. Ini peringatanjangan pernah dianggap sepele.
Ketika mengganggu manusia, setan memiliki 1001 jurus, jalan-jalan, yang dimasuki oleh setan supaya bisa menundukkan manusia, menjauhkan manusia dari kebenaran. Ini adalah jalan-jalan yang sangat licin bahkan jalan-jalan yang sedemikian tipis. Terkadang setan masuk dengan pertama kali membawa manusia menjadi hamba Allah yang seakan-akan saleh. Ketika dia tampak sebagai orang yang saleh, saat itulah baru setan masuk ke dalam dirinya.
Sebuah Kisah
Ada sebuah kisah. Seseorang datang kepada seorang waliullah, kepada seorang hamba Allah yang saleh. Kepada orang yang punya karamah, orang itu bertanya kepada syekh, “Wahai Syekh, apa yang terjadi pada diriku? Mengapa setiap aku memohon kepada Allah dan berdoa, Allah tidak mengabulkan doaku? Mengapa hidupku selalu penuh dengan derita? Mengapa hidupku selalu dipenuhi oleh ketidaknyamanan, bukankah kalau orang yang beriman harusnya dicintai oleh Allah? Bukankah orang banyak beramal saleh harusnya dia dicintai oleh Allah, dan yang dicintai doanya akan dikabulkan, yang dicintai kesulitannya akan disingkirkan, yang dicintai akan diberikan kehidupan yang lebih menyenangkan. Mengapa keadaanku tidak begitu? Wahai Syekh, selama dua puluh tahun setiap malam aku tidak pernah meninggalkan salat tahajudku, tidak pernah meninggalkan salat malamku, aku selalu salat di awal waktu, aku selalu beribadah kepada Allah. Ada apa gerangan wahai Syekh? Jika ada amalan-amalan yang harus aku lakukan, berikan aku ijazah supaya aku lakukan.”
Dijawab oleh oleh sang sufi dan sang sang Arif, “Wahai fulan yang bertanya, engkau harus bertobat kepada Allah selama dua puluh tahun, karena engkau telah melakukan suatu dosa besar. Karena engkau telah mengaku sebagai orang yang telah berbuat baik, engkau telah mengaku bahwa selama dua puluh tahun engkau telah melakukan perbuatan baik, mendekatkan diri kepada Allah dengan salat malam. Tobatlah dua puluh tahun lamanya, untuk menyesali semua perbuatanmu yang kau lakukan dalam waktu dua puluh tahun itu.”
Sang wali, orang yang arif, mengetahui penyakit orang yang berada di hadapannya. Setan telah masuk ke dalam diri manusia ini, ke dalam diri orang ini melalui jalan ibadah. Ketika orang itu terdorong untuk melakukan ibadah didorong oleh setan supaya terus untuk melakukan ibadah. Di satu sisi setan menumbuhkan pada dirinya merasa bahwa engkau sudah menjadi orang yang baik, menjadi hamba Allah yang saleh, engkau sudah menjadi orang-orang yang bersama dengan para wali, yang kalau malam tidak tidur tapi bermunajat dan beribadah. Setan masuk melewati jalan-jalan itu, sehingga membuat orang tersebut merasa dirinya lebih baik dari banyak orang,menganggap dirinya sudah sedemikian dekat dengan Allah Swt.Intinya setan ketika akan menggoda manusia, tiba-tiba melakukan sesuatu dengan menampakkan yang buruk. Setan akan menampakkan sesuatu yang buruk, dengan sesuatu yang indah, seakan-akan sesuatu yang ditampakkan itu diridai oleh Allah, dicintai oleh Allah, disukai oleh Allah, itulah adalah kebenaran. Itulah makna la uzayyinanna, salah satu yang dilakukan oleh setan adalah membuat hiasan-hiasan. Jangan dianggap biasa-biasa dan itu sebagai kenikmatan semu duniawi. Orang mungkin ketika akan menafsirkan ayat kata-kata iblis la uzayyinanna, bahwa aku akan menghiasi, dianggap bahwa itu hanya sekadar masalah syahwat, masalah kenikmatan-kenikmatan fisikal duniawi yang diperlihatkan oleh setan sebagai sesuatu yang indah dan nikmat.
Bukan hanya itu, setan bahkan mengemasnya dengan keindahan maknawi, keindahan spiritual, atau orang merasa bisa menangis di malam hari, bermunajat kepada Allah. Tapi di sisi lain mengatakan terus-teruslah berdoa, kamu sudah menjadi orang yang lebih baik daripada orang-orang yang lain itu. Hal-hal semacam itu ditampakkan pada dirinya, karena itulah kita harus selalu berpegang kepada Allah Swt. Memohon kepada Allah, agar menjauhkan dari segala tipu daya dan makar setan, setan masuk dengan 1001 cara. Ketika hati manusia punya kesempatan untuk merengkuh Allah, merengkuh al-Rahman, mengapa tidak engkau rahman. Jika rahman sudah masuk, setan akan terusir dengan sendirinya.
Tiga Bisikan Iblis
Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as, riwayat yang betul-betul membuat orang bergetar, Imam Shadiq mengatakan begini, Qâla iblisu la’anatullah ‘alaihi li junudih idzastamkamtu binibni adam fii tsalalatsin lam ubaali maa ‘amil fa innahu ghairu maqbûlin minh. “Iblis, laknat Allah atasnya, berbicara kepada tentara-tentaranya, ‘Jika aku sudah berhasil melakukan tiga hal kepada seorang anak Adam, maka aku tidak peduli lagi mau seberapa banyaknya ibadah yang dia lakukan, mau seberapa banyaknya yang maksiat yang ditinggalkan, mau sebesar apa pun infak yang dilakukan aku tidak peduli, kalau aku berhasil melakukan tiga hal pada seorang manusia.”
Apa ketiga hal itu? Dia katakan, idzastakstara amalah. Jika dia sudah berhasil, aku jadikan orang yang merasa amalnya adalah amal yang banyak, merasa telah melakukan banyak hal yang baik. Itu yang pertama. Kedua, wa nasia dzanba, dan melupakan dosanya dan yang ketiga, wa dakhalal ujub, dan hatinya sudah dimasuki oleh rasa bangga dengan diri sendiri, ujub kepada diri sendiri. Jika ada tiga hal ini, kata iblis, aku tinggalkan dia. Tidak perlu digoda lagi, mengapa? Dia sudah pasti masuk ke jalan kesesatan walaupun amalannya banyak, walaupun tangisannya banyak, walaupun sedekahnya banyak, walaupun dia terkenal baik di kalangan manusia. Tapi jika dia menganggap perbuatan baiknya punya nilai; jika dia menganggap bahwasanya perbuatan banyak itu adalah sesuatu yang besar buat dia; bahwa dia telah melakukan sesuatu, tinggal tunggu tanggal mainnya kapan setan akan mencapai dan menggulingkannya.
Surah al-A’raf menjelaskan kepada kita tentang kisah seorang hamba Allah yang sedemikian salehnya sampai-sampai hampir mendekati tingkatan malaikat. Tapi Allah berkehendak lain. Ternyata orang itu menyimpan suatu ujub pada dirinya, sehingga dia jatuh di hadapan Allah, famatsaluhu kamatsalil kalbi in tahmil’alaihi yalhats aw tatrukuhu yalhats. “Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)” (7: 176). Karena itulah, kita memohon kepada Allah Swt, jangan sampai rasa ujub masuk pada kita. Jangan sampai kita merasa amalan-amalan yang kita lakukan itu sudah menjadi amalan-amalan yang baik, jangan sampai kita melupakan dosa kita. Dosa berbagai macam bentuknya. Ada dosa yang Nampak, ada dosa yang tidak tampak. Kita seringkali lupa dengan dosa yang tidak tampak. Salah satu dosa yang tidak tampak adalah ketika orang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ada sebuah riwayat dari Imam Ridha as yang mengatakan kalau ada seseorang yang merasa bahwa dirinya lebih baik dari satu orang hamba Allah, maka dia belum memiliki keimanan yang sempurna.
Apa yang Allah peringatkan kepada kita tentang tipu daya setan yang diingatkan oleh Nabi dan para Imam maksumin as supaya kita lepas dari penghambaan kepada setan? Apakah ada orang menghamba kepada setan? Banyak. Allah sendiri yang merekam dalam Alquran. Firman-Nya, Alam a’had ilaikum yâ banî âdama an lâ ta’budusy syaithâna innahu lakum ‘aduwwummubîna. Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, hai Bani Adam, supaya kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian”, (36: 60). Yakni, bukankah Aku sudah membuat perjanjian dengan kalian, wahai anak Adam, jangan menyembah setan. Setan adalah musuh kalian yang nyata.
Kita mungkin tidak bisa lepas dari godaan kalau tidak ada bantuan dari Allah. Mohonlah kepada Allah, “Ya Allah, selamatkan kami dari godaan setan.” Bacaan a’udzubillahi minasysyaithanirajim adalah sebuah zikir yang harus sering kita baca. Karena betul-betul kita menghadapi musuh yang sangat besar dengan tipu daya yang sedemikian rumit. Surah Yasin (ayat 60 di atas) memerintahkan kita, mengingatkan kita, akan janji kita dengan Allah. Allah berfirman, Lâ ta’budusy syaithân. Jika orang lepas daripada penghambaan kepada setan, masuk kepada penghambaan Allah, dialah orang yang hurr, orang yang bebas. Seperti yang Imam Husain as katakan kepada syahid Karbala, Hurr bin Yazid al-Riyahi.[]
Naskah ini merupakan khotbah Jumat Ustaz Hafidh Alkaf, Jumat 2 Oktober 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *