NAVIGASI

Peperangan yang diikuti Nabi 2

Kategori: Ahlulbait

Pada bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah Saw beserta 1.600 kaum Muslimin bertolak dari Madinah menuju Khaibar. Lasykar Islam dengan komandan Rasulullah Saw menyerang musuh dengan tiba-tiba dan dengan mudah merebut tanah Raji yang terletak di antara Khaibar dan Ghatfan.

4. Perang Khaibar
Panglima besar laskar Islam Rasulullah Saw menerapkan strategi militer yang jitu. Sehingga antara orang-orang Yahudi Khaibar dengan orang-orang Arab Ghatfan tidak dapat saling membantu satu sama yang lain.
Laskar Islam mengepung benteng Khaibar pada malam hari. Para Mujahidin, pejuang mulia Islam mengambil posisi di tempat strategis yang tersembunyi di balik tanam-tanaman palem. Dengan mudah mereka menguasai lembah Khaibar. Kemudahan ini berkat keberanian dan ketulusan mereka dalam berkorban. Namun sayang, dua lembah strategis yang menjadi markas kaum Yahudi tidak dapat dikuasai. Kaum Yahudi itu mempertahankan mati-matian markas mereka dengan melontarkan anak panah ke arah pasukan kaum Muslimin.
Rasulullah Saw memerintahkan kaum Muslimin untuk menyerang kubu pertahanan Yahudi itu dan menduduki benteng itu dalam tiga hari. Pada hari pertama, Rasulullah Saw memerintahkan Abu Bakar sebagai komandan tempur, namun tidak berhasil. Pada hari kedua Umar Bin Khatab bertindak sebagai komandan tempur, namun juga tidak berhasil untuk menaklukkan benteng itu. Sa’ad bin Ubadah pada hari ketiga ditugasi untuk menyerang dan menduduki benteng dan pertahanan Yahudi, namun juga gagal.
Melihat kegagalan kaum Muslimin merebut benteng tersebut, Rasulullah Saw bersabda: ” Esok aku akan memberikan bendera Islam ini kepada orang yang kembali hanya bila kubu pertahanan Yahudi itu telah dikuasai. “
Seluruh sahabat menantikan fajar tiba untuk menyaksikan siapa gerangan orang yang beruntung itu. Namun siapakah orang yang akan dapat melakukan itu selain Ali bin Abi Thalib?
Pada pagi harinya, Rasulullah Saw menyerahkan bendera Islam kepada Ali dan menugaskannya untuk menguasai lembah Khaibar. Rasulullah Saw mendo’akan untuk kesuksesan Ali.
Rasulullah Saw melakukan ini untuk menunjukkan kepada sahabat-sahabat yan lain tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib atas sahabat-sahabat yang lain.
Ali menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga oleh dua orang gagah berani, Haris dan Marhab. Mereka menyerang pasukan Ali dengan garang sehingga dengan kocar-kacir menyelamatkan diri. Sebagai komandan perang, Ali segera menghadang kedua bersaudara itu. Dengan kegagagahan dan keunggulannya, ia mampu menghabisi kedua orang Yahudi itu. Orang-orang Yahudi yang berada di balik benteng menjadi ketakutan dan panik. Mereka cepat-cepat menutup pintu gerbang dan bersembunyi di baliknya. Pasukan Muslimin yang tadinya kocar-kacir melarikan diri, setelah melihat kemenangan Ali, segera kembali dan bersiaga di belakang sang komandan. Ali maju mendekati pintu gerbang itu dan mengangkat pintu itu tinggi-tinggi lalu membantingnya laksana singa yang sedang murka.
Ali menjadikan pintu gerbang sebagai perisai. Beliau melompat ke dalam parit dan menjadikan pintu gerbang itu sebagai jembatan untuk dilalui pasukan kaum Muslimin. Pasukan kaum Muslimin akhirnya berhasil dengan mudah memasuki benteng dan menduduki Khaibar, markas orang-orang Yahudi itu.
Sesungguhnya pintu gerbang itu sangat berat dan hanya mampu dipikul oleh 20 orang. Namun Ali dapat mengangkatnya sendiri dengan bantuan Allah Swt.
Tentang kekuatan yang menakjubkan itu, Ali berkata: ” Aku tidak dapat merobohkan gerbang itu dengan kekuatan manusia biasa. Kekuatan itu atas pertolongan allah Swt dan kekuatan iman yang kumiliki.Tanpanya aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Akhirnya pasukan Muslimin menguasai seluruh benteng yang ada di sekitar Khaibar dan menaklukkan orang-orang Yahudi. Sisa-sisa orang Yahudi memohon kepada Rasulullah Saw untuk diperbolehkan tinggal. Mereka ingin tetap dapat mengolah tanah tersebut untuk pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan menyumbangkan setengah dari hasil panen itu kepada kaum Muslimin. Rasulullah Saw mengabulkan permohonan itu.

Tanah Fadak

Berita tentang penaklukan Khaibar terdengar oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di Fadak. Mereka menjadi sangat risau dan ketakutan. Orang-orang Fadak itu mengutus wakil mereka untuk bertemu dengan Rasulullah Saw dengan membawa pesan tentang perlunya dibuat suatu perjanjian. Mereka kemudian menyerahkan separuh wilayah fadak kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw menghibahkan tanah tersebut kepada putrinya, Fatimah agar dapat dimanfaatkan untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya dan keperluan orang-orang miskin.
Sesudah perang Khaibar, Rasulullah Saw bertolak menuju Wadiul Qura (lembah Qura) yang menjadi pusat pemukiman Yahudi. Beliau dan pasukan Muslimin mengepung pemukiman itu dan menaklukkannya. Penaklukan itu berlangsung dengan mudah. Rasulullah Saw berjanji untuk mengembalikan tanah Yahudi itu kepada pemiliknya dengan syarat bahwa separuh dari hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum Muslimin. Hal ini berlaku sebagaimana pengembalian tanah di lembah Khaibar, yakni separuh hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum Muslimin.
Maksud strategis perjanjian ini untuk mengaktifkan sektor ekonomi dan mampu menghasilkan kesejahteraan umat sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dan hartanya jika ada panggilan perang.

  1. Perang Mu’tah

Sebelum meletusnya perang Mu’tah, Rasulullah Saw mengutus Harits bin Umair kepada penguasa Suriah dengan maksud mengajaknya pada Islam. Namun pihak penguasa berlaku kurang ajar. Mereka menahan dan membunuh duta Islam itu. Setelah peristiwa ini Rasulullah Saw tetap mengutus 16 duta Islam (da’i) untuk mengajak penguasa Suriah dan rakyatnya kepada Islam. Sayang mereka juga terbunuh. Dari 16 orang da’i itu hanya satu orang yang mampu bertahan hidup.
Da’i yang berhasil lolos itu kembali ke Madinah dan melapor kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw sangat terpukul mendengar hal itu. Pembantaian terhadap para da’i itu membuat Rasulullah Saw mengeluarkan perintah untuk berjihad. Beliau mengirim 3.000 pasukan pada Jumadil Tsani tahun 8 Hijriah.
Sebelum pasukan Muslimin berangkat, Rasulullah Saw memberikan pengarahan kepada lasykar Muslimin: ” Yang akan memimpin pasukan pertama kali adalah Ja’far bin Abi Thalib, jika sesuatu menimpanya, maka tampuk kepemimpinan diserahkan pada Zaid bin Haritsah. Dan jika terjadi sesuatu pada Zaid, maka Abdullah bin Ruwahid yang menjadi pimpinan kalian. Dan jika Abdullah bin Ruwahid juga menjumpai syahidnya, maka pilihlah pemimpin di antara kalian. “
Setelah mendapatkan pengarahan dari penglima besar mereka, berangkatlah pasukan itu di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib. Ketika pasukan Muslimin sampai di dekat kota raja, mereka mendapat berita bahwa Raja Romawi telah mengirim 100.000 pasukannya ditambah 100.000 orang Arab untuk mengepung tentara Islam.

Perang yang tidak Seimbang

Lasykar musuh yang berjumlah 200.000 pasukan itu berhadapan dengan 3.000 pasukan Muslimin. Setelah berhadap-hadapan, perang pun meletus. Ja’far bin Abu Talib bertempur dengan gagah berani dan berhasil menewaskan banyak lasykar musuh. Namun ketangkasan bertempurnya tidak sebanding dengan jumlah musuh yang jumlahnya begitu banyak. Ia gugur sebagai syuhada. Pucuk pimpinan segera diambil oleh Zaid bin Haritsah. Zaid pun bertempur dengan gagah berani. Namun, ia pun syahid. Setelah gugurnya Zaid, Pasukan Muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Ruwahid yang juga berakhir dengan kesyahidannya.
Dengan gugurnya para pimpinan mereka yang gagah berani itu, kaum Muslimin segera memilih seorang pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Khalid bin Walid, yang baru masuk Islam, terpilih sebagai pimpinan kaum Muslimin setelah ditinggalkan oleh para pemimpin mereka. Khalid adalah seorang yang berpengalaman dan ulung dalam peperangan. Selaku komandan tempur, ia berfikir bahwa pertempuran yang sedang berlangsung berjalan tidak seimbang. Apabila terus dilanjutkan, pihak pasukan kaum Muslimin akan banyak menjadi korban. Oleh karena itu, ia menerapkan strategi perang yang jitu. Ia segera menarik pasukannya dari medan pertempuran.
Khalid bin Walid memerintahkan pasukannya untuk mundur pada malam hari. Pada shubuh hari, mereka bergerak maju kembali ke medan pertempuran dari segala penjuru. Dengan demikian, pihak musuh menyangka bahwa telah datang pasukan bantuan dari Madinah.
Dengan taktik perang seperti ini, Khalid berhasil mengecoh musuh dan menciutkan nyali bertempur mereka. Akibatnya, pihak musuh memutuskan untuk menghentikan pertempuran. Melihat musuh telah mundur dan menghentikan peperangan, Khalid beserta pasukannya kembali ke Madinah.
Rasulullah Saw amat berduka tatkala mendengar kesyahidan kerabat dan sahabatnya. Tetapi beliau memberikan penghargaan atas kecerdikan Khalid dalam bertempur.

Penaklukan Kota Makkah

Penarikan mundur pasukan Muslimin dari medan pertempuran Mu’tah telah membuat kafir Quraisy semakin berani dan congkak. Mereka berfikir bahwa pasukan Muslimin telah kehilangan daya dan kekuatan tempur. Oleh karena itu, mereka mengkhianati perjanjian Hudaibiyyah. Dengan bantuan sekutu-sekutunya mereka menyerang dan membunuh banyak kaum Muslimin dari Bani Thaif.
Abu Sufyan tahu betul bahwa kaum Muslimin tidak akan tinggal diam dan mereka segera mengirimkan jawaban atas pengkhianatan ini. Abu Sufyan mengharapkan untuk bertemu dengan Rasulullah Saw di Madinah dan meminta maaf atas tragedi tersebut. Abu Sufyan berharap agar Rasulullah Saw masih mau mengikuti perjanjian Hudaibiyyah. Akan tetapi, Rasulullah Saw menampik harapan itu sehingga Abu Sufyan bertolak ke Makkah dengan kecewa. Rasulullah Saw memerintahkan pasukannya untuk siaga. Sebanyak 10.000 lasykar kaum Muslimin menyatakan siap sedia untuk mengambil bagian dalam peperangan selanjutnya. Rasulullah Saw menugaskan pengawal-pengawal untuk berjaga-jaga di sekeliling kota untuk mencegah jangan sampai ada orang yang meninggalkan kota dan meyebarkan berita kepada kafir Quraisy dalam hal ini. Tetapi seorang pengkhianat keji bernama Hatib membocorkannya kepada kaum Musyrik Makah. Dengan dalih risau akan keselamatan keluarganya, Hatib mengutus seorang kurir wanita untuk menyebarkan berita ini.
Niat busuknya segera diketahui. Surat yang berisi bocoran tentang persiapan kaum Muslimin berhasil disita. Rasulullah Saw memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk melakukan pemboikotan sosial terhadap Hatib si pegkhianat. Sesungguhnya hukuman boikot itu lebih buruk daripada hukuman kematian.
Pada hari ke-10 Ramadhan tahun ke 8 Hijriah, Rasulullah Saw memerintahkan pasukannya dan sebagian kaum Muslimin untuk bergerak cepat. Mereka harus sampai kota Makkah dalam waktu satu minggu. Rasulullah Saw bserta pasukan dan seluruh kaum Muslimin mendirikan tenda di dekat kota Makkah. Rasulullah Saw memberikan komando pada pasukan Muslimin untuk berpencar pada malam hari dan menyalakn api unggun di mana-mana. Pihak musuh berfikir bahwa sebuah pasukan besar telah tiba dari Madinah. Hasil yang diharapkan dari strategi ini adalah musuh terkecoh dengan taktik jitu Rasulullah Saw . Benar, musuh menjadi ketakutan. Mereka menyangka bahwa pasukan dalam jumlah raksasa akan menyerang. Malam harinya, hutan di dekat kota Makkah menjadi terang benderang dengan nyala api unggun di mana-mana, suara riuh dan slogan-slogan kaum Muslimin berkumandang, unta-unta dan kuda-kuda meringkik. Ketika Abu Sufyan beserta sekelompok Quraisy datang menyaksikan hal ini, ia merinding ketakutan. Ia menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia tidak pernah menyaksikan pasukan sebesar ini selama hidupnya.
Abu Sufyan datang menjumpai Abbas untuk meminta masukan darinya. Dengan bermaksud untuk berdamai, Abbas bin Abdul Muthalib membawanya datang untuk menemui Rasulullah Saw, sang panglima kaum Muslimin.
Demi kemaslahatan dan kejayaan Islam, Rasulullah Saw mengatakan kepada Abu Sufyan agar dapat meyakinkan penduduk kota Makkah, bahwa siapa saja yang mencari perlindungan hendaknya memasuki rumah Abu Sufyan. Setelah mendengar pandangan Rasulullah Saw, Abu Sufyan bertolak kembali ke Makkah dengan membawa ampunan dari Rasulullah Saw. Ia mengingatkan penduduk kota Makkah bahwa kaum Muslimin akan datang dengan pasukan raksasa. Untuk menghindari pertumpahan darah, maka sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan kaum Muslimin memasuki kota Makah. Akhirnya kota Makah dapat diduduki dengan damai tanpa adanya pertumpahan darah.
Sekelompok kaum Muslimin, khususnya para pengungsi yang pernah diperlakukan secara kejam oleh Quraisy, berniat menuntut balas. Namun Rasulullah Saw memberikan maklumat pengampunan kepada mereka yang pernah melakukan kesalahan. Beliau bersabda: ” Hari ini adalah hari pengampunan dan bukan pembalasan dendam. Tidak ada yang memiliki hak untuk memerangi siapapun kecuali membunuh mereka yang terbukti melakukan kesalahan yang tidak di maafkan. “
Lalu Rasulullah Saw menyebutkan orang-orang yang tidak layak untuk mendapatkan pengampunan tersebut. Sesudah rehat sejenak, beliau memasuki Ka’bah dan menyingkirkan berhala-berhala yang ada di sekeliling Ka’bah. Bilal mengumandangkan azan. Bersama sahabat-sahabat, Rasulullah Saw melakukan salat.

  1. Perang Hunain

Setelah kejatuhan markas kaum Musyrikin oleh kaum Muslimin, para penyembah berhala itu tetap diperbolehkan tinggal di sekeliling Ka’bah. Mereka merasa malu dan ketakutan yang amat sangat. Oleh karena itu, mereka mengundang kaum mereka untuk berkumpul. Mereka memutuskan bahwa untuk mengalahkan kaum Muslimin, maka hendaknya mereka bersekutu, bersatu menghancurkan pasukan kaum Muslimin itu. Dalam pertemuan itu, diputuskanlah pemimpin Taifa Hawazan sebagai panglima mereka.
Mendengar berita ihwal pertemuan ini, Rasulullah Saw mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai keadaan musuh dan mencari informasi tentang kesepakatan perang yang ditandatangani oleh suku-suku itu. Utusan itu berhasil mendapatkan informasi dan segera melaporkannya kepada Rasulullah Saw.

Persiapan Menjelang Perang Hunain

Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan tersebut, Rasulullah Saw tidak tinggal diam. Panglima besar kaum Muslimin itu segera memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah Hunain. Para mujahidin itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8 Hijriah.
Malik, panglima tentara kafir mengutus tiga orang lasykarnya untuk memata-matai pasukan Muslimin.
Mereka menyaksikan kehebatan pasukan Muslimin dan melaporkan hasil spionasenya itu kepada Malik. Ia berfikir bahwa mereka tidak memiliki daya untuk menghadapi pasukan Muslimin. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis. Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk menyerang secara tiba-tiba jika pasukan musuh terlihat.
Pasukan Muslimin tiba di lembah Hunain pada malam Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di tempat itu. Rencananya mereka akan bergerak memasuki lembah Hunain pada Shubuh hari.
Pihak musuh, yang telah siap sedia, menyambut kedatangan mereka dengan bersembunyi di balik ilalang. Setelah melihat musuh menampakkan diri, mereka lalu menyerang tiba-tiba dari empat penjuru.
Di tengah kegelapan malam, kuda-kuda yang ditunggangi pasukan Muslimin itu membuat kegaduhan. Kegaduhan ini menjadi ramai oleh sekitar 2.000 muallaf. Para muallaf itu melarikan diri dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pelarian diri itu telah membuat musuh menjadi tambah semangat untuk mencerai beraikan pasukan Muslimin.
Hanya 10 orang sahabat yang bersiaga di samping Rasulullah Saw. Merekalah yang membela Rasulullah Saw dari ancaman pedang musuh. Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk lari mencari pertolongan. Abbas berteriak dengan suara lantang memanggil sahabat-sahabat yang melarikan diri itu. Musuh yang pada awalnya meraih kemenangan itu, lambat laun menjadi lemah akibat kembalinya pasukan Muslimin yang melarikan diri tadi.
Walhasil, benteng pertahanan musuh dihancurkan. Musuh lari tunggang langgang meninggalkan peralatan tempur mereka. Rasulullah Saw menugaskan beberapa orang sahabat untuk mengejar musuh yang melarikan diri sehingga mereka menjadi tidak berdaya. Maksud pengejaran ini adalah agar tidak tersisa lagi musuh yang bisa melakukan perlawanan militer esok hari nanti. Para sahabat yang mengejar musuh itu berhasil menunaikan tugas mereka. Atas berhasilnya pasukan Muslimin menaklukkan musuh, Rasulullah Saw kemudian membagikan harta rampasan perang kepada kaum Muslimin.

  1. Perang Tabuk

Pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah Saw menerima laporan bahwa kaum Muslimin yang bermukim di barat daya perbatasan Arabia, mendapat ancaman dari kekaisaran Romawi dan berhajat untuk menyerang wilayah-wilayah Islam.
Setelah mempersiapkan pasukan, Rasulullah Saw mengumumkan rencananya kepada khalayak ramai. Cara ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat sebelumnya. Dahulu, Rasulullah Saw merahasiakan niatnya. Kali ini beliau memberitahukan kepada khalayak secara terbuka. Beliau meminta penduduk untuk memusatkan perhatian pada perang ini dan menghimbau kepada khalayak untuk tidak ragu-ragu dalam memberikan bantuan dan sumbangan kepada lasykar Islam.
Masyarakat mempersembahkan segala sesuatu yang diperlukan oleh pasukan Muslimin. Mereka dengan antusias dan penuh semangat berkorban dengan harta benda mereka untuk digunakan dalam peperanagn.

Perilaku Kaum Munafik

Bersamaan dengan bergeraknya pasukan Muslimin, orang-orang munafik mulai menebarkan racun dengan menciptakan semangat anti perang dan menanamkan Rasulullah Sawa takut dalam diri pasukan Muslimin akan kehebatan pasukan Romawi. Mereka melakukan berbagai cara diantaranya adalah membangun sebuah masjid dengan nama ” Masjid Dirar ” sebagai pusat penyebaran racun propaganda anti perang itu. Mereka berharap agar orang-orang tidak ambil bagian dalam medan jihad itu. Syukurlah, berkat kesigapan dan ketegasan, Rasulullah Saw berhasil menghentikan persekongkolan orang-orang munafik itu.
Atas perintah Rasulullah Saw, rumah tempat berkumpulnya orang-orang Yahudi dan Munafiqin itu dibakar oleh massa. Dengan cara seperti ini, persekongkolan yang mereka buat berhasil ditumpas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.