Opini

Memuji atau Diam

ICC Jakarta – Di tengah gegap gempita dan ribuan massa yang menyambut kedatangan HRS, ada tiga sikap yang mengiringi kedatangannya;

1 Memuji dan mengagumi karisma magnetis HRS yang sedemikian rupa.

2 Nyinyir sambil mencari atau membongkar kesalahan HRS dan tingkah para pengikutnya.

3 Diam dan tidak berkomentar.

Sikap pertama dan kedua mempunyai implikasi terhadap diri dan lingkungannya, dan mencerminkan apa yang ada dalam pikiran yang mengucapkannya: baik atau buruk, benar atau salah. Dua sikap ini harus dipertanggungjawabkan.

Sementara mengambil sikap diam mencerminkan kehati-hatian atau apatisme orangnya.

Bagaimana dengan kita, jemaah Ahlulbait?

Menurut saya, sikap kedua bagaimanapun juga tidak dibenarkan, karena tuntunan ajaran Nabi Saw dan para Imam Ahlulbait as tidak pernah mengajarkan caci-maki dan nyinyir.

Kita boleh saja tidak suka kepada HRS dan para pengikutnya, tapi kita tidak boleh menghina, merendahkan dan bersikap atau berperilaku nyinyir terhadap mereka.

Lebih dari itu, sikap kedua ini mempunyai implikasi dan efeknya yang mungkin buruk untuk komunitas.

Jadi, menurut saya sikap kedua bukan sebuah pilihan.

Sikap pertama; memuji dan mengagumi HRS dan karismanya, juga harus dipertanggungjawabkan, meski sekilas menguntungkan tapi sejauh mana HRS dan para pengikutnya memahami bahwa pujian kita tulus dan benar, bukan sebuah sikap yang potensial dituduh pragmatis atau “opurtunis”?

Kita tidak tahu persis: sejauh mana pengaruh kita terhadap mereka? Bisakah kita mewarnai mereka, meskipun sedikit?

Sejauh yang saya tahu, tangan kita masih terlalu pendek untuk menjangkau kepala mereka. Komunitas kita sepertinya tidak masuk kalkulator mereka bukan karena apa-apa, tapi karena jumlah kita masih sangat sedikit dan miskin secara material.

Jika kita dalam keadaan seperti itu, lalu mengambil sikap pertama, mungkin akan dianggap oleh mereka sebagai “taqiyyah” atau jangan-jangan malah secara serampangan dituding sebagai kemunafikan.

Lalu kalau kita ambil sikap kedua, selain tidak dibenarkan, maka apa jadinya kita di hadapan HRS dan para pengikutnya?

Untuk saat ini, mungkin sikap ketiga menjadi pilihan yang “relatif” aman dan tepat.

Di sinilah kalimat hikmah, “Diam adalah emas” benar-benar bakal membawa hikmah.

Diam merupakan langkah awal dari sebuah proses olah hati ( riyadhah) kita untuk menahan mulut dan jari-jari kita untuk tidak berkomentar tanpa pikir panjang dan pertimbangan matang.

Selamat memilih diam!

Oleh Ustaz Husein Alkaff

Sumber: Safinahonline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *