Khutbah Jumat Khutbah Jumat

Menyikapi Perbedaan Keyakinan

ICC Jakarta – Sekarang kita berada di bulan Rabiulawal, yang di dalamnya kaum muslimin seantero jagad ini memperingati milad Rasulullah saw. Namun seiring dengan itu peringatan tahun ini, bertepatan dengan penistaan pihak-pihak tertentu di dunia Barat terhadap keagungan dan kesucian nabi besar Muhammad saw, layak dan memang hak bagi kaum muslimin untuk marah terhadap penistaan yang terjadi terhadap Rasulullah saw. Bukan hanya hak tapi mereka juga wajib untuk marah karena adanya rasa sakit di hati setiap kaum muslimin terhadap apa yang dia lakukan oleh mereka yang menghina dan melecehkan Rasulullah saw serta melecehkan kesucian Islam.

Sangat disayangkankan pihak-pihak di belahan dunia Barat sana melakukan pelecehan semacam ini dan terus melakukan diulang-ulang, tahun demi tahun, dengan alasan dan dengan bingkai kebebasan berekspresi. Padahal kebebasan berekspresi itu oleh mereka akan dibatasi ketika berbicara berkenaan dengan hal-hal yang tidak mereka sukai. Ketika ada orang berbicara, misalnya, tentang menyangsikan dan meragukan kejadian Holocaust, kebebasan berekspresi itu tidak lagi mereka dengungkan. Mereka melawan setiap orang yang meragukan tentang kejadian Holocaust dan menganggapnya sebagai antisemitisme.

Apakah kebebasan berekspresi itu layak untuk didengungkan ketika hal tersebut membuat dan menciptakan kemarahan di tengah masyarakat Barat? Bahkan juga yang lebih tersiksa yang lebih tersakiti adalah hati lebih dari satu setengah miliar kaum muslimin di seluruh penjuru dunia yang merasa sakit hati atas adanya penistaan semacam itu. Apakah penghinaan dan pelecehan pihak lain dan apakah penistaan agama dan keyakinan lain layak disebut sebagai sebuah kebebasan berekspresi?

Di sini kita bertanya-tanya apakah gerangan yang membuat mereka sedemikian sering menghina dan melecehkan kesucian kaum muslimin dengan menghina Rasulullah saw. Apa yang membuat mereka sedemikian terpanggil untuk melakukan sesuatu yang menyulut kemarahan kaum muslimin?

Rahasianya ada pada kemajuan dan perkembangan Islam yang mencengangkan di dunia Barat. Kita bisa menyaksikan bahwasanya Islam merupakan agama kedua di dunia dengan pemeluk terbesar, tetapi ketika kita melihat di negara-negara Barat seperti di Spanyol, Prancis, Inggris, dan negara-negara lainnya, kita saksikan bahwa bahwa perkembangan Islam di negara-negara itu sedemikian dahsyat. Bahkan dikatakan bahwa anak-anak muda di dunia Barat cenderung untuk menerima Islam karena mereka menemukan Islam adalah satu-satunya agama yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Tentang siapa diri mereka, Islamlah yang menawarkan konsep untuk memahami makna kehidupan. Karena itu, kita melihat betapa mereka mendambakan ketenangan dan ketenangan itu bisa mereka dapatkan dalam Islam. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahunnya lebih dari 20.000 warga Amerika memeluk agama Islam, sementara di Eropa ada 23.000 orang-orang Eropa setiap tahunnya memeluk agama Islam.

CNN dalam sebuah liputannya yang dikemas dalam tema “Perkembangan Islam di Dunia Barat” menyebutkan bahwa jumlah mereka yang setiap tahunnya memeluk agama Islam di dunia Barat sedemikian besar dan terus berkembang. Majalah The Guardian memberikan sebuah laporan tentang masalah perkembangan Islam. Dikatakan bahwa bahwasanya tahun 2060 nanti Islam akan menjadi agama pertama dengan jumlah penduduk terbesar menggeser posisi Kristen. The Guardian juga menyebutkan tentang laporan mengenai telaah atau studi demografi yang dilakukan di Amerika bahwa perkembangan Islam di sana menunjukkan perkembangan yang sedemikian dahsyat dan cepat sekali. Dan, ini akan terjadi pada paruh kedua abad ke-21 ini. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan apa yang disampaikan oleh CNN ataupun laporan the Guardian bahwa 40 tahun lagi, terhitung dari sekarang, Islam akan menjadi agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk bumi yang menjadi agama pertama dengan pemeluk yang terbesar.

Hal inilah yang memicu kekhawatiran dan kecemasan di dunia Barat sehingga mereka melalui telaah-telaah mereka, apa yang harus mereka lakukan menghadapi kenyataan ini? Mereka didukung oleh pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan gereja-gereja atau pusat-pusat keagamaan serta pusat-pusat pengambilan keputusan secara politik, akhirnya mereka menggunakan kerja sama dengan media-media yang ada untuk menebarkan apa yang kita sebut dengan islamophobia atau ketakutan terhadap Islam. Tujuannya adalah supaya mereka bisa mencegah Islam menjadi agama pertama di dunia Barat. Karena itu, mereka berusaha mencegah orang-orang tertarik kepada Islam. Salah satunya adalah dengan cara melecehkan dan menggambarkan Nnabi Muhammad saw dengan gambaran yang buruk, mengesankan Islam sebagai Islam agama yang buruk. Nanti ketika ada fenomena semacam itu akan muncul reaksi dari kaum muslimin yang diharapkan oleh mereka adalah reaksi yang berlebihan dari pihak kaum muslimin dengan kekerasan dan tindakan teror. Itu akan semakin mencoreng Islam dan kesuciannya.

Karena itu, ada dua agenda dunia Barat dalam masalah ini. Agenda pertama adalah melecehkan dan menghinakan apa yang berhubungan dengan Islam. Termasuk di antaranya melecehkan yang dianggap paling suci oleh kaum muslimin yaitu sosok Rasulullah saw. Agenda kedua adalah menciptakan kelompok-kelompok yang bisa memicu kebencian terhadap Islam sehingga muncullah kelompok Jabh al-Nusra, Boko Haram, dan kelompok-kelompok teror lainnya. Ketika mendengar adanya kelompok-kelompok semacam itu dan kelompok-kelompok itulah lahir dari rahim Islam, maka orang-orang yang tidak mengenal Islam akan menjauhi Islam dan membenci agama ini.

Karena itu, tidak heran ketika kita mendengar menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton dalam salah satu wawancaranya dengan tegas mengatakan bahwasanya Amerikalah yang menciptakan ISIS, Amerikalah yang menciptakan gerakan-gerakan seperti Boko Haram dan yang lainnya di berbagai belahan dunia. Bahwa pernyataan itu bagi kita bukan suatu hal yang mengejutkan karena kita sudah bisa membaca ini adalah salah satu agenda dari dunia Barat supaya orang-orang yang tidak mengenal Islam akan semakin menjauh dan membenci Islam jika mendengar nama itu.

Yang menjadi pertanyaan adalah di satu sisi kita melihat adanya pelecehan terhadap Islam dan di satu sisi juga kita melihat adanya agenda-agenda Barat terhadap Islam untuk menjauhkan masyarakat dunia dari Islam. Apa yang harus kita lakukan? Apa reaksi kita terhadap pelaksanaan pelecehan-pelecehan tersebut. Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya tegaskan bahwasanya adalah hak bahkan wajib atas kaum muslimin untuk marah ketika menyaksikan pelecehan dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Kaum muslimin harus marah ketika yang paling disucikan dan diagungkan oleh mereka ternyata dijadikan bahan cemoohan dan bahkan penghinaan, yang karena ini adalah suatu luka yang sangat dalam, luka yang telah menyakiti kehormatan kemuliaan dan kemanusiaan mereka. Akan tetapi, meski begitu kita harus melihat bahwa tindakan kekerasan dan kekejian yang tidak terarah juga harus dihindari. Karena itu, kita tidak setuju dengan apa yang dilakukan bahkan mengecam apa yang terjadi di Kota Nice Prancis, pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 2020, ketika ada orang yang menyerang gereja di Gereja Notre-Damme dan membunuh seorang penjaga sekuriti gereja tersebut serta membunuh dua orang perempuan. Peristiwa semacam ini adalah peristiwa yang tidak bisa dibenarkan. Tindakan ini justru menurut kami lebih buruk dari menyebarkan karikatur yang menghina Rasulullah saw. Kita tidak bisa membenarkan tindakan pembunuhan teror dan kekerasan kepada orang-orang yang tidak berdosa.

Saat menghadapi pelecehan-pelecehan semacam ini kaum muslimin harus bertindak secara positif. Artinya, dengan cara menjelaskan kepada masyarakat lain tentang hakikat agama Islam, menjelaskan tentang perilaku dan sejarah Rasulullah saw yang penuh dengan pelajaran yang sangat berharga. Kita perlu menjelaskan kepada orang-orang yang lain di luar Islam dengan bahasa yang modern dan beradab. Kita juga mesti menggunakan cara yang menggunakan cara-cara damai yang bisa diterima oleh sistem manapun di dunia ini. Jangan sampai peristiwa ini menjadikan kita sebagai masyarakat yang eksklusif, yang terpisah dari masyarakat dunia dengan  melakukan tindakan kekerasan. Karena tindakan kekerasan—apalagi yang menjadi sasaran adalah orang-orang yang tidak berdosa—adalah sebuah tindakan yang tidak bisa dibenarkan.

Langkah kedua kita mesti mengkampanyekan kepada semua pihak, di dalam ataupun di luar, kampanye tentang keharusan untuk menghormati agama-agama dan keyakinan keyakinan yang lain. Semua pemerintahan, pemerintahan di negara-negara Islam, semua lembaga-lembaga yang mengatasnamakan dirinya sebagai lembaga atau yayasan Islam, harus bisa melangkah untuk mewujudkan sebuah dunia, konsensus seluruh bangsa di dunia yang mengecam dan menolak segala bentuk aksi penistaan terhadap keyakinan-keyakinan atas kepercayaan-kepercayaan yang ada.

Ini berarti kita harus mengikat diri kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang beradab dan tidak melakukan penistaan terhadap kepercayaan yang lain. Ini berlaku untuk kita sebagai kaum muslimin, sebagai pengikut suatu pengikut mazhab terhadap mazhab yang lain, jangan sampai muncul dari kita apa yang membuat pihak-pihak yang meyakini keyakinan lain ketidaksenangan karena tindakan-tindakan pelecehan yang dirasa. Tidak ada hak bagi seorang Syi’ah untuk menistakan dan melecehkan apa yang diagungkan oleh orang-orang Sunni, dan tidak ada hak bagi seorang Sunni untuk melecehkan apa yang diagungkan dan dianggap sebagai sakral oleh orang orang Syi’ah. Masing-masing harus bisa menghormati keyakinan pihak yang lain tanpa harus melebur diri menjadi pihak yang lain. Memang kita melihat ada sejumlah riwayat dan ungkapan-ungkapan yang menjurus kepada hal-hal yang bersifat sektarian yang mengkhususkan satu kelompok terhadap kelompok yang lain, tapi kita sadar bahwa itu semua terjadi akibat dari apa yang terjadi pada masa yang lalu dan harus kita tinggalkan.

Agama kita telah mendidik kita untuk menghormati kepercayaan orang lain, menghormati orang lain supaya orang lain juga menghormati. Kitab Allah Swt dalam surah Al-An’am ayat 108 berfirman, Jangan kalian mencela orang-orang yang memanggil atau beribadah kepada selain Allah, karena kalau itu kalian lakukan maka mereka akan mencela Allah. Karena mereka memusuhi dan membenci tindakan yang kalian lakukan.

Ini adalah suatu pelajaran dari Allah Swt kepada kita. Setiap umat atau setiap golongan tentu ingin keyakinannya dihormati. Jika dia melakukan tindakan menghina dan melecehkan keyakinan orang lain, orang yang dihina itu pasti juga akan membalas dengan menghina dan melecehkan keyakinan kita. Dan jika itu terjadi yang muncul adalah permusuhan, kebencian, yang ujung-ujungnya adalah munculnya dan pecahnya peperangan yang berbau mazhab dan sektarian. Tentunya jika itu terjadi yang merugi adalah semua pihak, bukan hanya satu pihak saja.

Alquran mengajarkan kepada kita, jangan sampai kita menjadi orang yang suka mencaci dan mencela walaupun mereka adalah orang kafir. Demikian pula riwayat dan hadis-hadis melarang kita untuk menjadi orang yang suka mencaci. Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda, “Aku tidak diutus untuk menjadi orang yang suka melaknat. Aku diutus oleh Allah Swt untuk menjadi rahmat bagi alam.” Anas bin Malik ketika menceritakan tentang kepribadian Nabi saw, dia mengatakan bahwa Rasulullah saw bukan sosok manusia yang suka mencaci, bukan sosok manusia yang suka menghardik dan memberikan stigma-stigma yang buruk dan bukan seseorang yang suka melaknat.

Dalam sebuah peristiwa sejarah disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah terlibat peperangan dahsyat melawan pasukan Muawiyah dan yang memimpin pasukan dari Syam. Peperangan ini berjalan cukup lama. Sejarah menyebutkan selama enam bulan berturut-turut terjadi bentrokan di antara kedua pihak. Puluhan ribu orang terbunuh. Sebagian yang terbunuh adalah orang-orang yang tidak berdosa yang terlibat dalam peperangan itu. Pada saat itu Imam Ali bin Abi Thalib mendengar beberapa orang sahabat beliau mencela pasukan Muawiyah, pasukan Syam, Imam Ali kemudian berkata kepada mereka, “Wahai para sahabatku, aku tidak suka kalau kalian menjadi orang-orang yang suka mencela, suka mencaci. Seandainya kalian sebutkan tentang tindakan yang buruk, misal, kalian membenci tindakan yang buruk, maka itu lebih baik daripada kalian harus mencela orang-orangnya. Seandainya kalian mengatakan daripada kalian mencela, cobalah kalian berdoa kepada Allah.”

Perhatikan kata-kata Imam Ali, “Jangan mencela, tapi gunakan doa.” Daripada kalian mencela doakanlah, “Ya Allah, jagalah darah-darah kami dan darah darah mereka. Ya Allah, persatukanlah kami lagi, jangan sampai kami bertempur dengan mereka. Ya Allah, tunjukkanlah kepada mereka bahwa mereka itu sedang dalam keadaan tersesat sehingga mereka bisa mengenal kebenaran sehingga yang tidak tahu kebenaran bisa mendapatkannya, dan mereka yang menyimpang bisa kembali ke jalan yang benar.”

Imam Ali bin Abi Thalib memerintahkan para sahabatnya untuk berdoa supaya perang selesai dan tidak lagi darah orang-orang yang tak berdosa berceceran. Dan jangan lagi menjadi orang-orang yang mencela dan mencaci.

Ada sebuah kaidah umum yang diajarkan kepada kita dalam menghadapi berbagai macam permasalahan, dan kita dapat bersikap yang dijelaskan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Khazanah keilmuan kita dikenal oleh kata-kata yang suci yang layak untuk ditulis dengan tinta emas. Kita punya manusia-manusia agung yang kata-kata mereka adalah kata-kata yang penuh dengan petuah dan pelajaran yang besar.

Petuah Imam Ali

Diriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib as menyampaikan kepada kita kata-kata mutiaranya. Dalam kata-kata ini beliau menjelaskan beberapa hal yang harus kita perhatikan dan kita jadikan sebagai panduan dalam kehidupan kita. Pertama, jadikan dirimu sebagai parameter dalam perilakumu dengan orang lain, lakukan apa yang engkau sukai orang lain berlaku hal itu terhadap dirimu. Kedua, bencilah untuk diri orang lain, apa yang engkau benci untuk dirimu sendiri. Ketiga, janganlah engkau menzalimi orang lain sebagaimana engkau tidak mau orang lain menzalimi dirimu. Keempat, berbuatlah kebajikan kepada orang lain sebagaimana engkau mau orang lain berbuat kebajikan kepada dirimu. Kelima, anggaplah sesuatu itu keji terhadap orang lain, hal-hal yang engkau rasa hal itu keji dilakukan oleh orang lain terhadap dirimu. Keenam, puaslah dan ridalah engkau atas apa yang dilakukan oleh orang lain sebagaimana engkau orang lain rida dan merasa puas terhadap apa yang engkau lakukan terhadap mereka.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat  13 November 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *