NAVIGASI

Hikmah Nahjul Balaghah

Kategori: Opini

ICC Jakarta – Kita sering berharap agar orang lain dapat memahami kondisi yang tengah kita alami, sedih atau bahagia, terkhusus dalam kondisi sedih dan berkata “apakah dari raut wajah saya kalian tidak memahami bahwa saya dalam keadaan sedih?” Kita berharap dari raut wajah dan kondisi sekitar, orang lain dapat memahami kondisi batin kita, namun orang lain tidak dapat memahaminya. Sehingga respon orang lain kemudian mengatakan, “Memangnya saya Allah, sehingga saya dapat mengetahui batinmu?”

Imam Ali as mengajarkan hal yang sangat penting kepada kita agar berpikir dengan benar terkait keinginan-keinginan. Bahkan ketika berdoa, berdoalah yang baik dan benar, dengan kesadaran penuh. Janganlah berdoa “Semoga ini tidak terjadi padaku!” atau “Ya Allah, lakukanlah ini untukku”. Imam Ali as mengatakan bahwa berdoalah dengan benar, jangan berdoa seperti itu. Dalam berdoa perhatikan cara dan adab-adabnya.

Dalam semua mazhab Syiah, baik Syiah 12 imam, Syiah Zaidiyah maupun yang lainnya sangat menghormati dan memberikan perhatian khusus kepada kumpulan doa Shahifah Sajjadiyah. Dalam kita tersebut mengajarkan bagaimana kita berdoa dan menyampaikan permohonan kita kepada Allah Swt, baik yang dikehendaki terjadi maupun yang tidak ingin terjadi. Berdoa akan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. Allah Swt dalam al-Quran telah berjanji bahwa akan menjawab doa-doa kita. Namun, kenapa kita sering mendapati doa-doa kita tidak terkabul?

Imam Ali as menjelaskan kenapa Allah Swt tidak mengabulkan doa-doa?

وَ قَالَ (علیه السلام): لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتْنَةِ

Imam Ali as berkata, “Janganlah salah satu dari kalian berkata:, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari fitnah/ujian.”

Kata ‘fitnah’ sering sekali disebutkan dalam Nahjul Balaghah. Kenapa tidak boleh berdoa seperti itu? Apakah Allah Swt tidak mampu? Imam as dalam lanjutan ucapannya berkata,

لِأَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ إِلَّا وَ هُوَ مُشْتَمِلٌ عَلَى فِتْنَةٍ؛

“Karena sesungguhnya hal itu (apa yang kalian mohon tersebut) tidak mungkin salah seorang (dari kalian) kecuali akan mendapatkan fitnah/ujian.”

Artinya bahwa semua orang dalam kehidupannya pasti akan mendapatkan ujian, oleh karena itu tidak mungkin kita berdoa agar tidak mendapatkan ujian. Sebagaimana manusia harus bernafas dengan oksigen untuk hidup.

Imam as tidak mengatakan bahwa doa tersebut salah secara keseluruhan, namun kemudian beliau meluruskannya bagian yang salah dan berkata,

وَ لَكِنْ مَنِ اسْتَعَاذَ فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ؛

“Dan akan tetapi, jika kalian ingin memohon perlindungan, maka mohonlah perlindungan dari hal-hal yang membuat tersesat dari fitnah.”

Karena fitnah tersebut banyak ragamnya, yang salah satunya akan menyebabkan kita tersesat, dan menyimpang dari jalan yang lurus/shiratal mustaqim. Jalan yang lurus adalah jalan yang telah Allah Swt tetapkan untuk manusia dari titik awal Allah telah tetapkan taklif/tugas, manusia dapat melanjutkannya hingga akhir. Dari titik awal hingga akhir kita tetap berada di jalan-Nya.

Imam Ali as mengajarkan agar memohon perlindungan dari ‘mudhillat’/ hal-hal yang menyesatkan. Karena fitnah/ujian hal-hal yang menyesatkan itu sangat beragam. Ujian-ujian/fitnah tersebut memiliki dampak positif dan negatif. Efek positifnya adalah nikmat, namun efek negatifnya yang akan menyesatkan dan membuat kita menyimpang, maka kita harus menjauhinya. Kemudian Imam as melanjutkan,

فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ يَقُولُ “وَ اعْلَمُوا أَنَّما أَمْوالُكُمْ وَ أَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ”

“Karena sesungguhnya Allah Swt berfirman, ”Ketahuilah bahwa seseungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah fitnah/ujian.”

Ketika kita berdoa, “Ya Allah, aku berlindung padamu dari fitnah/ujian”, kita memohon dihindarkan dari harta dan anak, dan ini tidak mungkin. Artinya sama dengan berdoa, “Ya Allah jangan berikan anak dan harta kepada kami, dan ini bertentangan dengan aturan alam dan sunah Ilahi.

Dalam surat al-Anfal ayat 28, atau at-Taghabun ayat 15 juga telah disinggung. “Sesungguhnya harta dan anak kalian adalah fitnah.”

Kemudian Imam as menjelaskan.

وَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ [سُبْحَانَهُ يَخْتَبِرُ عِبَادَهُ] يَخْتَبِرُهُمْ بِالْأَمْوَالِ وَ الْأَوْلَادِ،

“Dan arti (dari ayat tersebut) adalah bahwa Dia menguji mereka dengan harta-harta dan anak-anak.”

Imam as menjelaskan alasannya, mengapa manusia diuji? Mengapa guru menguji muridnya? Seorang guru tidak dapat menentukan siapakah di antara murid-muridnya lebih baik dalam memahami materi dan lebih menguasainya? Melalui ujian, seorang guru dapat mengetahui kemampuan murid-muridnya.

Apakah ketika Allah Swt menguji manusia artinya Dia tidak mengetahui kemampuan manusia? Tentu, tidak seperti itu. Allah mengetahui hamba-Nya yang lebih baik karena Dia ‌ Maha Tahu.

Melalui ujian kita dapat memahami kemampuan kita, jawaban yang benar dan salah hingga belajar kembali jika salah jawabannya, juga orang lain dan guru akan mendapatkan manfaat dari ujian ini. Dengan harta dan anak manusia akan diuji, hasilnya akan diketahui kejernihannya. Manusia akan belajar dengan baik, menulis jawaban dengan baik agar hasil ujiannya baik. Ada yang senang melihat hasil ujian, ada yang sedih, ada yang merasa puas meskipun nilainya tidak sempurna. Kemudian Imam as melanjutkan bahwa manusia diuji dengan harta dan anak agar,

لِيَتَبَيَّنَ السَّاخِطَ لِرِزْقِهِ وَ الرَّاضِيَ بِقِسْمِهِ،

“Agar nampak sulitnya rezekinya dan ridho atas bagian (rezeki)nya.”

Sebagian diberi rezeki banyak, sebagian diberi rezeki sedikit. Dengan pemberian rezeki itu, harus ada kerelaan , keridhoan. dengan ujian itu, tunjukkanlah kepada orang lain nilaimu itu. Apakah kita rela dengan rezeki yang telah diberikan Allah swt? Sebagian diberi anak, sebagian tidak. Sebagian diberikan anak-anak yang baik, sebagian diberi anak-anak yang tidak baik. Ini semua adalah ujian, apakah kita rela menerimanya atau tidak rela?

terkadang kita berpikir bahwa orang yang dicintai Allah akan diberi lebih banyak, dan menganggap orang yang ujiannya berat itu kurang dicintai-Nya. Kemudian Imam as melanjutkan,

وَ إِنْ كَانَ سُبْحَانَهُ أَعْلَمَ بِهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ،

“Dan Allah lebih mengetahui diri mereka daripada diri mereka sendiri…”

Manusia diberikan ujian adalah untuk manusia itu sendiri, baik bagi orang yang diuji, juga bagi yang lainnya.

وَ لَكِنْ لِتَظْهَرَ الْأَفْعَالُ الَّتِي بِهَا يُسْتَحَقُّ الثَّوَابُ وَ الْعِقَابُ؛

“(Melalui ujian tersebut) agar nampak perbuatan-perbuatan yang berhak mendapatkan pahala dan siksa.”

Kita harus menggunakan sebaik-baiknya apapun yang telah Allah Swt berikan. Karena jika menggunakan pemberiannya dengan baik maka akan mendapatkan pahala, dan jika tidak digunakan dengan baik maka akan mendapatkan siksa. Kemudian Imam as memberikan contoh,

لِأَنَّ بَعْضَهُمْ يُحِبُّ الذُّكُورَ وَ يَكْرَهُ الْإِنَاثَ،

Bahwa sebagian dari mereka menyukai anak laki-laki dan membenci anak perempuan karena budaya saat itu. Ibunda Maryam as bernazar akan menjadikan anaknya sebagai pelayan masjid. Ketika lahir, ternyata seorang anak perempuan. Di sisi lain, budaya saat itu anak perempuan tidak dapat menjadi pelayan di masjid. Juga, dalam waktu-waktu tertentu (karena haid) tidak dapat berada di masjid. Berdoa agar memiliki anak laki-laki. Namun Allah Swt mengerjakan rencana-Nya. Allah Swt memberi sesuatu yang berkaitan dengan tujuan dan rencana-Nya, bukan sesuatu yang berkaitan dengan keinginan kita. Yaitu sesuatu yang berkaitan dengan hidayah bukan sesuatu yang lainnya. Imam as melanjutkan,

وَ بَعْضَهُمْ يُحِبُّ تَثْمِيرَ الْمَالِ وَ يَكْرَهُ انْثِلَامَ الْحَالِ.

“Dan sebagian mereka suka untuk memperbanyak harta, dan tidak menyukai keadaan yang sulit.”

Sebagian orang senang mengumpulkan harta, mengganti mobilnya dengan keluaran terbaru dan lainnya. Terkait dengan harta dan anak, manusia terkadang terdapat hal-hal yang disukainya dan tidak disukainya. Ketahuilah bahwa Allah Swt tidak ada urusannya apakah manusia suka atau tidak. Allah melakukan apa yang terbaik untuk manusia dan mengerjakan sesuai dengan rencana-Nya.

Terkadang kita bersikap kekanak-kanakan, meminta hal-hal yang belum tahu tidak baik untuk kita seperti anak-anak yang meminta sesuatu yang tidak ada manfaatnya hanya membuatnya senang.

Terkadang manusia yang telah dewasa tidak mengetahui bagaimana berdoa dan memohon kepada Allah Swt dengan baik. namun Imam melarang kita untuk berdoa seperti itu. Kita harus menyampaikan keinginan kita, namun juga harus meminta dengan benar. Prioritas adalah harus meminta dengan benar, apakah benar yang kita minta? apakah mungkin kita meminta seperti itu? Kita harus menimbang dulu keinginan dan permintaan kita, apakah sudah benar?

Jika kita ingin mengalami perubahan besar dalam hidup maka perbaiki cara memohon kita.

Fitnah adalah menempatkan diri kita dalam posisi tekanan luar biasa, sampai-sampai mungkin kita tidak dapat bertahan, seperti emas yang disepuh. Latihlah untuk memohon kepada Allah dengan baik. Begitu juga saat meminta sesuatu kepada manusia, misalnya minta air dari anak maka mintalah dengan cara baik dan detail, begitu juga saat meminta sesuatu kepada orang lain.

Bagaimana agar kira rela atas semua pemberian Allah Swt apa pun kondisinya?

Hal-hal yang terjadi kepada kita terkadang berupa ujian, fitnah atau peringatan. Berupa peringatan atas kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Coba inropeksi diri, mungkin sudah melalaikan shalat atau lainnya. Mungkin ada pertanyaan mengapa Allah Swt memberikan anak kepada orang yang tidak mau dan tidak memberikan kepada orang yang tidak mau? Inilah ujian. Tugas Allah Swt bukan memberikan semua yang diinginkan manusia, tapi memberikan hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam perjalanan-Nya untuk menggapai kesempurnaan.

Mungkin ada pertanyaan, apakah perempuan terhambat dalam menggapai kesempurnaan dengan ibadah? Karena menganggap laki-laki lebih sempurna dalam penghambaan dan ibadah, karena sepanjang tahun bisa terus ibadah. Tentu, tidak, Allah Swt telah menciptakan perempuan dengan segala aturan-aturannya yang dengannya ia dapat menggapai kesempurnaan

Khonum Qahremani, Kelas Nahjul-Balaghah.

ditulis oleh Euis Daryati

Sumber: Ikmalonline

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.