Islam Mancanegara

70 Tahun Hubungan Diplomatik Iran dan Indonesia 

ICC Jakarta – Kedekatan hubungan historis Iran dan Indonesia, di samping Islam ”rahmatan lil alamin” di kedua negara, kebijakan luar negeri independen dan persamaan pandangan terhadap berbagai isu internasional adalah modal yang baik. 

Iran dan Indonesia sebagai dua negara yang penting di barat dan timur Asia merayakan 70 tahun hubungan diplomatiknya yang dimulai sejak 1950 pada saat kedua belah pihak memiliki hubungan dan interaksi historis yang begitu bersejarah.

Fakta-fakta sejarah menunjukkan bahwa para saudagar Persia sejak ribuan tahun yang lalu melalui ”Jalur Sutra” ataupun Jalur Rempah” mendatangi Nusantara, berintraksi sosial dan budaya dengan masyarakat setempat hingga melakukan aktivitas perdagangan.

Ikatan masyarakat Iran dan Nusantara pertama kali terjadi pada saat Kekaisaran Partia di Iran (250 SM hingga 224 M), yaitu ketika kepercayaan Zoroastrianisme berkembang di sana hingga agama suci Islam diturunkan; tepatnya pada abad pertama H atau setidaknya abad ke-3 H (abad 9 M) interaksi ini meningkat dan memperdalam. Hasil perkenalan bersejarah ini adalah persamaan ritual dan tradisi sosial, budaya dan keagamaan Iran dan Indonesia serta persamaan lebih dari 400 kosakata bahasa Persia yang berhasil masuk ke dalam bahasa Indonesia yang dipergunakan hingga kini antara lain saudagar, tajir, anggur, badam, gandum, pahlawan, dan istana.

Hubungan Iran-Indonesia telah melalui 

tiga periode sejarah.

Hubungan Iran-Indonesia telah melalui tiga periode sejarah. Periode pertama adalah sejak 250 SM hingga pertengahan abad ke-20 M, mencakup interaksi historis dan peradaban. Periode kedua dimulai setelah kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945, di mana Iran secara resmi telah mengakui kemerdekaan Indonesia dan hubungan diplomatik di antara kedua belah pihak telah diadakan dengan mendirikan kedutaan besar di ibu kota satu sama lain tahun 1950 yang dilanjutkan dengan penandatanganan

”Perjanjian Persahabatan” di antara kedua negara tahun 1958.

Periode ketiga adalah sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979 yang berlanjut hingga hari ini dan selalu mengalami perkembangan dan kemajuan serta kedua belah pihak selalu menikmati kerja sama yang baik di tingkat bilateral, regional ataupun internasional.

Di tingkat bilateral, selama 70 tahun hubungan diplomatik, kedua negara di berbagai bidang politik, ekonomi, perdagangan, budaya, Iptek, dan lain-lain telah menjalankan kerja sama yang luas dan saling menguntungkan serta mempergunakan kemampuan satu sama lain untuk mencapai kepentingan bersama.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Azad menyampaikan pidato saat malam resepsi 41 tahun Revolusi Iran di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Selama hubungan kedua belah pihak, kami menyaksikan pertukaran delegasi di semua bidang, di mana kunjungan kenegaraan Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani ke Jakarta tahun 2015 dan kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ke Teheran pada 2016 merupakan puncak pertemuan bilateral kedua negara.

Begitu juga hubungan dan kerja sama kedua negara di berbagai pentas dan organisasi internasional erat dan dekat. Dukungan tegas Republik Indonesia terhadap kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) ketika RI menjabat ketua DK PBB (Agustus 2020) merupakan bukti nyata atas dukungan Indonesia terhadap Iran dan multilateralisme melawan pendekatan unilateralisme.

Perkembangan dunia belakangan ini yang penuh dengan ketidakpastian dan unilateralisme     di        samping       perang          ekonomi      antara negara-negara           dunia, memperlihatkan penting dan strategisnya perluasan hubungan dan kemitraan bagi Iran dan Indonesia, terutama pada situasi di mana Teheran berada di bawah tekanan maksimal dan sanksi sepihak Dunia Barat yang tidak manusiawi, khususnya pada saat pandemi Covid-19.

Terlepas dari tren politik dunia, kini terdapat potensi dan visi besar untuk mengembangkan kerja sama ekonomi Teheran-Jakarta. Iran selalu memiliki hubungan politik yang baik dengan Indonesia dan berharap agar kedekatan politik ini dapat dimaksimalkan dengan perluasan hubungan perdagangan di antara kedua belah pihak.

Kini Iran dan Indonesia berada pada situasi di mana dapat mengembangkan hubungan ekonomi bilateral.

Kini Iran dan Indonesia berada pada situasi di mana dapat mengembangkan hubungan ekonomi bilateral. Walau menghadapi beberapa hambatan, melalui tekad besar pejabat dan sektor swasta, perluasan hubungan ekonomi kedua negara dapat tercapai.

Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dunia telah membuat lompatan besar dalam beberapa tahun terakhir, di mana kemajuan ekonomi yang konsisten dan perbaikan iklim investasi adalah dua di antaranya. Indonesia juga telah membuat kemajuan yang baik dalam sektor teknologi informasi, ekonomi digital dan perusahaan yang berbasis teknologi.

Begitu juga Republik Islam Iran, di mana selain memiliki kekayaan migas yang berlimpah yang dapat menjadikannya mitra strategis dan tepercaya untuk memenuhi kebutuhan energi jangka panjang Indonesia, juga telah menguasai banyak sektor Iptek, antara lain nano teknologi, luar angkasa, kedokteran, dan alat kesehatan.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi (depan tengah) meninggalkan gedung

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seusai bertemu pimpinan KPK di Jakarta, Rabu

(7/3/2018). Kedatangan Dubes Iran beserta rombongan untuk meningkatkan kerja sama pemberantasan korupsi, seperti pertukaran informasi dan sharing pembelajaran keberhasilan

pelatihan melalui ACLC (Anticoruption Learning Center).

Pada saat yang sama di bidang pariwisata, pengalaman Indonesia dapat bermanfaat bagi kemajuan sektor pariwisata di Iran. Begitu juga kedua negara berpotensi untuk menjadi pasar nontradisional ekspor produk unggulan masing-masing, apalagi Indonesia terletak di daerah tropis dan perbedaan geografis dengan Iran.

Ekonomi Iran dan Indonesia dikenal sebagai ekonomi yang saling melengkapi. Maka, tidak diragukan lagi bahwa kedekatan kedua belah pihak dapat menguntungkan keduanya dan menjadi jaminan bagi kepentingan mereka dan bangsa lain di dua kawasan strategis Barat dan Timur Asia.

Iran dan Indonesia dapat menjadi jembatan bagi dua pasar besar ASEAN dan ECO

(Economic Cooperation Organization) yang mencakup negara-negara Azerbaijan, Afghanistan, Iran, Kazakhstan, Kirgistan, Pakistan, Turki, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Benua kuno Asia memiliki wilayah dan pasar regional dengan potensi besar ekonomi, dan perluasan kerja sama Asia akan menjadi jaminan bagi kepentingan sejumlah bangsa di benua ini.

Perkembangan hubungan antara Teheran dan Jakarta juga penting dalam ”Kebijakan

Timur” yang dimiliki Republik Islam Iran, di mana bekerja sama dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia, merupakan prioritas politik luar negerinya.

Hal lain yang membenarkan pentingnya perkembangan hubungan Iran dan Indonesia adalah kesamaan visi yang dimiliki oleh kedua belah pihak dalam menghadapi bebagai masalah dan krisis yang menimpa dunia Islam, terutama perlawanan terhadap ekstremisme dan terorisme serta dukungan kepada resistensi bangsa Palestina atas pendudukan Israel.

Pada saat yang sama, perkembangan komprehensif hubungan di antara negara-negara Muslim, khususnya Iran dan Indonesia, dapat memperkuat kerja sama di bidang politik internasional dan menjadi kekuatan penyeimbang pada pentas politik internasional. Kedekatan hubungan historis Iran dan Indonesia, di samping Islam rahmatan lil alamin yang terdapat di kedua negara, kebijakan luar negeri independen, persamaan pandangan terhadap berbagai perkembangan internasional, dan dukungan kedua belah pihak terhadap nilai-nilai multilateralisme adalah modal yang dimiliki oleh Iran dan

Indonesia. Maka, sangat diharapkan dengan modal yang baik ini serta atas tekad politik besar pemerintah kedua negara, perluasan hubungan bilateral, khususnya di sektor ekonomi, dapat tercapai.

(Dr Mohammad Azad, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia)

Oleh Mohammad Azad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *