NAVIGASI

Khutbah ke-152, Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Mikro

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Kita hidup di suatu alam yang di kanan kirinya dipenuhi dengan berbagai macam fenomena alam yang menakjubkan. Tetapi karena kita berada di tengah malam di dalam alam ini, maka seringkali kita lupa dan lalai adanya keajaiban-keajaiban di sekitar kita. Mirip ikan yang ada di lautan, mereka berada di air dan mereka tidak menyadari pentingnya air bagi mereka.

Di sekitar kita ada makhluk-makhluk dan wujud-wujud yang sedemikian kecil yang menyimpan berbagai macam rahasia alam dan keajaiban yang seringkali kita tidak mengenalnya. Sebagian dari makhluk-makhluk itu sedemikian kecilnya sampai ada yang seukuran 1 milimeter, misalnya, atau 2 milimeter atau bahkan sebagian dari mereka memiliki bentuk yang sedemikian kecil, seujung jarum. Meski demikian, makhluk-makhluk ini memiliki organ-organ seperti yang dimiliki oleh manusia, misalnya memiliki kepala, mulut, mata, pendengaran bahkan memiliki alat-alat pencernaan pada tubuhnya. Hal ini semua menimbulkan perasaan takjub yang besar pada diri manusia yang memerhatikannya.

Kita ambil contoh semut yang merupakan satu makhluk kecil. Kalau kita melakukan penelitian dan kita membuka kepala semut, kita keluarkan otaknya, lalu kita teliti yang ada dalam otak semut yang tentunya sangat kecil itu, kita akan menyaksikan betapa ada susunan yang sedemikian menakjubkan pada organ otak yang ada pada semut. Jika sedikit saja organ yang sangat-sangat kecil itu mengalami masalah, kehidupan semut itu akan dalam keadaan bahaya. Sedemikian menakjubkannya otak yang ada pada semut sehingga menyita perhatian banyak ilmuwan salah satunya adalah Morris Moderling yang menghabiskan waktu sekian tahun untuk meneliti otak semut. Dia lalu menuliskan hasil penelitiannya dalam sebuah buku yang mengundang decak kagum siapa saja yang membacanya. Sedemikian kecilnya makhluk Allah ini dengan otaknya yang sedemikian kecil, tetapi menyimpan banyak sekali rahasia alam. Yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah keajaiban yang sedemikian mengagungkan ini tercipta begitu saja tanpa ada yang menciptakan di baliknya.

Hal lain yang di alam ini yang sedemikian kecil dan kita kurang memerhatikan adalah atom. Sedemikian kecilnya atom ini sehingga mikroskop yang bisa membesarkan suatu makhluk yang sebesar ujung jarum bisa dibesarkan seperti gunung, tidak mampu untuk melihat atom yang sedemikian kecil ini. Dikatakan bahwa dalam satu tetes air saja terdapat atom yang sedemikian banyaknya yang jumlahnya melebihi jumlah seluruh manusia dan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Seandainya ada seribu orang berkumpul di suatu tempat untuk menghitung elektron-elektron atau atom-atom yang ada pada 1 cm benda, misalnya, seperti kabel yang kita kenal, maka akan diperlukan waktu sekitar 311 tahun untuk bisa menghitung jumlah semua atom yang ada. Saya ulangi lagi bahwa seribu orang jika berkumpul dan ingin memisahkan proton dari elektron yang ada pada atom yang terdapat pada 1 cm kabel, maka diperlukan waktu sekitar 311 tahun untuk bisa menyelesaikannya.

Ini hanya 1 cm saja dari kabel. Bagaimana jika kita mau menghitung atom yang ada di bumi ini? Bagaimana kita akan menghitung atom yang ada di seluruh alam ini termasuk di antaranya planet-planet, galaksi-galaksi, yang bertebaran di seantero jagat raya ini? Bukankah ini memberikan pelajaran bagi kita akan adanya Tuhan yang Maha Esa yang menciptakannya. Bukankah ini semua mengajarkan kepada kita akan ketuhanan?

Kalau kita memerhatikan dengan saksama dan mempelajari atom, kita akan dapati ada empat dimensi yang bisa kita lihat pada atom. Pertama adalah bahwa setiap atom ini memiliki susunan dan struktur yang sedemikian menakjubkan yang sedemikian teliti. Dikatakan bahwa sebagian atom itu bahkan memiliki 100 unsur di dalamnya. Masing-masing atom ini memiliki elektron-elektron yang jumlahnya berbeda-beda. Ada yang satu elektron bahkan ada atom yang memiliki sampai 100 elektron. Ketelitian yang ada dan keajaiban yang ada pada atom tentunya bisa kita pastikan bukan tercipta begitu saja.

Kedua adalah dimensi keseimbangan yang ada pada atom. Kita tahu bahwasanya ada unsur-unsur, atom, elektron, proton dan ada neutron yang masing-masing ini akan terpisah, akan lari dari pihak yang lain. Tetapi karena adanya daya tolak dan daya tarik yang ada pada setiap atom sehingga terciptalah keseimbangan di dalamnya. Ketiga, dimensi yang bisa kita saksikan pada atom adalah mereka bergerak pada satu poros tertentu yang telah ditentukan. Jutaan atom dan jutaan elektron yang ada bergerak pada satu hal dan akan selalu mengikuti rotasi dan putaran yang telah ditentukan baginya. Keempat adalah dimensi kekuatan dahsyat yang dimiliki oleh atom. Sedemikian besarnya kekuatan yang dimiliki oleh atom, kalau kita memberikan sebuah contoh, terlihat pada sebuah uji coba yang pernah dilakukan di gurun di negara Meksiko. Pada uji coba tersebut atom diledakkan pada satu bangunan menara yang terbuat dari baja. Ketika diledakkan, bangunan yang terbuat dari baja itu luluh lantah dan tidak tersisa sedikit pun.

Pada tahun 1945 Amerika juga pernah melakukan pemboman terhadap dua kota di Jepang yang mengakibatkan tewasnya banyak sekali manusia dan penduduk di kedua kota itu. Dalam serangan itu Amerika menggunakan bom atom yang ketika dijatuhkan di Kota Hiroshima membunuh kurang lebih 70.000 manusia, sementara bom yang kedua yang dijatuhkan di Kota Nagasaki membunuh sekitar 40.000 orang. Sedemikian dahsyatnya daya ledak dan kekuatan yang dimiliki oleh atom tersebut.

Melihat dengan teliti dan mempelajari struktur yang ada pada binatang-binatang kecil, semisal semut yang tadi telah dijelaskan atau mencermati yang ada pada atom suatu makhluk yang sedemikian kecil di alam ini, tersimpulkan bahwa struktur yang dimiliki sedemikian menakjubkan. Bukankah ini menunjukkan kepada kita suatu pelajaran besar tentang tauhid dan ketuhanan? Bukankah ini menunjukkan adanya Pencipta yang Mahakuasa dan Mahamampu untuk menciptakan segala keajaiban di alam ini.

Alquran al-Karim menyinggung keajaiban-keajaiban besar ini. Dalam salah satu ayat-Nya Allah Swt berfirman dalam surah Luqman ayat 27: Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Masalah Umur

Pada hari ini kita memasuki hari pertama tahun baru. Artinya tahun yang lalu, 2020 M, telah kita lewati. Satu tahun telah kita lewati dan kita sedang menyongsong untuk melakukan apa-apa yang bakal kita lakukan dalam satu tahun ke depan sejak hari ini. Sementara tahun yang lalu telah lewat. Apa pun yang telah kita lakukan di masa lalu telah lewat. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apa yang akan kita lakukan untuk tahun yang baru ini?

Salah satu wasiat  Rasulullah saw kepada salah seorang sahabatnya yaitu Abu Dzar Al-Ghifari menunjukkan pentingnya masalah umur. Di dalam wasiatnya Rasulullah saw berpesan kepada Abu Dzar untuk memanfaatkan nikmat-nikmat yang ada di tangan sebelum nikmat itu hilang dan tidak lagi berada di tangan. Di antara yang layak dan sangat penting untuk dimanfaatkan adalah nikmat umur, nikmat kesehatan, nikmat waktu luang, nikmat kekayaan dan nikmat masa muda. Segala hal yang berhubungan dengan waktu diwasiatkan oleh Rasulullah supaya kita betul-betul menjaganya dan jangan sampai kita buang-buang waktu dengan percuma.

Alquran al-Karim membagi manusia di alam akhirat nanti pada dua kelompok. Sekelompok orang terlihat akan bergembira di hari itu, sementara kelompok yang lain akan terlihat gelisah dan murung. Kelompok pertama adalah orang-orang yang memanfaatkan kehidupannya di dunia dan waktunya dengan sebaik-baiknya, mengisi waktu-waktu mereka dengan iman, amal saleh  dan dengan kebajikan yang kelak akan dibawa ke alam akhirat sehingga ketika mereka memasuki padang Mahsyar dan Allah Swt akan memberikan kepada mereka kabar gembira tentang keberhasilan di hari itu. Dalam ayat Alquran dikatakan, “Orang-orang yang akan mendapatkan laporan buku, laporan amal perbuatannya dengan tangan kanan, maka akan dikatakan padanya, ‘Silakan baca buku yang ada di tanganmu ini karena aku tahu aku akan mendapatkan hisab yang baik di sisi Allah.’” Orang semacam ini akan mendapatkan kehidupan yang sangat dia ridai, kehidupan yang nyaman baginya di Jannah atau surga yang tinggi, yang di dalamnya segala kenikmatan telah disediakan oleh Allah. Dikatakan kepadanya, “Makanlah dan minumlah dengan baik atas dasar apa yang telah kalian lakukan pada hari-hari ketika kalian hidup di dunia di masa lalu.”

Kelompok kedua adalah kelompok yang tidak memanfaatkan waktunya yang telah Allah berikan kepada mereka dalam kehidupan dunia ini dengan baik. Mereka mengisi hari-hari dan waktu-waktu mereka dengan maksiat dan tidak melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Akibatnya di akhirat nanti mereka akan mengalami masa yang sangat sulit dan penyesalan yang sedemikian besar. Ketika Allah Swt menggambarkan keadaan itu, bagi kelompok ini mereka akan mendapatkan kitab mereka, buku laporan amal perbuatan mereka dengan tangan kiri, lalu mereka mengatakan, “Andai saja mereka tidak mendapatkan buku yang telah mengungkap apa saja yang telah mereka lakukan, kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka lakukan dalam kehidupan di dunia.” Pada tahap berikutnya mereka akan menyesal karena semua yang mereka miliki di dunia tidak mereka gunakan dengan baik—seperti harta, kekuasaan, waktu, kesempatan, dan semua hal yang pernah Allah berikan di dunia—sebagai bekal bagi kehidupan di akhirat. Saat itulah mereka akan diseret masuk ke dalam api neraka.

Umur atau usia mirip dengan sekolah. Ketika seorang siswa masuk ke sekolah, dia memiliki kesempatan untuk bertanya, belajar menimba apa saja yang diajarkan oleh guru, dan ilmu-ilmu yang memang disediakan untuk mereka supaya kelak ketika ada ujian mereka bisa menjawab dan lulus ujian dengan nilai yang baik.

Kita seringkali ketika melihat orang yang membelanjakan uang dan hartanya di tempat yang tidak benar, kita akan merasa sedih dan menyayangkan mengapa orang itu membelanjakan uangnya sedemikian banyak untuk hal-hal yang tidak perlu, atau hal-hal yang keliru. Tetapi tidak ada orang dari kita yang akan merasa menyesali atau menyayangkan orang yang menghilangkan atau menyia-nyiakan harta yang paling berharga bagi mereka, yaitu harta berupa waktu. Kita lihat orang yang membuang waktu sisanya satu jam, dua jam, lima jam, sehari atau dua hari tanpa melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Kita tidak pernah menyayangkan mengapa orang itu menghabiskan waktu tanpa ada kegiatan-kegiatan yang positif.

Padahal yang namanya umur atau waktu adalah suatu kekayaan yang sedemikian besar. Waktu itulah yang akan diminta oleh orang-orang yang sudah saatnya untuk meninggalkan dunia atau sudah meninggalkan dunia karena mereka menyesali tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Mereka meminta kepada Allah supaya dikembalikan atau bisa hidup di dunia. Tapi Allah mengatakan tidak akan pernah diberi kesempatan untuk yang kedua kalinya. Alquran merekam hal itu. Ketika ajal telah datang kepada salah seorang di antara mereka, dia akan mengatakan kepada Allah, “Ya Allah, kembalikan aku dan kesempatan yang lebih banyak untuk bisa hidup supaya aku bisa melakukan apa yang tidak aku lakukan dalam kehidupanku.”

Sebelumnya ini Allah Swt mengatakan sama sekali tidak akan diberi kesempatan untuk hidup kembali. Itu hanya omongan yang dia katakan, permintaan dan rengekan yang dia minta. Tapi Allah tidak akan memberikan kepada dia kesempatan untuk kembali dan hidup lagi karena ada alam barzakh dan ada siksaan yang telah menantinya sampai hari kiamat.

Banyak orang yang memiliki kewajiban puasa, salat dan kewajiban-kewajiban lain yang ditinggalkan lewat dari dia. Mungkin karena ketidaktahuan hukum yang sebelum ini atau karena memang ada kekeliruan atau kesalahan-kesalahan di masa lalu sehingga dia wajib untuk mengkada salatnya, puasanya, dan kewajiban-kewajiban lain. Seringkali orang itu ketika ditanya “mengapa engkau tidak mengkada salatmu yang wajib atas dirimu? Mengapa tidak mengkada puasamu yang wajib atas dirimu?” Orang akan mengatakan, “Nanti dan nanti”, serta “nanti.” Padahal dia tidak akan pernah tahu kapan ajal datang menjemputnya. Sehingga ketika ajal datang masih banyak kewajiban yang ada di pundaknya tanpa pernah dia tunaikan. Pernahkah kita bisa memastikan bahwa besok kita masih hidup?

Banyak orang di antara kita, kalau pas hari ulang tahunnya akan merayakan ulang tahun itu atau teman-teman dan keluarganya merayakan hari ulang tahun itu memberinya hadiah dan dia memberikan hadiah kepada orang lain. Bergembira di hari kelahiran itu. Padahal seharusnya bukan kegembiraan yang dia rayakan, karena ulang tahun berarti peringatan bahwa sudah satu tahun lewat dari apa yang telah yang sudah dilalui bahwa usianya semakin tua dan dia semakin mendekati ajalnya. Dia tidak lagi seperti di tahun lalu. Sekarang dia lebih lemah karena kondisi fisiknya telah dimakan oleh umur. Dia lebih dekat dengan kematiannya.

Hari pertama di tahun baru adalah kesempatan bagi kita untuk merenungi apa yang telah kita lakukan di tahun lalu. Ketika kita masih memiliki tanggungan puasa, tanggungan salat dan tanggungan kewajiban-kewajiban lain, segeralah kita melaksanakan tanggungan-tanggungan itu dan supaya tahun ini, tahun yang baru ini, kita memiliki program untuk melakukan hal-hal yang baik. Dengan begitu, kita semakin dekat kepada Allah dan menjadi orang yang lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdolmajid Hakimelahi, Jumat  01 Januari 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda. 

Artikel terakhir di kategori ini:

Khutbah Jumat 166, Berlaku Adil Dan Tidak Berbuat Kezaliman

April 19, 2021

ICC Jakarta – Salah satu pesan yang dibawa dan disampaikan khatib dalam khotbah Jumat ataupun khotbah yang lain adalah pesan takwa. Karena pesan takwa itu adalah yang menjadi landasan atas segala hal kejadian-kejadian kita di dunia maupun yang akan membawa kita kepada kehidupan yang bahagia di alam akhirat nanti. Sebab surga tidak mungkin akan didapatkan […]

Khutbah Jumat ke- 167, Lima Anugerah di Bulan Ramadan Bagi Mukmin

April 19, 2021

ICC Jakarta – Bulan Ramadan artinya bulan yang disebut sebagai bulan jamuan Allah. Pada bulan ini masih banyak kesempatan untuk bisa mendapatkan yang terbaik untuk mendapatkan rida Allah. Di bulan ini semestinya seorang hamba yang beriman kepada Allah, Rasul, dan memercayai apa yang Allah serta Rasul katakan mendapatkan yang seharusnya didapatkan. Namun yang harus kita […]

Khotbah Jumat 165, Meraih Berkah Nisfu Syakban

April 15, 2021

ICC Jakarta – Bulan Syakban adalah bulan yang penuh dengan berkah. Bulan yang penuh dicintai oleh Rasulullah saw. Sering kali kita mendengar penjelasan mengenai keutamaan bulan Syakban, kemudian disebutkan bahwa bulan Syakban merupakan bulannya Rasulullah saw. Dalam hadis yang terkenal Rasulullah saw mengatakan, “Bantulah saya dengan kecintaan kalian kepada saya melalui puasa di Bulan Syakban.” […]

Khutbah Jumat 164, Tiga Hal Penyelamat Seorang Mukmin

Maret 24, 2021

ICC Jakarta – Sebagaimana kita ketahui bahwa Imam Ali Zainal Abidin terlahir ke dunia pada 5 Syakban. Imam Sajjad as dalam sebuah riwayat mengatakan, “Ada tiga hal yang jika dilakukan dan dimiliki oleh orang mukmin, maka kelak Allah akan menjadikannya berada pada perlindungan Allah, kelak orang itu akan diberi naungan oleh Allah dengan naungan arasy-Nya […]

Khutbah Jumat 163, Pesan Isra Mi’raj: Jangan Tertipu Tipuan Dunia

Maret 23, 2021

ICC Jakarta – Di bulan Rajab ada satu peristiwa yang dikenal di masyarakat Indonesia dengan peringatan Isra dan Mikraj. Isra dan Mikraj adalah sebuah perjalanan agung yang di dalamnya Allah memperjalankan kekasih-Nya yaitu Rasulullah Muhammad saw dari Kota Makkah menuju ke Palestina, Baitul Maqdis. Lalu dari sana Allah memberangkatkan beliau dalam sebuah  perjalanan mikraj menuju […]

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.