NAVIGASI

Mengenal Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah Allah

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Pembahasan untuk membuktikan keberadaan Allah Swt ada dua jalan yang bisa kita tempuh: jalan pertama adalah jalan internal pada diri manusia dan jalan kedua adalah jalan eksternal. Yang dimaksud dengan jalan internal adalah yang berhubungan dengan fitrah manusia. Manusia kembali kepada fitrahnya maka dia akan mendapati bahwa ada Allah Swt. Yang kedua adalah jalan eksternal yaitu dengan cara memerhatikan alam penciptaan, melihat fenomena-fenomena alam yang ada di sekitar kita, merenungkannya lalu kita bertanya mungkinkah segala keajaiban dan rahasia alam ini tercipta begitu saja? Dari situ kita akan mengetahui bahwa ada yang menciptakan yaitu Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahamampu.

Dengan sedikit saja seseorang itu merenungkan, dia akan mendapati bahwa dirinya akan membenarkan ada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Setelah bisa meyakini akan adanya pencipta, kita bertanya sang pencipta ini memiliki sifat apa saja? Ketika berbicara mengenai sifat-sifat Allah, di situlah kita akan berhadapan dengan berbagai permasalahan yang pelik yang layak untuk direnungkan dan layak untuk dipikirkan.

Mungkin kita akan bertanya mengapa untuk mengenal sifat Allah perlu jalan yang berliku-liku dan mengapa mengenal sifat Allah itu adalah suatu pengenalan yang sulit? Faktor penyebabnya adalah setiap hal yang kita bisa pahami mengenai sifat-sifat tersebut lalu kita akan terapkan sifat-sifat itu kepada Allah tentunya ada perbedaan yang sangat besar. Jika sifat itu disematkan kepada Allah, sifat-sifat yang kita pahami hanya sifat-sifat yang berhubungan dengan makhluk. Kita selalu akrab dengan hal-hal yang bersifat materi sehingga segala sifat selalu kita bandingkan dan kita bayangkan dengan hal-hal yang bersifat materi. Misalnya, ketika kita mengatakan bahwa Allah Swt mempunyai sifat mampu, yakni Allah Swt mampu melakukan segala sesuatu. Sifat kemampuan yang kita sematkan kepada Allah lalu kita memikirkan sifat itu yang akan muncul di kepala kita adalah sifat itu berhubungan dengan makhluk yang tentunya kekuasaan yang sangat terbatas.

Jika kita mengatakan Allah Maha Mengetahui, sifat mengetahui itu kalau kita sematkan kepada Allah, akal kita hanya memahaminya dalam bentuk yang sangat terbatas. Jika kita mengatakan Allah Swt tidak memiliki jisim, yang kita pahami hanya hal-hal yang terbatas. Begitu pula saat kita mengatakan Tuhan tidak memiliki tempat, maka yang kita pahami dari ungkapan itu hanya hal-hal yang sangat terbatas.

Kita akrab dengan hal-hal yang bersifat materi, lalu setiap kali kita berbicara suatu kelebihan dan sifat-sifat keutamaan kita akan membandingkannya dan membayangkannya dalam sifatnya yang materi. Ketika kita katakan Tuhan Mahamampu dan Mahakuat kita akan membayangkan seorang manusia, misalnya, memiliki kekuatan, lalu kita mengatakan kekuatan Allah lebih dari kekuatan dia. Ketika kita mengatakan Allah Maha Mengetahui, Maha ‘Alim, lalu kita membandingkan seseorang yang memiliki ilmu yang luas, lalu kita katakan ilmu Allah lebih luas dari orang itu. Demikian pula sifat-sifat yang lain.

Dalam sebuah riwayat Imam Baqir as menjelaskan hal ini dengan ungkapan yang sangat menarik. Riwayat ini dibawakan oleh Allamah Majlisi dalam kitab Bihar alAnwar jilid 66 halaman 293. Imam Baqir as berkata, “Setiap kali kalian membayangkan Allah Swt dan sifat-sifat-Nya dengan makna yang paling rinci sekalipun, ketahuilah makna yang kalian pahami itu tidak lebih dari buatan kalian sendiri, buatan otak dan pemikiran kalian sendiri dan itu kembalinya kepada kalian.” Mirip seperti seekor semut yang ketika ia merasakan bahwa ia memiliki dua tanduk, maka ketika membayangkan Allah, ia akan membayangkan Allah juga memiliki dua tanduk. Ketika ia membayangkan mampu untuk membawa sebutir gandum, ia membayangkan Tuhan Yang Maha Berkuasa bisa membawa puluhan kali lebih banyak daripada ia membawa gandum. Hanya sebatas itu yang bisa dipahami oleh seekor semut.

Hal yang perlu digarisbawahi dan diingatkan pada kesempatan ini adalah bahwa kita tidak akan pernah mengenal hakikat Allah Swt. Bagaimana kita bisa mengenal hakikat Allah sementara kita sangat terbatas? Apa yang kita pahami tentang Allah tidak lebih dari sifat-sifat Allah dan sifat-sifat yang kita pahami pun sangat kecil dan sangat terbatas sesuai keterbatasan kita dalam membayangkan sesuatu. Seperti ungkapan bahwa seandainya kita membayangkan hakikat Allah dan sifat-sifat-Nya yang sangat luas dan tidak terbatas itu, akan kita pahami dengan pemahaman kita dan pemikiran kita yang sangat terbatas. Ibaratnya kita hendak meletakkan seluruh air di samudera ke dalam sebuah ember yang kecil dan itu tidak mungkin terjadi.

Atau mirip dengan kita ingin memberitahu janin yang ada di perut ibunya. Kita akan memberitahu kepada dia tentang keindahan dunia. Hal yang tidak mungkin akan terjadi.

Atau mirip dengan kita akan memberitahu orang yang hidup seribu atau dua ribu tahun yang lalu bahwa ada zaman ketika seorang manusia bisa melakukan perjalanan seribu kilometer hanya dalam waktu satu jam saja dengan menggunakan pesawat terbang. Atau kita memberitahu orang-orang yang hidup ratusan tahun yang lalu bahwa kita berada di suatu tempat bisa berbicara dengan orang yang berada di ribuan kilometer sebelah sana dalam waktu sama juga melihat dia dan berbicara dengan dia. Hal ini tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang yang hidup di zaman dulu.

Kita sekarang bertanya tentang apa saja sifat-sifat Allah? Allah Swt memiliki dua kelompok sifat. Pertama, yang biasa disebut dengan sifat tsubutiyah, dan kelompok kedua, sifat yang disebut dengan sifat salbiyah. Yang dimaksud dengan sifat tsubutiyah adalah segala sifat yang kita lekatkan kepada Allah. Sementara sifat salbiyah adalah segala sifat yang kita nafikan dari Allah. Jika ditanya ada berapa sifat salbiyah dan ada berapa sifat tsubutiyah, maka jawabannya adalah sifat tsubutiyah kalau mau kita rangkum dalam satu sifat adalah sifat segala kesempurnaan, segala kelebihan yang sempurna ada pada Allah. Sementara untuk sifat salbiyah adalah kita menafikan segala bentuk cela dan kekurangan dari Allah.

Sifat-Sifat Tsubutiyah

Demikian para ahli teolog mengatakan bahwa di antara sifat-sifat tsubutiyah ada delapan sifat yang kita lekatkan kepada Allah, sementara untuk sifat salbiyah ada tujuh sifat. Sifat tsubutiyah yang pertama adalah sifat ‘âlim, artinya Allah Swt Maha Mengetahui segala sesuatu; yang kedua adalah sifat qudrah-Nya Allah, yakni Allah Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Sifat ketiga adalah sifat yang hidup (al-Hayy). Setiap yang punya ilmu, setiap yang mengetahui, dan setiap yang memiliki kekuasaan dan kemampuan pasti hidup. Karena Allah Swt memiliki sifat ‘alim dan memiliki sifat qudrah, Allah juga memiliki sifat haya’ yaitu kehidupan.

Sifat tsubutiyah keempat adalah sifat iradah atau kehendak. Artinya, Allah Swt berkehendak dalam setiap perbuatan-Nya tidak ada yang bisa memaksa. Allah Swt dalam setiap apa yang dilakukan-Nya selalu ada hikmah dan setiap yang Allah lakukan pasti punya tujuan. Sifat kelima yang dimiliki oleh Allah dalam sifat tsubutiyah adalah sifat idrak, yakni Allah memahami segala sesuatu. Jika hal itu berhubungan dengan sesuatu yang dilihat, Allah melihat segala sesuatu itu. Jika berhubungan dengan sesuatu yang didengar, Allah mendengar segala sesuatu itu. Allah memiliki sifat idrak yakni Allah mudrik, Dia memahami apa saja.

Sifat tsubutiyah Allah keenam adalah sifat qadim, sifat kekal yakni Allah Swt selalu ada. Allah selalu ada karena ada berasal dari-Nya. Wujud berasal dari Allah. Ketika wujud berasal dari Allah, maka tidak pernah ada zaman, satu zaman pun, tanpa ada Allah di saat itu. Karena segala wujud itu berasal dari Allah. Sifat ketujuh adalah sifat kalam yakni Allah Swt berbicara dengan makhluk-Nya. Berbicara di sini bukan berarti Allah memiliki lisan, memiliki tenggorokan, dan memiliki mulut untuk menyampaikan suatu maksud-Nya kepada yang diajak bicara. Tapi Allah Swt mampu menciptakan suara lalu para nabi yang Allah berbicara dengannya mendengarkan suara tersebut, atau Allah menciptakan sesuatu dan menaruhnya pada hati seorang nabi hingga memahami apa yang hendak Allah sampaikan kepadanya.Inilah sifat Allah bagi sifat kalam.

Sifat kedelapan dari sifat-sifat tsubutiyah Allah adalah bahwa Allah Swt Mahabenar. Benar artinya apa pun yang berasal dari Allah sesuai kenyataan. Jika itu adalah kata-kata, kata-kata itu adalah kata-kata yang jujur. Allah tidak akan pernah berdusta. Allah Mahabenar dalam setiap firman dan kata-kata-Nya. Sebab bohong orang berdusta itu karena dua penyebabnya: ketidaktahuan dia dan kedua, karena ketidakmampuan dia. Dua sifat ini adalah sifat yang jauh dari Allah. Allah Maha Mengetahui dan Maha Mampu tidak ada cela bagi kebodohan dan tidak ada cela bagi kelemahan untuk Allah Swt. Karena itu, Allah tidak mungkin akan berbicara kecuali hal yang benar. Kedelapan sifat tsubutiyah ini adalah sifat-sifat yang tidak mengenal batas, yakni sifat-sifat yang sedemikian luas tanpa batas.

Kita mesti bisa menghidupkan sifat-sifat Allah dan mewujudkannya pada diri kita. Tentunya dalam kapasitas kita. Ketika Allah Swt Mahajujur, Mahabenar dalam segala kata-kata, dalam segala firman-Nya, hendaknya kita menjadikan kejujuran dan kebenaran sebagai hal yang harus kita junjung tinggi. Jika Allah Maha Mengetahui, kita harus menimba ilmu supaya kita menghiasi diri kita dengan ilmu. Jika Allah Maha Memiliki iradah, hendaknya kita memiliki iradah dan tidak melakukan sesuatu karena keterpaksaan. Jika Allah Mahamampu, hendaknya kita memiliki kemampuan dan sifat-sifat itu hendaknya menghiasi kita, sehingga semakin kita mendekatkan diri kepada Allah sifat-sifat ilahiah itu akan muncul pada diri kita.

Sifat-Sifat Salbiyah

Sifat-sifat salbiyah yakni sifat-sifat yang kita nafikan dari Allah Swt. Yang ma’ruf (masyhur) ada tujuh. Sifat pertama adalah bahwa bukan murakkab, artinya bahwa Allah bukanlah maujud yang tersusun dari bagian-bagian. Karena,  jika Allah Swt tersusun dari bagian-bagian itu, ketika Dia akan menemukan suatu kesatuannya, dia membutuhkan bagian-bagiannya, membutuhkan adalah suatu kefakiran dan itu jauh dari Allah Swt.

Sifat salbiyah kedua, yaitu sifat bahwa Allah bukan jisim. Mengapa Allah bukan jisim? Karena setiap hal yang memiliki sifat berjisim, tidak lepas dari tiga sifat. Pertama, setiap jisim itu pasti terbatasi, terbatas dalam waktu dan dalam ruang; kedua, setiap jisim itu pasti akan mengalami perubahan dari satu bentuk ke bentuk lain; dan ketiga, setiap jisim itu tidak akan kekal dan akan fana. Ketiga sifat itu jauh dari Allah. Allah Mahakekal. Allah tidak akan berubah-ubah dan Allah tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu, Allah tidak berjisim.

Sifat salbiyah ketiga adalah bahwa Allah tidak bisa dilihat sebab sesuatu. Untuk bisa dilihat ia harus berbentuk dan berjisim, sementara Allah tidak berjisim, baik di dunia maupun di akhirat. Allah tidak akan bisa dilihat. Sifat salbiyah keempat adalah bahwa Allah tidak berada di suatu tempat, karena untuk berada di suatu tempat yang memerlukan tempat adalah jisim, sementara Allah bukan jisim.

Sifat salbiyah kelima adalah tidak ada sekutu bagi Allah. Ketika ada sekutu bagi Allah, berarti wujudnya Allah terbatasi, Dia bukanlah sekutunya dan sekutunya bukan Dia. Karena Allah tidak terbatas, maka kita menafikan segala bentuk sekutu bagi Allah.Yang keenam adalah bahwa Allah Swt bukanlah makna yang dipahami dalam arti ketika kita menyebut suatu sifat tersebut kesempurnaan bagi Allah, maka kesempurnaan itu adalah zat-Nya. Allah bukan suatu makna yang bisa dipisahkan dari zat-Nya. Ketika misalnya saya katakan bahwa si fulan adalah orang yang berilmu, bisa jadi si fulan itu ada dan ilmunya tidak ada. Sementara kalau kita mengatakan Allah berilmu maka tidak mungkin Allah dengan ilmu-Nya terpisah. Ilmu adalah sifat Allah yang merupakan zat-Nya Allah itu sendiri.

Sifat salbiyah terakhir, yaitu yang ketujuh, adalah bahwa Allah Swt adalah Zat yang tidak membutuhkan segala sesuatu. Dia adalah Mahakaya, kaya bukan hanya dalam arti kekayaan materi, Dia kaya dan tidak terbatas dalam ilmu-Nya sehingga tidak ada celah kebodohan pada-Nya. Allah Swt Mahakaya dalam qudrah-Nya, tidak ada cela untuk kekurangan pada qudrah Allah. Allah Swt memiliki sifat shamad artinya Dia tidak membutuhkan segala sesuatu, tetapi segala sesuatu membutuhkan kepada Allah. Betapa indahnya Allah Swt menyifati semua sifat-Nya dalam sebuah ungkapan pendek di dalam surah al-Syura’ [42] ayat 11. Allah Swt berfirman, Laisa kamitslihi syai’ wa huwa al-samî’ul basr. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” Tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan Allah”.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat  08 Januari 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda. 

Link Youtube Khutbah Jumat 08 01 2021:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.