NAVIGASI

Khutbah ke-157, Mengenal Sifat Jamaliyah Dan Jalaliyah Allah

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai sifat-sifat Allah. Allah Swt adalah Tuhan yang zat-Nya adalah Hakikat yang tidak terbatas, tidak ada yang menandingi, dan tidak ada sekutu bagi-Nya karena itu manusia tidak akan pernah bisa mengenal hakikat Allah Swt. Dalam hal ini kita hanya bisa mempelajari sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah lewat sifat-sifat jamal Allah atau sifat-sifat tsubutiyah yang kita nisbatkan kepada Allah atau sifat jalaliyah yaitu sifat-sifat negatif yang kita jauhkan dari Allah Swt.

Tauhid Dalam Ibadah, Rububiyah, Dan Kekuasaan

Mengenal Tauhid Dalam Zat, Sifat, Dan Penciptaan

Mengenal Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah Allah

Melihat Tanda-tanda Kebesaran Allah Swt

Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Mikro

Mengenal Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Melalui Alam

Manfaat Dan Pengaruh Keimanan Bagi Manusia

Agama dan Kehidupan yang Baik

Menyikapi Perbedaan Keyakinan

Khutbah Jumat; Rahmat Rasulullah SAW Bagi Seluruh Alam

Belajar dari Keberhasilan Dakwah Rasulallah Saw

Untuk bisa mengenal sifat jalal maupun sifat jamal-Nya Allah Swt ada dua jalan yang bisa kita tempuh. Jalan pertama adalah jalan menggunakan akal dan jalan kedua adalah jalan menggunakan wahyu. Jalan pertama untuk mengenal sifat-sifat Allah adalah melalui jalan akal yakni hendaknya kita mempelajari alam penciptaan yang ada di hadapan kita.Betapa banyak rahasia alam dan betapa menakjubkan alam yang telah tercipta ini menunjukkan bahwasanya alam ada penciptanya, dan penciptanya tidak mungkin kecuali zat yang memiliki ilmu dan kemampuan yang tak terbatas. Kalau seseorang mau menelaah alam semesta ini, dia akan terheran-heran menyaksikan keagungan dan rahasia-rahasia yang sebagian besarnya belum pernah terjamah oleh manusia Allah Swt berfirman: Qulinẓurụ māżā fis-samāwāti wal-arḍ, “Katakanlah lihatlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS.Yunus: 101). Perintah untuk menyaksikan dan melihat apa yang ada di langit dan di bumi menandakan bahwa ada keajaiban-keajaiban yang Allah tetapkan dan Allah ciptakan di langit dan di bumi ini.

Jalan kedua untuk mengenal sifat-sifat Allah adalah melalui wahyu. Tentunya ketika kita akan melangkah melalui jalan ini. Pertama, kita harus membuktikan bahwasanya adakah yang disebut dengan wahyu itu. Bahwa Allah mewahyukan kepada seorang hamba-Nya ini tentunya kita harus membuktikan terlebih dahulu kenabian, lalu ketika kita sudah membuktikan kenabian, kita juga membuktikan bahwasanya Allah berfirman kepada sang nabi lewat wahyu-Nya sehingga kita bisa membuktikan hal-hal seperti ini melalui jalur wahyu. Saat itulah kita bisa melihat bahwa Allah mewahyukan, baik melalui Alquran ataupun mewahyukan melalui lisan Nabi-Nya saw itulah yang disebut dengan wahyu. Kita bisa mendapatkan bahwa Alquran al-Karim telah menyebutkan 130 nama dan sifat untuk Allah Swt.

Dari sekian banyak ayat suci Alquran yang menjelaskan tentang nama atau sifat Allah Swt,  contohnya yang ada di dalam surah al-Hasyr ayat 23 Allah Swt menyebut diri-Nya dengan berbagai macam sifat. Di antaranya adalah Huwallāhullażī lā ilāha illā huw, Dialah Tuhan yang tidak ada tuhan selain Dia; Dia adalah al-Malik al-Quddụs, Dia adalah raja yang suci; Salāmul-mu`minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir. Sifat-sifat inilah yang Allah imbuhkan untuk diri-Nya sendiri. Lalu Allah berfirman, sub-ḥānallāhi ‘ammā yusyrikụn, Mahasuci Allah dari syirik yang mereka lakukan. Huwallāhul-khāliqul-bāri`ul-muṣawwirlahul-asmā`ul-ḥusnā, Dialah Allah yang Khaliq yang baari’, yang musawwir, yang mana Dia memiliki Asmaulhusna, Nama-nama yang Baik; Yusabbihulahumaa fiis-samaawaati wal ardhil wa huwa ‘aziizil hakiim, bertasbih kepada-Nya apa saja yang ada di langit-langit dan yang ada di bumi dan Dia adalah Tuhan yang Mahamulia lagi Mahabijaksana.

Di sini layak untuk kita ingatkan bahwa di antara kaum muslimin ada sekelompok kecil orang yang disebut dengan kelompok  mu’aththilah. Mereka memercayai bahwasanya tidak mungkin kita bisa mengenal Allah. Karena itu, jangan pernah berpikir mengenai Allah. Mereka mengatakan tidak boleh berpikir tentang zat Allah. Tapi lebih dari itu mereka juga mengatakan bahwa tidak boleh pula kita merenungkan dan memikirkan sifat-sifat Allah. Karena apa pun juga yang kita pikirkan, maka tidak akan sama dengan yang sebenarnya.Ini yang mereka katakan.

Untuk menjawabnya kita katakan bahwasanya ada dua hal kelemahan dari pemikiran ini.  Pertama adalah seandainya kita tidak mau memikirkan sifat-sifat Allah, lalu menutup segala akses kita untuk merenungkan sifat-sifat Allah, maka akan sangat banyak ajaran yang disampaikan oleh Alquran khususnya, yang kita tidak mungkin akan bisa mencernanya. Kita harus meliburkan pengetahuan-pengetahuan dan ajaran-ajaran tersebut. Kedua, seandainya kita dilarang untuk merenungkan sifat-sifat Allah, mengapa Allah sendiri menyebutkan tentang sifat-sifat itu di dalam banyak ayat suci-Nya dan mengapa pula Nabi Muhammad saw dan para Imam maksum as seringkali menjelaskan kepada kita tentang sifat-sifat Allah.

Mengenai sifat-sifat Allah ada beberapa pembagian. Pembagian pertama yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini adalah pembagian sifat Allah kepada dua kelompok. Sebagian sifat Allah adalah sifat jamaliyah atau disebut juga tsubutiyaah, sementara sebagian sifat yang lain adalah sifat jalaliyah atau salbiyah. Apa yang dimaksud dengan sifat jamal atau tsubuti itu? Sifat ini adalah sifat yang kita tetapkan kepada Allah Swt bahwa Allah memiliki sifat yang menunjukkan kesempurnaan Allah, seperti sifat hidup, memiliki kekuasaan,  memiliki kemauan, punya iradah, qudrah, maka Allah punya ilmu. Ini adalah sifat-sifat tsubutiyah yang kita sematkan kepada Allah dan merupakan kesempurnaan Allah Swt.

Sedangkan yang dimaksud dengan sifat jalaliyah atau juga yang dengan istilah lain disebut dengan sifat salbiyah adalah sifat-sifat yang kalau ada pada Allah, maka itu menunjukkan kekurangan Allah. Kita mengatakan bahwa karena Allah adalah Mahasempurna, maka tidak mungkin ada kekurangan sedikitpun pada Allah Swt. Karena itu, segala hal yang bisa dianggap sebagai mengurangi kesempurnaan Allah kita nafikan. Sifat-sifat itulah yang kemudian disebut dengan sifat jalaliyah atau sifat salbiyah. Misalnya, kita katakan bahwa Allah mustahil memiliki jism, mustahil Allah bahwa Allah itu terdiri dari beberapa bagian, mustahil Allah berada di suatu tempat, mustahil Allah berada dalam lingkup waktu, dan hal-hal semacam itu. Karena Allah Mahakaya, Dia tidak membutuhkan apa pun juga.

Dari sisi yang lain sifat Allah terbagi menjadi dua. Ada sifat yang disebut dengan sifat zatiyah, sifat yang berhubungan dengan zatnya Allah, dan ada pula sifat yang berhubungan dengan sifat fi’il atau perbuatannya Allah. Perbedaan di antara keduanya adalah sifat zat adalah sifat yang tidak menyertakan unsur yang lain selain Allah Swt dalam sifat tersebut. Seperti sifat ilmu bahwa Allah Swt berilmu. Ada makhluk yang lain atau tidak,  Allah Swt adalah zat yang berilmu. Begitu pula sifat hidup atau sifat kemauan, sifat qudrah, iradah, sifat-sifat ini adalah sifat-sifat zat.  Ada makhluk atau tidak ada makhluk, Allah tetap memiliki sifat-sifat tersebut.

Sementara sifat fi’il atau sifat perbuatan adalah sifat yang berhubungan dengan yang selain dengan Allah. Ketika kita menyifati Allah dengan sifat itu harus ada objek lain selain Allah supaya sifat itu bisa ditetapkan untuk Allah. Misal, kita mengatakan Allah adalah Maha Pencipta, maka ketika tidak ada sesuatu yang diciptakan kita tidak bisa mengatakan Allah pencipta. Ketika kita mengatakan Allah Pemberi Rezeki, berarti ada suatu makhluk yang diberi rezeki oleh Allah sehingga kita menyebut Allah sebagai pemberi rezeki. Allah pengampun artinya ada makhluk yang melakukan kesalahan lalu meminta maaf dan Allah mengampuninya. Jika tidak ada makhluk itu, sifat pengampun tidak bisa disematkan kepada Allah.

Empat Sifat Zat

Pada kesempatan ini saya ingin menjelaskan empat sifat Zat Allah. Pertama adalah sifat ilmunya Allah. Bahwa Allah Swt memiliki ilmu yang azali, ilmu yang sangat luas meliputi segala sesuatu. Ilmu Allah yang Azali adalah ilmu Allah yang tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Ia selalu ada seperti zatnya Allah yang selalu ada sifat ilmu-Nya. Allah tidak mengenal batasan. Dia meliputi segala sesuatu, baik sesuatu itu sudah diciptakan maupun sebelum diciptakan atau setelah ia tidak ada. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik dalam bentuknya secara universal maupun secara parsial. Allah Swt menjelaskan tentang ilmu-Nya yang sedemikian luas dan tak berbatas itu dengan firman-Nya, innallāha bikulli syai`in ‘alīm. Dalam surah al-Ankabut ayat 62 yang artinya, bahwa sesungguhnya Allah Swt mengetahui segala sesuatu. Allah Swt menyebutkan, bikulli syai`in ‘alīm, memutlakkan segala sesuatu apa pun juga yang bernama sesuatu, maka Allah mengetahuinya baik secara universal ataupun secara parsial, baik sesuatu itu sudah diciptakan atau sebelum diciptakan.

Dalam ayat lain surah Al-Mulk ayat 14 Allah berfirman, Alā ya’lamu man khalaq, wa huwal-laṭīful-khabīr, “Apakah Allah yang menciptakan tidak mengetahui apa yang diciptakan-Nya padahal Dia adalah Tuhan yang Mahalembut dan Maha Mengetahui?”

Sifat zat kedua adalah sifat qudrah-Nya Allah. Sifat Allah itu Mahamampu. Allah Swt memiliki sifat qudrah yang merupakan salah satu sifat zat. Artinya, jika zat Allah itu azali, tanpa awal dan tanpa akhir, sifat qudrah juga azali tanpa awal dan tanpa akhir. Mengenai qudrat-Nya, Allah Swt berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 27, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīrā, Allah Mahamampu dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Apa pun juga yang disebut dengan sesuatu, maka Allah Swt memiliki kemampuan atas hal itu atau juga. Dalam surah al-Kahfi ayat 45, Allah berfirman, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`im muqtadirā, Allah punya kemampuan dan punya kekuatan atas segala sesuatu.

Dalam masalah qudrah-NyaAllah, terkadang orang memiliki pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu keliru.Misalnya, ada orang yang bertanya kalau Allah dikatakan sebagai zat yang Mahamampu dan Maha Berkuasa untuk melakukan segala sesuatu, bisakah Allah Swt menciptakan, misalnya makhluk atau batu yang sedemikian berat dan sedemikian besar, yang Allah sendiri tidak mampu untuk mengangkatnya. Jika dikatakan dalam menjawab bahwa Allah tidak mampu untuk menciptakan hal semacam itu, maka dikatakan Allah tidak mampu. Kalau dikatakan bahwa Allah mampu menciptakan batu yang semacam itu, tapi tidak mampu untuk mengangkatnya kembali, lagi dikatakan bahwa Allah tidak mampu. Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, yang perlu dijelaskan adalah bahwa pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang keliru. Karena tidak mungkin ada suatu makhluk, ada suatu batu, misalnya yang sedemikian besar yang Allah tidak bisa mengangkatnya.

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan apakah Allah mampu untuk menciptakan Allah yang lain. Tidak mungkin akan ada Allah yang lain. Segala hal yang mungkin terjadi itu Allah Swt pasti mampu untuk melakukannya. Hal seperti ini pernah ditanyakan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Lalu Imam Ali bin Abi Thalib menjawab bahwa Allah Swt, Laa yunsabu illa ‘aziz, Allah Swt tidak bisa dinisbatkan kepada ketidakmampuan. Kata Imam Ali, apa yang engkau tanyakan bukan sesuatu yang bisa terjadi, yang kau tanyakan itu tidak mungkin terjadi. Karena tidak mungkin terjadi, Allah tidak akan mungkin menciptakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Ini tidak akan, tidak berhubungan dengan qudrahnya Allah Swt karena tidak mungkin terjadi. Riwayat ini disebutkan dalam Al-Tawhid Shaduq, halaman 133 bab yang ke-9 hadis ke-9.

Sifat zat ketiga adalah sifat hayat. Artinya,  Allah Swt Mahahidup. Zat yang memiliki ilmu yang sangat luas tak terbatas. Zat yang memiliki kemampuan dan kekuasaan yang tak terbatas mustahil zat itu tidak hidup. Dia pasti hidup. Allah memiliki sifat hayat yang juga sifatnya adalah sifat azali, tanpa awal dan tanpa akhir. Allah Swt berfirman, Wa tawakkal ‘alal-ḥayyillażī lā yamụtu, wa sabbiḥ biḥamdih, wa kafā bihī biżunụbi ‘ibādihī khabīrā. (QS. Al-Furqan: 58), “Dan bertawakallah engkau kepada yang Mahahidup dan tidak akan pernah mati.” Jangankan mati karena mati adalah sebuah kekurangan dan kita katakan Allah tidak mungkin memiliki kekurangan. Bahkan lebih daripada itu, Allah tidak pernah diterpa oleh rasa kantuk. Kita tahu bahwasanya tidur adalah saudaranya kematian. Bukan tidur yang Allah katakan dalam Firman-Nya, Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum, Sinah yang berarti awal dari rasa kantuk itu tidak akan pernah menerpa Allah, tidak akan pernah menimpa Allah. Allah Swt selalu hidup dan tidak akan pernah mati.

Sifat zat ke-4 adalah sifat iradah. Artinya, Allah Swt memiliki kehendak dan keinginan, memiliki kemauan, Dia tidak pernah dipaksa. Berada dalam paksaan melakukan suatu pekerjaannya, maka dia berada dalam kekuatan yang lain. Orang yang terpaksa melakukan keterpaksaan adalah kekurangan pada dirinya, dan Allah Swt jauh dari segala bentuk kekurangan. Dalam surah Yasin ayat 82 Allah berfirman, Innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn, “Allah jika berkehendak atas sesuatu, Dia cukup mengatakan “jadilah”, maka yang dikehendaki oleh Allah pasti akan jadi.” Melalui ayat ini Allah mengatakan bahwa ketika Allah menciptakan segala sesuatu, penciptaan itu terjadi karena keinginan-Nya. Dia tidak pernah dipaksa oleh pihak yang lain untuk melakukan apa pun juga.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Syekh Hakimelahi, Jumat  29 Januari 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.