NAVIGASI

Khutbah ke-158, Memahami Sifat Zat Allah: Takallum, Shiddiq, Dan Hikmah

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Sifat-Sifat Allah terbagi menjadi dua: pertama, yaitu ada sifat yang berhubungan dengan zatnya Allah dan ada sifat yang berhubungan dengan perbuatan Allah. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan dan memaparkan tiga lagi sifat zat Allah Swt: pertama, sifat takallum yakni berbicara: kedua, sifat shiddiq, yakni kebenaran dan kejujuran; dan ketiga, sifat hikmah yakni kebijaksanaan.

Mengenal Sifat Jamaliyah Dan Jalaliyah Allah

Tauhid Dalam Ibadah, Rububiyah, Dan Kekuasaan

Mengenal Tauhid Dalam Zat, Sifat, Dan Penciptaan

Mengenal Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah Allah

Melihat Tanda-tanda Kebesaran Allah Swt

Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Mikro

Mengenal Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Melalui Alam

Manfaat Dan Pengaruh Keimanan Bagi Manusia

Agama dan Kehidupan yang Baik

Menyikapi Perbedaan Keyakinan

Khutbah Jumat; Rahmat Rasulullah SAW Bagi Seluruh Alam

Belajar dari Keberhasilan Dakwah Rasulallah Saw

Alquran al-Karim menjelaskan tentang sifat Allah yaitu takallum bahwa Allah Swt berbicara. Salah satunya adalah dalam surah Al-Nisa ayat 164, Allah Swt berfirman, Wa kallamallāhu mụsā taklīmā, Dan Allah mengajak bicara Musa as. Jika dikatakan bahwasanya takallum atau berbicara itu adalah sifatnya Allah Swt, tidak ada yang meragukannya. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana takallum yang dinisbatkan kepada Allah ini? Kalau kita ingin mengetahui makna takallum yang merupakan sifat Allah Swt, kita perlu merujuk kepada Alquran al-Karim dan apa yang Allah firmankan dalam ayat-ayat suci-Nya.

Ada beberapa makna takallum. Salah satunya adalah bahwa Allah berbicara dalam arti Allah menciptakan suara untuk bisa menyampaikan pesan. Allah Swt tidak berjisim sehingga ketika berbicara tidak memerlukan adanya lidah. Sebagaimana Allah Swt bisa menciptakan makhluk-makhluk-Nya Allah juga bisa menciptakan suara untuk menyampaikan pesannya. Alquran juga menceritakan bahwa Allah Swt berbicara kepada para rasul-Nya dengan tiga cara. Surah Al- Syura’ ayat 51 menjelaskan bahwa Allah Swt berfirman, Wa mā kāna libasyarin ay yukallimahullāhu illā waḥyan au miw warā`i ḥijābin au yursila rasụlan fa yụḥiya bi`iżnihī mā yasyā`, Allah Swt tidak berbicara dengan seorang hamba dan manusia kecuali ketika berbicara dalam bentuk wahyu. Artinya, cara pertama yang Allah lakukan untuk berbicara dan menyampaikan pesan kepada nabi-Nya adalah dengan menyampaikan dan mengirimkan pesan-pesan tersebut dalam bentuk wahyu ke hati para nabi.

Kedua adalah, Aw miw warā`i ḥijābin, atau di balik hijab, di balik tabir. Artinya, Allah menciptakan suara. Orang hanya mendengar suara tanpa melihat siapa yang berbicara. Yang ketiga, cara Allah berbicara dengan para nabi-Nya adalah dengan, aw yursila rasụlan, mengirimkan utusan yaitu malaikat Jibril untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada nabi tersebut.

Ini adalah penjelasan mengenai takallum atau kalamnya Allah Swt. Namun ada makna lain untuk kalamnya Allah atau dengan ungkapan lain untuk kalimatnya Allah yaitu bahwa kalimat-kalimat Allah itu diterjemahkan sebagai makhluk-makhluk Allah, yakni Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dan makhluk-makhluk itulah yang menunjukkan akan keberadaan Allah. Dalam surah Al-Kahfi ayat  109, Qul lau kānal-baḥru midādal likalimāti rabbī lanafidal-baḥru qabla an tanfada kalimātu rabbī walau ji`nā bimiṡlihī madadā. Dalam ayat ini Allah Swt mengatakan “seandainya lautan dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, maka niscaya lautan itu akan habis untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, sementara kalimat-kalimat Allah tidak akan ada habisnya”.

Para mufasir mengatakan bahwasanya kalimatullah di sini adalah makhluk-makhluk Allah. Makhluk-makhluk yang jumlahnya tidak ada yang tahu kecuali Allah. Sedemikian banyak yang telah Allah ciptakan sehingga seandainya dituliskan dengan menggunakan lautan sebagai tintanya maka semua lautan itu akan habis tanpa bisa mengungkapkan seberapa besar banyaknya makhluk yang telah Allah ciptakan.

Berikutnya lagi bahwasanya yang disebut dengan kalimatullah berarti maujud sesuatu yang Allah ciptakan. Dalam surah Al-Nisa ayat 171 ketika Allah menceritakan tentang Nabi Isa as Allah berfirman, wa kalimatuh, alqāhā ilā maryama wa rụḥum min, Isa adalah kalimat Allah yang Allah titipkan kepada Maryam. Di sini kalimah artinya Nabi Isa as dan itu adalah makhluk Allah yang diutus dan Allah ciptakan dan lalu Allah titipkan dalam rahim Maryam as.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dalam salah satu khotbah-khotbah 194 dari Nahj al- Balaghah mengatakan bahwa ketika Allah Swt menghendaki menciptakan sesuatu, Dia akan mengatakan kun, jadilah, maka sesuatu yang diinginkan oleh Allah untuk terjadi sesuai apa Allah inginkan. Semua itu terjadi tanpa Allah perlu mengungkapkan kata kun dengan suara yang disampaikan, yang dikeluarkan, ataupun dengan suara yang didengar oleh makhluk apa pun kalam Allah. Ini adalah perbuatan Allah.

Ketika ada pembicaraan mengenai apakah kalam Allah itu qadim ataukah hadits, apakah kalam Allah itu sesuatu yang baru ataukah sesuatu yang qadim, kita tidak membahas hal semacam itu. Akan tetapi karena kalam Allah ini adalah perbuatan Allah, tentunya perbuatan Allah bukan bersifat qadim.

Di awal-awal abad ketiga Hijriah pernah terjadi sebuah tragedi besar di tengah umat Islam. Pada saat itu khalifah yang memercayai bahwasanya kalamullah itu qadim, akan membunuh siapa saja di antara ulama yang mengatakan bahwa kalamullah itu hadits. Kemudian berganti periode dan penguasa, penguasa berikutnya mengatakan bahwa kalamullah itu adalah hadits, artinya baru bukan qadim, sehingga khalifah yang berikutnya yang meyakini hal itu akan membunuh dan memenjarakan siapa saja yang mengatakan bahwa kallamullah itu qadim. Ini adalah suatu tragedi yang terjadi di tengah-tengah umat Islam, hanya karena membicarakan mengenai apakah kalamullahitu qadim ataukah hadits.

Padahal, jawaban untuk masalah ini sedemikian jelas. Jika kita mengatakan bahwa takallum atau berbicara atau kalam-kalamnya Allah itu adalah perbuatan Allah, dan jika kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kalamullah itu adalah Alquran, dan Alquran itu yang menceritakan kepada kita tentang kisah-kisah para nabi adalah suatu wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad saw yang di dalamnya ada hukum-hukum dari Allah untuk umat ini, sudah jelas bahwasanya itu adalah hadits (baru) bukan qadim. Kalau kita katakan bahwasanya kalamullah adalah sifat zat-Nya Allah, maka kalau sifat zat-Nya Allah berarti ia qadim seperti zat-Nya Allah.

Sifat fi’il kedua, sifat perbuatan Allah yang kedua adalah shiddiq, yang berarti kemahabenaran Allah. Kemahabenaran Allah ini bisa kita lihat bahwa Allah Swt dalam berbicara tidak pernah berdusta. Karena berdusta itu adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang lemah. Berdusta atau berbohong itu adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang membutuhkan cara untuk bisa lepas dari sesuatu sehingga dia berbohong. Berbohong itu adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh atau oleh orang-orang yang takut. Sementara hal-hal yang semacam itu adalah kekurangan dan Allah Swt jauh dari kekurangan-kekurangan semacam itu. Allah bukanlah Zat yang membutuhkan kepada siapa pun, tidak takut kepada apa pun, dan Allah bukan Zat yang bodoh, Allah Maha Mengetahui. Karena hal semacam itulah kita katakan Allah Swt Mahabenar dan Mahajujur dalam kata-kata-Nya.

Sifat fi’il ketiga, sifat Kemahabijaksanaan Allah, sifat hikmah-Nya Allah. Sifat hikmah-Nya Allah ada dua maknanya. Pertama, adalah bahwa Allah dalam melakukan semua perbuatan-Nya akan melakukan-Nya dengan segala kesempurnaan. Kedua sifat kebijaksanaan ini adalah bahwa Allah dalam melakukan perbuatan-Nya tidak akan pernah melakukan hal yang sia-sia dan percuma. Mengenai makna inilah Allah Swt berfirman dalam Surah Shaad ayat 27, Wa mā khalaqnas-samā`a wal-arḍa wa mā bainahumā bāṭilā, “Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala hal yang berada di antara langit dan bumi dan yang berada di langit dan di bumi dengan penciptaan yang sia-sia.” Semua diciptakan oleh Allah dengan tujuan dan semua diciptakan oleh Allah dengan kesempurnaan.

Sampai di sini kita telah membahas mengenai sifat-sifat tsubutiyah, sifat-sifat yang kita tetapkan untuk Allah Swt atau dengan ungkapan lain sifat-sifat kamaliyah yakni sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah. Sekarang tiba giliran kita untuk membahas tentang sifat-sifat salbiyah yaitu sifat-sifat yang kita nafikan dari Allah Swt.

Sifat Salbiyah Allah

Yang dimaksud dengan sifat salbiyah adalah sifat-sifat yang kita nafikan dari Allah, yakni sifat-sifat yang tidak tepat, tidak benar, dan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan kita jauhkan dari Allah Swt. Misalnya, seperti kita katakan bahwa Allah tidak berjisim; bahwa Allah tidak bertempat; dan Allah tidak memerlukan tempat. Sifat-sifat inilah yang kita nafikan dari Allah.

Salah satu sifat yang masuk dalam kelompok sifat salbiyah dan yang menjadi perdebatan di kalangan para teolog muslimin adalah sifat apakah Allah bisa dilihat ataukah tidak bisa dilihat? Sebagian kaum muslimin mengatakan Allah sama sekali tidak bisa dilihat, tidak di dunia, tidak pula di akhirat. Sementara sekelompok muslimin lainnya mengatakan Allah Swt tidak bisa dilihat di dunia tetapi di akhirat Allah bisa dilihat. Masing-masing dari dua kelompok ini membawakan dalil dari ayat-ayat suci Alquran.

Kita meyakini bahwa Allah Swt tidak bisa dilihat tidak di dunia tidak pula di akhirat. Sebab kalau kita katakan Allah Swt bisa dilihat, ada dua kemungkinan yang kita lihat dari Allah Swt adalah Allah secara utuh atau Allah sebagian daripada-Nya. Jika kita katakan bahwa yang terlihat oleh kita di akhirat nanti adalah seluruhnya Allah, berarti apa yang ditangkap penglihatan kita yaitu Allah terbatas. Sesuatu yang bisa dilihat, pasti ia terbatas. Apakah kita mengatakan bahwa Allah itu terbatas? Kita sebelumnya mengatakan Allah adalah maujud yang tidak terbatas. Kalau kita katakan bahwa yang terlihat dari Allah adalah sebagian dari Allah saja, berarti kita mengatakan Allah memiliki bagian padahal kita katakan Allah tidak terdiri dari bagian-bagian.

Dalam surah Al-A’raf ayat 143 Allah Swt menceritakan tentang kisah miqat-nya dari Nabi Musa as. Ketika Nabi Musa mendatangkan ke miqat dan perjanjian dengan Allah, kemudian berbicara dengan Allah, Musa mendengar kata-kata dan suara dari Allah. Saat itulah Musa as diminta oleh Bani Israil—yang sedang bersamanya—supaya Allah yang mereka dengar suara dari Allah itu menampakan diri-Nya. Saya katakan bahwa Musa as tahu bahwasanya Allah tidak bisa dilihat, tetapi karena permintaan dan sikap keras kepala Bani Israil yang meminta supaya Musa memohon kepada Allah Swt menempatkan diri-Nya. Allah Swt menceritakan bahwa Musa kemudian mengatakan,  rabbi arinī anẓur ilaīk, Ya Allah perlihatkanlah diri-Mu supaya aku bisa melihat kepada-Mu.” Kemudian Allah Swt menjadikan Musa dan orang-orang Bani Israil yang bersamaan itu tersungkur.

Tentunya yang dimaksud bahwa Allah tidak bisa dilihat adalah dengan penglihatan mata. Seandainya kita berbicara penglihatan hati, Allah bisa dilihat dengan mata hati kita. Sebagaimana seorang sahabat Amirul Mukminin bernama Al-Yamani bertanya kepada Amirul Mukminin, “Wahai Amirul Mukminin apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Imam Ali bin Abi Thalib menjawab, “Aku tidak akan pernah menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.” Kemudian sahabatnya itu berkata lagi, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana engkau bisa melihat Tuhanmu?” Imam kemudian menjawab, “Ketahuilah bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala tetapi bisa disaksikan dengan mata hati.”

Kelompok muslimin yang mengatakan bahwa Allah kelak di hari kiamat bisa dilihat mereka menggunakan dalil dari ayat Alquran dalam surah Al-Qiyamah ayat 22 dan 23. Allah Swt berfirman, Wujụhuy yauma`iżin nāḍirah Ilā rabbihā nāẓirah, “Di hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri yang memandang kepada Tuhannya di sini. Allah sebutkan dalam Alquran menggunakan kata nadirah yang kemudian diterjemahkan dengan penglihatan atau pandangan. Inilah yang kemudian membuat mereka meyakini bahwa Allah Swt bisa dilihat pada Hari Kiamat sesuai firman Allah ini.

Untuk menjawab pandangan dan argumentasi dengan ayat itu yang membuktikan bahwa Allah bisa dilihat di Hari Kiamat, maka jawabannya adalah kata nadirah pada ayat 23 bukan berarti memandang. Allah Swt menyebut bahwa yang memandang, yang dikatakan nadirah kepada Tuhan mereka, bukan mata tetapi wajah. Wujụhuy yauma`iżin nāḍirah. Apakah seseorang memandang seseorang yang lain, memandang suatu pemandangan dengan wajah ataukah memandang dengan mata. Karena itulah yang sebenarnya maksud dari ayat ini adalah “pada hari itu ada wajah-wajah yang menantikan datangnya rahmat dari Allah, yang menyaksikan adanya pemberian anugerah dari Allah dan pahala-pahalanya di hari kiamat.” Artinya, ayat 23 surah Qiyamah ini adalah bahasa kiasan. Seperti bahasa kiasan ketika kita mengatakan si fulan menantikan pandangannya kepada si fulan. Artinya, menantikan bantuan dari si fulan, bukan berarti matanya diserahkan kepada si fulan.

Allah Swt juga menjelaskan bahwa Allah tidak akan pernah bisa dilihat. Kita lihat cerita kisah dari Bani Israil yang meminta kepada Musa supaya mereka dipertemukan dengan Allah sehingga bisa menatap wajah Allah. Allah Swt mengatakan kepada Musa, Innaka lan tarani, “Engkau tidak mungkin akan bisa melihat-Ku”. Allah menggunakan kata lan yang berarti sama sekali tidak akan pernah bisa. Ini menunjukkan bahwasanya melihat Allah dengan mata kepala tidak mungkin akan bisa terjadi.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Syekh Hakimelahi, Jumat  5 Februari 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.