NAVIGASI

Khotbah ke-159, Makna Kiasan pada Tangan, Wajah, Mata, dan Istiwa-Nya Allah

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Berdasarkan dasar-dasar pemikiran filsafat dan teologi, Allah Swt adalah maujud yang tidak memiliki jisim, Allah Swt tidak berada di tempat, dan Allah Swt menguasai segala sesuatu di alam jagat raya ini. Allah tidak bisa dilihat, tidak bisa dimengerti, dan dipahami secara penuh secara hakikatnya oleh setiap manusia. Karena itu, berdasarkan sifat-sifat jalal ataupun sifat-sifat kamal-Nya, Allah Swt kita katakan Allah tidak berjisim dan Allah tidak bisa dilihat.

List Khotbah Jumat ICC Jakarta

Memahami Sifat Zat Allah: Takallum, Shiddiq, Dan Hikmah

Mengenal Sifat Jamaliyah Dan Jalaliyah Allah

Tauhid Dalam Ibadah, Rububiyah, Dan Kekuasaan

Mengenal Tauhid Dalam Zat, Sifat, Dan Penciptaan

Mengenal Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah Allah

Melihat Tanda-tanda Kebesaran Allah Swt

Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Mikro

Mengenal Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Melalui Alam

Manfaat Dan Pengaruh Keimanan Bagi Manusia

Agama dan Kehidupan yang Baik

Menyikapi Perbedaan Keyakinan

Khutbah Jumat; Rahmat Rasulullah SAW Bagi Seluruh Alam

Belajar dari Keberhasilan Dakwah Rasulallah Saw

Berlindung dari Godaan Setan

Ada beberapa sifat yang disebut sebagai sifat khabari yang berkenaan dengan Allah. Maksudnya adalah sifat-sifat yang disebutkan Alquran al-Karim ataupun riwayat-riwayat yang sampai kepada kita, yang mana sifat-sifat tersebut secara zahirnya bertentangan dengan dasar-dasar logika dan dasar-dasar pemikiran filsafat. Di antara sifat-sifat tersebut yang seringkali disebutkan adalah tiga sifat yang pertama adalah: sifat yad atau tangan, bahwa Allah Swt di dalam ayat-ayat suci Alquran disebutkan memiliki tangan. Kedua adalah wajah yang dinisbatkan kepada Allah, dan yang ketiga adalah mata yang juga dinisbatkan kepada Allah.

Sedangkan yang keempat ada sifat lain yang juga dinisbatkan kepada Allah dan mengundang polemik yang cukup tajam di kalangan para teolog yakni bahwa Allah disebut istiwa, memiliki istiwa ‘ala al-‘arsy. Yakni, kalau kita baca dalam terjemahan-terjemahan yang ada, disebutkan bahwa Allah bersemayam di atas arasy. Arasy adalah singgasana yang kemudian ditafsirkan bahwa Allah duduk di atas singgasana. Jika Allah duduk di singgasana berarti Allah berada di suatu tempat.

Keempat sifat tersebut dapat kita temukan dalam ayat-ayat suci Alquran al-Karim dalam surah Al-Fath ayat 10. Allah Swt berfirman, Innallażīna yubāyi’ụnaka innamā yubāyi’ụnallāh, yadullāhi fauqa aidīhim, fa man nakaṡa fa innamā yangkuṡu ‘alā nafsih, wa man aufā bimā ‘āhada ‘alaihullāha fa sayu`tīhi ajran ‘aẓīmā, “Sesungguhnya mereka yang telah berbaiat kepadamu, wahai Rasul, sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah tangan Allah di atas tangan mereka.” Secara lahiriah ayat ini menyebutkan bahwa Allah memiliki tangan dan tangan Allah di atas tangan manusia.

Kedua, adalah sifat wajah yang dinisbatkan oleh Allah kepada diri-Nya. Surat Al-Baqarah ayat 115 menyebutkan, Wa lillāhil-masyriqu wal-magribu fa ainamā tuwallụ fa ṡamma waj-hullāhinnallāha wāsi’un ‘alīm. “Milik Allah lah Timur dan Barat, ke manapun engkau menghadap di situlah wajah Allah.” Kata-katanya dengan jelas menyebutkan kata wajah dan dinisbatkan kepada Allah Swt.

Ketiga adalah sifat ‘ain atau mata yang Allah nisbatkan kepada diri-Nya. Dalam Surah Hud ayat 37 Allah Swt berfirman kepada Nabi-Nya Nuh as, Waṣna’il-fulka bi`a’yuninā wa waḥyinā,wa lā tukhāṭibnī fillażīna ẓalamụ, innahum mugraqụn, “Wahai Nuh buatlah kapal di depan mata-mata Kami dan di depan wahyu Kami.” Di sini disebutkan “mata” lalu dinisbatkan kepada Allah.

Keempat, adalah sifat istiwa ‘alal arsy, yakni bersemayam di atas singgasana. Di dalam Surah Thaha ayat 5 Allah Swt berfirman, Ar-raḥmānu ‘alal-‘arsyistawā, “Tuhan yang memiliki nama Rahman bersemayam di atas arsy.” Kemudian kata istiwa diartikan oleh sekelompok orang dengan kata “duduk di atas singgasana”.

Secara lahiriahnya keempat hal tersebut yakni, tangan, wajah, mata Allah, dan juga istiwa-Nya Allah di atas singgasana atau arasy menunjukkan bahwasanya Allah Swt berjisim. Padahal, pada pembahasan-pembahasan sebelum ini kita telah buktikan bahwa Allah Swt tidak berjisim. Karena itu bisa kita pastikan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan-ungkapan tadi bukan maksud atau makna secara zahirnya. Ada makna-makna lain yang ingin disampaikan oleh ayat-ayat tersebut.

Alquran diturunkan oleh Allah dengan bahasa Arab. Kita tahu bahwasanya salah satu seni berbicara dalam bahasa Arab adalah menggunakan majaz dan kinayah atau bahasa-bahasa kiasan. Hal itu lazim dilakukan oleh masyarakat manusia ketika berbicara menggunakan bahasa bahasa kiasan. Ketika menggunakan bahasa Arab yang merupakan bahasa suatu kaum Allah juga menggunakan hal-hal tersebut dalam firman-firman-Nya. Mirip ketika orang mengatakan bahwa si Fulan adalah orang yang rumahnya selalu terbuka. Ini adalah bahasa kiasan yang menunjukkan bahwa si Fulan adalah orang yang dermawan. Padahal kalau secara lahiriahnya kita lihat rumahnya terkadang juga tertutup dan bahkan sering tertutup, namun tidak menutup kemungkinan orang tetap menyebutnya sebagai orang yang rumahnya selalu terbuka. Atau ungkapan sebaliknya yang orang menyebut seorang yang kikir dengan sebutan orang ini tangannya tertutup. Padahal, sering kali tangannya dalam keadaan terbuka tetapi masyarakat menyebutnya sebagai orang yang tangannya tertutup.

Bahasa-bahasa semacam ini kita biasa mengenalnya dengan sebutan bahasa kiasan dan itu biasa digunakan dalam percakapan baik dalam bahasa Arab ataupun bahasa-bahasa yang lain. Kini kita ingin melihat makna daripada yadullah atau tangan Allah yang disebutkan pada ayat yang tadi sudah dibacakan. Apa gerangan yang ingin disampaikan maknanya oleh Allah? Pada ayat yang tadi disebutkan mengenai baiat yang dilakukan oleh kaum mukminin dengan Nabi saw, kita mengenal sebuah tradisi bahwa ketika orang mengutus seorang atau mengutus sebuah delegasi, lalu delegasi itu melakukan suatu apa yang sudah diamanatkan kepadanya, maka seakan-akan yang melakukan adalah orang yang mengutusnya. Allah Swt telah mengutus rasul-Nya di tengah umat lalu ketika umat melakukan baiat kepada Rasul seakan-akan mereka juga berbaiat kepada Allah. Jika berbaiat kepada Rasul dengan tangan seakan-akan mereka telah berbaiat dan memegang tangan Allah, namun bukan berarti Allah memiliki tangan lalu mereka menjabat tangan-Nya Allah.

Tafsiran kedua adalah kata yad yang berarti tangan. Ia adalah kiasan untuk mengungkapkan kekuatan. Ketika dikatakan yadullah berarti tangan Allah, makna sebenarnya adalah kekuatan Allah, kekuatan Allah di atas kekuatan segalanya. Karena itu, ungkapan firman Allah, yadullah fauqa aydihim pada ayat tadi yang sudah dibacakan berarti kekuatan Allah dan kekuasaan Allah di atas semua kekuatan dan kekuasaan.

Ayat berikutnya atau sifat berikutnya yang dinisbatkan oleh Allah kepada diri-Nya adalah wajh yaitu wajah. Dalam firman Allah yang tadi disebutkan bisa berarti bahwasanya yang dimaksud bukan wajah, karena Allah Swt tidak memiliki wajah. Yang dimaksud adalah zatnya Allah itu sendiri. Untuk lebih memahaminya silakan baca surah al-Rahman ayat 26-27. Allah Swt berfirman, Kullu man ‘alaihā fān. Wa yabqā waj-hu rabbika żul-jalāli wal-ikrām. “Segala sesuatu itu adalah fana kecuali hanya wajah Allah, wajah Tuhanmu yang memiliki kemuliaan dan keagungan.”

Tentunya ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu selain Allah fana, yang tidak fana hanyalah zat-Nya Allah. Karena itu, makna wajh pada ayat ini adalah zat-Nya Allah. Jika pada ayat ini wajhullah adalah zat-Nya Allah, maka pada ayat yang tadi dibaca dalam surah al-Baqarah juga bisa berarti zat-Nya Allah. Artinya, ke manapun engkau memandang, ke manapun engkau menghadap Timur, Barat, Utara atau Selatan, maka di situlah ada Allah. Sekali lagi ditekankan bahwa yang dimaksud dengan wajhullah bukan Allah memiliki wajah melainkan zat Allah itu sendiri.

Sifat ketiga yang dinisbatkan kepada dirinya adalah ‘ainullah,‘ain atau mata, mata Allah di dalam Surah Hud dikatakan, “Wahai Nuh, buatlah kapal di hadapan mata-mata Kami.” Kita ingin tahu apa makna mata di dalam ayat ini. Kita tahu kisah tentang Nabi Nuh as yang selama sekian ratus tahun bertablig dan berdakwah mengajak umatnya kepada penyembahan Allah tetapi umatnya tidak mau mendengar ajakan beliau. Kemudian Allah Swt memerintahkan nabi-Nya, Nuh as, untuk membuat kapal dan beliau membuat kapal di satu tempat yang jauh dari air, jauh dari lautan dan sungai. Karena itulah, apa yang dilakukan oleh Nabi Nuh menjadi bahan olok-olok oleh orang-orang kafir. Mereka mengolok-olok Nabi Nuh yang membuat kapal jauh dari air. Saat itulah Allah Swt menegaskan kepada Nuh, “Wahai Nuh, jangan perhatikan cibiran dan olok-olok mereka karena sesungguhnya engkau membuat kapal ini di depan pandangan Kami, di depan perhatian Kami, dan Kami selalu mengawasimu, wahai Nuh.”

Hal semacam ini juga lazim dibicarakan dan digunakan dalam percakapan masyarakat secara umum. Orang mungkin akan mengatakan, “Wahai Fulan, jangan berbuat kesalahan karena kesalahan apa pun yang kau lakukan tidak lepas dari pandangan kami.” Pertanyaannya apakah orang yang mengatakan ini matanya selalu terbuka dan melihat apa yang dilakukan oleh orang tersebut, ataukah ini adalah bahasa kiasan bahwa yang dilakukan itu tidak pernah lepas dari kontrol dan kita selalu mengetahui berita-berita tentang dia? Karena itu, bisa kita pastikan yang dimaksud dalam ayat tadi yang menisbatkan ‘ain atau mata kepada Allah bukan berarti makna zahir yang tempatnya ada di wajah. Makna daripada mata Allah adalah pengawasan Allah.

Keempat adalah istiwa ‘ala alarsy sebagaimana firman Allah dalam surah Thaha ayat 5, Ar-raḥmānu ‘alal-‘arsyistawā.  Makna istiwa bukan berarti duduk. Istiwa adalah kekuasaan Allah Swt yang berkuasa atas alam penciptaan. Apa pun juga yang masuk ke dalam alam penciptaan berada di bawah kendali dan kekuasaan Allah. Bukan berarti Allah Swt duduk di atas singgasana. Kebetulan ungkapan semacam ini juga sering digunakan dalam percakapan umum. Ketika orang menyaksikan ada seorang pemimpin yang sedemikian berkuasa dan dia memimpin dengan baik, dia punya kekuatan dalam memimpin, orang akan mengatakan bahwa si Fulan duduk di atas singgasananya, di atas kekuasaannya. Hal ini bukan berarti dia selalu duduk di atas kursi kepemimpinan. Bisa jadi dia dalam keadaan tidak duduk, tapi orang mengatakan dia duduk di atas kursi kekuasaannya. Di sini Allah Swt lewat ayat 5 Surah Thaha ingin mengatakan segala sesuatu berada dalam kendali Allah dan kekuasaan-Nya. Bukan berarti Allah menciptakan lalu dibiarkan makhluk-makhluk-Nya tanpa ada kekuasaan dan pengelolaan darinya.

Revolusi Islam

Hari-hari ini bertepatan dengan peringatan 42 tahun kemenangan revolusi Islam di Iran yang dipimpin oleh almarhum Imam Khomeini ra. Pertanyaannya,  mengapa rakyat Iran bangkit untuk melakukan sebuah perjuangan menggulingkan sebuah pemerintahan Syah sebelum berdirinya republik Islam?

Sebelum revolusi, pemerintahan yang ada di Iran yang dipimpin oleh Syah adalah sebuah pemerintahan yang tidak independen, tidak merdeka, selalu berada dalam tekanan dan selalu mengikuti kebijakan-kebijakan dan dikte yang diberikan oleh Amerika, negara-negara Eropa, atau Rusia. Bahkan Syah sendiri mengatakan bahwa dia sering kali didatangi oleh seorang duta besar salah satu negara Eropa yang mendiktekan sesuatu dan dia tidak bisa untuk menolak apa yang telah didiktekan kepadanya. Syah juga pernah mengakui bahwasanya beberapa kali terjadi pesawat-pesawat tempur milik Iran diambil oleh tentara Amerika dan digunakan untuk membombandir negara-negara Arab, sementara Syah sendiri tidak bisa melakukan penolakan atau protes terhadap tindakan itu.

Kedua adalah sebelum revolusi, kekayaan-kekayaan yang dimiliki oleh Iran termasuk di antaranya tambang-tambang, sumur-sumur emas dan segala kekayaan yang dimiliki oleh negara itu tidak bisa dikelola sendiri oleh pemerintah Iran. Semuanya dikelola dan dipegang oleh pihak-pihak asing. Anda mungkin pernah mendengar bahwa pada zaman itu minyak yang dimiliki oleh Israel didapatkan secara gratis dari Iran. Dan mereka pulalah yang mendikte Syah Iran untuk memberikan minyak ke negara mana atau tidak memberikan ke negara mana.

Ketiga adalah angkatan bersenjata Iran juga tidak berada di tangan pemerintah Iran. Pada saat itu minimalnya ada 400.000 konsultan atau penasihat militer dari Amerika dan negara-negara asing ada di Iran. Merekalah yang memberikan dikte dan kebijakan-kebijakan kepada pemerintah Iran untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Artinya, tentara pada saat itu walaupun atas nama tentara pemerintahan Iran, sebetulnya bukan membela kepentingan negara dan kedaulatan negara melainkan membela kepentingan-kepentingan asing.

Keempat adalah ada gerakan memerangi agama dan spiritualitas di Iran. Pada saat itu di mana kita bisa menyaksikan anak-anak muda dan mahasiswa-mahasiswa mereka malu untuk salat di masjid-masjid, dan kita saksikan pada saat itu yang memenuhi masjid hanyalah orang-orang tua sementara itu pusat-pusat amoralitas pusat-pusat fasad terbuka dan semakin luas dan melebar di seluruh penjuru Iran. Orang tidak berpegangan pada agama. Yang berpegangan pada agama akan dicibir dan akan dijauhi.

Ketika rakyat Iran bangkit dipimpin oleh Imam Khomeini untuk melakukan perlawanan dan kemudian perlawanan itu berujung dengan revolusi yang menumbangkan rezim Syah, kepentingan-kepentingan asing dengan sendirinya sudah tidak lagi di tangan mereka. Sudah kembali ke tangan Iran. Pada saat itulah pihak-pihak asing merencanakan berbagai macam tipu daya dan makar melakukan berbagai macam konspirasi untuk bisa menggulung pemerintahan Islam yang baru saja dibentuk.

Pertama yang mereka lakukan adalah menyulut peperangan-peperangan saudara di dalam Iran untuk melemahkan Iran. Tapi semua yang mereka lakukan dalam hal ini berujung dengan kebuntuan dan mereka gagal. Kedua, ketika yang pertama itu gagal, mereka melakukan program kedua, yaitu membujuk Saddam Hussein, pemimpin Irak pada saat itu, untuk menyerang Iran. Kemudian Saddam—dibantu oleh Timur dan Barat yang menyuplai segala macam kebutuhannya—memerangi Iran sehingga pecahlah perang selama delapan tahun.

Hari ini kita melihat bahwa Iran saat ini sedang menghadapi sebuah embargo dan sanksi yang paling sulit sepanjang sejarah berdirinya revolusi Islam. Namun demikian, meskipun menghadapi sanksi dan embargo yang sedemikian sulit, Iran tetap eksis dan mempertahankan kemerdekaan dan independensi. Bahkan berhasil mengukir berbagai macam kemajuan. Iran berhasil menempatkan dirinya menjadi salah satu di antara negara-negara yang maju dalam banyak hal.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Syekh Hakimelahi, Jumat  12 Februari 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.