NAVIGASI

Masa Depan Revolusi Islam dalam Perspektif Rahbar

Kategori: Pesan Imam

ICC Jakarta – Pada 22 Februari 2021 anggota Majelis Khobregan (Dewan Ahli Kepemimpinan) bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei di Tehran.Di hadapan pada ulama dan pemuka agama ini, Rahbar mendahului pidatonya dengan menjelaskan poin-poin penting terkait kebutuhan masyarakat dewasa ini di bidang pemahaman dan nilai-nilai Islam serta urgensitas untuk memperbarui pemahaman ini. Islam adalah agama yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari manusia dan aturan serta hukumnya tidak pernah usang. Oleh karena itu berdasarkan sumber dan tujuan Islam, dan dengan pengenalan yang akurat terkait waktu dan tempat, mekanisme efektif sesuai kebutuhan masyarakat dapat ditentukan. Artinya inti sari ajaran Islam yang universal ini disimpulkan serta pemahaman falsafah, ajaran dan sistem Islam dicapai. Rahbar meminta Hauzah Ilmiah, pengajar hauzah dan universitas untuk membawa pemahaman Islam hingga ke tahap praktik di dunia nyata. Ayatullah Khamenei mengatakan, sistem pengetahuan dan nilai Islam adalah serangkaian pemahaman yang jika dibawa ke tengah masyarakat, kemudian diterapkan dalam praktik keseharian, akan menjadi pekerjaan sangat besar dan penting. Di mana pun kita melakukan pekerjaan terkait masing-masing dari pemahaman yang akan saya jelaskan kemudian ini, bernilai bagi bangsa, negara, harga diri Islam, dan Republik Islam Iran, sebaliknya di mana pun kita lalai, kita akan tetap terbelakang. Rahbar mengemukakan sejumlah contoh untuk memperjelas masalah, salah satu yang terbaru adalah wabah virus Corona. Ia mengatakan, konsep tolong menolong merupakan konsep bernilai di dalam sistem Islam, konsep ini dipraktikkan oleh rakyat, pemuda, instansi pemerintah, dan lembaga revolusi, kebangkitan besar dalam membantu sesama Mukmin di tengah wabah Corona, terbentuk dan berhasil mengatasi banyak permasalahan. Kenyataannya, konsep tolong menolong memiliki kapasitas yang bisa mempengaruhi masyarakat seperti sekarang ini. Pada contoh lain Ayatullah Khamenei menyinggung kebijaksanaan dan keinginan Imam Khomeini untuk mempraktikkan konsep-konsep seperti tawakal, menjalankan kewajiban, pengorbanan, jihad dan martir. Ia menuturkan, semua ini sudah disampaikan, dan dengan munculnya Imam Khomeini, dengan pergerakan, pencerahan, dan tuntutan beliau yang menegaskan kehendak Ilahi, hal tersebut masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Hasilnya, selama delapan tahun, dalam sebuah perang yang realitasnya merupakan perang internasonal, kita berhasil menang atas para penentang.   

Ayatullah Khamenei kemudian mengutip Surat An Nisa ayat 64,  “Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.” Menurutnya, ketaatan dan penyerahan diri tersebut bukan hanya terbatas pada pekerjaan-pekerjaan pribadi seperti salat dan puasa, melainkan harus dilaksanakan pada semua urusan kehidupan. Sebagaimana Imam Khomeini menerapkan pandangan agama dengan menggunakan ayat-ayat ini pada ranah sosial dan pemerintahan. Imam Khomeini mengutip Surat Saba ayat 46, “Katakanlah: Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri…..” kemudian beliau memulai sebuah kebangkitan Islam pada tahun 1963. Ayatullah Khamenei berkata, setelah itu seiring berlalunya waktu para pemikir, para pendukung, pecinta, murid-murid Imam Khomeini, terutama Imam sendiri memupuk pemikiran ini hingga akhirnya melahirkan revolusi, munculnya revolusi dan kemenangan revolusi, serta terbentuknya pemerintahan yang bersumber dari revolusi. Artinya, perhatikanlah ajaran-ajaran Al Quran, dan Islam, ajaran makrifat Islam, semuanya mampu mempengaruhi kehidupan manusia ketika dipraktikkan. Ini merupakan sebuah contoh dari pengaruh luar biasa mekanisme dan gerakan ini. Dari sudut pandang Rahbar, sekarang pemerintahan Islam sudah terbentuk, dan cita-citanya sudah disampaikan berdasarkan prinsip anti-imperialisme, anti-penindasan, kehidupan ideal, peningkatan akhlak manusia, dan penyebarluasan keutamaan. Hal itu menuntut tersedianya seluruh instrumen yang diperlukan untuk mencapai cita-cita, dan konsep-konsep yang termasuk dalam pemahaman spiritual dan sistem makrifat Islam, mesti ditemukan, dipahami, diamalkan dan dijalankan, artinya ini merupakan sebuah perangkat lunak bagi perangkat keras pemerintahan Islam. Ayatullah Khamanei menambahkan, untuk mencapai cita-cita ini diperlukan seperangkat instrumen. Instrumen-instrumen yang mengantarkan kita kepada cita-cita tidak diragukan lagi-lagi bisa ditemukan dalam sistem Islam, karena tidak mungkin tujuan memberitahu kita dan membangkitkan kita menuju tujuan tersebut tapi tidak menunjukkan jalan kepada kita. Ayatullah Khamenei meyakini pengalaman 42 tahun pemerintahan Islam di Iran menunjukkan bahwa semakin jauh melangkah, rintangan-rintangan baru, arena-arena baru, dan pekerjaan-pekerjaan baru muncul bagi Republik Islam, dan menuntut pemerintahan Islam untuk memperluas rangkaian pemikiran yang menopangnya. Perangkat lunak dan sistem spiritual tersebut kembali meniupkan napas baru kehidupan bagi pemerintahan Islam.  Rahbar menuntut hal ini dari para ulama dan pemikir Islam, yaitu mereka yang terhindar dari kejumudan pemikiran dan cara berpikir eklektik. 

“Ketika kami mengatakan pembaruan pemikiran Islam yaitu sistem makrifat Islam, sama sekali bukan berarti memanipulasi sistem spiritual, tapi sebuah kenyataan dalam Al Quran dan sunah Nabi Muhammad Saw yang akan luput dari perhatian kita jika kita merasa tidak membutuhkannya, kita tidak menyadarinya, tapi saat kita membutuhkan kita akan sadar,” paparnya. Rahbar memberi contoh, saat Republik Islam Iran berada di bawah tekanan musuh, dan mereka menjanjikan pencabutan sanksi dengan satu atau beberapa syarat yang pelaksanaannya mungkin saja membuat kita sangat tersesat dan binasa, apa yang harus dilakukan pemerintahan Islam ? Ayatullah Khamenei menjelaskan, pada kondisi seperti ini konsep agama tentang kesabaran dan perlawanan harus diubah menjadi sebuah gerakan massal di tengah masyarakat, itupun pada kondisi ketika masyarakat berhadapan dengan permasalahan yang sebagian darinya disebabkan tekanan musuh. Rahbar di bagian kedua pidatonya menjelaskan masalah nuklir. Sehubungan dengan masalah perjanjian nuklir JCPOA, Rahbar menilai sikap terbaru Amerika dan tiga negara Eropa terhadap Iran, sebagai sikap penjajah, penuntut, salah dan keliru. Ayatullah Khamenei mengatakan, mereka terus membahas tentang komitmen nuklir Iran, karena Iran mencabut sebagian komitmen ini, tapi tidak menyadari mereka sendiri sejak hari pertama sama sekali tidak menjalankan komitmennya, artinya orang yang harus diingatkan adalah mereka sendiri. Ia melanjutkan, Republik Islam Iran untuk waktu yang lama menjalankan semua komitmennya berdasarkan perintah Islam yang mewajibkan untuk menunaikan janji, namun setelah sekian lama menyaksikan bahwa mereka bersikap seperti ini, salah satunya Amerika yang keluar dari perjanjian dan mengajak yang lain bersamanya, Al Quran dalam Surat Al Anfal ayat 58 berfirman, “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”. 

Rahbar menyebut orang yang terus-menerus mengatakan kami tidak akan membiarkan Iran menguasai senjata nuklir, sebagai badut Zionisme global, dan ia mengatakan, apa urusannya dengan Anda sampai melarang Iran menguasai senjata nuklir. Jika kami memutuskan untuk menguasai senjata nuklir, Anda dan orang yang lebih besar dari Anda sekalipun tidak akan mampu mencegah kami. Ajaran Islam yang melarang kami menguasai senjata yang menyebabkan warga sipil, orang tidak bersenjata, dan rakyat biasa binasa. Senjata semacam ini terlarang. Ia menambahkan, Anda sendiri tidak mematuhi komitmen kesepakatan ini, Amerika dalam sehari membantai 220.000 orang. Selama lima tahun jet-jet tempur negara Barat membombardir rakyat, gang-gang, pasar, masjid, rumah sakit, dan sekolah, mereka membunuh warga sipil, memblokade rakyat sedemikian rupa, ini pekerjaan mereka. Republik Islam Iran menolak cara-cara semacam ini, maka dari itu kami sama sekali tidak berpikir untuk menguasai senjata nuklir, tapi untuk pekerjaan lain di bidang ini kami punya sejumlah rencana.  Batas pengayaan uranium kami bukan 20 persen, sejauh diperlukan dan merupakan kebutuhan negara, hal itu akan dilakukan, misalnya untuk propulsi nuklir atau pekerjaan lain mungkin kami akan mencapai pengayaan uranium hingga 60 persen. Ayatullah Khamenei melanjutkan, sebuah kontrak beberapa tahun sudah disiapkan, jika mereka mematuhinya, kami juga akan mematuhinya selama beberapa tahun itu, tapi negara-negara Barat tahu dengan baik kami tidak berusaha menguasai senjata nuklir. “Masalah senjata nuklir hanya dalih, mereka juga menentang kami menguasai senjata konvensional, karena sebenarnya mereka ingin merebut komponen-komponen kekuatan dari Iran,” ujarnya. Ia menerangkan, negara-negara Barat ingin membuat Iran tergantung pada mereka, saat membutuhkan energi nuklir, dan mereka akan menjadikan kebutuhan kami ini sebagai alat untuk menerapkan pemaksaan, dan pemerasan. “Republik Islam Iran dalam masalah nuklir, sebagaimana dalam masalah-masalah lainnya, tidak akan mundur, dan akan terus melangkah maju di jalur kemaslahatan dan kebutuhan negara hari ini atau esok,” pungkasnya.

Sumber: parstoday

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.