NAVIGASI

Hasrat dan Akal: Dasar Tindakan Baik-Buruk Manusia

Kategori: Filsafat

ICC Jakarta – Setiap agama memiliki ukuran kebaikan dan keburukan yang diisyaratkannya dalam teks-teks agama yang disebut dalam Islam al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Sehingga kebaikan dan keburukan tergantung apa yang dikatakan oleh teks agama. Namun, di dalam Islam, ukuran baik-buruk bukan hanya saja yang tertera di dalam al-Qur’an, melainkan juga yang diamini oleh akal sehat, rasionalitas di mana keduanya saling berjalan dan dukung. Bahkan Imam Ja’far al-Shodiq berkata: “Jika ada yang tidak sesuai dengan akal sehat apa yang kami sampaikan, maka kembalilah kepada al-Qur’an.” Dengan demikian, ada dua hal yang penting menjadi tolok ukur baik-buruk yaitu, al-Qur’an dan akal.

Dalam al-Qur’an salah satu istilah yang ditunjuk sebagai arti keburukan adalah kata “Syaithan” istilah شيطان dan jamaknya شیاطین dapat ditark dari akar katanya yaitu, ش ط ن atau ش ا ط. Akar kata pertama berarti jauh dan akar kedua berarti yang binasa, terbakar. Dalam bahasa Indonesia, kata Setan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiai (KBBI) memiliki tiga (3) arti yaitu, 1) roh jahat (yang selalu menggoda manusia). 2) kata untuk menyatakan kemarahan seperti “Setan Lu”. 3) orang yang sangat buruk perangainya (suka mengadu domba dan sebagainya). Pertanyaannya kemudian adalah, apakah di dalam Islam, setan itu sebuah entitas seperti manusia yang tercipta dari tanah dan jin yang tercipta dari api atau setan merupakan bentuk sifat yang memiliki arti keburukan?

Ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan tentang setan sebagai berikut:

Surah al-An’am ayat 112

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

Ayat di atas ketika membahas tentang setan, mempertegas bahwa setan itu terdapat pada jenis manusia dan jin. Dengan demikian, setan di sini bukanlah entitas mandiri seperti manusia dan jin, melainkan sifat yang terdapat pada diri dua entitas tersebut. Sifat yang mengarahkan manusia berbuat keburukan disebut sebagai setan. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah manusia itu sendiri dengan akalnya mampu menentukan baik-buruknya sebuah tindakan atau apakah baik-buruk itu hanya ditentukan oleh syara’ saja?

Pada dasarnya, baik al-Qur’an dan akal sejalan dan saling mendukung. Dengan demikian, baik teks agama menentukan baik-buruk sehingga tertuang dalam pada hal-hal apa saja yang dilarang dan diperintahkan, maupun akal sehat atau rasionalitas yang menghantarkan manusia pada pilihan untuk melakukan tindakan baik atau buruk. Kaum agamawan seringkali melihat keburukan itu datang karena nafsunya manusia itu sendiri. Apakah memang demikian nafsu itu buruk? Kalau memang nafsu itu berasal dari Tuhan mengapa itu menjadi buruk?

Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan bentuk yang seindah-indahnya, memiliki perangkat (fitrah) di dalam dirinya agar ia dapat mencapai tujuan tertingginya yaitu, mengenal dirinya agar ia mengenal Tuhannya. Manusia tidak hanya memiliki akal tetapi juga memiliki hasrat yang menggerakan manusia untuk melakukan aktivitas makan, seksual, bahkan bergerak. Baik hasrat maupun akal adalah pemberian dari Tuhan, maka seharusnya apa yang diberikan Tuhan menjadi baik untuk manusia itu sendiri. Lantas kenapa kemudian ada manusia yang berbuat keburukan?

Keburukan terjadi karena hasrat tidak diberikan jalannya yang tepat. Dikarenakan manusia tidak mengenal dirinya dengan baik, sehingga hasrat dinilai sebagai sesuatu yang negatif, padahal ia adalah sesuatu yang positif dan menjadi negatif ketika tidak diletakkan di jalannya yang benar. Setidaknya Muthahhari menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang dihasrati oleh manusia yaitu, keindahan, ilmu pengetahuan, kekayaan, kedudukan, seksualitas. Semua hasrat ini menjadi jalan manusia agar ia bisa melampaui dirinya dan mengenal hakikat dirinya sendiri, sehingga ia mengenal Tuhannya. Namun, tidak sedikit manusia yang justru terjebak pada hasrat yang tidak tersalurkan dengan baik.

Hasrat seksualitas misalnya. Setiap manusia diberikan hasrat seksualitas agar ia mampu melakukan perkembangbiakan. Karena jika tidak ada hasrat ketertarikan pada lawan jenis, maka tidak akan terjadi hubungan seksual dan tidak akan ada perkembangbiakan. Dengan demikian pada dasarnya hasrat seksualitas itu baik. Namun, agar pada aktualitasnya ia tetap baik dan melahirkan kebaikan, maka harus diberikan jalan yang benar pula. Di dalam Islam, hasrat seksualitas diberikan jalan yaitu, pernikahan. Manusia diberikan ruang untuk menyalurkan seksualitasnya diikat dengan tanggungjawab, sehingga ia tidak melakukan kejahatan-kejahatan baik yang bersifat individual maupun sosial.

Fungsi agama ialah, memberikan jalan atas setiap hasrat manusia. Kata Syari’ah sendiri yang berarti jalan bisa diartikan sebagai sarana yang baik untuk mengatur hasrat manusia. Dengan demikian, hasrat ketika ia dikendalikan oleh akal dan syari’at akan mendatang kebaikan bagi manusia dan selain dirinya, akan tetapi jika tidak dikendalikan oleh akal dan tidak diatur oleh syari’at, maka ia akan menemui jalan keburukannya sendiri. Oleh karena itu, mari kita membangun argumentasi untuk mengarahkan hasrat diri kita, bahkan pada hasrat yang sederhana, misalnya hasrat makan. Makan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dimulai ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Semoga kita bisa mengatur hasrat-hasrat kita agar ia menjadi jalan kita mengenal diri kita, sehingga kita mampu mengenal diriNya. Wallahu’alam bi Shawab.
Sumber: ikmalonline

Oleh: Fardiana Fikria Qur’any, S. Th, I., MA

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.