NAVIGASI

Khutbah Jumat 166, Berlaku Adil Dan Tidak Berbuat Kezaliman

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Salah satu pesan yang dibawa dan disampaikan khatib dalam khotbah Jumat ataupun khotbah yang lain adalah pesan takwa. Karena pesan takwa itu adalah yang menjadi landasan atas segala hal kejadian-kejadian kita di dunia maupun yang akan membawa kita kepada kehidupan yang bahagia di alam akhirat nanti. Sebab surga tidak mungkin akan didapatkan kecuali dengan ketakwaan. Ketika Allah menceritakan tentang surga, Allah menyebutkan tentang kenikmatan dan luasnya surga yang bentangannya lebih daripada bentangan langit dan bumi. Lalu Allah mengatakan u’iddat lil muttaqin, yang disiarkan bagi orang-orang yang bertakwa.

Link List Khotbah Jumat

Ketakwaan juga menjadi landasan bagi hubungan antarmanusia. Tanpa adanya ketakwaan, hubungan antarmanusia menjadi hubungan yang penuh dengan ketidaknyamanan. Allah swt dalam surah Al-Maidah ayat 8 memberikan sebuah panduan kepada kita. Allah berfirman, Yaaa aiyuhal laziina aamaanuu kuunuu qawwaa miina lillaahi shuhadaaa’a bilqist, wa laa yajrimannakum shana aanu qawmin ‘alaaa allaa ta’diluu; i’diluu; huwa aqrabu littaqwaa wattaqul laah; innal laaha khabiirum bimaa ta’maluun. “Wahai sekalian orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang berdiri dan bersaksi untuk Allah swt dengan keadilan, dan jangan sampai permusuhan kalian, jangan sampai kebencian kalian kepada suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil terhadap mereka. Berlaku adillah karena itu lebih dekat dengan ketakwaan dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian lakukan.”

Dalam ayat ini Allah Swt memberikan satu gambaran bahwa Allah memahami kehidupan manusia. Dalam interaksi antara mereka pasti ada gesekan-gesekan yang mungkin timbul di antara mereka. Manusia adalah makhluk sosial yang mana mereka tidak bisa hidup sendiri, manusia harus hidup di tengah masyarakat. Mereka membutuhkan bantuan manusia yang lain. Tidak mungkin seorang manusia bisa hidup tanpa bantuan manusia yang lain, karena manusia tercipta sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan sosial gesekan-gesekan mungkin saja terjadi. Mungkin kita tidak menyukai seseorang karena melihat wajahnya. Orang mungkin sudah tidak suka melihat tutur katanya. Orang sudah tidak suka melihat perangainya. Mungkin orang tidak suka melihat cara berpikirnya. Mungkin orang tidak suka atau mungkin ketidaksukaan itu terjadi karena hubungan antara satu dengan yang lain dalam transaksi perdagangan. Misalnya, atau dalam interaksi hubungan pekerjaan ada sesuatu yang merasa dirugikan dari salah satu pihak dan itu memicu permusuhan di antara mereka.

Allah menyadari dan memahami hal itu. Allah yang menciptakan kita dan tidak ada perintah dari Allah swt kepada kita untuk mencintai semua orang. Bahwa kita harus mencintai, kalau tidak masuk neraka tidak ada. Yang ada adalah kita disuruh untuk mencintai tapi tidak ada larangan kalau kita misalnya ada ketidakcocokan dengan orang lain. Dikatakan oleh Allah melalui ayat 8 surah Al-Maidah ini, jangan sampai permusuhan kalian, jangan sampai ketidaksukaan kalian kepada seseorang atau suatu kaum membuat kalian berlaku tidak adil.

Dalam kehidupan kita, Allah swt menyebut kehidupan manusia itu sebagai kehidupan yang merugi. Ayatnya jelas mengatakan, innal-insāna lafī khusr, Manusia sungguh berada dalam kerugian. Yang dikecualikan oleh Allah adalah illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr. Sifat pertama dari kelompok ini adalah mereka beriman kepada Allah. Kalau kita mau berbicara tentang keimanan kepada Allah pasti embel-embelnya adalah keimanan kepada hari akhir. Keimanan kepada kepada Allah saja tanpa keimanan kepada hari akhir tidak ada gunanya. Beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir, yu’minu billahi wal yaumil akhiri. Dalam ayat-ayat pertama dalam surah Al-Baqarah Allah juga menyinggung tentang orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang yu’minuuna, mereka yang beriman kepada Allah dan beriman kepada yang gaib. Di antara yang gaib adalah masalah hari kiamat, Allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn.

Salah satu yang menjadi landasan kita dalam keimanan adalah iman kepada hari akhir. Tapi sayangnya dalam berhubungan secara sosial sering kali keimanan kita hanya pada lisan. Seringkali keimanan kita hanya pada wacana dan pemikiran tidak teraplikasi dalam tindakan dan perbuatan. Ketika kita sudah tidak suka kepada seseorang atau ketika kita membenci seseorang karena satu dan lain hal, kita umumnya akan melakukan segala hal yang bisa kita lakukan untuk menjatuhkan orang tersebut. Seringkali kita melihat hubungan semacam itu orang mengancam, “Akan aku jadikan hari-harinya sebagai hari-hari yang penuh dengan kegelapan, penuh dengan kesedihan.” Orang yang merasa berkuasa akan mengatakan, “Aku akan potong aliran dana aliran rezeki ke rumahnya.”

Orang akan melakukan hal-hal yang semacam itu seakan-akan dia tidak beriman kepada Allah. Padahal kalau ditanya, “Apakah engkau beriman?” Jawabannya iya. Kalau dilihat dia salat, dia puasa, tetapi dalam masalah hubungan sosial seringkali hal itu terlupakan. Padahal segala tindakan apa pun yang kita lakukan terhadap orang lain akan direkam Allah, para malaikat menyaksikannya dan seluruh anggota tubuh kita akan menyaksikan dan bersaksi kelak di hari kiamat. Seakan-akan kita melupakan hari kiamat saat berhubungan dengan seseorang, dengan suatu kaum, dan dengan suatu kelompok yang kita tidak suka.

Kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupan kita, antara suami dan istri, sangat banyak. Seorang suami yang sudah tidak suka kepada istrinya demi untuk menyiksa istrinya, dia rela untuk tidak memberikan nafkah kepadanya, memukulnya, dan menzaliminya. Bahkan kasus-kasus yang kita sering dengar karena laki-lakinya membenci sudah parah kepada istrinya dan harusnya dia sudah menceraikan karena sudah tidak bisa hidup satu atap, dia sengaja tidak menceraikan istrinya. Digantung semacam itu sampai sekian tahun. Ini kezaliman yang nyata di tengah-tengah kita dan kita menyaksikan di tengah-tengah kita ada kejadian seperti itu.

Atau misalnya seorang istri yang dia membenci suaminya, dia marah kepada suaminya. Dia akan melakukan hal-hal yang membuat sakit hati suaminya, menzalimi suami dan segala macam hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah mengumbar segala yang mungkin. ‘Keburukan’ bagi suaminya akan disebar ke mana-mana melalui medsos atau hal-hal yang lain. Berusaha supaya orang yang pernah hidup satu atap dengan dia, menjalin hubungan kasih dengan dia,  jangan ada orang yang suka kepada dia. Jika terjadi perceraian, jangan sampai orang itu menikah dengan perempuan yang lain karena sedemikian buruknya orang tersebut. Ini dikisahkan lewat media sosial oleh si wanita.

Begitu pula dalam hubungan antara seorang teman dengan teman yang lain, yang berusaha untuk menghancurkan karirnya orang itu. Jika ada kebencian di tengah-tengah kita, bukankah ini bertentangan dengan asas iman kepada hari akhir. Tidakkah kita menyadari bahwa di hari kiamat nanti, kita akan ditanya oleh Allah swt tentang segala hal. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Wallahi, demi Allah, aku tidak akan suka jika aku mengangkat sebutir gandum yang sedang diangkat oleh seekor semut. Aku tidak akan menzalimi seekor semut ketika dia sedang mengangkat lalu aku ambil gandumnya.” Maula Ali bin Abi Thalib, panutan kita, mengatakan semacam itu. Apakah lantas kita yang menjadi salah seorang pengikutnya dan pecintanya akan melakukan kezaliman terhadap hamba-hamba Allah. Allah swt dalam ayat 8 surah Al-Maidah mengungkapkan, wa laa yajrimannakum shana aanu qawmin ‘alaaa allaa ta’diluu. Jangan sampai kebencian kalian, permusuhan kalian kepada suatu kaum atau satu orang tertentu, membuat kalian tidak berlaku adil. I’diluu. Berlaku adillah, karena berlaku adil, wa aqrabu littaqwaa, lebih dekat dengan ketakwaan.

Relasi Adil dan Takwa

Kalau kita membaca ayat ini, apa yang kita pahami? Bukankah kita pahami kalau kita tidak berbuat adil,  kita tidak ada ketakwaan di hati kita. Bukankah kalau kita tidak berbuat adil kita jauh dari ketakwaan, dan jika kita jauh dari ketakwaan kita akan dijauhkan oleh Allah dari surga. Karena Allah mengatakan karena surga itu adalah u’iddat lil muttaqin, dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Jangan berharap masuk surga kalau kita masih menzalimi manusia dan hamba Allah. Apalagi kalau kita mau melihat bahwa permusuhan-permusuhan yang semacam itu akarnya adalah setan. Alquran al-Karim menjelaskan bahwa setan berusaha untuk menyulut permusuhan di antara hamba-hamba Allah.

Dalam surah Ali Imran Allah menceritakan tentang bahaya dan mudarat dari khamru walmaisiru, minuman keras dan judi. Salah satu mudaratnya adalah bahwa (Allah menceritakan) setan berusaha untuk menimbulkan permusuhan di antara kalian lewat judi dan minuman keras. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah, Innamā yurīdusy-syaiṭānu ay yụqi’a bainakumul-‘adāwata wal-bagḍā`a fil-khamri wal-maisiri. “Sesungguhnya setan berusaha untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lewat pintu minuman keras dan lewat pintu permainan judi.”

Ini yang Allah ingatkan kepada kita dalam Surah Al-Maidah ayat 91, jika setan berusaha untuk menimbulkan permusuhan di kalangan kita. Allah mengatakan hal yang lain. Allah menginginkan di antara kita tercipta hubungan kasih sayang. Dalam surah Ali Imran ayat 103 Allah mengingatkan, Wa’tasimuu bi hablil laahi jamii’anw wa laa tafarraquu. Lagi Allah mengatakan, wazkuruu ni’matal laahi alaikum iz kuntum a’daaa’an fa allafa baina quluubikum. “Berpegang teguhlah pada tali Allah, jangan kalian bercerai-berai. Ingatlah dulu kalian pernah saling bermusuhan lalu Allah mengikatkan hati-hati kalian.” Allah yang mengikatkan hati di antara sesama manusia sehingga tercipta kasih sayang dan cinta, sementara setan berusaha menebarkan kebencian di tengah-tengah kita. Kalau kita mau terus mengedepankan kebencian berarti jalan setan yang kita ikuti. Sementara, kalau kita mau mengikuti jalan cinta, jalan saling memaafkan, jalan adl atau keadilan bersikap, walaupun kepada orang yang tidak kita sukai, maka itu ada adalah jalannya Allah. Apakah kita mau memilih jalannya setan ataukah memilih jalannya Allah?

Mengenai kezaliman, saya akan membacakan beberapa hadis secara singkat dari Imam Ali bin Abi Thalib as. Beliau memperingatkan kita, jangan sampai kita berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah. Kata Imam Ali, “Ingatlah jangan sampai engkau berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah.” Imam Ali kemudian mengatakan, “Kezaliman yang engkau lakukan terhadap orang lain, kezaliman itu cepat atau lambat pasti akan hilang bekasnya. Orang itu mungkin akan lupa tetapi akan tetap ada pada diri kalian dosa dan akibat yang kalian lakukan karena kezaliman itu.”

Dalam riwayat lain Imam Ali as mengatakan, “Jangan sampai engkau melakukan kezaliman.” Kata Imam Ali, “Orang yang menzalimi hamba Allah, tidak akan pernah mencium bau surga.” Bau surga itu bisa dicium dari jarak puluhan ribu tahun cahaya, tetapi orang yang melakukan kezaliman tidak akan pernah mencium aroma surga. Artinya, tidak akan pernah diizinkan oleh Allah masuk ke dalam surga selagi yang dizalimi belum memberikan maaf kepadanya.

Dalam riwayat lain, Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan, “Barang siapa yang melakukan kezaliman, kelak dia akan dibinasakan oleh kezalimannya sendiri.”

Dalam riwayat lain Imam Shadiq as mengatakan dengan cara senada,  “Barang siapa yang menzalimi seorang hamba Allah, maka kelak Allah akan mengutus seorang makhluk-Nya, satu makhluk-Nya, yang akan melakukan kezaliman kepada orang itu, seperti yang telah dia lakukan kepada orang lain. Atau, jika tidak, orang yang tadi Allah utus akan melakukan tindakan yang sama terhadap anaknya orang yang menzalimi itu atau kepada cucu-cucu pada orang menzalimi itu.” Jadi akibat dari kezaliman itu bisa sampai kepada anak cucu.

Dalam riwayat lain Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan, “Kezaliman adalah suatu perbuatan yang memiliki akibat-akibat yang akan menghancurkan orang yang menzalimi itu sendiri.” Dalam riwayat terakhir Imam Ali as mengatakan, “Seburuk-buruk bekal yang bisa dibawa oleh seorang manusia ketika dia menuju kepada Allah di hari kiamat adalah kezaliman kepada hamba-hamba Allah.”

Bulan Syakban

Berkenaan dengan Bulan Syakban, ada poin yang terkait dengan masalah fikih, ada poin yang terkait masalah akhlak. Masalah yang pertama tentang masalah Syakban adalah bahwa bulan yang penuh dengan berkah bulan, bulan yang dicintai oleh Rasulullah. Memasuki akhir Syakban adalah kesempatan terakhir kita untuk melakukan persiapan. Ibaratnya kita akan bertanding dalam sebuah kompetisi dan ini adalah kesempatan terakhir kita untuk melakukan persiapan. Mereka yang memiliki persiapan yang lebih, maka kelak di bulan Ramadan akan mendapatkan manfaat yang lebih. Yang persiapannya minim, maka dia akan mendapatkan manfaat dari Ramadan manfaat yang minim.

Untuk itu  mari kita manfaatkan semaksimal mungkin, supaya kita bisa sedikit mempersiapkan diri kita. Tidak kosong sama sekali ketika kita masuk ke bulan suci Ramadan. Dengan harapan kita bisa memanfaatkan bulan Ramadan dan mendapatkan berkah Ramadan dan mendapatkan faedah dari malam lailatulkadar.

Bulan Syakban ini adalah bulan persiapan untuk masuk bulan Ramadan. Salah satunya adalah kesucian spiritual, kesucian jiwa kita. Imam maksumin as dari Ahlulbait mengajarkan kepada kita untuk membaca zikir yang diulang-ulang di setiap waktu. Sebanyak mungkin di akhir bulan Syakban dengan sebuah zikir yang sangat mudah dan singkat, doa kepada Allah yang artinya, “Ya Allah, jika selama bulan Syakban ini Engkau belum mengampuni dosa-dosaku, maka di sisa bulan Syakban ini, ampunilah dosa-dosaku.”

Doa ini dibaca berulang-ulang di setiap kesempatan ketika memiliki waktu, di setiap kesempatan kita bisa membacanya. Semoga dengan ini kita berharap Allah swt mengampuni dosa-dosa kita, sehingga kita masuk ke dalam bulan suci Ramadan dengan persiapan yang lebih matang.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Ustaz Hafidh Alkaf, Jumat 02 April 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.