NAVIGASI

Khutbah Jumat ke- 167, Lima Anugerah di Bulan Ramadan Bagi Mukmin

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Bulan Ramadan artinya bulan yang disebut sebagai bulan jamuan Allah. Pada bulan ini masih banyak kesempatan untuk bisa mendapatkan yang terbaik untuk mendapatkan rida Allah. Di bulan ini semestinya seorang hamba yang beriman kepada Allah, Rasul, dan memercayai apa yang Allah serta Rasul katakan mendapatkan yang seharusnya didapatkan. Namun yang harus kita ingat adalah bahwa waktu itu berlalu sedemikian cepat. Hari ini kita merasakan masih berada di awal Ramadan tak terasa hanya dalam sekejap kita merasa sudah berada di pertengahan bulan Ramadan, dengan sekejap pula kita telah merasakan bahwa malam lailatul qadar, lalu sudah lewat dan tinggal menunggu hari mempersiapkan datangnya hari Idul Fitri.

Link List Khotbah Jumat

Saat itulah orang akan mengatakan, “Andai saja aku di awal Ramadan betul-betul beribadah, andai saja aku mendapatkan hal yang baik di bulan Ramadan,” maka kata penyesalan yang tidak ada gunanya. Karena itulah, sebaik-baik yang bisa kita lakukan di hari-hari pertama bulan Ramadan adalah memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Bulan Ramadan adalah sebuah anugerah yang tak terhingga dari Allah kepada kita semua. Ada beberapa riwayat dan hadis  yang mendorong  kita untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Riwayat yang pertama adalah dari Jabir bin Abdillah al-Anshari, sahabat Rasulullah saw. Jabir bin Abdillah al-Anshari ra berkata, “Umatku,” kata Rasulullah, “di bulan Ramadan mendapatkan lima anugerah dari Allah yang mana tidak ada umat nabi sebelumku yang mendapat lima anugrah ini.” “Apa, ya Rasulallah saw, anugerah-anugerah itu?”  “Yang pertama: ketika bulan Ramadan tiba di malam pertama, Allah akan memandang kepada umatku. Ketika Allah memandang seseorang, maka orang itu akan mendapatkan ampunan.” Ketika Allah memandang kepada seseorang, maka tidak mungkin orang itu masuk ke dalam neraka. Salah satu ancaman yang Allah berikan kepada orang-orang yang ingkar kepada Allah di hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat mereka. Artinya, semua orang berharap Allah akan melihat mereka dan sekarang Rasulullah saw mengatakan yang pertama diberikan kepada umatku dari lima hal itu adalah Allah melihat umatku di malam pertama bulan Ramadan.

Lalu Rasul saw mengatakan, “Barang siapa yang dipandang oleh Allah, maka tidak mungkin Allah akan menyiksanya pada malam bulan Ramadan.” Malam pertama bulan Ramadan telah lewat dan Allah memandang kita. Semoga kita betul-betul menjadi kelompok orang yang dipandang oleh Allah dengan pandangan rahmat-Nya sehingga tubuh-tubuh kita ini tidak akan tersentuh oleh siksa api neraka. Itu harapan kita semua.

“Yang kedua,” kata Rasulullah, “Adalah Allah Swt memandang aroma yang tidak sedap yang keluar dari mulut orang yang puasa dari umatku. Ketika sudah sore hari Allah memandang aroma itu lebih baik dan lebih wangi daripada bau kesturi.” Di sini muncul sebuah pembahasan apakah yang dimaksud dengan bau mulut yang tidak sedap, yang keluar dari mulut seorang yang berpuasa itu bau yang tidak sedap itu, apakah lebih baik dari kesturi? Yakni, secara fisiknya memang lebih baik ataukah tidak? Kalau memang secara fisiknya lebih baik, tentunya kita akan berusaha untuk selalu memiliki bau yang semacam itu ataukah ada maksud yang lain yang disampaikan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya ini?

Kalau bau yang seperti itu adalah bau yang baik, tentunya kita akan memilih minyak wangi yang berbau seperti itu dan ini tidak mungkin. Berarti ada satu hal yang disampaikan. Yang ingin disampaikan adalah walaupun secara zahirnya kelihatan tidak baik, walaupun secara zahirnya kelihatan busuk, bau busuknya mulut itu terjadi karena dinisbatkan kepada suatu amal perbuatan yang amal perbuatan itu bergantung pada Allah, terikat dengan Allah. Sesuatu yang terikat dengan Allah akan menemukan nilai yang sedemikian besar. Bisa jadi sesuatu yang remeh temeh tetapi ketika dinisbatkan kepada orang besar, kepada sebuah momen yang besar, maka dia akan menjadi sangat bernilai.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu pernah membaca pembukaan sebuah lelang. Lelang permen karet bekas dikunyah oleh pelatih dari Manchester United yang dijual sekian ratus ribu dolar. Orang kurang kerjaan untuk membeli hal-hal semacam itu. Mengapa dianggap bernilai? Karena dinisbatkan kepada Sir Ferguson yang dikatakan sebagai pelatih terbaik di Inggris. Itu hanya penisbatan- penisbatan semu di antara manusia. Bagaimana jika sesuatu dinisbatkan kepada yang memiliki segala sesuatu, yang menciptakan segala sesuatu, raja diraja, Dialah yang memiliki lillahi ma fissamawati wama fil ardh. Jika Dia yang Maha Berkuasa, yang memiliki segalanya, lalu sesuatu dinisbatkan kepada Dia, maka dia akan menemukan nilai yang sedemikian besar. Bau mulut yang tidak sedap muncul karena orang itu sedang melaksanakan sebuah amalan yang mana amalan itu dilakukan karena ingin mendapatkan rida Allah, sang Maha Pemilik segala sesuatu.

“Yang ketiga yang diberikan kepada umatku adalah setiap hari para malaikat beristigfar, memohon ampun kepada Allah. Ya Allah, ampuni umat Rasulullah!” Itu dilakukan oleh para malaikat sepanjang Bulan Ramadan, siang ataupun malam. Bayangkan kalau orang seperti kita yang berlumur dosa meminta maaf kepada Allah, mendoakan orang lain dan Allah akan menerima doa orang-orang seperti kita yang berlumur dosa. Bagaimana jika doa itu disampaikan oleh makhluk yang tidak pernah melakukan dosa yaitu para malaikat, makhluk-makhluk yang suci.Tentunya Allah Swt akan mendengar dan akan mengabulkan istigfar tersebut. Inilah sebuah kemuliaan yang Allah berikan kepada umat Rasulullah Muhammad saw.

Yang keempat adalah kemuliaan. Allah berfirman kepada surganya, “Wahai surga-Ku, berhiaslah bersiaplah tak lama lagi akan datang hamba-hamba-Ku yang akan meninggalkan kesulitan dan gangguan, hal-hal yang tidak nyaman dalam kehidupan di dunia, untuk masuk ke dalam rumah kemuliaan-Ku yaitu surga-Ku.” Perintah Allah kepada surga untuk bersiap-siap menyongsong umat Rasulullah saw saw. Dan itu kapan? Itu difirmankan pada saat bulan Ramadan tiba.

Dan yang kelima, akhir bulan Ramadan tiba, malam terakhir bulan Ramadan Allah Swt akan mengampuni semua orang yang telah melaksanakan ibadah. Semua orang dari umat Muhammad akan diampuni oleh Allah Swt.

Ketika Nabi saw bersabda demikian, ada seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud malam yang sedemikian mulia sampai semua hamba diampuni oleh Allah adalah malam Lailatul Qadar?” Jawaban Rasulullah saw, laa (bukan), bukan lailatul qadar. Malam lailatul qadar adalah malam yang sedemikian agung tapi ini bukan malam lailatul qadar.” Beliau kemudian memberikan permisalan. Apakah kalian tidak lihat kalau buruh-buruh pekerja setelah melaksanakan tugasnya, menyelesaikan pekerjaannya, apa yang mereka dapatkan? Upah. Yang mereka dapatkan hamba-hamba Allah di bulan Ramadan, telah melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan dalam bulan itu, dan setelah mereka melaksanakan apa yang diperintahkan. Saatnya Allah akan memberikan pahala kepada mereka dan salah satu pahala yang diberikan adalah Allah membebaskan dia dari api neraka mengampuni semua dosanya. Dalam sebuah riwayat dikatakan dari seorang sahabat Imam Muhammad Baqir, yakni Muhammad bin Muslim Al-Tsaqafi.  Dia meriwayatkan bahwa Imam Muhammad Baqir berkata, “Allah Swt punya para malaikat yang ditugaskan untuk mengawal orang-orang yang berpuasa, untuk menyertai orang-orang yang berpuasa.” Ada malaikat-malaikat khusus yang tugasnya menyertai orang-orang yang berpuasa. Jadi kalau kita semua mukminin sedang berpuasa, ketahuilah kanan kiri kita dipenuhi oleh malaikat yang menjaga kita.

Dalam riwayat ini Imam mengatakan, “Apa yang dilakukan oleh para malaikat itu?” Mereka akan memintakan ampun kepada Allah. Untuk siapa? Untuk orang-orang mukmin yang mereka kawal dari awal bulan Ramadan sampai akhir bulan Ramadan. Kemudian ketika tiba waktu orang melaksanakan ifthar atau berbuka puasa, para malaikat tadi akan mengatakan, “Wahai hamba-hamba Allah, bergembiralah kalian.” Atas apa? “Karena kalian hanya lapar sebentar, sementara nanti kalian akan mendapatkan masa kenyang yang tak berkesudahan di akhirat nanti. Sungguh kalian telah diberkati,” kata para malaikat, “dan telah turun berkah-berkah atas kalian.” Kemudian di akhir Ramadan, malaikat akan berseru mengatakan, “Bergembiralah, kalian wahai hamba-hamba Allah. Allah telah mengampuni semua dosa kalian.”

Ini disampaikan oleh para malaikat kepada para hamba Allah mukminin di hari terakhir bulan Ramadan. “Bergembiralah karena Allah telah mengampuni semua dosa kalian lalu.” Apa kata malaikat? “Tobat kalian selama Ramadan ini telah diterima oleh Allah.” Artinya, setelah itu, ia seperti orang baru lahir dari rahim ibunya tanpa dosa. Kemudian para malaikat mengatakan “Sekarang giliran kalian harus melihat, setelah diampuni semua dosa ini kalian mau memulai hidup kalian dengan apa? Apakah kembali kepada dosa-dosa dan kembali menorehkan tinta-tinta hitam dalam lembaran-lembaran amal perbuatan kalian, ataukah kalian akan mempertahankan lembaran-lembaran amal perbuatan kalian itu tetap putih tanpa dosa, dan selalu tercatat amalan-amalan kebaikan pada lembaran-lembaran tersebut?

Memperbanyak Salawat

Mungkin ada orang berkata, “Seandainya bulan Ramadan sedemikian mulia, kita ingin tahu apa amalan yang paling baik dilakukan di Bulan Ramadan?” Salah satu amalan terbaik untuk dilakukan di bulan Ramadan adalah memperbanyak salawat kepada Rasulullah saw dan keluarganya.” Dalam sebuah riwayat, saat menjelaskan mengenai keutamaan bulan Ramadan Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang di Bulan Ramadan memperbanyak salawat kepadaku, memintakan kepada Allah salawat untukku di bulan Ramadan sebanyak-banyaknya, maka niscaya Allah Swt akan memberatkan timbangan amalannya di hari kiamat.”

Satu lagi riwayat dari Imam Baqir as, beliau mengatakan kepada sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdillah, “Ya Jabir, siapa saja di antara hamba-hamba Allah yang di siang harinya berpuasa di bulan Ramadan, malamnya sepenggal malam, bukan seluruh malam, melaksanakan ibadah bertahajud, salat, munajat, ibadah kepada Allah sepenggal malam, lalu yang dilakukan berikutnya menjaga kehormatannya, menjaga matanya, menjaga lisannya, menjaga jangan sampai mengganggu orang lain, maka Allah Swt akan memberikan karunia kepadanya. Dia keluar dari bulan Ramadan seperti anak bayi yang keluar dari rahim ibunya tanpa dosa.”

Lalu Jabir mengatakan, “Semoga diriku menjadi tebusan bagimu, wahai Imam.”

Perhatikan pertanyaan Jabir dan jawaban Imam Baqir. Jabir mengatakan sungguh hadis yang sangat bernilai. Bagaimana Allah mengampuni kita dengan semudah itu. Allah mengobral ampunan. “Ya Imam, aku akan sampaikan ini semua kepada semua orang supaya mereka mendapatkan ampunan dari Allah ini.” Betul-betul hadits yang berbobot. Kurang lebih kata-katanya Jabir seperti itu. Dengan semangat beliau menerima hadis dari Imam Baqir ini. Tapi apa kata Imam Baqir selanjutnya? Imam Baqir menjawab dengan jawaban, “Betapa sulitnya untuk mewujudkan itu.”

Dikatakan bahwasanya puasa di siang hari, malam hari, sepenggal malam hari beribadah, menjaga lisan, menjaga tangan, menjaga tjangan sampai mengganggu orang, menjaga kehormatannya dan semua yang Allah haramkan jangan sampai dilakukan. Secara kalkulasi gampang, dalam pelaksanaan sulit dan memang hal yang sulit. Tetapi bukan hal yang mustahil bila kita minta pertolongan kepada Allah Swt.

Momen bulan Ramadan merupakan bulan kelahiran Imam Hasan Mujtaba. Momen untuk kita lebih mengenal sosok pribadi Imam Hasan Mujtaba, sosok pribadi yang dikatakan setiap hari satu hari satu malam setiap harinya salat seribu rakaat. Orang yang memiliki kesalehan yang sedemikian agung Imam Husain. Yang kita lihat bahwa Imam Husain dalam kata-katanya mengenai salat mengatakan, “Aku mencintai salat.” Ketika menyebut tentang salatnya Imam Hasan Mujtaba, beliau mengatakan bahwa Imam Hasan Mujtaba adalah orang yang ‘abd, orang yang saleh tidak melewatkan waktunya kecuali untuk ibadah. Orang yang sedemikian agungnya cucu dari Rasulullah saw saat menghadapi makian orang, cacian orang, dia diam dan senyum, tidak membantahnya. Orang yang memiliki keteladanan yang sedemikian besar yang layak untuk kita buka-buka kembali lembaran-lembaran kehidupan beliau dan kita teladani.

Semoga Allah Swt memberikan taufik kepada kita untuk bisa melaksanakan apa yang terbaik di bulan Ramadan ini. Kita memohon kepada Allah Swt, “Ya Allah jangan sampai Bulan Ramadan ini lewat tanpa kita bisa memanfaatkan. Jangan sampai bulan yang penuh berkah ini lewat lalu kita di akhir Ramadan mengatakan ya hasrata, betapa menyesalnya aku. Ya Allah berikan kami kesempatan untuk menjadi hamba-Mu yang sebenar-benar hamba di bulan ini. Ya Allah, jadikan aku orang-orang yang Engkau ampuni di bulan ini. Karena sesungguhnya setiap malam engkau akan membebaskan hamba-hamba-Mu dari siksa api neraka, akan mengampuni dosa-dosa hamba-hamba-Mu. Ya Allah, jadikan kami semua termasuk orang untuk diampuni di bulan ini.”

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Ustaz Hafidh Alkaf, Jumat  16 April 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.