NAVIGASI

Khutbah Jum’at 168: “Meneladani Istri Rasulullah Saw Sayidah Khadijah”

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Istri Rasulullah saw, Ummul Mukminin Sayidah Khadijah as, dicatat dalam sejarah meninggalkan dunia ini pada 10 Ramadan. Sebuah kejadian yang dicatat dalam sejarah bahwa dengan kepergiannya, Rasulullah saw  bersedih. Hingga tahun itu disebut dengan Tahun Duka Cita. Sayidah Khadijah adalah salah seorang wanita yang di dalam sebuah hadis disebutkan sebagai wanita teladan dunia. Di dunia ini terdapat empat wanita mulia: yang pertama adalah Sayidah Maryam binti Imran, ibunda dari Nabi Isa as; kedua adalah Asiyah, istri dari Firaun yang beriman kepada Allah walaupun dia berada dalam istana kekafiran; ketiga adalah Sayidah Khadijah istri pertama Rasulullah saw; dan yang keempat adalah Sayidah Fathimah az-Zahra as putri Rasulullah saw.

Ust Abdullah Beik, MA

Dari empat wanita mulia ini disebut secara spesifik di dalam ayat Alquran adalah Sayidah Maryam dan Asiyah istri Firaun yang disebutkan oleh Allah di dalam surah al-Tahrim (66) ayat 11 dan ayat 12. Karena itu, ketika dua orang wanita mulia ini disebut dengan berbagai keutamaan dan kemuliaan, maka begitu juga kemuliaan yang sama yang dimiliki oleh Sayidah Khadijah dan Sayidah Fathimah. Bahkan lebih daripada keduanya.

Link Kumpulan Khutbah Jumat ICC Jakarta

Pada kesempatan ini saya ingin menyebutkan beberapa kemuliaan yang disebutkan oleh Allah di dalam surah Al-Tahrim ayat 11 dan 12. Itu artinya teladan bagi kita untuk kemudian meniru dan meneladani dalam kehidupan keseharian kita. Menariknya, ketika Allah menyebutkan pada ayat 11 dan 12 tentang beberapa keutamaan, Allah mennyebutkan beberapa contoh yang telah mereka perankan dalam kehidupan mereka. Setelah Allah menyebutkan tentang model wanita tidak baik yang ada pada ayat 10, artinya Allah ingin memperkenalkan kepada kita dan mempersilakan kepada kita untuk kemudian memilih, apakah kita akan mengikuti wanita yang tidak baik yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat 10 yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth, ataukah  dua wanita teladan pada ayat 11 dan ayat 12 yaitu Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran, ibu dari Nabi Isa.

Link Download Buletin Khutbah Jumat dalam bentuk PDF

Seperti telah disebutkan kedua wanita mulia ini memiliki keutamaan yang juga dimiliki oleh dua wanita lainnya yang disebutkan dalam hadis yaitu Sayidah Khadijah dan Sayidah Fathimah Az-Zahra as. Karena itu, kita mencoba untuk membaca dan merenungi keutamaan-keutamaan ini. Yang menarik adalah ketika Allah juga menyebutkan bahwa mereka bukanlah teladan hanya untuk kaum wanita, Wa daraballaahu masa lal-lillaziina aamanumra ata Fir’awn…(66:11), Allah menjadikan sebuah teladan dan contoh bagi siapa? Bagi orang yang beriman. Itu artinya adalah tidak sebatas kepada kaum wanita saja. Sayidah Maryam dan Sayidah Asiyah juga Sayidah Khadijah dan Sayidah Fathimah adalah wanita-wanita mulia yang patut untuk diteladani oleh kaum wanita dan kita juga kaum pria.

Empat Pelajaran

Apa yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat 11? Pertama, disebutkan bahwa istri Firaun itu berdoa kepada Allah: Dia berdoa,  “Ya Allah bangunkan untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga. Ini adalah sebuah pelajaran penting bagi kita bahwa bagaimana kita memikirkan nasib kita setelah kematian, setelah Allah bangkitkan kita. Ini adalah pelajaran penting bagi kita bahwa kita harus mengubah mindset kita ketika sebagian dari kita atau sebagian manusia memikirkan hanya dunia saja. Mereka berjuang dengan susah payah, mereka berjuang dengan jerih payah hanya untuk kehidupan dunia. Mereka lupa bahwa ada kehidupan akhirat yang di sana kita harus bangun sejak kita di dunia.

Apa yang harus kita pikirkan harusnya adalah dua-duanya. Bahkan kalau kita harus memilih salah satu karena satu dan dua hal, tentu yang harus menjadi prioritas adalah bagaimana kita punya concern atau perhatian untuk membangun kehidupan kita di akhirat. Kita tidak boleh lalai dengan kehidupan dunia yang dalam Alquran Allah menyebutkan bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat, Wa inna daaral aakhirata lahiyal hayawan  “Dan ketahuilah bahwa di akhirat itulah yang benar-benar sebuah kehidupan.” (29: 64)

Di dunia ini kita hanya hidup dalam kondisi yang sangat bergantung. Kondisi hidup yang tidak sebenarnya. Karena semua apa yang kita alami, semua apa yang kita jalankan di dunia ini adalah tidak bisa mandiri. Kita perlu dan bergantung kepada makanan, minuman, udara, matahari, bantuan banyak orang dan berbagai hal dan itu tidak layak untuk disebut sebuah kehidupan. Tetapi kehidupan yang hakiki adalah akhirat.

Karena itu, penting bagi kita untuk, paling tidak, waktu di dunia kita juga pikirkan cari kenikmatan dunia. Kita mungkin berlomba-lomba untuk membangun rumah, berlomba-lomba untuk membeli kendaraan mobil, berlomba-lomba untuk menyiapkan makanan dan pakaian untuk diri kita. Itu semua dalam tingkatan tertentu masih wajar dan satu hal yang boleh-boleh saja. Tetapi yang tidak boleh adalah di saat kita melupakan bahwa kita akan dibangkitkan dan kita akan hidup di sebuah tempat yang abadi, di sebuah tempat yang tidak mengenal kata sementara, di sebuah tempat yang disebutkan oleh Allah bahwa di sanalah kehidupan yang sebenarnya. Karena itu meneladani wanita-wanita mulia seperti Sayidah Khadijah adalah kita harus memikirkan bagaimana kita membangun kehidupan kita di sana.

Pelajaran kedua dalam ayat ini disebutkan bahwa Sayidah Maryam binti Imran, wallati ahsanat farjaha, adalah seorang wanita yang menjaga kehormatannya. Menjaga kehormatan adalah sebuah kewajiban bagi kita semua, baik laki-laki atau perempuan. Makna dari “menjaga kehormatan”  adalah yang pertama kita harus menutup aurat yang harus kita tutup. Kita harus menutupi apa yang diperintahkan oleh agama dengan istilah aurat. Kita tutup dari lawan jenis yang bukan mahramnya, baik laki-laki maupun perempuan. Yang kedua, makna dari “menjaga kehormatan” adalah menjaga pandangan kita dalam berbagai interaksi sosial, dalam berbagai hubungan antara kita laki-laki dan perempuan.

Ada batasan-batasan kita harus menjaga pandangan kita untuk tidak melihat wajah lawan jenis yang bukan atau tidak ada hubungan mahram dengan kita. Boleh untuk kita berbincang-bincang, boleh untuk kita berinteraksi dalam perdagangan, tanya jawab dan hal lainnya. Tetapi pandangan kita tidak boleh difokuskan pada wajah. Seorang laki-laki tidak boleh memfokuskan pandangannya kepada wajah perempuan yang bukan mahramnya, dan begitu juga sebaliknya seorang wanita tidak boleh memfokuskan pandangannya kepada seorang laki-laki yang bukan mahramnya. Itu makna yang kedua dari “menjaga kehormatannya”.

Yang ketiga, adalah menjaga kehormatan bagi seorang wanita yang kita dalam fikih membolehkan seorang wanita untuk membuka wajahnya. Artinya, menutup seluruh anggota tubuhnya dengan jilbab atau hijab kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Tetapi pada saat yang sama seorang wanita tidak boleh tampil dan mempertontonkan dirinya di hadapan nonmahram dengan wajah yang disebut dengan bersolek atau berdandan. Dalam kondisi seorang wanita membuka wajahnya diharuskan untuk tidak mempertontonkannya dalam keadaan bersolek dan berdandan. Itu adalah bagian dari yang disebutkan sebagai menjaga kehormatannya. Kalau kita ingin meneladani Sayidah Khadijah dan Sayidah Fathimah serta Sayidah Maryam dan Sayidah Asiyah, kita harus menjaga kehormatan kita dengan apa yang telah disebutkan.

Dan yang keempat atau yang kelima adalah kita harus membatasi hubungan kita antara lawan jenis untuk tidak bersentuhan tangan. Apalagi dengan yang lebih daripada itu hingga hubungan badan yang kita tidak punya hubungan suami istri, atau juga sentuhan di saat kita tidak ada hubungan mahram. Hubungan yang membolehkan satu dengan yang lain bisa bersentuhan, ada hubungan darah, saudara, ataupun hubungan lain yang disebutkan dalam kitab-kitab fikih.

Kemuliaan lain atau pelajaran ketiga yang disebutkan oleh Allah dalam surah Al-Tahrim ayat 12, wa shaddaqat bikalimaati rabbihaa wa kutubihii…. Sayidah Maryam mencapai kedudukan mulia itu dan juga Sayidah Khadijah mencapai kedudukan mulia itu dan menjadi teladan bagi kita di saat mereka itu mengimani firman-firman Allah serta kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi. Menariknya penting untuk kita renungkan, Allah menggunakan kata, Shaddaqat, membenarkan. Itu bagian dari langkah ketika seseorang akan sampai kepada tingkat iman mereka.

Dalam ilmu logika disebutkan bahwa membenarkan itu adalah tahapan kedua setelah seseorang melalui tahapan pertama yaitu ilmu atau pengetahuan deskripsi yang harus ada di benak kita. Apa yang akan kita benarkan, kita mesti terlebih dahulu tahu terhadap sesuatu esensi. Sesuatu yang kemudian setelah itu akan kita benarkan, akan kita percayai, akan kita imani. Ini menunjukkan bahwa apa yang dimiliki oleh Sayidah Maryam dan Khadijah as adalah keimanan yang diawali oleh makrifah. Keimanan yang diawali oleh sebuah pengetahuan dan pengenalan kepada Allah, kepada sifat-sifat-Nya, kepada kekuasaan-Nya, kepada keadilan-Nya dan berbagai hal yang berhubungan dengan Allah. Itulah yang diharapkan dari kita kalau kita ingin meneladani wanita-wanita mulia ini.

Selanjutnya pelajaran atau kemuliaan keempat dalam ayat ini disebutkan Wa kaanat minal qaanitiin. Dan Sayidah Maryam itu adalah orang yang ahli ibadah. Tidak cukup seseorang punya keimanan, tidak cukup seseorang hanya menjaga kehormatannya, tetapi dia harus menjadi ahli ibadah. Sayidah Khadijah adalah istri Rasulullah yang disebutkan dalam sejarah bahwa beliau adalah seorang wanita yang bersama Rasulullah saw sejak awal. Beliau menikah dengan Rasulullah saw, beriman kepada Rasulullah saw, serta melaksanakan apa yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. Disebutkan dalam sejarah bahwa salat pertama kali yang dilakukan berjamaah di atas muka bumi bersama Rasulullah saw adalah dua orang mulia ini yaitu istri beliau Sayidah Khadijah dan Imam Ali bin Abi Thalib yang sejak kecil bersama Rasulullah saw dan dibesarkan oleh Rasulullah saw.

Pada saat yang sama Sayidah Khadijah selain melakukan ibadah yang hubungannya vertikal kepada Allah seperti berdoa dan berbagai ibadah lainnya,pada saat yang sama Sayidah Khadijah juga dikenal sebagai orang yang mengamalkan ibadah sosial. Sehingga beliau mempersembahkan semua harta yang telah beliau miliki dalam rangka perjuangan Rasulullah saw. Sejak awal beliau menikah dengan Rasulullah saw dalam ungkapan apa yang dicatat oleh sejarah beliau mengatakan, “Wahai suamiku, Rasulullah, rumah ini adalah rumahmu dan aku adalah budakmu.”

Khadijah yang memiliki harta yang cukup melimpah, yang saat itu dikenal sebagai saudagar kaya raya, tetapi ia tidak merasa bahwa itu adalah miliknya. Ia serahkan semuanya itu kepada Rasulullah saw dalam rangka perjuangan dan dalam rangka dakwah yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Kalau kita ingin meneladani kemuliaan beliau, maka tentu kita juga harus berusaha untuk menyisihkan paling tidak sebagian dari harta kita dalam rangka melaksanakan ibadah sosial, ibadah harta yang ada pada kita, baik dalam bentuk zakat, khumus, infak ataupun sedekah. Itu semua adalah bagian yang harus kita lakukan dalam rangka juga membangun kehidupan akhirat kita.

Tanpa Pamrih

Satu keutamaan lain yang dimiliki oleh Sayidah Khadijah as, yang dicatat oleh sejarah dan itu sangat penting bagi kita, adalah bahwa dengan berbagai perjuangan yang telah beliau lakukan bersama Rasulullah saw, baik perjuangan fisik beliau bersama Rasulullah  saw saat berhadapan dengan musuh-musuh Islam saat itu, begitu juga pengorbanan uang dan harta beliau hingga habis semua harta beliau, tapi pada saat yang sama beliau tidak pernah merasa bahwa beliau telah melakukan sesuatu yang dengan itu beliau mendapatkan garansi di hadapan Allah. Karena itu, disebutkan dalam catatan sejarah di saat detik-detik terakhir ketika Khadijah akan menghembuskan napasnya yang terakhir, di saat ia berada di atas tempat tidur dalam keadaan sakitnya yang terakhir, Khadijah masih memikirkan tentang kehidupan setelah kematian. Ia takut akan kehidupan barzah di alam kubur sana dan kehidupan akhirat.

Karena itu, pada saat yang sama Khadijah berharap ada sesuatu yang ia bawa di saat kematian itu dengan mengambil berkah dan bertawasul dengan yang dimiliki oleh Rasulullah saw dan yang digunakan oleh Rasulullah saw. Tapi pada saat yang sama Khadijah tidak ingin menyampaikan hal itu secara langsung kepada Rasulullah saw, karena ia merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk meminta sesuatu kepada Rasulullah saw. Akhirnya Khadijah sampaikan keinginan itu melalui putrinya, Sayidah Fathimah az-Zahra as, untuk kemudian disampaikan permohonan itu kepada Rasulullah saw. Khadijah berharap Rasulullah saw memberikan kepadanya sorban yang biasa dipakai oleh Rasulullah saw dalam salat-salatnya. Ia berharap sorban itulah yang akan menjadi bagian kain kafannya dengan harapan dengan serban itu ia akan selamat dari siksa kubur dan siksa api neraka.

Ini menunjukkan betapa makrifah Sayidah Khadijah begitu tinggi. Walaupun berjuang dengan berbagai perjuangan dan pengorbanan hartanya, Khadijah tetap merasa takut di hadapan Allah. Ia tetap merasa bahwa dirinya belum melakukan apa-apa. Ini yang selalu ditekankan kepada kita agar jangan sampai kita merasa bahwa kita sudah memiliki sebuah garansi. Jangan sampai kita merasa bahwa kita telah melakukan berbagai amal baik, yang amal baik itulah kita akan berhadapan dengan pengadilan Allah dan kita berbangga dengan amal baik kita,  dan kita telah yakin bahwa amal baik kita bisa menyelamatkan kita di hadapan pengadilan Allah.

Itulah yang ditekankan oleh Imam Ali Zainal Abidin as di dalam doa Abu Hamzah Al-Tsumali atau Al-Tsumali yang dianjurkan kepada kita untuk kita baca dalam waktu-waktu sahur.

Dalam ungkapan-ungkapannya itu Imam mengatakan, Ya Allah, aku tidak memiliki sebuah amalan yang aku bisa bersandar dengan amalan itu sehingga aku merasa tenang di hadapan-Mu dan merasa tenang di pengadilan-Mu.” Bayangkan Imam Ali Zainal Abidin yang memiliki kemuliaan, yang tidak ada yang menyamainya di zamannya, beliau adalah cucu Rasulullah saw,  pada saat yang sama beliau melakukan berbagai amal ibadah yang di atas rata-rata manusia dari sejak saat itu hingga hari ini dan bahkan hingga hari kiamat. Disebutkan bahwa beliau setiap malam-malam Ramadhan melakukan salat-salat sunah dalam jumlah rakaat yang sangat banyak hingga ratusan rakaat. Sebagian menyebut sampai seribu rakaat setiap malamnya. Beliau melakukan salat sunah dalam bulan puasa seperti ini, melakukan bacaan Alquran setiap tiga hari sekali beliau harus khatam 30 juz Alquran. Artinya, dalam satu bulan Ramadan 10 kali beliau mengkhatamkan Alquran.

Begitu juga beliau yang tiap malam membagi-bagikan makanan kepada kaum muslimin di Kota Madinah. Beliau panggul makanan itu dengan pundaknya tetapi beliau tetap merasakan bahwa dirinya adalah tidak pantas untuk berada di hadapan pengadilan Allah dengan rasa tenang. Beliau tetap menghawatirkan dan menakutkan apa yang akan terjadi di pengadilan Allah.

Ini semua merupakan pelajaran penting bagi kita agar kita semua menyadari bahwa sangat kecil apa yang kita lakukan. Tidak ada apa-apanya yang kita lakukan dibanding dengan segala karunia dan kenikmatan Allah. Pada saat yang sama begitu banyaknya kekurangan kita di hadapan Allah, kurangnya kewajiban-kewajiban, tidak optimalnya kewajiban-kewajiban yang kita lakukan. Maka itu, pada malam-malam seperti ini di bulan suci Ramadan adalah kesempatan bagi kita untuk bersimpuh di hadapan Allah menyatakan akan kekurangan kita dan memohon maaf atas segala kekurangan kita, serta kita sadarkan pada diri kita bahwa kita jauh daripada kesempurnaan. Sehingga kita tidak sombong dan kita tidak berharap sesuatu, baik itu kepada manusia maupun kepada siapa pun di atas dari yang semestinya.[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Ustaz Abdullah Beik, Jumat 23 April 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.