NAVIGASI

Resensi Buku: Al-Muntazhar: Kumpulan Hadis-Hadis Al-Mahdy

Kategori: Mahdawiyah

ICC Jakarta – Sebagaimana disebutkan oleh penerjemah, kitab setebal 48 halaman ini merupakan pengajaran hadis-hadis mengenai Imam Mahdi dari K.H. R. Abdullah Bin Noeh (ABN), seorang tokoh pejuang kemerdekaan di Bogor. Ulama kelahiran Cianjur tanggal 30 Juni 1905 ini adalah ulama, sastrawan, dan pendidik. Ia dikenal sebagai pendiri pesantren Al-Ghozali, Bogor. Beliau wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987. Sebagai ulama, sejak kecil Abdullah bin Nuh mendapat pendidikan agama Islam yang sangat intens dari ayahnya, yakni K.H.R. Muhammad Nuh bin Muhammad Idris, yang juga seorang ulama besar, pendiri Sekolah Ai’ianah Cianjur.Profil Buku

Judul Buku                  : Al-Muntazhar: Kumpulan Hadis-Hadis Al-Mahdy

Penulis                         :  KH. R. Abdullah bin Nuh

Penerjemah (hadis)      : H. Bahrum Zaman

Penerbit                       : Pondok Pesantren Al-Um

Tahun Terbit                : 1998

Tebal                           : 44 + iv

Ukuran Buku              : 16 x 21

“Telah lama sebenarnya kami mendengar nama Al-Mahdy dan memang sebenarnya nama itu sudah sangat populer di kalangan masyarakat sehingga kebanyakan menyebutkan dengan nama Imam Mahdy. Namun kami sebelumnya masih penuh keraguan untuk meyakinkannya karena kami belum menemukan keterangan yang pasti, baik keterangan itu dalam Al Qur’an ataupun Al-Hadits. Alhamdulillah, dengan wasilah guru kami yang mulia, yaitu Mama Kyai Haji Abdullah bin Nuh, kami mendapatkan titik terang. Beliau mengajarkan kepada kami hadis-hadis Al-Mahdy dengan penuh kesungguhan dan alhamdulillah kami dapat mengikuti dengan penuh kesungguhan pula. Hadis-hadis Al-Mahdy tersebut sengaja beliau pilihkan dari bermacam-macam kitab para ulama yang langka adanya. Dan dengan ketekunannya beliau goreskan melalui penanya sehingga menjadi kumpulan hadis-hadis Al-Mahdy. Alhamdulillah, kami mendapat doa restu darinya untuk menerjemahkan hadis-hadis Al-Mahdy tersebut. Dan kami mendapat anjuran supaya menambahi dengan keterangan dari tiap-tiap hadis, yang maksudnya agar difahami oleh orang awam.”

Demikian mukadimah dari penerjemah kitab Al-Muntadzhor: Kumpulan Hadits-Hadits Al-Mahdy Ustaz H. Bahrum Zaman.

Profil Penyusun Kitab

Sebagaimana disebutkan oleh penerjemah, kitab setebal 48 halaman ini merupakan pengajaran hadis-hadis mengenai Imam Mahdi dari K.H. R. Abdullah Bin Noeh (ABN), seorang tokoh pejuang kemerdekaan di Bogor. Ulama kelahiran Cianjur tanggal 30 Juni 1905 ini adalah ulama, sastrawan, dan pendidik. Ia dikenal sebagai pendiri pesantren Al-Ghozali, Bogor. Beliau wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987. Sebagai ulama, sejak kecil Abdullah bin Nuh mendapat pendidikan agama Islam yang sangat intens dari ayahnya, yakni K.H.R. Muhammad Nuh bin Muhammad Idris, yang juga seorang ulama besar, pendiri Sekolah Ai’ianah Cianjur.

Dalam pengawasan ketat ayahnya ini, Abdullah kecil belajar agama dan bahasa Arab setiap hari. Sehingga dalam waktu relatif masih muda, ia sudah mampu berbicara bahasa Arab. Di samping itu mampu pula menalar kitab Alfiyah (kitab bahasa Arab seribu bait) serta swakarsa belajar bahasa Belanda dan Inggris.

Berbekal ilmu yang telah dikuasainya itu, Abdullah bin Nuh muda mengajar di Hadralmaut School. Sekaligus menjadi redaktur majalah Hadramaut, sebuah mingguan berbahasa Arab yang terbit di Surabaya, Jawa Timur sejak tahun 1922 hingga tahun 1926. Setelah itu ayahnya mengirim Abdullah untuk menimba ilmu di Fakultas Syariah Universitas AI-Azhar, Kairo, Mesir. Setelah dua tahun lamanya belajar di Al-Azhar, Kairo, Mesir, Kyai ABN kembali ke tanah air dan aktif mengajar di Cianjur serta Bogor sejak tahun 1928 hingga tahun 1943.

Dari 51 karya Mama Abdullah bin Nuh yang dapat ditemukan, ada sekitar empat karya yang bisa mengindikasikan bahwa Kyai ABN termasuk ulama Nusantara pencinta Ahlulbait Nabi seperti buku Imam Muhajir, Al-Muntazhar Imam Mahdi, Risalah Asyura, dan Keutamaan Keluarga Nabi saw. Judul terakhir ini diterbit ulang oleh grup Mizan, Nourabooks. Boleh jadi ada beberapa karya lain beliau yang belum diterjemahkan atau diterbitkan yang menunjukkan kecintaan beliau kepada Ahlulbait Nabi. Hemat saya, hal ini tak mengherankan karena beliau memiliki pertemanan dengan seorang habib yang juga pejuang kemerdekaan nasional juga yakni Habib Husein Al-Habsyi, pendiri YAPI Bangil.  

Isi Buku

Dari sekitar 48 hadis yang terkumpul, penulis mendapatkan beragam kitab yang dijadikan sumber rujukan oleh Kyai Abdullah bin Nuh yaitu Shahih Turmudzi (3 hadis), Sunan/ Shahih Ibn Majah (6 hadis), Musnad Imam Ahmad (5 hadis), Al-Burhan (5 hadis), Muntakhab Kanz al-Ummal (2 hadis), Sunan Abu Dawud (4 hadis), Misykat al-Mashabih (1 hadis), Shahih Bukhari (1 hadis), Al-Mustadrak (2 hadis), Yanabi al-Mawaddah (4 hadis), Al-Shawaiq al-Muhriqah (2 hadis), Tarikh Ibn Asakir (2 hadis), Al-Burhan (6 hadis), Al-Bayan (1 hadis), Jami al-Shaghir (1 hadis), Al-Mahdiy (1 hadis), Is’af al-Raghibin (1 hadis), Nahj al-Balaghah (2 hadis), Dalail al-Imamah (1 hadis), Kamaluddin (2 hadis), dan terakhir Al-Irsyad (1 hadis). (Tabel Terlampir).

Empat kitab terakhir yang dirujuk oleh Kyai Abdullah bin Nuh, sebagaimana maklum adalah kitab-kitab ulama Syi’ah Imamiyah yang masing-masing susunan dari Syarif Radhi, Syekh Shaduq, dan Syekh Mufid. Setidaknya ini mengisyaratkan bahwa Kyai ABN adalah seorang ulama yang luas wawasannya dan terbuka pemikirannya. Tentu saja penukilan hadis-hadis di atas bukan berarti bahwa jumlah hadis tentang Al-Mahdi itu dalam setiap kitab yang dirujuk memang jumlahnya seperti itu. Kyai ABN tampaknya hanya menukil seperlunya saja demi pembuktian nakliah seputar kehadiran Imam Mahdi yang harus diimani.

Sebagaimana disebutkan oleh penerjemah, “kami sedikitpun tidak ada niat untuk menyerang atau mencelanya. Karena kami sudah mempunyai prinsip mengenai itu. Yang namanya manusia di dunia ini, janganpun mengenai Al-Mahdi yang belum nyata, Alquran pun yang sudah jelas bahwa itu kalamullah masih ada saja yang tidak memercayainya.”

Sangat disayangkan bahwa penulisan mengenai tema-tema kemahdian atau mesianisme oleh para ulama Nusantara masih belum banyak diekspolarasi. Padahal, tema ini bersifat universal, lintas agama dan lintas mazhab dan bisa menjadi titik persatuan antarmanusia.[AM]

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.