NAVIGASI

Khutbah Jumat 169, “Keutamaan Imam Ali Bin Abi Thalib”

Kategori: Khutbah Jumat

ICC Jakarta – Kita sekarang berada di paruh kedua bulan suci Ramadan. Sebentar lagi kita akan menyongsong hari-hari syahadah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Diriwayatkan bahwasanya ketika beliau akan melaksanakan salat Subuh dan pergi ke Masjid Kufah, di saat sedang melaksanakan salat dan mengangkat kepalanya Imam Ali mendapatkan pukulan   pedang beracun dari seorang bernama Abdurrahman bin Muljam. Pukulan pedang tersebut membelah kepala beliau sehingga darah segar mengucur dari luka yang menganga lalu membasahi wajah serta janggut beliau.

Ust. Hafidh Alkaff, MA

Hal ini pernah dinubuatkan oleh Rasulullah saw saat beliau menyampaikan khotbah Sya’baniyah yang menjelaskan tentang fadilah-fadilah bulan Ramadan. Pada saat itu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, ayyul ‘amali afdhal, yang mana perbuatan utama untuk dilaksanakan pada bulan Ramadan?” Beliau menjawab, ”Al- wara ‘an maharimillah, yakni meninggalkan semua yang Allah larang dan yang Allah haramkan.”  Kemudian Rasulullah saw memberitahu, “Wahai Ali, seakan-akan aku melihat di bulan seperti ini, aku melihat wajahmu dan janggut mau berubah menjadi merah karena darah yang mengalir dari luka menganga di atas kepalamu.”

Rasulullah saw berusaha untuk menyampaikan berita tentang hari syahadah Amirul Mukminin di bulan Ramadan. Lalu Imam Ali bin Abi Thalib, dengan segala kemewahan dan kemegahan yang beliau miliki dari sisi spiritualitas, berkata, “Ya Rasulullah, afi salamatin min dini, Apakah agamaku pada saat itu dalam keadaan baik?” Yang dikhawatirkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, apakah agama beliau baik ataukah tidak? Apakah beliau masih menjadi tergolong orang-orang yang beriman yang saleh? Lalu Rasulullah saw mengatakan, “Naam, betul wahai Ali, engkau pada saat itu, agamamu adalah agama yang baik, amalmu baik, dan engkau adalah orang yang saleh.”  Lalu Imam Ali mengatakan, “Kalau begitu aku tidak peduli, aku yang menjemput kematian atau kematian yang menjemputku.”

Ali bin Abi Thalib seperti kita ketahui adalah bagian dari Ahlulbait dan Ahlulbait disebut oleh Rasulullah saw seperti jiwa Rasulullah saw sendiri. Beliau saw mengatakan, “Lahmuka min lahmi wa damuka min dami. Dagingmu, darahmu berasal dari dagingku dan darahku. Berarti ketika Rasulullah saw disebut sebagai uswatun hasanah, maka Ali bib Abi Thalib juga menjadi uswatun hasanah.

Dalam satu ayat Alquran Surah Al-Imran dalam kisah mubahalah antara Rasulullah saw dan Nasrani Najran, Allah Swt menurunkan ayat tentang mubahalah yang mana dalam ayat mubahalah itu, Rasulullah saw mengatakan, faqul ta’aalaw nad’u abnaaa’anaa wa abnaaa’akum wa nisaaa’anaa wa nisaaa’akum wa anfusanaa wa anfusakum summa nabtahil fanaj’al la’natal laahi ‘alal kaazibiin, Mari kita bermubahalah panggil wanita-wanita kalian, anak-anak kalian dan jiwa-jiwa kalian.”

Pada saat itu Rasulullah saw membawa serta Ali bin Abi Thalib serta putri beliau Fatimah Az-Zahra, dan kedua cucu beliau Al-Hasan dan Al-Husain. Para penafsir ayat ini mengatakan yang dimaksud dengan nisaaa’anaa adalah Fatimah, dan yang dimaksud dengan abnaaa’anaa adalah Al-Hasan dan Al-Husain dalam kisah mubahalah tersebut.

Lalu apa yang dimaksud dengan anfusanaa, kalau anfusanaa hanya Rasulullah saw? Untuk apa Rasulullah saw membawa serta Ali bin Abi Thalib saw? Bukankah Ali bukan nisaaa’anaa? Bukankah Ali bukan abnaaa’anaa? Tidak ada jalan kecuali mengatakan Ali bin Abi Thalib termasuk dari anfusanaa. Jiwa Ali disamakan seperti jiwa Rasululllah saw. Jika demikian, ketika Allah berfirman tentang Rasulullah saw dan keteladanan Rasulullah saw, kita juga meneladani jiwa Rasulullah saw yaitu Ali bin Abi Thalib.

Dari beberapa hal dari kehidupan dan kepribadian Imam Ali bin Abi Thalib orang mungkin mengenal Imam Ali bin Abi Thalib sebagai seorang jawara di medan perang. Lalu orang akan mengatakan banyak jawara peperangan yang tidak pernah gentar saat berada di medan perang. Tetapi apa pun juga kisah heroik tentang siapa pun, juga di belahan dunia manapun juga di lembaran sejarah kapanpun, tidak ada sosok figur seperti Ali bin Abi Thalib as.

Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili, seorang ulama bermazhab Sunni dan bermazhab Mu’tazilah dari sisi akidahnya, menulis syarah atas Nahj al-Balaghah. Dalam Syarah Nahj al-Balaghah ketika berbicara mengenai keberanian dan syaja’ah Ali bin Abi Thalib, Ibn Abil Hadid mengatakan tentang keberanian semua orang akan terlupakan dengan keberanian Ali bin Abi Thalib. Lupa akan orang-orang yang dahulu pernah disebut sebagai pendekar dan pahlawan di medan perang. Ketika menyebut Ali, orang akan lupa dan tidak akan pula orang akan menyebutkan setelah ini orang yang sehebat Ali bin Abi Thalib di medan peperangan. “Mengapa?” kata beliau. Kata-kata Ibn Abil Hadid mengenai keberanian-keberanian dan sepak terjang Ali bin Abi Thalib dalam medan-medan peperangan sedemikian terkenal sehingga dijadikan peribahasa dan dijadikan sebagai panutan untuk dibicarakan selama-lamanya sampai hari kiamat.

Ditambahkan oleh Ibn Abil Hadid, dia (Ali bin Abi Thalib) adalah pemberani yang tidak pernah mundur, tidak pernah merasa gentar ketika menghadapi kondisi yang sesulit apa pun,  tidak pernah dia bertarung dengan seseorang berduel kecuali lawannya akan mati di tangan dia. Ini yang tidak dimiliki oleh semua orang. Ketika Ali bin Abi Thalib berada di medan perang, dia mengayunkan pedang, pukulan pertama tidak butuh pukulan yang kedua. Dengan pukulan yang pertama musuh langsung terjungkal.

Dalam riwayat dikatakan pukulan Ali dalam medan perang saat berduel cukup sekali. Karena ketika mendapatkan pukulan Ali orang tersebut akan tersungkur dan menemui ajalnya. Kemudian Ibn Abil Hadid menceritakan kisah Muawiyah di medan Perang Shiffin. Kisahnya, Imam Ali bin Abi Thalib mendatangi Muawiyah atau mengirim pesan kepada Muawiyah, “Wahai Muawiyah, puluhan ribu orang berada di medan perang. Dari pasukanmu puluhan ribu orang, juga dari pasukanku berada di medan perang ini. Jangan korbankan nyawa mereka sia-sia. Ini antara aku  dan kau. Ayo kita tarung, kita berduel satu lawan satu. Kita jaga jangan sampai nyawa terbunuh sia-sia.”

Muawiyah menolak. Muawiyah memiliki seorang penasihat yang bernama Amr bin Ash. Lalu Amr bin Ash mengatakan, “Ali telah berbuat secara objektif. Dia fair. Dia tidak mau mengorbankan orang. Dia mau mengajakmu duel antara engkau dan dia. Yang menang dia akan memimpin.”

Apa jawaban Muawiyah atas usulan Amr bin Ash? Karena Amr bin Ash mendukung tawaran duel dari Imam Ali bin Abi Thalib melawan Muawiyah. Kata Amr, “Sungguh Ali telah berbicara objektif dalam sikapnya terhadapmu.” “Wahai Amr,” sergah Muawiyah, “semenjak engkau menjadi penasihatku, aku selalu percaya kepadamu. Engkau selalu memberikan petunjuk yang baik untuk aku kecuali hari ini. Tapi engkau hari ini akan menipuku.” Mengapa Muawiyah mengatakan begitu. “Apakah engkau, wahai Amr bin Ash, menyuruh aku berduel dengan Abul Hasan Ali bin Abi Thalib, padahal kau tahu dia adalah seorang pemberani yang tidak pernah gentar? Yang pukulan pedangnya selalu menjungkalkan lawannya.” Lalu kata Muawiyah, “Aku merasa engkau ingin aku segera mati dan yang memimpin Syam adalah engkau.”

Demikianlah Ali bin Abi Thalib dalam medan peperangan. Bahkan keberanian Ali bin Abi Thalib di medan tempur menjadi kebanggaan keluarga orang-orang yang pernah dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib daripada dibunuh oleh orang lain. Ada satu kisah tentang Amr bin Abdi Wud atau Amr bin Abdi Wad, yang kita kenal siapa orang itu. Dalam kisah Perang Khandaq Amr bin Abdi Wud bersama dengan empat orang lainnya dari kubu kafir, kubu Ahzab berhasil melompati parit yang digali oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Ada satu parit yang relatif sempit dilompati oleh kuda-kuda mereka, lalu mulailah Amr bin Abdi Wud melantunkan bait-bait yang disebut dengan rajaz.

Dalam bahasa Arab ia berarti bait-bait tantangan perang, bait-bait yang disampaikan di medan perang. Katanya, “Aku capek teriak-teriak untuk memanggil kalian. Siapa di antara kalian yang maju untuk melawan aku? Bukankah kalian punya surga? Kalau mati masuk surga. Ayo duel denganku!”

Saat itulah Imam Ali bin Abi Thalib datang dan kemudian menyampaikan rajaz juga dengan bait-bait yang mirip dengan itu dengan akhiran huruf z. Terjadilah duel antara Imam Ali bin Abi Thalib  dan Amr bin Abdi Wud, seorang jawara medan perang. Yang satu orang bisa mengalahkan satu laskar terjungkal di tangan pemuda bernama Ali bin Abi Thalib. Tahukah apa yang dikatakan oleh saudara perempuan dari Amr bin Abdi Wad ketika mendengar bahwasanya saudaranya mati di tangan Ali. Dia merasa bangga, “Yang membunuh saudaraku bukan orang lain tetapi Ali bin Abi Thalib.” Bangga kelasnya Amr bin Abdi Wud, bukan kelas yang dibunuh oleh orang-orang petarung-petarung biasa, tetapi petarung yang namanya abadi sepanjang zaman.

Jawara Munajat

Kita sering mengenal Imam Ali bin Abi Thalib yang tidak pernah masuk ke medan perang kecuali meraih kemenangan di medan. Tapi tahukah kita bahwasanya Ali bin Abi Thalib bukan hanya jawara di medan perang. Dia juga jawara di medan munajat. Tidak ada yang menandinginya saat dia sedang berada di mihrabnya. Saat dia beribadah di malam hari terdengar suara rintihan tangis. Dalam munajatnya terdengar suara memilukan sampai-sampai banyak syair yang menggambarkan kisah Imam Ali bin Abi Thalib. Sungguh pohon-pohon kurma, di kebun-kebun kurma Kufah, kehilangan lagi suara rintihan di malam hari. Ali bin Abi Thalib yang telah meninggalkan dunia.

Doa-doa yang dipanjatkan Imam Ali bin Abi Thalib sedemikian indahnya. Orang yang membacanya akan merasakan betapa indahnya bahasa yang dibawa oleh Ali saat bermunajat dengan Tuhannya. Doa Kumail, yang kita kenal dengan doa Hadrat Khidir, yang kita baca setiap malam Jumat dan di malam Nisfu Syakban, adalah doa yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib pada Kumail bin Ziyad al-Nakha’i. Kata-katanya sedemikian menyentuh. Jujur, kalau orang duduk sendiri dengan doa Kumail, membaca terjemahannya di malam hari tanpa diganggu oleh kebisingan dunia, sumpah, orang tersebut pasti akan menitikkan air mata penghambaan dan ketakutan kepada Allah. Air mata kekhusukan akan menetes. Baca pula doa al-Shabah (Doa Pagi) yang diriwayatkan juga dari Imam Ali bin Abi Thalib. Demikian doa yang indah. Dan, doa-doa yang lain yang bisa kita dapatkan riwayat-riwayatnya di dalam Mafatih al-Jinan. Juga disebutkan ada beberapa doa yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.

Selain itu dikatakan bahwasanya Imam Ali bin Abi Thalib memiliki dahi yang tebal. Mengapa? Karena banyaknya sujud beliau. Ibn Abil Hadid meriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib di medan perang, saat beliau sedang memainkan pedangnya dan membabat musuh-musuhnya, melakukan serangan bertahan, menyerang, bertahan, dan menyerang lagi, saat itu beliau tidak berhenti untuk menyampaikan wirid-wirid dengan lisannya. Setiap gerakan beliau selalu diiringi dengan wirid dan munajat dengan Allah Swt walaupun di tengah medan peperangan. Ini dari sisi keberanian dan dari sisi ibadah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Ada seorang melihat Imam Ali bin Abi Thalib suatu malam mengendap-ngendap keluar dari rumahnya. Dia mengikuti Imam Ali bin Abi Thalib sampai kemudian dilihatnya Imam Ali bin Abi Thalib masuk ke perkebunan kurma. Orang itu pun mendekat lalu menyaksikan Imam Ali bin Abi Thalib salat, munajat, kemudian mengucapkan kata-katanya yang sedemikian indah. Salah satunya adalah “Aku telah menceraikanmu tiga kali ceraian, wahai dunia. Jangan goda aku. Umurmu terlalu pendek. Kehidupanmu terlalu hina untuk menggoda orang seperti Ali.” Beliau bermunajat, berdoa, menangis, merintih, sampai beliau pingsan.

Orang tersebut khawatir terhadap keselamatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Segera dia pergi ke rumah anak-anak Imam Ali bin Abi Thalib dan memberitahu, “Ayah kalian berada di perkebunan kurma dan sedang pingsan di situ.” Jawaban mereka, “Tenanglah wahai fulan. Itu kebiasaan ayah kami setiap malam. Beliau munajat, menangis dan kemudian pingsan dalam tangisan.”

Dari sisi akhlak, beliau yang terkenal dengan keberaniannya, terkenal dengan kepiawaiannya di medan perang, tidak gentar menghadapi siapa pun, biasanya orang tersebut memiliki hati yang keras, tidak penyayang. Tapi coba bandingkan dengan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib. Saat beliau berhasil memenangi perang, musuh-musuhnya kalah, beliau justru memberikan hal yang terbaik kepada musuh-musuhnya.

Misalnya, kita berbicara tentang  Perang Jamal, yang merupakan suatu episode duka dan luka yang paling dalam dalam sejarah kaum muslimin. Puluhan ribu nyawa melayang gara-gara ambisi sekelompok orang untuk menurunkan Ali bin Abi Thalib dari khilafah. Ambisi sekelompok orang untuk melakukan pemberontakan terhadap khalifah kaum muslimin yang sah, yang dipilih secara aklamasi oleh penduduk Kota Madinah dan sekitarnya.

Ketika Imam Ali bin Abi Thalib dan pasukannya berhasil memenangi peperangan itu, pimpinan-pimpinan pasukan Jamal justru dimaafkan. Ummul Mukminin Aisyah dimaafkan, Abdullah bin Zubair, tokoh yang sangat berperan dalam berkecamuknya Perang Jamal juga dimaafkan. Orang yang selalu menebar fitnah, menebar hoax, supaya orang-orang dibangkitkan kebencian kepada Ali untuk ikut dalam Perang Jamal yaitu Marwan bin Hakam dimaafkan. Semuanya dimaafkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, bukan kemudian beliau menghukum mereka. Apa yang dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib terhadap lawan-lawannya termasuk di antaranya Said ibn Ash, salah seorang yang paling dikenal membenci Imam Ali as. Said bin Ash ditangkap di Kota Makkah. Tapi apa yang dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib beliau membiarkan Said bin Ash.

Setelah Imam Ali bin Abi Thalib memenangi peperangan itu mengembalikan Ummul Mukminin Aisyah dari Basyrah ke Kota Madinah. Sebuah riwayat mengatakan 50 orang perempuan. Dalam riwayat lain mengatakan 20 orang perempuan, yang diperintahkan untuk menggunakan imamah, sorban dengan dilengkapi pedang. Mereka mengawal Ummul Mukminin Aisyah dari Basrah sampai ke Kota Madinah. Sepanjang perjalanan Ummul Mukminin Aisyah mengumpat Imam Ali bin Abi Thalib, menyalahkan Imam Ali bin Abi Thalib. Wajar hal ini terjadi. Karena apa? Karena Ummul Mukminin pada saat itu merasa Imam Ali bin Abi Thalib telah melecehkan istri Nabi karena mengirim Ummul Mukminin bersama orang-orang laki-laki yang bukan mahramnya. Sesampai di Kota Madinah Ummul Mukminin Aisyah terkaget kaget saat melihat bahwa para pengawalnya melepaskan imamah dan ternyata mereka semua adalah perempuan.Mereka mengatakan, “Ya Ummul Mukminin, kami adalah orang-orang perempuan yang ditugaskan Imam Ali bin Abi Thalib untuk mengawalmu.” Imam memberikan penghormatan kepada Ummul Mukminin, walaupun waktu beberapa hari sebelumnya di medan perang dua kubu saling berperang tapi beliau memaafkan.

Paradoks Ali

Ada kisah yang menarik yang mungkin sangat kontras dengan jiwa ksatria dan kepahlawanan beliau di medan perang. Diriwayatkan bahwa suatu kali Imam Ali bin Abi Thalib melihat di suatu rumah ada suara tangisan anak-anak kecil. Imam maju dan mengetuk pintu itu dan bertanya kepada pemilik rumah yang ternyata adalah seorang wanita. Beliau bertanya, “Wahai ibu, mengapa anak-anakmu menangis? Ada apa gerangan?” Dikatakan, “Wahai Kisanak, wahai orang yang aku tidak kenal, anak-anakku menangis karena mereka kelaparan. Tidak ada sesuatu yang bisa aku berikan kepada anak-anakku untuk makan. Aku sengaja menyalakan api dan tungku itu supaya anak-anakku berhenti menangis, atau setidaknya mereka berharap ada makanan lalu mereka tertidur karena keletihan.”

Imam kemudian bertanya, “Di mana suamimu?” Mulailah si perempuan itu mengadukan kepada Imam Ali, orang yang tidak dikenalnya, bahwa, “Suamiku mati di medan perang membela Ali bin Abi Thalib. Tapi apa yang dilakukan oleh Ali. Dia tidak peduli dengan anak dan istri seorang prajurit yang mati dalam membela dia.”

Lalu Imam Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah itu, pergi dan tidak lama kemudian datang dengan membawa makanan-makanan gandum dan segala hal yang diperlukan. Lalu Imam mengatakan kepada ibu itu, “Wahai Ibu, masaklah ini! Apakah engkau yang mau masak atau aku? Kalau engkau masak, biar aku bermain dengan anak-anakmu. Kalau engkau yang akan menangani anak-anakmu biar aku yang memasak.” Kata wanita itu, “Biarkan aku yang memasak dan engkau main dengan anak-anakku.”

Imam Ali bin Abi Thalib kemudian main dengan anak-anaknya lalu menyuapi anak-anak itu dengan makanan yang sudah dimasak oleh ibu mereka. Setiap suapan yang dimasukkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ke mulut anak-anak itu, beliau mengatakan, “Wahai anak-anak yatim, maafkanlah Ali, yang tidak melihat kalian sampai saat ini. Maafkan ayahmu ini karena tidak tahu bahwa engkau ternyata menderita.”

Sampai kemudian ada seorang tetangga wanita itu yang mengenal Imam Ali dan bertanya kepada wanita tersebut, “Wahai fulanah, tahukah engkau siapa orang yang membantumu yang bermain dengan anak-anakmu, yang menyuapi anak-anakmu itu?” Si Ibu menjawab, “Aku tidak mengenalnya dia, orangnya baik, aku tidak kenal. Dia datang dengan membawa makanan dan dia membantu aku mengambilkan air dan bermain dengan anak-anakku menyuapi anak-anakku.” Lalu, kata orang tersebut, “Celaka engkau, dia adalah Ali bin Abi Thalib, khalifah kaum muslimin.” Si Ibu tersebut kemudian bersimpuh di hadapan Imam Ali dan meminta maaf. Tapi apa kata Imam Ali? “Justru engkaulah yang harus memaafkan Ali.”[]

Naskah ini merupakan khotbah Jumat Ustaz Hafidh Alkaf, Jumat 30 April 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.