NAVIGASI

Zakat Fitrah

Kategori: Fikih

ICC Jakarta – Zakat fitrah (bahasa Arab: زكاة الفطرة) adalah perbuatan wajib dalam fikih Islam yang bemakna membayar harta dengan kadar dan cara tertentu kepada orang-orang yang membutuhkan pada perayaan Idul Fitri. Kadar zakat fitrah untuk setiap orang -sesuai makanan pokok yang umum- sekitar satu Sha’ (± 3 kg) gandum, jelai, kurma dan kismis atau seharga barang-barang tersebut.

Wajib hukumnya membayar zakat fitrah bagi kepala keluarga yang tidak fakir. Waktu pembayarannya sebelum salat Idul Fitri atau sebelum zuhur hari Idul Fitri. Tempat penyaluran zakat ini sama dengan zakat harta. Berdasarkan riwayat-riwayat, pembayaran zakat fitrah menjadi penyempurna puasa, faktor diterimanya puasa, faktor penjaga manusia dari kematian tahun itu, dan penyempurna zakat harta.

Arti Fitrah
Fitrah mempunyai beberapa makna:

Bermakna penciptaan: yaitu bentuk dan rupa makhluk. Di sini maksud dari zakat fitrah adalah zakat ciptaan. Atas dasar ini, zakat fitrah disebut juga zakat badan. Sebab, hal itu menyebabkan keselamatan badan dari bencana-bencana.
Bermakna Islam: di sini maksud zakat fitrah adalah zakat Islam. Korelasi antara zakat fitrah dan Islam ialah dari sisi bahwa zakat termasuk dari ruku-rukun dan syiar-syiar Islam.
Bermakna berbuka puasa lawan dari puasa: arti zakat fitrah adalah zakat berbuka dari puasa.[1]
Dalam Riwayat
Imam Shadiq as ditanya mengenai ayat: قَدْ أَفْلَحً مَنْ تَزَكَّى; “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri”[2] beliau menjawab: “Orang yang membayar zakat fitrah”, lalu ditanya lagi: وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى;”Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat”[3], beliau menjawab: “Orang yang keluar ke sahara lalu melaksanakan salat”.[4]
Imam Shadiq as berkata: “Dari kesempurnaan puasa adalah membayar zakat fitrah sebagaimana salawat atas Nabi saw menjadi penyempurna salat. Sebab, setiap orang yang berpuasa tapi tidak mengeluarkan zakat, jika sengaja meninggalkan itu maka ia tidak dianggap berpuasa. Demikian juga orang yang meninggalkan salawat atas Nabi saw, maka salatnya tidak sah. Allah swt menyebut zakat sebelum salat dan berfirman: قَدْ أَفْلَحً مَنْ تَزَكَّى وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى ;”Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat”[5][6]
Imam Ali as berkata: “Orang yang membayar zakat fitrah, maka dengannya Allah swt akan menyempurnakan/menutupi kekurangan zakat hartanya”.[7]
Imam Shadiq as berkata:”Orang yang menyempurnakan puasanya dengan perkataan baik atau perbuatan baik niscaya Allah swt mengabulkan puasanya”. Beliau ditanya, wahai putra Nabi! Perkataan baik itu apa? Beliau menjawab: “Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah; dan perbuatan baik adalah membayar zakat fitrah.”[8]
Imam Shadiq as kepada wakilnya, Muttaib berkata:”Pergilah dan bayarkan zakat fitrahnya semua orang yang biaya hidup mereka ditanggung kita, dan satupun jangan ditinggalkan, sebab jika engkau meninggalkan satu orang dan lupa, maka aku khawatir akan Faut “. Muttaib bertanya: Faut itu apa? “Kematian”, jawab beliau.[9]
Hukum Taklifi
Zakat fitrah termasuk kewajiban ibadah. Oleh karenanya, dalam pelaksanaannya disyaratkan niat mendekatkan diri kepada Allah swt sehingga menjadi sah.[10]

Syarat-syarat Wajib Zakat Fitrah

  1. Taklif: kewajiban zakat fitrah gugur dari selain Mukallaf (tidak balig dan gila).[11]
  2. Sadar: orang yang jatuh pingsan di saat matahari terbenam (ghurub) pada hari akhir bulan Ramadhan tidak terkena kewajiban membayar zakat fitrah.[12]
  3. Tidak membutuhkan: zakat fitrah tidak wajib bagi orang fakir. Menurut pendapat masyhur maksud orang fakir adalah orang yang sekarang (bil fi’l) atau akan datang (bil quwwah) tidak mempunyai biaya hidup untuk dirinya dan keluarganya selama satu tahun.[13] Sebagian fukaha terdahulu mengatakan, fakir adalah orang yang tidak memiliki salah satu nisab zakat atau harganya.[14] Dari sebagian fukaha yang lain dinukilkan bahwa zakat fitrah wajib bagi orang fakir yang memiliki makanan untuk sehari semalam.[15] Tentu, tidak diragukan dalam kesunahan membayar zakat fitrah bagi orang fakir, minimalnya ia memutarkan dan menggilirkan harta seukuran 1 sha’ (± 3 kg) di antara anggota keluarganya, kemudian yang terakhir memberikannya kepada orang fakir diluar keluarganya sebagai zakat fitrah.[16]
    Mengenai wajibnya zakat fitrah, apakah seseorang selain disyaratkan memiliki biaya hidupnya selama satu tahun, juga harus memiliki harta lebih seukuran zakat atau tidak? terjadi perbedaan pendapat. Menurut pendapat pertama, orang yang mempunyai biaya hidup selama satu tahun tetapi tidak ada lebihnya yang bisa dibayarkan untuk zakat, maka zakat tidak wajib baginya.
    Sebagain fukaha membedakan antara kaya sekarang (bil fi’il) dan kaya akan datang (bil quwwah). Pada asumsi kedua, wajibnya zakat selain disyaratkan harus memiliki biaya hidup satu tahun, juga harus memiliki harta seukuran zakat.[17]
    Tolok ukur wajibnya zakat bagi seseorang adalah pemenuhan syarat-syarat wajib sebelum terbenamnya matahari (ghurub) pada malam Idul Fitri hingga terbenam. Oleh karena itu, orang yang memenuhi syarat-syaratnya sebelum matahari terbenam, tetapi saat matahari terbenam tidak memiliki syarat-syarat itu, maka ia tidak wajib membayar zakat fitrah. Jika seseorang pada jarak waktu antara ghurub (matahari terbenam) dan pelaksanaan salat Id (condongnya mataharin ke arah barat hari Id) memiliki syarat-syarat itu, misalnya orang yang tidak balig menjadi balig, maka zakat fitrah baginya akan menjadi mustahab.[18]
    Sebagian fukaha kontemporer berpendapat, apabila di antara waktu ghurub (matahari terbenam) dan salat Id syarat-syarat dapat terpenuhi, maka berdasarkan ihtiyat wajib harus mengeluarkan zakat fitrah.[19] Sebagian fukaha juga mengatakan, pemenuhan syarat-syarat saat ghurub juga menyebabkan wajibnya zakat fitrah, walaupun sebelumnya ia tidak memiliki syarat-syarat tersebut.[20]
    Orang-Orang yang Terkena Kewajiban Bayar Zakat Fitrah
    Seseorang yang menjadi tanggungan makan orang lain (‘iyal), baik balig atau tidak, baik orang merdeka atau hamba sahaya, dan baik Muslim atau kafir, maka zakatnya (jika memenuhi syarat) wajib dibayar oleh orang yang menanggungnya (mu’il).[21]

Apakah zakat fitrah istri diwajibkan secara mutlak atas suami dan zakat fitrah hamba sahaya atas tuannya sekalipun mereka tidak dianggap ‘iyal mereka berdua, atau hanya akan wajib jika mereka menjadi ‘iyal suami dan tuannya, dan atau jika nafkah mereka wajib atas mereka berdua sekalipun mereka tidak dihitung sebagai ‘iyal mereka berdua? adalah masalah yang kontroversi.[22] Tentu, perbedaan itu akan terjadi bila istri dan budak bukan menjadi tanggungan orang lain, sebab kalau tidak demikian (artinya menjadi tanggungan orang lain) maka tidak ada perselisihan pendapat tentang gugurnya zakat atas suami dan tuan.[23]

Zakat fitrah gugur bagi orang yang zakat fitrahnya berada dalam tanggung jawab orang lain;[24] meskipun orang lain itu tidak membayarkan zakat.Tentu saja, jika penanggung (mu’il) itu fakir sementara yang ditanggung (‘iyal) orang kaya, apakah yang ditanggung wajib membayar zakat sendiri atau tidak? suatu yang kontroversi.[25]

Zakat Fitrah Tamu
Zakat fitrah tamu wajib dibayar oleh tuah rumah. Memang masalah ini kontroversial, dimana apakah dengan satu kali berbuka puasa di malam idul Fitri, zakatnya wajib dibayar oleh tuan rumah atau tidak? Sebagian Fukaha memandang bahwa dengan sekedar terealisasi predikat tamu, sekalipun itu terjadi dalam waktu singkat sebelum tiba waktu berbuka puasa malam Id, maka zakatnya wajib bagi tuan rumah. Dan sebagian yang lain memandang bahwa zakat itu wajib bagi tuan rumah jika orang tersebut disebut tamu menurut uruf. Dan ‘tamu’ menurut uruf adalah orang yang dianggap ‘iyal (menjadi tanggungan makan) tuan rumah.

Ada pendapat-pendapat lain yang disebutkan dalam hal ini (wajibnya zakat fitrah tamu bagi tuan rumah), diantaranya:

(1). Disyaratkannya satu bulan penuh menjadi tamu
(2). Pertengahan kedua dari bulan Ramadan menjadi tamu
(3). 10 hari terakhir bulan Ramadan menjadi tamu
(4). Dua malam terakhir bulan Ramadan menjadi tamu
(5). Satu malam akhir bulan menjadi tamu.[26]
Jenis dan Kadar
Kalimat-kalimat Fukaha dalam menjelaskan jenis zakat fitrah berbeda-beda. Sebagian mereka hanya menyebut gandum, jelai, kurma dan kismis. Sebagian yang lain menambahkan jagung atau susu kering. Kelompok ketiga menyebut 5 bahan di atas ditambah susu. Dan kelompok keempat juga menambahkan beras pada 6 jenis makanan di atas.

Masyhur dikalangan mutakhir, jenis zakat fitrah adalah harus dari makanan pokok yang umum di tengah masyarakat.[27]

Dalam zakat fitrah membayarkan harga dari jenis-jenis makanan di atas sudah cukup.[28]

Kadar zakat fitrah untuk setiap orang selain susu adalah 1 sha’ (± 3 kg). Dalam susu, sebagian fukaha menyebut kadarnya 4 Rathl tapi masyhur meyakini kadarnya 1 sha’ juga. Sesuai pendapat pertama, yang dimaksud Rathl apakah jenis Irak atau Madinah masih menjadi perselisihan pendapat.[29]

Waktu Wajib Bayar Zakar Fitrah
Pendapat masyhur di kalangan fukaha kontemporer, waktu wajib bayar zakat fitrah adalah ghurub (terbenam matahari) hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagian lagi memandang waktu wajibnya adalah munculnya fajar hari Id.[30] Mengenai akhir waktu wajib bayar zakat fitrah terjadi perbedaan pendapat. Sebagian fukaha mengatakan saat menjelang melakukan salat Id, sebagian yang lain mengatakan zawal (zuhur) hari Id, dan kelompok ketiga mengatakan ghurub hari Id.[31]
Terjadi perbedaan pendapat mengenai apakah pembayaran zakat fitrah di bulan Ramadhan bisa dilakukan sebelum datang waktu wajibnya atau tidak? Berdasarkan pendapat yang mengatakan boleh, maka pembayaran zakat fitrah boleh dilakukan sejak awal bulan Ramadhan.[32]
Bila seseorang tidak membayarkan zakat fitrah pada waktu wajibnya, maka bila dia sudah memisahkan dan menyisihkan zakat itu dengan niat taqarrub, maka itu dikeluarkan untuk zakat fitrahnya. Namun, apabila dia tidak memisahkan, apakah zakat gugur dari tanggungannya atau tidak? Dan jika tidak gugur, apakah pembayaran zakatnya harus diniatkan adaan atau qadhaan? terjadi perbedaan pendapat.[33]
Bila setelah memisahkan zakat fitrah tidak membayarkannya padahal mampu membayar, maka ia wajib mengganti.[34]
Penyaluran Zakat Fitrah
Menurut pendapat masyhur dan makruf di antara fukaha, penyaluran zakat fitrah adalah sama dengan penyaluran zakat harta.[35]
Lahiriyah pernyataan sebagian fukaha terdahulu, penyaluran zakat fitrah adalah orang-orang fakir.[36] Sebagian fukaha kontemporer berfatwa, berdasarkan ihtiyat wujubi adalah membayarkan zakat fitrah kepada mereka (orang-orang fakir).[37]
Menurut pendapat sekelompok fukaha, membayarkan zakat fitrah kepada mukhalif (Ahlusunah) yang lemah ketika tidak ada orang mukmin (Syiah imamiyah) yang fakir boleh hukumnya.[38]
Pemilik zakat bisa langsung membayarkan zakat fitrahnya kepada yang berhak meskipun lebih utama diserahkan kepada Imam as atau wakilnya.[39]
Menurut pendapat masyhur, tidak boleh membayar zakat fitrah kepada seorang fakir kurang dari 1 sha’ kecuali jika orang-orang fakir berjumlah banyak sehingga membayarkan 1 sha’ kepada semua mereka tidak memungkingkan, maka dalam kondisi ini sebagian fukaha membolehkan pembayaran zakat fitrah kurang dari 1 Sha’.Sebaliknya, boleh membayar zakat fitrah lebih dari 1 Sha’ dan bahkan boleh sampai batas kefakiran terangkat dari seorang fakir.[40]
Mustahab zakat fitrah disalurkan kepada familinya yang fakir kemudian kepada para tetangga, sebagaimana mustahab didahulukan orang-orang fakir yang berilmu dan pemilik fadilah atas selain mereka dalam penyaluran zakat fitrah.[41]
Seorang Sayid (keturunan Nabi saw) tidak boleh menerima zakat (harta dan fitrah) dari selain Sayid. Namun apabila khumus dan kewajiban-kewajiban harta lain (wujuhāt) tidak mencukupi biaya hidupnya dan terpaksa harus mengambil zakat, maka boleh baginya mengambil zakat dari selain Sayid.[42]
Catatan Kaki
1 Amili, Madārik al-Ahkām, jld.5, hlm.307; Anshari, Kitab al-Zakah, hlm.297
2 Q.S. Al-A’la:14
3 Q.S. Al-A’la:15
4 Shaduq, Man la Yahduruhul Faqih, jld.1, hlm.510
5 Q.S. Al-A’la: 14-15
6 Shaduq, Man la Yahduruhul Faqih, jld.2, hlm.183
7 Shaduq, Man la Yahduruhul Faqih, jld.2, hlm.183
8 Shaduq, al-Tauhid, hlm.22
9 Kulaini, al-Kafi, jld.7, hlm.668
10 Yazdi, al-‘Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.204
11 Najafi, Jawāhirul Kalām, jld.15, hlm.279
12 Najafi, Jawāhirul Kalām, jld.15, hlm.485
13 Najafi, Jawāhirul Kalām, jld.15, hlm.488-490
14 Al-Khilāf, jld.2, hlm.146
15 Mukhtalaf al-Syiah, jld.3, hlm.261
16 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.492
17 Hakim, Mustamsak al-‘Urwah, jld.9, hlm.390-392
18 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, 499
19 Minhaj al-Shālihin (Khui), jld.1, hlm.320
20 Yazdi, al-‘Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.205-206
21 Hakim, Mustamsak al-Urwah, jld.9, hlm.396-397
22 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.502-504
23 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.504
24 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.505
25 Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.209
26 Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.207-208; Khui, Mausu’ah al-Khui, jld.24, hlm.393-394
27 Bahrani, al-Hadāiq al-Nādhirah, jld.12, hlm.279; Naraqi, Mustanad al-Syiah, jld.9, hlm.405-406; Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.514-518
28 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.518
29 Khui, Musawi al-Khui, jld.24, hlm.453
30 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.527; Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.222
31 Bahrani, al-Hadāiq al-Nādhirah, jld.12, hlm.301
32 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, 529
33 Najafi, Jawāhir al-Kalam, 15, hlm.534-536
34 Najfi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.538
35 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, 538
36 Al-Muqni’ah, hlm.252
37 Yazdi, al-Urwah al-Wutsqā, jld.4, hlm.225
38 Thusi, al-Nihāyah, hlm.192; Hilli, al-Jami’ li al-Syarāi’, hlm.140; Amili, 39 39 Syarāi’ al-Islam, jld.1, hlm.131-132
40 Hairi, Riyādhul Masāil, jld.5, hlm.221-220
41 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.14, hlm.541-542; Hakim, Mustamsak al- Urwah, jld.9, hlm.438-439
42 Najafi, Jawāhir al-Kalam, jld.15, hlm.542-543
43 Imam Khumaini, Taudhih al-Masāil, hlm. 298; Imam Khumaini, Tahrir al-Wasilah (terj. Persia), jld.1, hlm.386; Yazdi, al-Urwah al-Wustqa (Muhassyi), jld.4, hlm.136-137
Daftar Pustaka
Amili, Muhammad bin Ali Musawi. Madārik al-Ahkam fi Syarh Ibaādāt Syarāi’ul Islam. Beirut: Muassasah Al al-Bait as, 1411 H
Anshari, Murtadha. Kitab al-Zakah. Qom: Kongres Syaikh A’zham Anshari, 1415 H.
Bahrani, Yusuf bin Ahmad.Al-Hadāiq al-Nādhirah fi Ahkām al-Itrah al-Thāhirah. Qom: Jami’ah Mudarrisin, 1405 H
Hairi, Ali bin Muhammad. Riyādhul Masāil fi Tahqiq al-Ahkām bi al-Dalāil. Qom: Muassasah Al al-Bait as, 1418 H.
Hakim, Muhsin. Mustamsak al-‘Urwah al-Wutsqā. Qom: Muassasah Dar al-Tafsir, 1416 H.
Hilli, Hasan bin Yusuf. Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkām al-Syari’ah. Qom: Jami’ah Mudarrisin, 1413 H.
Hilli, Yahya bin Said. Al-Jami’ li al-Syarāi’. Qom: Muassasah Sayid al-Syuhada al-Ilmiah, 1405 H
Imam Khumaini. Tahrir al-Wasilah (terj. Persia) Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khumaini. Teheran: 1428 H
Imam Khumaini. Taudhih al-Masāil. Teheran: Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khumaini, 1429 H
Khui, Abu al-Qasim.Mausu’ah al-Imam al-Khui. Qom: Muassasah Ihya Atsar al-Imam al-Khumaini, 1418 H.
Khui, Abu al-Qasim.Minhaj al-Shalihin. Qom: Penerbit Madinah al-Ilm, 1410 H.
Kulaini, Muhammad bin Ya’kub. Al-Kafi. Qom: Darul Hadits, 1429 H

Jadwal Salat Kota Jakarta

© 2021 Islamic Cultural Center Jakarta. All Rights Reserved.