ICC Jakarta
No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Sambutan direktur
    • Sejarah Berdiri
  • Kegiatan
    • Berita
    • Galeri
  • Artikel
    • Akhlak
    • Alquran
    • Arsip
    • Dunia Islam
    • Kebudayan
    • Pesan Wali Faqih
    • Press Release
    • Sejarah
  • Hubungi kami
  • Login
ICC Jakarta
No Result
View All Result

Akal dan Cinta dalam Perjuangan Husaini di Karbala

by admin
March 2, 2023
in Ahlulbait, Arsip, Maarif Islam
0 0
Share on FacebookShare on Twitter

Perjuangan Imam Husain di Karbala adalah cermin utuh dari manusia sempurna dan Islam murni, yang menunjukkan kebenaran dan keadilan secara komprehensif dan menggambarkan kebersamaan akal dan cinta.

Gerakan Imam Husain di Karbala bisa ditinjau dari berbagai aspek, sejarah, teologi, hukum, politik dan lainnya. Bahkan kaum revolusioner dan pencari keadilan telah melihatnya dengan berbagai pendekatan dan menafsirkannya.

Kebangkitan Imam Husaiin meski telah berlalu lebih dari seribu tahun silam, tapi hingga kini tetap menjadi sumber pelajaran penting. Peristiwa Karbala secara umum dan detailnya, mengandung aspek rasionalitas sekaligus cinta, serta tidak ada kontradiksi di antara keduanya dalam gerakan penting ini. Pemikir kontemporer Iran, Syahid Muthada Muthahhari juga menyebut akal dan cinta saling melengkapi selama Asyura dan menganggap tidak ada gunanya membicarakan kelebihan satu di atas lainnya yang harus ditonjolkan.

Syahid Muthahhari mengatakan, “Ketika kita ingin melihat kelengkapan Islam, kita juga harus melihat gerakan Husaini. Kita melihat bahwa Imam Husain telah menerapkan nilai-nilai universal Islam di Karbala. Ketika seseorang berpikir tentang peristiwa Karbala, ia melihat hal-hal yang membuatnya takjub dan berkata bahwa ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan, dan bahwa para Imam telah menekankan bahwa semua ini harus tetap hidup dan tidak pernah terlupakan. Peristiwa ini adalah cermin dari [perjuangan menjaga] Islam.”

Imam Husain a.s. adalah salah satu contoh nyata dari manusia sempurna dan gerakan perjuangannya juga memiliki berbagai dimensi yang berbeda; aspek cinta dan emosi, serta aspek rasional dan logis. Faktanya, dua wajah berbeda ditunjukkan dalam perjuangan beliau. Pertama, sosok yang sama sekali tidak mau menyerah, tunduk dan setuju kepada penindas. Kedua, sosok yang penuh kelembutan ketika bermunajat dan berdoa kepada Allah swt.

Aspek pertama, yaitu aspek cinta, yang menurut Syahid Muthahhari, adalah aspek kesucian di jalan Tuhan dan sisi transendental dari perjuangan Imam Husein. Aspek ini bisa dilihat dari dalam khutbah pertamanya yang beliau sampaikan, “Keridhaan Tuhan adalah keridhaan Ahlul Bait, oleh karena itu kami bersabar menghadapi musibah ini”. Ekspresi puncaknya disampaikan Imam Husain menjelang kesyahidannya, ketika berbicara kepada Tuhan, “Aku ridha kepada takdir-Mu, aku aku berserah diri kepada-Mu dan mematuhi perintah-Mu.Tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Yang Maha Mendengar munajat!”

Aspek kedua adalah aspek epik perlawanan melawan penindasan yang dilakukan rezim lalim yang berkuasa. Dengan memahami kondisi budaya, politik dan sosial pada masanya, Imam sangat menyadari bahwa masyarakat Islam sedang menuju kematian bertahap dari agama dan nilai-nilai Islam, dan gerakan perlawanan harus muncul untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang ditelah diselewengkan, dan mereformasi masyarakatnya.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam perjuangan Imam Husain dari awal hingga akhir, ada orang-orang yang berangsur-angsur berpisah dari kafilah Husaini, sebaliknnya dan ada yang kemudian bergabung dengan beliau. Misalnya, Hurr bin Yazid Riahi yang menemukan jalan cinta hingga kesyahidannya di jalan Husaini. Tapi ada juga, Umar bin Saad yang memilih jalan kegelapan dengan memerangi Imam Husain.

Imam Husain juga mendengarkan nasihat welas asih dari Abdullah bin Ja’far, suami Sayidah Zainab, dan saudaranya Muhammad bin Hanafiyah dan lainnya – yang didasarkan pada alasan yang kemaslahatan akal. Tetapi Imam Husain tetap melanjutkan perjuangan dengan menggunakan pertimbangan dengan cinta dan jihad di jalan Tuhan. Beliau berkata, “Siapapun yang ingin mewakafkan hidupnya di jalan ini dan telah mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Tuhan, maka bergeraklah bersama kami.”

Dalam perjalanan dari Mekah ke Kufah dan Karbala, Imam Husain juga berseru “Ina lillahi waina ilahi rajiun (Kami dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya)” sebagai bentuk kesadaran beliau menyadari kondisi yang sedang terjadi. Beliau bertindak demi menghadapi penyimpangan pemikiran dan kemerosotan moral masyarakat yang berada di bawah rezim lalim.

Kebangkitan Imam Husain untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang telah diselewengkan penguasa Bani Umayah ketika itu. Hal ini disampaikan Imam Husain dalam surat wasiat yang disampaikan kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyah, “Saya tidak meninggalkan kota ini karena keegoisan dan mencari kesenangan, atau melakukan dan penindasan. Tetapi tujuan perjalanan ini untuk memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan, amr maruf dan nahi munkar. Gerakan ini sebagai perbaikan, dan menghidupkan kembali ketentuan sesuai Sunnah Rasulullah Saw, dan ayahku, Ali bin Abi Thalib.”

Selain itu, sampai saat-saat terakhir hidupnya, Imam Husain secara eksplisit menyatakan posisinya melawan Yazid dengan mengatakan, “Jika tidak ada tempat yang aman bagiku di bumi, aku tetap tidak akan berbaiat kepada Yazid.” Semua ini menunjukkan rasionalitas yang bernas dari peristiwa Asyura.

Salah satu ciri rasional dari kebangkitan Imam Husain adalah keberanian beliau mengungkap kerusakan dan kebobrokan dinasti Umayyah dan menanamkan semangat komitmen terhadap kebenaran. Penekanan khusus Imam terhadap Alquran dan sunah Nabi Muhammad Saw dalam perjuangannya melawan penindasan demi menegakkan keadilan dan kebenaran.

Tentunya, Imam Husain adalah manifestasi sempurna dari akal ilahi, sekaligus juga cinta ilahi. Jika tidak memiliki kecerdasan ilahi, beliau tidak akan memiliki cinta ilahi, dan keduanya tidak akan bisa dipisahkan satu sama lain. Cinta terhadap ibadah dan munajat kepada Allah swt menjadi dasar dari pengorbanan demi menegakkan nilai-nilai Islam.

Kebangkitan Imam Husain merupakan manifestasi dari surat Al-Ahzab ayat 23 yang berbunyi:

مِّنَ الْمُؤْمِنِینَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّـهَ عَلَیْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن یَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِیلً

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”.

Fisuf dan penulis Iran, Mohammad Reza Hakimi berkata, “Ketika seseorang memandang peristiwa Karbala, dia melihatnya sebagai sebuah manifestasi cinta yang indah dan pengorbanan diri maka akan terpesona. Sebab, menghadapi tangan kejam penindas yang penuh kebencian, ia melihat jiwa ksatria Imam Husain yang rela berkorban dengan penuh cinta.

Di satu sisi gerakan Imam Husain sangat logis dan diperhitungkan, dengan metode tertentu dan hasil tertentu. Jalan sejarah Islam, yang dimulai dengan perang menegakkan kebenaran melawan kebatilan diwujudkan dalam kebangkitan Imam Husain. Dengan pertemuan akal dan cinta, gerakan Husaini menghapus tabir kemunafikan dan menghidupkan kembali Islam sejati.

Rahasia keabadian perjuangan Karbala tergambar dalam slogan “Setiap hari adalah Asyura, setiap tanah adalah Karbala” yang menyatukan akal dan cinta dalam perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran.

Imam Husain a.s. lebih menyukai kematian dengan kehormatan daripada hidup dengan penghinaan, sehingga kebebasan dan keadilan akan tetap hidup selamanya. Semoga kita juga bisa mereguk manfaat dari setetes kecil lautan ilmu Imam Husain dan menyerap keagungan jiwanya yang berjuang tanpa pamrih hingga mempersembahkan kesyahidannya.

admin

admin

Related Posts

KEYAKINAN KAMI (IMAMIYAH) TERHADAP KETAATAN KEPADA PARA IMAM AS
Teologi

KEYAKINAN KAMI (IMAMIYAH) TERHADAP KETAATAN KEPADA PARA IMAM AS

August 29, 2025

Oleh: Syekh Muhammad Ridha Muzhaffar Kami meyakini bahwa para Imam adalah para pemilik otoritas (ulil amri) yang telah diperintahkan Allah...

HAK-HAK MASYARAKAT DALAM HADIS NABI SAW
Maarif Islam

HAK-HAK MASYARAKAT DALAM HADIS NABI SAW

August 29, 2025

Oleh: Sayid Sa’id Kazhim al-‘Adzari Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya as telah menekankan pentingnya tolong-menolong, kerja sama, saling berhubungan, dan saling...

AKIDAH KITA (IMAMIYAH) TENTANG HAK SEORANG MUSLIM ATAS MUSLIM LAINNYA
Teologi

AKIDAH KITA (IMAMIYAH) TENTANG HAK SEORANG MUSLIM ATAS MUSLIM LAINNYA

August 29, 2025

Oleh: Syekh Muhammad Ridha Muzhaffar Sesungguhnya salah satu hal paling agung dan indah yang diserukan oleh agama Islam adalah persaudaraan...

BIGORAFI DAN RIWAYAT-RIWAYAT TENTANG KEAGUNGAN AKHLAK DAN ADAB RASULULLAH SAW
Ahlulbait

BIGORAFI DAN RIWAYAT-RIWAYAT TENTANG KEAGUNGAN AKHLAK DAN ADAB RASULULLAH SAW

August 29, 2025

Oleh: Syekh Ja’far Hadi   Berikut ini kami paparkan beberapa informasi ringkas mengenai Nabi Muhammad Rasulullah saw.   Nama dan...

RASUL YANG AGUNG SAW: PENYULUT CAHAYA KEIMANAN
Ahlulbait

RASUL YANG AGUNG SAW: PENYULUT CAHAYA KEIMANAN

August 28, 2025

Oleh: Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi   Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang “Mahasuci (Allah) yang telah menurunkan...

MENETAPKAN OTORITAS PARA FAKIH (AHLI FIKIH)
Fikih

MENETAPKAN OTORITAS PARA FAKIH (AHLI FIKIH)

August 28, 2025

Karya: Muhammad Husain Ali al-Shaghir Syariat Islam telah mengalami kemunduran besar yang setara dengan bencana kemanusiaan, yakni ketika Ahlulbait as...

Next Post

Peperangan Abadi, Asyura.

MAJELIS ASYURA ,IMAM HUSAIN, KEBENARAN LINTAS ZAMAN

Tiga Pelajaran Penting dari Peristiwa Asyura

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ICC Jakarta

Jl. Hj. Tutty Alawiyah No. 35, RT.1/RW.7, Pejaten Barat.
Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510

Telepon: (021) 7996767
Email: iccjakarta59@gmail.com

Term & Condition

Agenda

[tribe_events_list]

HUBUNGI KAMI

Facebook
Telegram

Jadwal Salat Hari Ini

sumber : falak-abi.id
  • Lintang: -6.1756556° Bujur: 106.8405838°
    Elevasi: 10.22 mdpl
Senin, 26 Desember 2022
Fajr04:23:34   WIB
Sunrise05:38:32   WIB
Dhuhr11:53:01   WIB
Sunset18:07:31   WIB
Maghrib18:23:39   WIB
Midnight23:15:32   WIB
  • Menurut Imam Ali Khamenei, diharuskan berhati-hati dalam hal waktu salat Subuh (tidak berlaku untuk puasa) dengan menambah 6-7 menit setelah waktu diatas

© 2022 ICC - Jakarta

No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Sambutan direktur
    • Sejarah Berdiri
  • Kegiatan
    • Berita
    • Galeri
  • Artikel
    • Akhlak
    • Alquran
    • Arsip
    • Dunia Islam
    • Kebudayan
    • Pesan Wali Faqih
    • Press Release
    • Sejarah
  • Hubungi kami

© 2022 ICC - Jakarta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist