Tokoh

Kepandaian Syaikh Mufid dalam Menjawab Pertanyaan-pertanyaan Musuh

ICC Jakarta – Muhammad bin Muhammad bin Nu’man atau dikenal dengan nama Syaikh Mufid lahir pada bulan Zul Qa’dah 366 H di daerah pinggiran kota Baghdad. Ia adalah guru Syaikh Thusi dan Sayyid Murtadha Alamul Huda. Ia seorang pakar agung dalam Ilmu kalam dan menyempurnakan pemikiran teologi Syiah hingga mencapai puncaknya.

Syaikh Mufid hidup dimasa ketika ulama-ulama besar dari berbagai madzhab Islam di pusat pemerintahan Islami, Baghdad. Oleh itu sudah menjadi hal yang lazim jika ia beradu argumen dengan mereka. Kebanyakan perdebatan ini dilaksanakan di depan khulafa. Syaikh Mufid menghadiri majelis ini untuk mempertahankan keyakinan Syiah dan ia berdebat dengan pihak lawan. Ia menjawab keraguan-keraguan yang dilemparkan. Pembahasan-pembahasan ini di berikan secara baik dan jauh dari segala bentuk permusuhan. Karakter ilmiah dan tokoh agama Syaikh Mufid membuat ketika ia meninggal sangat banyak penduduk Baghdad yang mengantarkan jenazahnya, baik orang-orang yang sepaham dengannya maupun yang tidak. Dengan mempertahankan keadaan masyarakat pada zaman Syaikh Mufid, ada upaya perbandingan antara berbagai madzhab Islam, pendapat fikih dan kalam. Setiap pemikir mengetengahkan argumen demi memuaskan pihak lain. Syaikh Mufid dalam hal ini dengan menggunakan prinsip-prinsip kuat Syiah mengemukakan argument sangat baik dan menulis kitab berharga dengan judul Al-I’lam fi ma Ittafaqat alaihi al-Imamiyah alaihi minal Ahkam pada dasarnya merupakan dasar fikih konteporer pertama kali yang dibentuk oleh seorang alim ini. Kemudian langkah itu disempurnakan dan dikembangkan oleh Sayid Murtadha dengan menulis kitab Al-Intishar dan Syaikh Thusi dengan menulis kitab Tadzkirah al-Fuqaha Alamah. Syaikh dalam muqadmah Al-I’lam menulis: “Di kitab ini, saya mengumpulkan persoalan-persoalan fikih baik yang disepakati oleh Ahlus Sunah dan Syiah ataupun sebagian firqah-firqah mereka yang berbeda dengan Syiah dan akan disertakan juga pada awal kitab Awail al-Maqalat fi al-Madzahib wa al-Mukhtarat. Tidak seorang pun yang mendahului hal ini.” Syaikh Mufid adalah tokoh yang menghidupkan ilmu-ilmu agama Islam dan merupakan seorang ahli sejarah, tikoh kebudayaan Syiah dan orang yang menyebarkan fikih Imamiyyah.

Syaikh Mufid melahirkan banyak karya yang hingga kini masih menjadi referensi sarjana Muslim. Ada sekitar 200 karyanya, di antaranya: Arkan Fi Da’a’im Al-Din, Al-‘Uyun wa Al-Mahasin, Ushul Al-Fiqh, Al-Kalam di Wujuh I’jaz Al-Qur’an, Tarikh Al-Syari’ah.

Kebanyakan karya Syaikh Mufid adalah dalam rangka menjawab kritik-kritik yang dilontarkan oleh madzhab Islam lain, dan kebanyakan hal-hal yang dibahasnya berkaitan dengan aqidah dan fiqih Syiah.

Misalnya, risalah Al-Muqni’ah merupakan karya fiqih yang komprehensif dan kuat, mirip dengan Al-Tahdzib karya Syaikh Thusi sebagai salah satu dari empat buku induk hadis. Ibn Nadim juga memuji dan mempelajari risalah itu sebagaimana ia ungkapkan dalam makalah kelima dari Al-Fihrist yang berbahas tentang orang yang berbicara tentang Syiah dengan subjek “Ibn Al-Mu’allim” (putra guru besar).

Pada akhirnya Syaikh Mufid meninggal dunia pada 3 Ramadhan 413 H di malam Jum’at di Baghdad, pada usia 75 tahun. Usia yang relatif panjang itu ia dedikasikan untuk mengabdi pada umat dan ilmu pengetahuan. Berbagai penghormatan diberikan oleh para penduduk. Ia juga mendapat penghargaan dan karunia dari para ulama . Di hari wafat Syaikh Mufid, banyak kawan maupun lawan turut serta menyalati dan menangisi kepergiannya. Delapan puluh ribu para warga Syiah turut mengiringi pemakamannya. Dalam shalat Janazah, Sayyid Murtadha Alamul Huda mengimamai shalat. Makamnya terletak di bagian kaki Imam Muhammad Jawad a.s., dekat dengan kuburan gurunya, Ibn Quluweih.
Syaikh Mufid menulis banyak karya ilmiah di berbagai bidang ilmu pengetahuan agama. Dalam ilmu kalam dan aqidah, ia mengarang Awa’il Al-Muqalat, Syarh Aqa’id Al-Shaduq, Ajwibat Al-Masa’il Al-Suriah, dan Nukat Al-I’tiqadiyah.

Dalam bidang Fiqih, Syaikh Mufid mengarang Al-Muqni’ah. Syaikh memiliki banyak korespondensi dalam masalah-masalah hukum syariat yang kemudian tertuang dalam beberapa karya ilmiah seperti: Al-A’lam, Al-Masa’il Al-Shaghaniyah, Jawabat Ahl Al-Mushil di Al-‘Adad Al-Rawiyah, dan Jawab Ahl Al-Riqah fi Ahl wa Al-‘Adad.

Dalam akhlaq dan etika Islam, Syiakh Mufid menulis Al-Amali, yakni tentang etika Islam dan nilai-nilai keutamaan manusia.

Dalam ilmu-ilmu Hadis juga ia menelorkan banyak karya. Di dalamnya ia meneguhkan pentingnya prinsip imamah, keniscayaan mengikuti Imam Ali a.s. dan kebajikannya. Selain itu, ia juga menerangkan kedudukan Imamat dan filsafat politik dalam islam. Di antara karya tersebut ialah Al-Ifshah fil Al-Imamah, Al-Irsyad, Al-Jamal, Al-Amali, Al-Fushul Al-Mukhtarah dan Tafdhil Amir Al-Mu’minin ala Sa’ir Al-Shahabah.

Syaikh Mufid juga secara khusus menulis karrya tentang kegaiban Imam ke-12, Imam Mahdi a.s. Sebagian isi kitab Al-Irsyad, kitab Al-Fushul Al-‘Asyrah fi Al-Ghaybah, dan Al-Jawabat fi Al-Khuruj Al-Mahdi a.s. ditulis dalam menjelaskan hal-ihwal mengenai Imam Mahdi a.s.

Sumber:

Wiki Shiah
Ensiklopedia Rasyd
Murtadha Muthahari, Khadamat-e Mutaqabel-e Islam va Iran, hlm, 424

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *