Sejarah

Pilihan Nabi Adam as Terhadap Akal

ICC Jakarta – Terdapat hadis yang menjelaskan bahwa Malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk memberikan 3 pilihan kepada Nabi Adam antara lain, akal, agama dan rasa malu. Kemudian Adam memilih akal, yang kemudian agama dan rasa malu ikut Nabi Adam. Agama dan rasa malu menyatakan bahwa Allah telah menyuruh kami selalu bersama akal.” Bagaimana kedudukan hadis ini sebenarnya, apakah hadis ini merupakan hadis sahih?
Dalam beberapa riwayat disebutkan adanya hubungan kuat antara akal, agama dan keduanya dengan rasa malu. Kandungan riwayat ini juga mendapat penegasan pada riwayat-riwayat lainnya meski dari sudut pandang sanad riwayat ini terdapat beberapa orang  yang telah dilemahkan namun kandungan riwayat ini sangat kuat sehingga para ahli hadis seperti Syaikh Kulaini bersandar pada riwayat ini dan menuliskannya pada kitabnya Ushul al-Kafi.
Hadis kedua dari hadis-hadis yang terangkum dalam bab al-‘aql wa al-jahl pada kitab Ushul al-Kafi; terdapat sebuah riwayat yang disebutkan. Dalam riwayat ini, Asbagh bin Nabatah meriwayatkan dari Imam  Ali As sebagai berikut:
“Jibril turun kepada Adam dan berkata, ‘Wahai Adam! Aku ditugaskan supaya engkau  memilih salah satu dari tiga pilihan; karena itu pilihlah salah  satu di  antaranya dan tinggalkan keduanya.’ Adam berkata, ‘Apakah ketiga  pilihan itu?’ ‘Akal,  rasa malu (haya)  dan agama.’ Jawab Jibril.
Adam  berkata, ‘Aku memilih akal.’
Kemudian Jibril berkata  kepada rasa malu dan agama, ‘Silahkan kalian kembali dan biarkanlah ia.’ ‘Wahai Jibril!’ Kami bertugas untuk menemani di manapun akal berada.’ Timpal keduanya.
‘Kalian tahu sendiri.’ Pungkas Jibril kemudian pergi.”[1]

Sanad Riwayat
Syaikh Kulaini menukil riwayat ini dari Ali bin Muhammad, dari Sahal bin Ziyad, dari Amru bin Usman, dari Mufaddhal bin  Saleh, dari Sa’ad bin Thuraif, dari Asbagh bin Nabata, dari Imam Ali As.
Kedudukan dan posisi Syaikh Kulaini jelas bagi setiap orang dan derajatnya witsaqah-nya sangat terang. Ali bin Muhammad salah seorang guru Kulaini dan ia tidak lain  Ali bin Muhammad Alan Kulaini. Najasyi berkata tentangnya, “Ali bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Alan Kulaini adalah seorang tsiqah dan terpercaya. Ia terbunuh di Mekah Mukarramah.[2]
Sahal bin Ziyad; meski dilemahkan,[3] namun dalam satu perkataan Syaikh Thusi; ia telah di-tautsiq dan pada akhirya riwayat ini dapat diandalkan.
Amru bin Usman; yang bergelar al-Khazar termasuk sebagai orang tsiqah dan terpercaya.[4]
Mufaddhal bin Saleh; pada sebagian ungkapan Najjasyi[5] dan Ibnu Ghadhairi[6] telah dilemahkan, meski para ulama rijal lainnya tidak berbicara tentangnya.[7]
Sa’ad bin Thuraif; ia adalah salah seorang hakim pemerintahan yang menukil riwayat dari Imam Baqir As dan Imam Shadiq As. Dengan memperhatikan ucapan Najjasyi tentangnya, dapat disimpulkan bahwa validitas riwayatnya bergantung pada beberapa indikasi yang terdapat pada setiap riwayat. Dengan adanya indikasi-indikasi seperti itu, riwayatnya dapat diterima.[8]
Asbagh bin Nabata yang merupakan salah seorang pembesar dan sahabat khusus Imam Ali As  dan hidup beberapa setelah kesyahidan Imam Ali As. Ia meriwayatkan surat Malik bin Asytar yang terkenal itu dan wasiat Imam Ali As kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.[9]
Bagaimanapun, riwayat  ini disebabkan adanya beberapa orang seperti Sahal bin Ziyad dan Mufadhdhal bin Saleh dalam mata rantai sanad dan dari sisi lainnya terdapat beberapa ulama besar seperti Muhammad Baqir Majlisi Rah melemahkannya.[10]

Petunjuk dan Kandungan Hadis

Riwayat yang menjadi obyek bahasan adalah bukti kedudukan tinggi akal dan keharusan penyertaan agama dan rasa malu dengannya sedemikian sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan adanya akal; agama dan rasa malu  juga akan hadir menyertai dan akal adalah pemimpin bagi keduanya.
Hal ini juga dapat disimpulkan  dari riwayat lainnya. Dalam  sebagian riwayat disebutkan, “Akal adalah sesuatu yang dengannya Tuhan disembah dan dengan perantaranya surga akan diraih.”[11] Atau pada riwayat lainnya, “Barang siapa yang berakal maka ia telah beragama dan barang siapa yang beragama maka ia akan memasuki surga.’[12]
Boleh jadi kandungan riwayat ini pada sebagian riwayat lainnya telah menyebabkan, meski adanya sebagian orang lemah dalam mata rantai periwayatan riwayat ini, karena kandungannya yang kuat dan mendapat sokongan, riwayat ini disebutkan dalam kitab-kitab hadis seperti al-Kâfi.
Yang dimaksud dengan turunnya Jibril adalah bahwa pada masa hidup Nabi Adam As terjadi dialog di bumi antara Jibril dan Adam. Yaitu pada masa ketika Nabi Adam As menjadi khalifah di muka bumi dan memiliki akal, kesempurnaan, rasa malu dan agama! Karena itu untuk menjelaskan hal ini yang boleh jadi maksud pemilihan Adam dalam memilih salah satu dari akal, agama dan rasa malu, untuk sampai pada kesempurnaan ketiganya harus dimiliki.[13]
Dengan kata lain,  ucapan ini, memiliki sisi edukasi  sehingga Nabi Adam dapat sampai pada kesempurnaan ideal karena akal merupakan karunia besar dan Allah Swt menganugerahkan karunia besar ini kepadanya sehingga dengan perantara ini ia lebih banyak bersyukur kepada Allah Swt.
Persoalan lainnya tentang “engkau tahu sendiri” yang disampaikan Jibril  kepada rasa malu dan agama. Seolah Jibril As tidak mengetahui bahwa rasa malu dan agama selalu menyertai di  manapun akal berada; dan kemudian setelah Adam memilih, ia memerintahkan kepada  keduanya untuk berpisah dari akal. Keduanya  dalam menjawab  perkataan Jibril menyampaikan, “Di  manapun akal berada kami akan selalu menyertai!” Dan kemudian Jibril menimpali, “Berbuatlah apa pun yang kalian sendiri ketahui.”
Karena itu, meski riwayat ini memiliki sebagian kelemahan sanad, namun secara keseluruhan dapat diterima dan diyakini bahwa hadis ini disampaikan oleh seorang maksum  As.  [iQuest]

[1]. Muhammad bin Yakub Kulaini, al-Kâfi, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, jil. 1, hal. 10, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
[2]. Ahmad Ali Najjasyi, Fahrast Asma Mushannaf al-Syi’ah (Rijâl Najjâsyi), hal. 260, Qum, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Keenam, 1365 S.
[3]Ibid, hal. 185.
[4]. Muhammad bin Hasan, Syaikh Thusi, al-Abwâb (Rijâl Thusi), Riset dan edit oleh Jawad Qayyumi Isfahani, hal. 387, Qum, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Ketiga, 1427 H.
[5]Rijâl Najjâsyi, hal. 287.
[6]Ibid, hal. 128.
[7]. Ahmad bin Husain Ghadhairi, Kitâb al-Dhua’fa, hal. 88, Qum, Muassasah Ismailiyan, 1364 H.
[8]Rijâl Najjâsyi, hal. 187.
[9]Ibid, hal. 8.
[10]. Muhammad Baqir Majlisi, Mir’at al-‘Uqul fi Syarh Akhbâr Âli al-Rasul, Riset dan edit oleh Sayid Hasyim Rasuli, jil. 1, hal. 32, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Kedua, 1404 H.
[11]Al-Kâfi, jil. 1, hal. 11.
[12]Ibid. 
[13]Mir’at al-‘Uqul fi Syarh Akhbâr Âli al-Rasul, jil. 1, hal. 32.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *