Skip to main content

Kelas tafsir maudhu’i di Islamic Cultural Center (ICC) bersama Ustaz Hafidh Alkaf pada Kamis malam menghadirkan pembahasan mengenai kecerdasan sosial menurut Al-Qur’an. Dalam pemaparan awalnya, Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan gambaran sangat luas tentang bagaimana manusia seharusnya berperilaku dalam kehidupan sosial. Meskipun pembahasannya sangat luas, Ustaz Hafidh Alkaf memilih menyoroti sejumlah prinsip dasar yang menjadi pondasi pergaulan manusia.

Pembahasan dimulai dari pengakuan Al-Qur’an terhadap kehormatan manusia. Menurut Ustaz Hafidh Alkaf, Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan, sekalipun secara ekonomi, kondisi fisik, atau status sosial berada di bawah kita. Ustaz Hafidh Alkaf mengutip firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat 70 yang berbunyi wa laqad karramnâ banî âdama, “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” Beliau menjelaskan bahwa kemuliaan tersebut dilihat dari sisi zat manusia itu sendiri maupun dari sisi penciptaannya. Hal ini ditegaskan kembali dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Ustaz Hafidh Alkaf kemudian menyinggung prinsip kedua, yaitu pentingnya berkata-kata baik kepada siapa pun. Beliau mengutip Surah Al-Baqarah ayat 83, wa qûlû lin-nâsi ḥusnâ, “Bertutur katalah yang baik kepada manusia.” Menurutnya, ayat ini bukan hanya perintah untuk berbicara baik kepada orang dekat atau orang yang kita sukai, tetapi juga kepada semua orang, termasuk orang yang memusuhi kita. Hal ini ditegaskan melalui kisah Nabi Musa ketika ia menerima panggilan dari Allah di perjalanan bersama keluarganya. Allah berfirman kepadanya dalam Surah Thaha ayat 12, innî anâ rabbuka fakhla‘ na‘laîk, innaka bil-wâdil-muqaddasi thuwâ, “Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa.” Allah kemudian berfirman dalam ayat 13, wa anakhtartuka fastami‘ limâ yûḥâ, “Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu.” Nabi Musa kemudian memohon agar diberi penolong dari keluarganya. Dalam ayat 29–30, disebutkan doanya, waj‘al lî wazîram min ahlî, hârûna akhî, “Jadikanlah untukku seorang penolong dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku.” Allah mengutus Musa dan Harun untuk berdakwah kepada Fir‘aun dan memerintahkan mereka berkata dengan penuh kelembutan. Ustaz Hafidh Alkaf mengutip ayat 44 dari Surah Thaha, fa qûlâ lahû qaulan layyinan la‘allahû yatadzakkaru au yakhsyâ, “Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”

Dari prinsip tersebut, Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa Al-Qur’an menuntun manusia untuk menghindari kata-kata yang menyakiti orang lain seperti ghibah, mencela, atau menghina. Beliau mengutip Surah Al-Hujurat ayat 11, yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaskhar qaumum ming qaumin ‘asâ ay yakûnû khairam min-hum wa lâ nisâ’um min nisâ’in ‘asâ ay yakunna khairam min-hunn, wa lâ talmizû anfusakum wa lâ tanâbazû bil-alqâb, bi’sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân, wa mal lam yatub fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain karena boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan memanggil dengan julukan buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.” Beliau juga menambahkan peringatan dalam Surah An-Nur ayat 15, idz talaqqaunahû bi’alsinatikum wa taqûlûna bi’afwâhikum mâ laisa lakum bihî ‘ilmuw wa taḥsabûnahû hayyinan wa huwa ‘indallâhi ‘aẓîm, “(Ingatlah) ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar.” Menurutnya, ayat ini menegaskan bahwa kata-kata yang tampak sepele dalam pandangan manusia dapat bernilai besar dan berat di sisi Allah.

Ustaz Hafidh Alkaf kemudian berpindah pada prinsip ketiga, yaitu keadilan. Beliau menjelaskan bahwa manusia sering kali cenderung berlaku adil hanya kepada orang-orang yang mereka sukai. Beliau mencontohkan kondisi masyarakat Indonesia yang kerap terbelah dua dalam konteks pilihan politik, sehingga sebagian orang lebih memilih mencari kesalahan kelompok lawan dan mengabaikan kekurangan kelompok sendiri. Ustaz Hafidh Alkaf mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 8, yâ ayyuhalladzîna âmanû kûnû qawwâmîna lillâhi syuhadâ’a bil-qisthi wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin ‘alâ allâ ta‘dilû, i‘dilû huwa aqrabu lit-taqwâ, wattaqullâh, innallâha khabîrum bimâ ta‘malûn, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang bertindak dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena adil lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Prinsip berikutnya adalah berbuat kebajikan. Ustaz Hafidh Alkaf menerangkan bahwa segala bentuk kebaikan—baik berupa materi, kata-kata, tenaga, doa, maupun gagasan—merupakan bagian dari amal saleh. Beliau mengutip Surah An-Nahl ayat 90, innallâha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsâni wa îtâ’i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-faḥsyâ’i wal-munkari wal-baghy, ya‘idhukum la‘allakum tadzakkarûn, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”

Ustaz Hafidh Alkaf kemudian membahas prinsip memaafkan, karena manusia tidak luput dari kesalahan dan selalu membutuhkan maaf dari orang lain. Beliau mengutip Surah Asy-Syura ayat 40, wa jazâ’u sayyi’atin sayyi’atum mitsluhâ, fa man ‘afâ wa ashlaḥa fa ajruhû ‘alallâh, innahû lâ yuḥibbudh-dhâlimîn, “Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” Ustaz Hafidh Alkaf menambahkan bahwa Al-Qur’an bahkan mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar memaafkan, yaitu membalas keburukan dengan kebaikan. Beliau mengutip Surah Fussilat ayat 34, wa lâ tastawil-ḥasanatu wa las-sayyi’ah, idfa‘ billatî hiya aḥsanu fa idzalladzî bainaka wa bainahû ‘adâwatun ka’annahû waliyyun ḥamîm, “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang bermusuhan denganmu menjadi seperti teman yang sangat setia.”

Dalam penjelasan berikutnya, Ustaz Hafidh Alkaf menyinggung pentingnya kesehatian dan kerja sama. Beliau mengatakan bahwa masyarakat ideal adalah masyarakat yang tidak saling memusuhi dan gemar bergotong royong. Hal ini disampaikan Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwân, “Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Ustaz Hafidh Alkaf kemudian menekankan amanah sebagai prinsip sosial berikutnya. Beliau mengutip Surah An-Nisa’ ayat 58, innallâha ya’murukum an tu’addul-amânâti ilâ ahlihâ, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya.” Amanah, menurutnya, tidak hanya terbatas pada titipan barang, tetapi juga pada jabatan, tanggung jawab publik, bahkan kata-kata dan janji.

Beliau juga menjelaskan larangan berbuat zalim, mengutip Surah Al-Baqarah ayat 279, lâ tadhlimûna wa lâ tudhlamûn, “Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi.” Ustaz Hafidh Alkaf menambahkan Surah Al-A’raf ayat 85, wa lâ tabkhasun-nâsa asy-yâ’ahum, “Dan janganlah kamu merugikan hak-hak orang lain sedikit pun.” Menurutnya, ayat ini menegaskan bahwa kezaliman dalam bentuk sekecil apa pun tidak diperbolehkan dalam syariat.

Ustaz Hafidh Alkaf kemudian kembali menekankan pentingnya saling menghormati, terutama dalam interaksi sosial yang sering diwarnai prasangka dan penilaian negatif. Beliau mengutip Surah Al-Hujurat ayat 12, wa lâ yaghtab ba‘dlukum ba‘dlâ, “Janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain,” serta kembali mengingatkan Surah Al-Hujurat ayat 11, lâ yaskhar qaumum ming qaumin, “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.”

Menjelang akhir pengajian, Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat terdapat berbagai tipe relasi sosial. Beliau menegaskan bahwa perlakuan kepada keluarga berbeda dengan perlakuan kepada masyarakat luas, dan hubungan dengan sesama mukmin berbeda dengan hubungan dengan nonmukmin. Semua itu memiliki ketentuan masing-masing dalam Al-Qur’an, dan bagian dari kecerdasan sosial adalah menempatkan diri sesuai konteks pergaulan yang ada.

Dengan rangkaian penjelasan tersebut, kelas tafsir maudhu’i malam itu memberikan gambaran luas dan mendalam bahwa kecerdasan sosial menurut Al-Qur’an tidak hanya berisi etika dasar, tetapi juga kerangka moral yang mengatur kehormatan manusia, adab berbicara, keadilan, kebaikan, kerja sama, amanah, serta kemampuan mengelola beragam hubungan sosial. Al-Qur’an, menurut Ustaz Hafidh Alkaf, menawarkan panduan lengkap untuk membangun masyarakat yang beradab, harmonis, dan berkeadilan.

Leave a Reply