Jumat, 5 Desember 2025, Kelas Tafsir Tartibi di ICC Jakarta kembali menghadirkan kajian tafsir rutin bersama Ustaz Umar Shahab. Pada pertemuan ini, beliau membahas rangkaian ayat dalam Surah Al-Baqarah yang menggambarkan perjalanan spiritual Bani Israil, khususnya ketika Nabi Musa as menerima janji dari Allah swt dan berbagai bentuk nikmat serta ujian yang diberikan kepada mereka.
Dalam penjelasannya, Ustaz Umar Shahab memulai dari ayat ke-51 Surah Al-Baqarah untuk menjelaskan peristiwa ketika Nabi Musa as dijanjikan oleh Allah swt untuk bermunajat selama empat puluh malam, namun pada saat itu Bani Israil justru kembali tergelincir dalam kemaksiatan. Beliau membacakan ayat tersebut dalam transliterasi latin:
wa idz wâ‘adnâ mûsâ arba‘îna lailatan tsumattakhadztumul-‘ijla mim ba‘dihî wa antum dhâlimûn
“(Ingatlah) ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama) empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 51)
Beliau kemudian melanjutkan dengan ayat berikutnya yang menegaskan kemurahan Allah swt.
tsumma ‘afawnâ ‘angkum mim ba‘di dzâlika la‘allakum tasykurûn
“Setelah itu, Kami memaafkan kamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 52)
Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa dua ayat ini menunjukkan salah satu nikmat terbesar yang Allah swt berikan kepada Bani Israil. Meskipun mereka telah melakukan dosa sangat besar dengan menyembah patung anak sapi, Allah swt masih memberikan maaf kepada mereka. Hal ini menjadi gambaran betapa luas kasih sayang dan ampunan Allah swt, bahkan kepada kaum yang telah berkali-kali diberi peringatan.
Beliau kemudian membaca ayat selanjutnya:
wa idz âtainâ mûsal-kitâba wal-furqâna la‘allakum tahtadûn
“(Ingatlah) ketika Kami memberikan kitab (Taurat) dan furqān kepada Musa agar kamu memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 53)
Menurut penjelasan beliau, ayat ini juga menunjukkan nikmat besar yang diberikan Allah swt kepada Bani Israil, yaitu turunnya kitab Taurat dan furqan. Beliau menyampaikan bahwa furqan bisa dimaknai sebagai Taurat itu sendiri, tetapi para ulama juga memaknainya sebagai mukjizat Nabi Musa as, berupa kemampuan membedakan dengan jelas antara kebaikan dan keburukan, atau berbagai karunia lain yang Allah swt berikan kepada mereka.
Ustaz Umar Shahab melanjutkan kajian dengan ayat berikut:
wa idz qâla mûsâ liqaumihî yâ qaumi innakum dhalamtum anfusakum bittikhâdzikumul-‘ijla fa tûbû ilâ bâri’ikum faqtulû anfusakum, dzâlikum khairul lakum ‘inda bâri’ikum, fa tâba ‘alaikum, innahû huwat-tawwâbur-raḫîm
“(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 54)
Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kembali konteks ayat ke-51. Allah swt memerintahkan mereka untuk bertobat dengan perintah yang sangat berat, yaitu “bunuhlah dirimu”. Para ulama berbeda pendapat apakah maksudnya adalah membunuh diri sendiri atau membunuh orang-orang yang terlibat dalam penyembahan patung tersebut sebagai bentuk penebusan dosa. Menurut beliau, perintah ini menggambarkan besarnya pelanggaran yang dilakukan oleh Bani Israil karena telah menyekutukan Allah swt. Akan tetapi pada akhirnya Allah swt memaafkan mereka, dan itu merupakan salah satu nikmat yang kembali diberikan kepada kaum tersebut.
Kajian kemudian berlanjut pada ayat berikut:
wa idz qultum yâ mûsâ lan nu’mina laka ḫattâ narallâha jahratan fa akhadzatkumush-shâ‘iqatu wa antum tandhurûn
“(Ingatlah) ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.’ Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikan(-nya).” (QS. Al-Baqarah [2]: 55)
tsumma ba‘atsnâkum mim ba‘di mautikum la‘allakum tasykurûn
“Kemudian, Kami membangkitkan kamu setelah kematianmu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 56)
Dalam penjelasannya, Ustaz Umar Shahab menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan keras kepala dan kebodohan Bani Israil. Meskipun telah melihat mukjizat Nabi Musa as secara langsung, mereka tetap meminta sesuatu yang mustahil, yakni melihat Allah swt dengan mata kepala. Beliau menekankan bahwa yang diajak Nabi Musa as pada saat itu bukanlah orang awam, tetapi orang-orang pilihan. Namun mereka tetap menganggap Allah swt sebagai sesuatu yang bersifat jasmani, sehingga mereka menuntut untuk melihat-Nya. Akibatnya, Allah swt menghukum mereka dengan sambaran petir hingga meninggal, lalu menghidupkan mereka kembali sebagai bukti bahwa permintaan mereka adalah sesuatu yang mustahil. Penjelasan ini, menurut beliau, juga menjadi dalil bahwa menghidupkan kembali orang yang telah meninggal bukanlah hal mustahil bagi Allah swt.
Untuk memperkuat penjelasan tersebut, beliau membacakan ayat dalam Surah Al-Ma’idah tentang mukjizat Nabi Isa as:
idz qâlallâhu yâ ‘îsabna maryamadzkur ni‘matî ‘alaika wa ‘alâ wâlidatik, idz ayyattuka birûḫil-qudus, tukallimun-nâsa fil-mahdi wa kahlâ, wa idz ‘allamtukal-kitâba wal-ḫikmata wat-taurâta wal-injîl, wa idz takhluqu minath-thîni kahai’atith-thairi bi’idznî fa tanfukhu fîhâ fa takûnu thairam bi’idznî wa tubri’ul-akmaha wal-abrasha bi’idznî, wa idz tukhrijul-mautâ bi’idznî, wa idz kafaftu banî isrâ’îla ‘angka idz ji’tahum bil-bayyinâti fa qâlalladzîna kafarû min-hum in hâdzâ illâ siḫrum mubîn
“(Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. (Ingatlah) ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) hikmah, Taurat, dan Injil. (Ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah (sesuatu) seperti bentuk burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) pada waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.’” (QS. Al-Ma’idah [5]: 110)
Dalam uraian beliau, setiap mukjizat Nabi Isa as selalu diakhiri dengan ungkapan bi-idznî yang berarti “dengan izin-Ku”. Ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa alam semesta berjalan mengikuti ketetapan umum yang telah diciptakan oleh Allah swt, seperti hukum kausalitas. Namun ada kondisi-kondisi tertentu di mana ketetapan itu dapat berubah melalui izin khusus dari Allah swt, yaitu apa yang disebut sebagai mukjizat. Beliau menjelaskan bahwa izin tersebut terbagi menjadi dua kategori: izin yang terkait dengan alam semesta dan izin yang terkait dengan hukum syariat. Sebagai contoh, hukum haramnya daging babi dapat dikecualikan apabila seseorang berada dalam kondisi darurat.
Selanjutnya, Ustaz Umar Shahab mengutip ayat lain dalam Surah Al-Baqarah yang juga menunjukkan kemampuan Allah swt menghidupkan orang mati:
a lam tara ilalladzîna kharajû min diyârihim wa hum ulûfun ḫadzaral-mauti fa qâla lahumullâhu mûtû, tsumma aḫyâhum, innallâha ladzû fadllin ‘alan-nâsi wa lâkinna aktsaran-nâsi lâ yasykurûn
“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dalam jumlah ribuan karena takut mati? Lalu, Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu!’ Kemudian, Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah Pemberi karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 243)
Beliau menambahkan ayat lain yang menggambarkan peristiwa serupa:
au kalladzî marra ‘alâ qaryatiw wa hiya khâwiyatun ‘alâ ‘urûsyihâ, qâla annâ yuḫyî hâdzihillâhu ba‘da mautihâ, fa amâtahullâhu mi’ata ‘âmin tsumma ba‘atsah, qâla kam labitst, qâla labitstu yauman au ba‘dla yaûm, qâla bal labitsta mi’ata ‘âmin fandhur ilâ tha‘âmika wa syarâbika lam yatasannah, wandhur ilâ ḫimârik, wa linaj‘alaka âyatal lin-nâsi wandhur ilal-‘idhâmi kaifa nunsyizuhâ tsumma naksûhâ laḫmâ, fa lammâ tabayyana lahû qâla a‘lamu annallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr
“Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah kehancurannya?’ Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, ‘Berapa lama engkau tinggal (di sini)?’ Dia menjawab, ‘Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali).’ Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, ‘Aku mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 259)
Dalam penjelasan beliau, ayat ini memperlihatkan bagaimana Allah swt membangkitkan seseorang setelah seratus tahun kematian untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Kisah ini, menurut beliau, memperkuat pelajaran tentang kemampuan Allah swt menghidupkan kembali yang telah mati sebagai bagian dari hikmah besar yang diulang dalam berbagai ayat.



