Khutbah Jumat ICC Jakarta pada 5 Desember 2025 disampaikan oleh Ustaz Abdullah Beik. Dalam khutbahnya, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan pertanyaan mendasar tentang apa yang dapat dilakukan setiap muslim untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah Swt. Salah satu cara, menurut beliau, adalah dengan memahami secara benar makna musibah dan menjadikannya pelajaran untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Ustaz Abdullah Beik menyampaikan bahwa baru-baru ini terjadi musibah di sebagian wilayah Indonesia, berupa banjir besar yang menimbulkan korban jiwa, luka-luka, kerugian material, dan kerusakan infrastruktur. Peristiwa ini, menurut beliau, perlu dikaji dan direnungkan agar menjadi pelajaran dalam meningkatkan iman dan ketakwaan.
Beliau menjelaskan bahwa sebagian orang memaknai musibah sebagai sesuatu yang sepenuhnya dinisbatkan kepada Allah Swt sehingga seolah-olah tidak ada hal lain yang dapat dilakukan manusia kecuali menerima dan memohon ampun. Ustaz Abdullah Beik menekankan perlunya memahami sudut pandang lain sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu bahwa banyak hal memang dinisbatkan kepada Allah Swt, tetapi pada saat yang sama terkait pula dengan perbuatan manusia.
Beliau kemudian membacakan firman Allah Swt:
“Wa mâ min dâbbatin fil-ardli illâ ‘alallâhi rizquhâ wa ya‘lamu mustaqarrahâ wa mustauda‘ahâ, kullun fî kitâbim mubîn.”
Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). Hud · Ayat 6.
Beliau juga mengutip hadis yang menjelaskan bahwa manusia tidak akan mati kelaparan karena Allah Swt telah menyiapkan rezeki untuk semua makhluk. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa pemahaman yang benar tidak boleh berhenti pada keyakinan bahwa rezeki sudah ditentukan lalu manusia tinggal menunggu tanpa berusaha. Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa memahami satu ayat tanpa ayat lainnya akan menimbulkan kesalahan pandang.
Selanjutnya beliau menyampaikan ayat berikut sebagai penegasan kewajiban manusia untuk berusaha:
“Fa idzâ qudliyatish-shalâtu fantasyirû fil-ardli wabtaghû min fadllillâhi wadzkurullâha katsîral la‘allakum tufliḥûn.”
Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Al-Jumu’ah · Ayat 10.
Ustaz Abdullah Beik juga mengisahkan ayat tentang Sayyidah Maryam ketika menghadapi proses persalinan, di mana Allah Swt memerintahkannya untuk berusaha mengambil makanan:
“Wa huzzî ilaiki bijidz‘in-nakhlati tusâqith ‘alaiki ruthaban janiyyâ.”
Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu. Maryam · Ayat 25.
Beliau menegaskan bahwa Allah Swt tidak memberikan makanan secara langsung kepada Sayyidah Maryam, tetapi justru memerintahkannya untuk berusaha. Menurut beliau, hal ini menunjukkan bahwa usaha adalah bagian dari sunnatullah bagi semua manusia, termasuk dalam menghadapi musibah.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan ayat lain yang menjelaskan hubungan musibah dengan perbuatan manusia:
“Dhaharal-fasâdu fil-barri wal-baḥri bimâ kasabat aidin-nâsi liyudzîqahum ba‘dlalladzî ‘amilû la‘allahum yarji‘ûn.”
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ar-Rum · Ayat 41.
Ustaz Abdullah Beik menyampaikan bahwa ayat ini mengajarkan pentingnya introspeksi. Manusia sebagai khalifah di muka bumi memikul amanah untuk mengurus segala sesuatu sesuai tempatnya. Beliau menegaskan bahwa setiap profesi memiliki amanah masing-masing dan jika amanah itu dipahami, maka manusia akan melaksanakannya dengan penuh kehati-hatian. Sebaliknya, jika jabatan hanya dianggap sebagai sarana memenuhi hawa nafsu, maka akan muncul penyimpangan dan kelalaian terhadap tanggung jawab.
Beliau mengingatkan bahwa keputusan atau peraturan yang diterapkan dalam sebuah negeri memerlukan kajian ilmiah, musyawarah, dan pendapat para ahli. Jika amanah dilaksanakan dengan baik, menurut beliau, kehidupan akan berjalan sesuai harapan dan terhindar dari musibah. Beliau juga menegaskan bahwa gaji yang diterima dari amanah yang tidak dilaksanakan dengan benar dapat menjadi sesuatu yang haram dan menjadi api neraka.
Ustaz Abdullah Beik menambahkan bahwa kelalaian dalam melaksanakan tugas bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada masyarakat luas, bahkan generasi penerus. Beliau mencontohkan bahwa ketika para pejabat tidak menjalankan tugas dengan baik, kebijakan sembrono dapat muncul dan membahayakan banyak orang. Oleh karena itu setiap individu memikul tanggung jawab, baik dalam skala kecil maupun besar.
Beliau kemudian mengingatkan bahwa musibah yang menimpa saudara-saudara seiman juga menjadi ujian bagi masyarakat: apakah hanya diam menonton atau tergerak membantu. Ustaz Abdullah Beik menyampaikan bahwa menghadapi musibah dengan kepedulian sosial termasuk bagian dari upaya menaikkan derajat keimanan dan ketakwaan. Beliau menekankan pentingnya memberikan sebagian dari apa yang Allah Swt berikan agar seseorang dinilai lulus dalam ujian ini.
Pada khutbah kedua, Ustaz Abdullah Beik kembali mengajak jamaah untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah Swt dengan melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menjalankan kewajiban ibadah dan amal sosial. Beliau mengingatkan pentingnya menunaikan zakat, infak, dan kewajiban lain yang terkait dengan harta.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa kewajiban tersebut dapat dilaksanakan dengan mempelajari dan meneladani Rasulullah Saw dan Ahlulbait As. Hal ini juga menjadi makna dari peringatan hari kelahiran dan wafat Nabi Muhammad Saw dan Ahlulbait As. Beliau menyampaikan bahwa beberapa hari ke depan, umat Islam akan memperingati kelahiran putri Nabi Saw, Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa. Menurut beliau, memperingati dan mendengarkan kembali keutamaan Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa merupakan kewajiban agar umat semakin mengenal kepribadian luhur dan berbagai contoh kehidupan beliau.
Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa dengan mengenang perjalanan hidup dan keutamaan putri Nabi Saw, umat akan memiliki kekuatan untuk menjauhkan sifat-sifat buruk dari diri sendiri dan menghadapi godaan dari manusia-manusia yang berupaya menjauhkan umat dari nilai-nilai Ahlulbait As dan Al-Qur’an.



