Pada penyelenggaraan NGOBRAS (Ngobrolin Agama & Sains) Seri ke-4 di ICC Jakarta, Dimitri Mahayana, dosen STEI ITB Bandung, memberikan pemaparan komprehensif mengenai hakikat kecerdasan buatan dari perspektif ilmu rekayasa dan pemrograman model bahasa. Penjelasan beliau berfokus pada bagaimana AI bekerja pada level matematis, apa batasan fundamentalnya, dan mengapa ia tidak dapat disejajarkan dengan kreativitas manusia yang bersumber dari alam imajinal sebagaimana dijelaskan Mulla Sadra.
Beliau memulai penjelasannya dengan menguraikan bahwa ketika AI menghasilkan sebuah kalimat, yang sesungguhnya terjadi adalah kerja mesin yang digerakkan oleh algoritma. Model yang paling terkenal saat ini adalah large language model (LLM), meskipun mulai berkembang short language model yang lebih kecil namun akurat pada bidang tertentu. Model ini dilatih dengan membaca jutaan halaman teks, lalu merangkai kalimat dengan cara meniru pola-pola yang digunakan para penulisnya. Dari sini muncul pertanyaan: apakah proses itu dapat disebut kreativitas? Menurut beliau, jika kreativitas itu dipahami sebagai kreativitas imitasi, hasil AI memang sering tampak dahsyat.
Namun dalam bidang rekayasa, terutama pada tugas akhir mahasiswa, penggunaan AI justru kerap dilarang karena mahasiswa terkadang mengandalkan teks yang ia sendiri tidak pahami. Dalam pandangan beliau, pengembangan akal imajinal manusia hanya akan efektif jika level empirik dan rasional seseorang telah optimal. Jika fondasi empiris dan rasional saja belum terbentuk, maka tidak ada daya imajinal yang dapat dikembangkan.
Setelah memberikan konteks tersebut, beliau beralih pada sudut pandang teknis sebagai pengembang AI. Beliau menegaskan bahwa AI bukan “pemikiran” atau “kesadaran” bagi para pengembangnya; AI hanyalah rumus dan data. Dasarnya adalah fungsi matematika yang mengolah input berupa angka dan memproduksi keluaran angka. Sesederhana itu. Kesulitannya bukan pada prinsipnya, tetapi pada cara memfungsikannya. Jumlah angka yang menjadi input sangat besar, dan seluruh bahasa manusia dikonversi ke dalam angka melalui metode vektorisasi. Dengan vektor, fungsi, dan penyusunan bahasa manusia ke dalam angka-angka berstruktur tertentu, muncul AI yang tampak seolah memiliki jiwa atau seolah hidup. Namun menurut beliau, hakikatnya sama seperti kalkulator, sebagaimana pernah ditegaskan Noam Chomsky: ia hanya menjalankan relasi matematis.
Beliau menjelaskan bahwa AI memiliki banyak parameter matematika dengan probabilitas tertentu, dan generasi awal yang pertama kali populer adalah ChatGPT-3. Salah satu fakta menarik adalah bahwa hampir semua platform AI besar menggunakan dataset pelatihan yang sama, terutama Common Crawl, LAION-5B, dan The Pile. Karena itu, tanpa data manusia, AI tidak dapat menghasilkan apa pun. AI sepenuhnya bergantung pada pengembang, penyedia data, dan penyusun arsitektur matematikanya. Sebab itu, kutipan dari AI harus hati-hati; AI dapat keliru, sehingga ia perlu diberi data terlebih dahulu agar tidak sembarangan membuat kutipan.
Beliau menegaskan bahwa AI tidak merasakan apa pun, tidak memiliki intensi, dan tidak bebas. Ketergantungannya pada programmer membuatnya tidak memiliki otonomi. Bahkan beberapa AI dapat mengandung bias. AI juga tidak kreatif karena ia tidak memiliki sumber daya kreatif apa pun selain relasi matematis yang ditanamkan padanya. Meski demikian, sebagai perangkat, AI tetap sangat cerdas dalam menjalankan fungsinya. Tidak ada misteri di dalam AI; tidak ada persamaan yang luar biasa rumit. Setelah arsitekturnya dipahami, siapa pun dapat memrogram dan mengembangkan AI. Karena itu, riset AI di berbagai bidang kini mendominasi lebih dari 50% tema penelitian, terutama untuk menjelajahi batas-batas perangkat ini.
Pada bagian akhir, Dimitri Mahayana mengaitkan penjelasan teknis ini dengan filsafat Mulla Sadra. Beliau menjelaskan bahwa Mulla Sadra membagi wujud ke dalam tiga alam: alam imateri murni, alam materi, dan alam tengah yang disebut alam mitsal. Semua wujud berawal dari wujud imateri yang tunggal. Karena wujud imateri tidak langsung dapat menurunkan diri menjadi wujud materi, maka terdapat alam tengah yang berisi tubuh-tubuh halus yang “mengambang” antara dua tingkat wujud tersebut. Di alam itulah bentuk-bentuk makna mengambil “jasad” halus tanpa menjadi materi. Menurut beliau, kreativitas manusia bersumber dari alam imajinal ini. Bahkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Albert Einstein berkarya melalui daya imajinal yang menjangkau bentuk-bentuk makna sebelum hadir dalam bentuk rumusan teoritis.
Beliau memaparkan beberapa argumen Mulla Sadra mengenai keberadaan alam imajinal. Pertama, argumen gradasi wujud: terdapat kesenjangan ontologis antara wujud imateri yang tunggal dan wujud materi yang tersusun, sehingga alam imajinal harus ada sebagai perantara. Kedua, penjelasan dari teori sufi bahwa segala wujud di alam adalah manifestasi dari Tuhan. Ketiga, keberadaan alam mimpi yang tidak dibangun oleh pengalaman sensorik melainkan berasal dari inspirasi alam lebih luhur. Karena itu, ilmuwan besar dalam sejarah selalu memiliki daya imajinasi yang kuat. Mulla Sadra sendiri pernah berkata bahwa penguasaannya atas filsafat Aristotelian merupakan hikmah yang diturunkan dari atas, yang kemudian dipertahankan melalui argumentasi rasional.
Beliau juga menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dan jasad terurai, tubuh yang tersisa adalah tubuh ruhani yang kemudian menjadi tubuh jiwa di akhirat. Dari sini beliau menegaskan bahwa sumber kreativitas manusia berasal dari tajalli Ilahi. Sementara AI hanya mengolah input dari manusia dengan arsitektur model tertentu. AI tampak komprehensif karena datanya melimpah, bukan karena ia memiliki kreativitas. Kreativitas manusia bersemayam di alam mitsal; sedangkan AI hanya menyerupai manusia secara fungsional karena banyaknya data yang diproses. Karena itu, keduanya tidak dapat dibandingkan.



