Majelis Taklim Akhwat ICC Zainab Al-Kubro kembali diselenggarakan pada Rabu, 17 Desember 2025, dengan menghadirkan narasumber Direktur ICC, Syaikh Mohammad Sharifani. Pada kesempatan ini, Syaikh Mohammad Sharifani memulai ceramah dengan membacakan firman Allah Swt dalam Surah Al-Anfal ayat 24:
yâ ayyuhalladzîna âmanustajîbû lillâhi wa lir-rasûli idzâ da‘âkum limâ yuḫyîkum
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 24)
Berdasarkan ayat ini, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tema pembahasan pada majelis tersebut adalah tentang kehidupan yang baik dalam perspektif Al-Qur’an. Ketika Allah Swt berfirman agar orang-orang beriman memenuhi panggilan-Nya, itu menunjukkan bahwa manusia dituntut untuk menjawab dan merespons seruan Allah Swt. Seruan tersebut adalah panggilan yang dapat menghidupkan manusia. Namun, makna hidup dalam ayat ini tidaklah tunggal, melainkan memiliki berbagai tingkatan dan dimensi yang perlu dipahami secara mendalam.
Syaikh kemudian menjelaskan bahwa kehidupan memiliki beberapa level. Tingkatan kehidupan yang pertama adalah kehidupan nabati, yaitu kehidupan yang dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan. Pada tumbuhan terdapat karakteristik kehidupan, seperti pertumbuhan dan perkembangan, kemampuan untuk bereproduksi, serta kemampuan menarik dan menyerap sesuatu dari sekitarnya. Tumbuhan juga membutuhkan nutrisi dan unsur-unsur penunjang lainnya agar dapat bertahan hidup. Namun, kehidupan nabati merupakan bentuk kehidupan yang paling rendah.
Tingkatan kedua adalah kehidupan hewani. Kehidupan hewan lebih tinggi dibandingkan tumbuhan, karena segala karakteristik kehidupan yang dimiliki tumbuhan juga terdapat pada hewan. Akan tetapi, hewan memiliki kelebihan berupa perasaan, sedangkan tumbuhan tidak memiliki kemampuan merasakan. Selain itu, hewan juga memiliki daya ingat, meskipun daya ingat tersebut relatif terbatas. Sebagai contoh, seekor kucing dapat mengenali pemiliknya, yang menunjukkan adanya memori dan ingatan, meskipun tidak sekuat ingatan manusia.
Tingkatan ketiga adalah kehidupan manusia, yaitu kehidupan makhluk yang berpikir. Manusia memiliki kesamaan dengan hewan dalam aspek biologis dan emosional, tetapi manusia memiliki keistimewaan berupa akal. Dengan akal tersebut, manusia mampu menganalisis, membandingkan, menilai, meneliti, memahami sesuatu, serta menyusun pengertian-pengertian yang kompleks. Selain itu, manusia juga dianugerahi kemampuan memori yang luar biasa, jauh melampaui makhluk lainnya.
Di atas semua tingkatan tersebut, Al-Qur’an memperkenalkan satu tingkatan kehidupan yang lebih tinggi lagi, yaitu kehidupan spiritual. Kehidupan spiritual merupakan tingkatan kehidupan yang landasannya adalah keimanan kepada Allah Swt. Kehidupan ini tidak semata-mata berkaitan dengan aspek fisik atau intelektual, melainkan berkaitan langsung dengan hubungan manusia dengan Allah Swt.
Untuk mencapai kehidupan spiritual, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ada dua hal penting yang harus dipenuhi. Yang pertama adalah memperoleh ilmu dan makrifat. Ilmu biasanya dipahami sebagai pengetahuan yang bersifat umum, sedangkan makrifat adalah pengetahuan yang bersifat khusus dan lebih mendalam. Pesan pertama yang Allah Swt sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw adalah perintah untuk belajar, sebagaimana firman-Nya:
iqra’ bismi rabbikalladzî khalaq
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Membaca merupakan upaya manusia untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan. Bahkan Allah Swt menegaskan:
‘allamal-insâna mâ lam ya‘lam
“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 5)
Ketika Allah Swt mendeklarasikan Nabi Adam As sebagai khalifah di muka bumi, anugerah pertama yang diberikan kepadanya adalah makrifat, sebagaimana firman Allah Swt:
wa ‘allama âdamal-asmâ’a kullahâ tsumma ‘aradlahum ‘alal-malâ’ikati fa qâla ambi’ûnî bi’asmâ’i hâ’ulâ’i ing kuntum shâdiqîn
“Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!’” (QS. Al-Baqarah: 31)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ilmu dan makrifat merupakan fondasi utama untuk mencapai derajat pengetahuan spiritual. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sabda Imam Ali As yang mengatakan, “Wahai Kumail, tidak ada satu gerakan pun di alam semesta ini kecuali ia memerlukan pengetahuan.” Oleh karena itu, dalam hadis Nabi Saw juga ditekankan bahwa seseorang dituntut untuk memahami sesuatu, bukan sekadar menghafalnya. Dengan demikian, jalan pertama menuju kehidupan spiritual adalah melalui penguasaan ilmu dan makrifat.
Hal kedua yang diperlukan untuk mencapai kehidupan spiritual adalah menggunakan akal, yaitu kemampuan untuk menangkap dan menilai sesuatu. Akal berbeda dengan ilmu. Bisa saja seseorang memiliki ilmu pengetahuan, tetapi tidak menggunakan akalnya. Orang yang berakal tidak harus memiliki jenjang pendidikan yang tinggi, meskipun ilmu pengetahuan yang luas akan sangat membantu dalam mengaktualisasikan potensi akal. Kerja akal adalah membedakan antara yang baik dan yang buruk, menentukan mana yang lebih penting, serta menangkap makna suatu perkara dengan benar.
Orang-orang yang tidak menggunakan akalnya digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai penghuni neraka, sebagaimana firman Allah Swt:
wa qâlû lau kunnâ nasma‘u au na‘qilu mâ kunnâ fî ash-ḫâbis-sa‘îr
“Mereka juga berkata, ‘Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam golongan para penghuni neraka Sa‘ir yang menyala-nyala.’” (QS. Al-Mulk: 10)
Semakin seseorang menggunakan akalnya, semakin dekat ia kepada kebaikan. Oleh karena itu, Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk menggunakan akalnya, sebagaimana firman Allah Swt:
inna fî khalqis-samâwâti wal-ardli wakhtilâfil-laili wan-nahâri wal-fulkillatî tajrî fil-baḫri bimâ yanfa‘un-nâsa wa mâ anzalallâhu minas-samâ’i mim mâ’in fa aḫyâ bihil-ardla ba‘da mautihâ wa batstsa fîhâ ming kulli dâbbatiw wa tashrîfir-riyâḫi was-saḫâbil-musakhkhari bainas-samâ’i wal-ardli la’âyâtil liqaumiy ya‘qilûn
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat ini mengandung banyak objek perenungan yang menuntut penggunaan akal. Dari penciptaan langit dan bumi, misalnya, apabila manusia merenungkannya dengan benar, ia akan menemukan kebenaran. Proses berpikir ini berawal dari pengamatan terhadap alam semesta, kemudian dilanjutkan dengan analisis, hingga akhirnya manusia dapat memperoleh makna kehidupan.
Penjelasan ini dikuatkan dengan firman Allah Swt dalam Surah Ar-Rum ayat 24:
wa min âyâtihî yurîkumul-barqa khaufaw wa thama‘aw wa yunazzilu minas-samâ’i mâ’an fa yuḫyî bihil-ardla ba‘da mautihâ, inna fî dzâlika la’âyâtil liqaumiy ya‘qilûn
“Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)-Nya ialah bahwa Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.” (QS. Ar-Rum: 24)
Demikian pula dalam Surah An-Nahl ayat 12, Allah Swt berfirman:
wa sakhkhara lakumul-laila wan-nahâra wasy-syamsa wal-qamar, wan-nujûmu musakhkharâtum bi’amrih, inna fî dzâlika la’âyâtil liqaumiy ya‘qilûn
“Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. An-Nahl: 12)
Semua tanda-tanda tersebut hanya dapat ditangkap oleh manusia yang mau berpikir dan menggunakan akalnya. Oleh karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip beberapa ungkapan Imam Ali As tentang akal, bahwa akal adalah fondasi yang paling kuat, pedang yang paling tajam, utusan kebenaran, penyelesai seluruh perkara, penangkap segala kebaikan, serta teman terbaik bagi manusia. Di dunia ini, seseorang tidak akan mampu melakukan sesuatu dengan baik kecuali dengan menggunakan akalnya.
Faktor ketiga yang dapat mengantarkan manusia kepada kehidupan spiritual, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Mohammad Sharifani, adalah merenung. Merenung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penggunaan akal. Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya perenungan dan berpikir sebagai jalan untuk memahami hakikat kehidupan dan mengenal Allah Swt. Allah Swt berfirman:
alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu‘ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Ayat ini menunjukkan bahwa perenungan yang benar akan melahirkan kesadaran akan kebesaran Allah Swt serta mendorong manusia untuk mendekat kepada-Nya. Perenungan bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga aktivitas spiritual yang menghidupkan jiwa.
Allah Swt juga berfirman dalam Surah Al-Jatsiyah ayat 13:
wa sakhkhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardli jamî‘am min-h, inna fî dzâlika la’âyâtil liqaumiy yatafakkarûn
“Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah: 13)
Demikian pula Allah Swt menjelaskan dalam Surah An-Nahl ayat 10–11:
huwalladzî anzala minas-samâ’i mâ’al lakum min-hu syarâbuw wa min-hu syajarun fîhi tusîmûn
“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu.”
yumbitu lakum bihiz-zar‘a waz-zaitûna wan-nakhîla wal-a‘nâba wa ming kullits-tsamarât, inna fî dzâlika la’âyatal liqaumiy yatafakkarûn
“Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untukmu tanaman-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10–11)
Semua ayat ini menegaskan bahwa alam semesta merupakan medan perenungan bagi manusia. Setiap fenomena alam mengandung tanda-tanda kebesaran Allah Swt yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mau berpikir dan merenung.
Al-Qur’an juga menekankan pentingnya kisah-kisah umat terdahulu sebagai sarana perenungan, sebagaimana firman Allah Swt:
faqshushil-qashasha la‘allahum yatafakkarûn
“Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A‘raf: 176)
Syaikh Mohammad Sharifani mengutip ungkapan Imam Ali As tentang perenungan, bahwa dengan merenung manusia dapat memperoleh pencerahan. Perenungan adalah cermin yang jernih, dan berpikir merupakan kehidupan bagi jiwa yang suci. Berpikir akan mendorong manusia untuk melakukan kebaikan, dan orang yang gemar berpikir akan lebih banyak benarnya serta mampu mencapai inti dari sebuah kebenaran.
Faktor keempat yang disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani sebagai jalan menuju kehidupan spiritual adalah mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Allah Swt berfirman:
wa hâdzâ shirâthu rabbika mustaqîmâ, qad fashshalnal-âyâti liqaumiy yadzdzakkarûn
“Inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Sungguh, Kami telah menjelaskan secara rinci ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.” (QS. Al-An‘am: 126)
Allah Swt juga berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 13:
wa mâ dzara’a lakum fil-ardli mukhtalifan alwânuh, inna fî dzâlika la’âyatal liqaumiy yadzdzakkarûn
“Dan apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan beraneka macam warna. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 13)
Mengambil pelajaran berarti menjadikan setiap peristiwa, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun pada umat terdahulu, sebagai bahan evaluasi dan perbaikan diri. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan orang-orang yang gagal mengambil pelajaran dalam firman Allah Swt:
wa hum yashtharikhûna fîhâ, rabbanâ akhrijnâ na‘mal shâliḫan ghairalladzî kunnâ na‘mal, a wa lam nu‘ammirkum mâ yatadzakkaru fîhi man tadzakkara wa jâ’akumun-nadzîr, fa dzûqû fa mâ lidh-dhâlimîna min nashîr
“Mereka berteriak di dalam (neraka) itu, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, bukan seperti perbuatan yang pernah kami kerjakan dahulu.’ (Dikatakan kepada mereka), ‘Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan bukankah telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?’ Maka, rasakanlah (azab Kami). Bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” (QS. Fathir: 37)
Ayat ini menjadi penegasan bahwa kesempatan hidup di dunia sejatinya adalah kesempatan untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Kehidupan yang benar-benar hidup adalah kehidupan yang diisi dengan kesadaran, ilmu, penggunaan akal, perenungan, serta kemampuan mengambil ibrah dari setiap tanda dan peristiwa.
Dengan demikian, seruan Allah Swt dalam Surah Al-Anfal ayat 24 tentang panggilan yang menghidupkan manusia bukanlah sekadar seruan fisik, melainkan panggilan menuju kehidupan spiritual yang sejati. Kehidupan tersebut terwujud ketika manusia menjawab seruan Allah Swt dengan iman, ilmu, akal yang aktif, perenungan yang mendalam, dan sikap mengambil pelajaran, sehingga hidupnya benar-benar bernilai dan bermakna di sisi Allah Swt.



