Skip to main content

Dalam rangkaian kunjungan silaturahmi ke Kalimantan Timur, Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani, berkesempatan mengunjungi Yayasan Al Qoim pada Minggu, 28 Desember 2025. Kehadiran beliau yang didampingi oleh Ketua Departemen Riset ICC Jakarta, Ustaz Akmal Kamil, bertepatan dengan penyelenggaraan bakti sosial khitanan massal bagi 25 anak dari keluarga kurang mampu. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud kepedulian sosial sekaligus memperingati Milad Sayyidah Fatimah Zahra sa dan Imam Ali bin Abi Thalib as, atas kolaborasi apik antara DPD ABI, Pimcab Muslimah ABI, Pandu ABI Samarinda, Yayasan Al Qoim, serta Pondok Khitan Dhu’afa ABI Kaltim.

Dalam suasana silaturahmi yang hangat tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan tausiyah mendalam yang merangkum empat poin utama: mukjizat Sayyidah Zahra sa, mukjizat Amirul Mukminin as, serta nasihat bagi segenap pengurus yayasan dan masyarakat. Beliau mengawali penjelasannya dengan menguraikan keterkaitan Sayyidah Zahra sa dengan surah al-Kautsar sebagai sebuah mukjizat yang telah berlangsung selama 1400 tahun. Beliau menceritakan bagaimana pada masa itu Rasulullah saw menjadi bahan olok-olok kaum musyrik karena wafatnya putra-putri beliau, namun Allah swt menjawabnya dengan janji nikmat melimpah yang tidak ada habisnya melalui kelahiran Sayyidah Zahra sa.

Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan bahwa janji Allah swt tersebut terbukti nyata hingga hari ini, di mana para pecinta Az-Zahra terus bertumbuh pesat, termasuk di Indonesia yang populasi muslimnya melebihi 200 juta jiwa. Prestasi kaum muslimin di seantero dunia, menurut beliau, merupakan berkah dari Sayyidah Zahra sa yang terus mengalir. Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa untuk meraih anugerah “kautsar” tersebut, terdapat dua syarat yang harus dipenuhi sebagaimana firman Allah swt:

fa shalli lirabbika wan-ḫar “Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Beliau menekankan bahwa kemajuan dan kejayaan umat harus dijamin dengan konsistensi dalam melaksanakan salat di tengah kesibukan apa pun, serta gemar berinfak dan bersedekah. Syaikh Mohammad Sharifani memuji penyelenggaraan bakti sosial seperti khitanan massal ini sebagai bentuk pengamalan ayat tersebut, sembari mengapresiasi kegiatan keagamaan lainnya di Yayasan Al Qoim seperti rencana penyelenggaraan itikaf.

Melanjutkan poin kedua mengenai keutamaan Imam Ali as, Syaikh Mohammad Sharifani menyoroti mukjizat beliau dalam bidang retorika dan orasi. Beliau menjelaskan bahwa amirul mukminin as adalah sosok yang piawai berorasi secara spontan tanpa persiapan, namun sarat akan makna mendalam yang kini terangkum dalam kitab Nahjul Balaghah. Beliau memaparkan bahwa meski dalam ilmu Ma’ani dan Bayan terdapat ratusan lapisan teknik untuk memukau pendengar—mulai dari diksi hingga aksentuasi—Imam Ali as mampu melakukannya secara alami hingga dijuluki Amirul Kalam. Beliau mengutip kekaguman tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Abil Hadid dan George Jordac yang terus terpukau meski telah membaca karya sastra Imam Ali as ratusan hingga ribuan kali.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menggarisbawahi sisi adab luar biasa dari Imam Ali as. Beliau menjelaskan bagaimana amirul mukminin as memilih untuk “tutup mulut” dan tidak menyampaikan hikmah-hikmahnya selama sepuluh tahun terakhir masa hidup Rasulullah saw sebagai bentuk penghormatan serta di masa tiga khalifah. Kemampuan untuk menahan diri tidak berkata-kata di saat memiliki banyak hal untuk disampaikan, menurut beliau, adalah sebuah kekuatan batin yang luar biasa.

Menutup tausiyah tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan Sayyidah Zahra sa dan Imam Ali as sebagai model kehidupan. Beliau menasihati agar jamaah meneladani Imam Ali as dalam mengurus anak, istri, serta umat, dan mencontoh Sayyidah Zahra sa sebagai sosok ibu, istri, sekaligus sahabat yang baik bagi suaminya. Dengan menghidupkan kecintaan dan meneladani keluarga teladan ini dalam aktivitas sosial sehari-hari, beliau berharap masyarakat dapat menjadi “kautsar” yang diberkati dan dianugerahi nikmat melimpah oleh Allah swt.

Leave a Reply