Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta kembali menggelar majelis Doa Ziarah Jamiah Kabirah pada Sabtu, 27 Desember 2025. Dalam majelis ini, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan ceramah dengan dibantu oleh Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah untuk mengulas satu penggalan dari doa tersebut. Pada kesempatan kali ini, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan penjelasan mendalam mengenai ungkapan salam kepada Ahlul Bait as dengan sebutan abrar.

Beliau memaparkan bahwa ketika kita berbicara tentang abrar, kita akan mengetahui bahwa di antara hamba-hamba Allah swt terdapat manusia-manusia yang khusus. Hal ini merujuk pada surah Al-Muthaffifin ayat 18 yang berbunyi: kallâ inna kitâbal-abrâri lafî ‘illiyyîn yang artinya “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyīn.” Beliau menjelaskan bahwa kita tidak pernah tahu kedudukan yang disebut Illiyyīn ini adalah tempat seperti apa, dan jika ia merupakan tempat yang tinggi bagi orang-orang tertentu, kita tidak akan pernah tahu siapa mereka sebenarnya tanpa penjelasan wahyu.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam surah Al-Muthaffifin ayat 19: wa mâ adrâka mâ ‘illiyyûn yang berarti “Tahukah engkau apakah ‘Illiyyīn itu?” Allah swt kemudian melanjutkan penjelasan mengenai catatan amal yang dimiliki oleh abrar dalam surah Al-Muthaffifin ayat 20: kitâbum marqûm yang artinya “(Itulah) kitab yang berisi catatan (amal).” Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa tidak sembarang orang bisa melihat kitab tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-Muthaffifin ayat 21: yasy-haduhul-muqarrabûn yang berarti “yang disaksikan oleh yang didekatkan.” Rangkaian ayat ini menunjukkan adanya sekelompok orang yang memiliki kedudukan sedemikian tinggi sehingga mungkin kita tidak akan pernah bisa memahami makna yang sebenarnya, namun Allah swt memberikan gambaran tentang mereka melalui ayat-ayat tersebut.

Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan bahwa dalam konteks kehidupan akhirat, Allah swt merangsang hamba-Nya untuk berbuat baik dengan menggambarkan keindahan surga, seperti dalam surah Al-Baqarah ayat 25: jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâr yang berarti “surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.” Namun, terdapat pula surga yang lain untuk kelompok yang sangat khusus sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Fajr ayat 27 sampai 30: yâ ayyatuhan-nafsul-muthma’innah (Wahai jiwa yang tenang), irji‘î ilâ rabbiki râdliyatam mardliyyah (kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai), fadkhulî fî ‘ibâdî (Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku), dan wadkhulî jannatî (dan masuklah ke dalam surga-Ku!).

Beliau menekankan bahwa penggunaan kata “surga-Ku” di sini menunjukkan penisbatan langsung kepada Allah swt, yang kedudukannya bukan lagi surga biasa milik orang umum. Hal ini diperkuat dengan surah Al-Qamar ayat 55: fî maq‘adi shidqin ‘inda malîkim muqtadir yang artinya “di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa,” di mana mereka berada langsung di sisi Tuhan, bukan di sisi hamba yang lain. Beliau juga mengutip surah Ali ‘Imran ayat 198: wa mâ ‘indallâhi khairul lil-abrâr yang berarti “Apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang abrâr.” Melalui penjelasan ini, terlihat betapa tingginya kedudukan abrar, yang menurut penjelasan Imam Hasan as, setiap kali Al-Qur’an menyebut ungkapan tentang abrar, maka yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib as, Fatimah az-Zahra sa, Imam Hasan as, dan Al-Husain as.

Terkait peluang menjadi bagian dari kelompok tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menyatakan bahwa pintu untuk menjadi abrar senantiasa terbuka. Hal ini terbukti dari sosok Salman al-Farisi dan Abu Dzar al-Ghifari yang meskipun bukan Ahlul Bait secara nasab, namun bisa masuk ke dalam kelompok tersebut karena mengikuti jejak mereka dengan sebenar-benarnya. Nabi saw pernah bersabda bahwa Salman adalah bagian dari Ahlul Bait, sementara Imam Ali as menyebut Abu Dzar tergolong kelompok abrar.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian memerinci lima hal agar seseorang bisa masuk ke dalam kelompok abrar. Pertama adalah memperbaiki niat dan hati, karena dalam sebuah riwayat dikatakan barangsiapa yang niat dan hatinya benar maka ia akan masuk kelompok abrar. Kedua adalah mengikuti dan meneladani Ahlul Bait as secara utuh, bukan sekadar berbuat baik tanpa wilayah atau mencintai tanpa mengikuti ajaran mereka. Imam Shadiq as berkata bahwa siapa yang mencintai, berwilayah, dan beramal mengikuti mereka, maka akan digolongkan bersama mereka di derajat abrar. Ketiga adalah keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Beliau mengutip nasihat tajam dari penyair Persia, Hafiz asy-Syirazi, mengenai penceramah yang memberikan nasihat baik namun melakukan hal berbeda setelah selesai bicara.

Poin keempat merujuk pada tiga hal dari Imam Baqir as, yaitu: memenuhi apa yang dijanjikan, sabar atas musibah yang Allah swt berikan, dan rida atas apa yang telah Allah swt tentukan. Barangsiapa berhasil melakukan ketiga hal itu, maka ia tergolong dalam kelompok abrar. Terakhir, yang kelima, adalah mengenai kesendirian. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa manusia lahir ke dunia sendirian, meninggalkan dunia sendirian, dan kelak dibangkitkan sendirian.

Periode singkat di dunia ketika dikelilingi orang lain seringkali membuat manusia merasa sangat berat saat akan meninggal karena harus meninggalkan keluarga, harta, dan pangkat. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya melatih diri dalam kesendirian agar perpisahan tersebut terasa ringan. Syaikh Mohammad Sharifani menutup ceramahnya dengan mengutip pesan Imam Ali as kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar hiduplah engkau sendirian, matilah sendirian, dan masuklah surga sendirian.” Beliau menegaskan bahwa jika seseorang terbiasa dengan hal tersebut, maka ia termasuk ke dalam kelompok abrar.

Leave a Reply