Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta sukses menyelenggarakan perhelatan intelektual berskala internasional pada Sabtu, 10 Januari 2026. Seminar yang bertajuk “Nahjul Balaghah: Jalan Peradaban Maslahat Lewat Sastra, Budaya, Ekologi, Pemerintahan, dan Kesehatan Jiwa Bangsa” ini berlangsung khidmat di Auditorium Imam Khomeini lantai 3, ICC Jakarta. Acara ini menjadi ruang perjumpaan penting bagi para peneliti, akademisi, dan pimpinan organisasi untuk menggali kedalaman pemikiran Imam Ali bin Abi Thalib dalam naskah klasik Nahjul Balaghah.
Rangkaian acara diawali secara formal dengan pembukaan oleh Ustaz Zaki Amami, yang kemudian dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Zainus Sulthon. Sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah air, seluruh hadirin berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang menandai dimulainya upaya kolektif menghidupkan kembali diskursus naskah agung ini.
Sesi sambutan dibuka oleh Ketua Pelaksana Seminar Nahjul Balaghah, Syafinuddin Al-Mandari. Beliau menyampaikan rasa syukur atas momentum penting ini untuk mengangkat kembali naskah Nahjul Balaghah yang sudah lama tidak diperbincangkan oleh umat Islam. Beliau menegaskan harapan agar seminar ini menjadi momentum pertama yang berlanjut setiap tahun sebagai konferensi rutin untuk mengingatkan umat akan naskah besar ini, serta menjadi landasan bagi proses penggalian khazanah berikutnya.
Selanjutnya, Ketua Pusat Kajian Peradaban Baru Islam, Akmal Kamil, menyampaikan sambutannya. Beliau menyatakan bahwa merupakan suatu kehormatan bagi ICC Jakarta dapat menyelenggarakan perhelatan internasional ini. Beliau menekankan bahwa kebudayaan adalah jembatan antara nilai dan kehidupan, di mana agama menemukan wajah sosialnya. Beliau berharap melalui seminar ini, relevansi Nahjul Balaghah dapat diangkat dalam berbagai disiplin keilmuan kontemporer melalui kolaborasi dengan lembaga riset dan perguruan tinggi demi menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Acara kemudian memasuki sesi sambutan dan orasi ilmiah oleh Kepala OR Arbastra BRIN, Herry Yogaswara. Beliau menyampaikan terima kasih kepada ICC yang telah melibatkan BRIN, sebagai tindak lanjut dari MoU yang telah diimplementasikan dalam berbagai kegiatan strategis mulai dari webinar, penulisan buku, hingga diskusi. Beliau memaparkan bahwa Nahjul Balaghah adalah karya klasik yang menyimpan kedalaman pemikiran bagi kemajuan peradaban yang harus dibaca dengan konteks kekinian, baik dalam melihat isu ekologi, moderasi beragama, hingga relasi global.
Puncak sesi pembukaan ditandai dengan sambutan dan keynote speech dari Direktur ICC Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani. Beliau menegaskan bahwa Nahjul Balaghah adalah kitab universal untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman yang mengandung lebih dari 100 tema petunjuk hidup. Beliau juga memperkenalkan dimensi kepemimpinan dan “pribadi langit” Imam Ali as, seraya berharap seminar ini memantik para peneliti untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dari naskah tersebut.
Agenda dilanjutkan dengan prosesi penyerahan cinderamata dan peluncuran buku terbaru karya Syaikh Mohammad Sharifani yang berjudul “Imam Ali dalam Tuturan Para Pembesar”. Buku tersebut diperkenalkan oleh Akmal Kamil sebagai karya analitik yang kaya dan merupakan salah satu dari seratus sekian jilid buku yang telah ditulis oleh beliau. Setelah prosesi tersebut, Ustaz Umar Shahab memimpin pembacaan doa sebagai penutup rangkaian formal pembukaan.
Sesi inti dipandu oleh Syafinuddin Al-Mandari sebagai moderator. Sesi ini menghadirkan tiga pemapar dengan latar belakang kepakaran yang berbeda guna membedah Nahjul Balaghah dari berbagai sudut pandang. Sesi diawali oleh Otong Sulaeman yang merupakan Ketua STAI Sadra, dilanjutkan oleh Abdelazis Abbaci yang merupakan ahli filsafat dan mistisisme Islam asal Aljazair, serta ditutup dengan perspektif dari Fatimah Al-Ma’shumah yang merupakan ahli di bidang Matematika dan Statistik.



