Skip to main content

Dalam sesi Kelas Tafsir Quran Tartibi yang diselenggarakan di ICC Jakarta pada Jumat, 9 Januari 2026, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan pemaparan mendalam mengenai Surah Al-Baqarah. Beliau mengawali kajian dengan menjelaskan bahwa pembahasan dimulai dari ayat 84, namun ayat ini sebetulnya memiliki kaitan yang sangat erat dengan ayat 83, di mana Allah SWT mengingatkan kembali janji Bani Israil kepada Allah SWT. Beliau membagi janji tersebut ke dalam dua kategori besar. Kategori pertama bersifat positif, yakni janji untuk melakukan sesuatu sebagaimana tercantum dalam ayat 83: wa idz akhadznâ mîtsâqa banî isrâ’îla lâ ta‘budûna illallâha wa bil-wâlidaini iḫsânaw wa dzil-qurbâ wal-yatâmâ wal-masâkîni wa qûlû lin-nâsi ḫusnaw wa aqîmush-shalâta wa âtuz-zakâh, tsumma tawallaitum illâ qalîlam mingkum wa antum mu‘ridlûn (Ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling mengingkarinya, kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu masih menjadi pembangkang).

Melanjutkan ke ayat 84, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan kategori janji kedua yang bersifat meninggalkan sesuatu. Beliau menekankan ada dua hal utama yang dijanjikan Bani Israil dalam ayat ini, yaitu tidak melakukan pertumpahan darah dan tidak mengusir orang dari rumahnya: wa idz akhadznâ mîtsâqakum lâ tasfikûna dimâ’akum wa lâ tukhrijûna anfusakum min diyârikum tsumma aqrartum wa antum tasy-hadûn (Ingatlah ketika Kami mengambil perjanjianmu agar kamu tidak menumpahkan darahmu/membunuh orang dan mengusir dirimu/saudara sebangsamu dari kampung halamanmu. Kemudian, kamu berikrar dan bersaksi).

Beliau memberikan catatan bahwa penggunaan kata anfusakum (dirimu) untuk merujuk pada larangan mengusir orang lain menunjukkan bahwa orang lain sesungguhnya adalah dirimu sendiri, karena sebuah masyarakat yang terdiri dari berbagai pihak pada hakikatnya adalah satu kesatuan. Beliau menegaskan bahwa ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan ikrar sadar bagi Bani Israil. Hal ini mengandung makna bahwa pelanggaran yang mereka lakukan bukan karena faktor lupa, lalai, atau tidak tahu, melainkan dilakukan dengan penuh kesengajaan, yang sekaligus menggambarkan Bani Israil sebagai kelompok yang sangat melawan dan tidak menghormati janji.

Kenyataan mengenai pelanggaran janji tersebut kemudian dipaparkan dalam ayat 85: tsumma antum hâ’ulâ’i taqtulûna anfusakum wa tukhrijûna farîqam mingkum min diyârihim tadhâharûna ‘alaihim bil-itsmi wal-‘udwân, wa iy ya’tûkum usârâ tufâdûhum wa huwa muḫarramun ‘alaikum ikhrâjuhum, a fa tu’minûna biba‘dlil-kitâbi wa takfurûna biba‘dl, fa mâ jazâ’u may yaf‘alu dzâlika mingkum illâ khizyun fil-ḫayâtid-dun-yâ, wa yaumal-qiyâmati yuraddûna ilâ asyaddil-‘adzâb, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ta‘malûn (Kemudian, kamu Bani Israil membunuh dirimu/sesamamu dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu menghadapi mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman pada sebagian Kitab/Taurat dan ingkar pada sebagian yang lain? Maka, tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu, selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan pada azab yang paling berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan).

Beliau menjelaskan bahwa Bani Israil sering kali menuding korban kezaliman mereka telah melakukan dosa besar sebagai klaim sepihak. Mereka juga mengimani sebagian kitab namun mengingkari sebagian lainnya. Sifat mereka yang saling membantu dalam kejahatan dan permusuhan ini sangat bertentangan dengan ayat wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ (Tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa) dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2.

Syaikh Mohammad Sharifani mengategorikan perilaku ini sebagai tindakan menjual kebaikan dengan perbuatan dosa, di mana mereka rela menukar jalan yang benar demi membeli kesesatan yang tidak bernilai. Hal ini selaras dengan Surah Al-Baqarah ayat 16: ulâ’ikalladzînasytarawudl-dlalâlata bil-hudâ fa mâ rabiḫat tijâratuhum wa mâ kânû muhtadîn (Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka, tidaklah beruntung perniagaannya dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapatkan petunjuk). Golongan ini mencakup orang munafik, Yahudi, dan musyrik. Bahkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 177 ditegaskan mengenai kerugian mereka: innalladzînasytarawul-kufra bil-îmâni lay yadlurrullâha syai’â, wa lahum ‘adzâbun alîm (Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekufuran dengan iman sedikit pun tidak merugikan Allah dan akan mendapat azab yang sangat pedih). Akibat dari perilaku menukar kehidupan akhirat dengan dunia ini, Allah menegaskan dalam ayat 86: ulâ’ikalladzînasytarawul-ḫayâtad-dun-yâ bil-âkhirati fa lâ yukhaffafu ‘an-humul-‘adzâbu wa lâ hum yunsharûn (Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Maka, azabnya tidak akan diringankan dan mereka tidak akan ditolong).

Memasuki ayat 87, beliau menjelaskan nikmat besar yang diberikan Allah kepada umat manusia sejak munculnya komunitas manusia pertama, yaitu pengutusan para rasul sebagai bentuk kasih sayang dan penurunan kitab-kitab sebagai pedoman hidup: wa laqad âtainâ mûsal-kitâba wa qaffainâ mim ba‘dihî bir-rusuli wa âtainâ ‘îsabna maryamal-bayyinâti wa ayyadnâhu birûḫil-qudus, a fa kullamâ jâ’akum rasûlum bimâ lâ tahwâ anfusukumustakbartum, fa farîqang kadzdzabtum wa farîqan taqtulûn (Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan Kitab/Taurat kepada Musa dan Kami menyusulkan setelahnya rasul-rasul. Kami juga telah menganugerahkan kepada Isa, putra Maryam, bukti-bukti kebenaran, serta Kami perkuat dia dengan Ruhulkudus. Mengapa setiap kali rasul datang kepadamu membawa sesuatu/pelajaran yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri? Lalu, sebagiannya kamu dustakan dan sebagian yang lain kamu bunuh?).

Terkait istilah Ruhulkudus, beliau memaparkan empat pendapat: pertama adalah malaikat teragung yang mendampingi Nabi Isa as, kedua adalah malaikat Jibril, ketiga adalah kiasan bagi kitab suci, dan keempat adalah Nabi Isa as itu sendiri. Sebagai penutup, beliau membahas ayat 88 di mana Bani Israil berani mencari pembenaran atas dosa mereka dengan berdalih bahwa hati mereka tertutup atau begitulah mereka diciptakan: wa qâlû qulûbunâ ghulf, bal la‘anahumullâhu bikufrihim fa qalîlam mâ yu’minûn (Mereka berkata, “Hati kami tertutup.” Tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka, tetapi sedikit sekali mereka yang beriman). Beliau menegaskan bahwa Allah membantah keras alasan tersebut; laknat dijatuhkan semata-mata karena pilihan sadar mereka untuk ingkar, bukan karena desain penciptaan.

Leave a Reply