ICC Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan salat Jumat berjamaah pada 16 Januari 2026 dengan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai khatib dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mendalam mengenai masalah kesuksesan dan kunci-kunci apa saja yang bisa memberikan keberhasilan bagi manusia. Beliau menjelaskan bahwa kunci yang ketiga dari keberhasilan kita adalah perlunya wasilah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan ayat suci Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’idah ayat 35 yang berbunyi: yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wabtaghû ilaihil-wasîlata wa jâhidû fî sabîlihî la‘allakum tufliḫûn, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” Beliau mengingatkan bahwa terdapat enam wasilah yang menjadi sarana mencapai tujuan tersebut, di mana tiga wasilah pertama telah dibahas pada pertemuan yang lalu, yaitu penggunaan asma Allah dalam dzikir dan doa, mengingat nikmat yang Allah SWT anugerahkan, serta mengakui dosa di hadapan Allah SWT. Pada kesempatan khutbah kali ini, beliau secara khusus mengupas tiga wasilah berikutnya secara tuntas.
Wasilah yang keempat adalah menjadikan Al-Qur’anul Karim sebagai perantara menuju Allah SWT. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa yang dimaksud menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah adalah dengan menjadikan lafaznya sebagai wasilah maupun mendalami makna serta seluruh kandungannya demi mencapai kesuksesan. Beliau menceritakan sebuah kisah mengenai seorang pencuri bernama Fudhail bin Iyadh yang kerap mengambil barang-barang orang setiap malam. Suatu kali ketika ia sedang melakukan aksi pencuriannya, ia mendengarkan suara seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur’an dari Surah Al-Hadid ayat 16 yang berbunyi: a lam ya’ni lilladzîna âmanû an takhsya‘a qulûbuhum lidzikrillâhi, yang artinya: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang menerima Kitab sebelum itu, lalu mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.” Sedemikian dahsyatnya ayat ini merasuk ke hati Fudhail hingga ia terguncang dan seketika berkata, “Ya Allah sekarang telah tiba saatnya aku akan bertaubat dari semua perbuatanku,” hingga akhirnya Fudhail berubah menjadi orang yang sangat saleh.
Beliau kemudian memaparkan secara sangat lengkap bagaimana para Imam Maksumin mengajarkan umat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai wasilah. Di dalam doa Imam Sajjad AS, beliau mengajarkan pengikutnya untuk memohon: “Ya Allah jadikan Al-Qur’an ini sebagai cahaya dalam kegelapan, ya Allah jadikan Al-Qur’an ini sebagai penyelamat ketika terjadi fitnah, jadikan Al-Qur’an ini sebagai penghibur dan pemberi ketenangan saat aku di dalam kuburku.” Syaikh Mohammad Sharifani juga menekankan bahwa pada malam yang paling mulia dalam setahun yang lebih baik dari seribu bulan, umat menjalankan amalan bertawassul dengan Al-Qur’an. Beliau turut menyampaikan riwayat dari Imam Shadiq AS yang berkata bahwa jika seseorang mengalami sebuah perkara yang besar dan merasa berat untuk menerimanya, maka hendaknya ia bertawassul dengan Al-Qur’an. Hal senada disampaikan dalam riwayat Imam Ali AS yang menyatakan bahwa jika kalian diterpa oleh badai fitnah yang sedemikian berat, maka hendaklah kalian berpegangan pada Al-Qur’an. Imam Ridha AS juga memberikan wasiat serupa bahwa jika semua pintu di hadapanmu telah tertutup, dosa-dosamu sedemikian banyak dan tidak ada cara lain untuk melepaskan diri dari keadaan itu, maka hendaklah engkau membaca Al-Qur’an. Begitu pula riwayat dari Imam Baqir AS yang menyebutkan bahwa jika kita menghadapi perkara yang sulit, hendaknya kita membaca Al-Qur’an.
Wasilah yang kelima adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Ahlulbait AS. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sabda Rasulullah SAW yang sangat penting: “Barangsiapa yang mencintai putriku Fatimah dan barangsiapa yang mencintai Ahlulbaitku, maka kecintaan itu akan bermanfaat baginya pada 100 tempat setelah kehidupan ini.” Beliau merinci bahwa kecintaan tersebut akan sangat bermanfaat bagi manusia di berbagai titik krusial, dan yang paling ringannya adalah ketika seseorang berhadapan dengan kematian, saat berada di alam kubur, saat berada di Mizan ketika ditimbang amalnya, serta saat berada di Shirath dan menyeberanginya untuk masuk ke surga. Beliau menambahkan dalam riwayat lain bahwa orang yang paling besar cahayanya pada hari kiamat adalah orang yang memiliki kecintaan kepada keluarga Muhammad SAW. Selanjutnya, wasilah yang keenam adalah menjalankan semua perintah-perintah agama. Beliau menekankan bahwa agama memiliki serangkaian aturan yang jika dilaksanakan akan menjadi wasilah kesuksesan, sebagaimana dikatakan Imam Ali AS bahwa sebaik-baik wasilah yang bisa digunakan seseorang untuk sampai kepada Allah SWT adalah melakukan hal-hal yang bersifat ma’ruf dan kebajikan.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan urgensi peringatan Bi’tsah Rasulullah SAW sebagai peristiwa yang menunjukkan keterikatan misi risalah sejak nabi pertama sampai nabi terakhir. Peristiwa Bi’tsah merupakan terkabulnya doa Nabi Ibrahim AS ribuan tahun sebelumnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 129: rabbanâ wab‘ats fîhim rasûlam min-hum wa yu‘allimuhumul-kitâba wal-ḫikmata wa yuzakkîhim, innaka antal-‘azîzul-ḫakîm, yang artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Beliau menguraikan fase kehidupan Rasulullah SAW yang penuh peristiwa besar; mulai dari kelahirannya yang memadamkan api sembahan kaum Majusi dan menghancurkan singgasana Khusraw serta Kaisar, hingga kematiannya yang membawa duka dahsyat. Sebagaimana dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib AS: “Wahai Rasulullah SAW kematianmu menimbulkan suatu petaka terputusnya wahyu dengan kematianmu.” Beliau juga menyinggung peristiwa hijrah yang mengubah sejarah di mana aturan Allah mulai diterapkan di Madinah. Sebelum diangkat menjadi nabi, Rasulullah SAW kerap menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan menjauhi hiruk-pikuk dunia hingga beliau siap menerima anugerah wahyu yang disifati Allah SWT dalam Surah Al-Muzzammil ayat 5: innâ sanulqî ‘alaika qaulan tsaqîlân, yang artinya: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.” Setelah diutus, Rasulullah SAW dengan bangga menyatakan bahwa beliau diutus kepada umat manusia sebagai orang yang mengajarkan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya.
Menutup khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menanggapi isu global mengenai Iran yang didera berbagai kabar miring, isu serangan, kerusuhan, serta hoax. Beliau menegaskan bahwa berita kerusuhan yang memakan korban jiwa hingga ribuan orang adalah tidak benar. Beliau mengakui adanya demonstrasi rakyat akibat masalah ekonomi, namun hal itu lazim terjadi di negara mana pun. Beliau menekankan bahwa Iran adalah negara yang kuat di bawah kepemimpinan Imam Khomeini dan Imam Khamenei, bahkan kekuatan rudal dan soliditas rakyatnya membuat pihak luar, termasuk Presiden Amerika Serikat, takut salah perhitungan jika hendak melakukan serangan. Sejak kemenangan revolusi 40 tahun lalu, propaganda negatif selalu disebarkan karena Iran bukanlah pihak yang lemah. Beliau berpesan kepada seluruh jamaah untuk senantiasa menyaring berita yang benar dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran yang dijunjung tinggi.



