Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) mengadakan peringatan milad Imam Husain as, Abu Fadl Abbas, dan Imam Sajjad as pada Minggu, 25 Januari 2026. Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara Husein Fadlulah Alatas, yang kemudian dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an dan nasyid oleh Syaikh Nuruddin dari Qatar dengan iringan Tim Hadrah Shiddiqah Zahra. Memasuki acara inti, Ustaz Umar Shahab menyampaikan ceramahnya yang diawali dengan ungkapan syukur karena pada sore hari tersebut, dengan izin Allah swt, jemaah dapat memperingati tiga kelahiran sekaligus, yaitu Imam Husain as yang lahir pada tanggal 3 Syaban, Abu Fadl Abbas yang lahir pada tanggal 4 Syaban, dan Imam Sajjad as yang lahir pada tanggal 5 Syaban. Beliau menekankan bahwa tiga hari berturut-turut ini merupakan hari kelahiran manusia-manusia yang telah mengubah sejarah. Kelahiran Ahlul Bait nabi merupakan hari bahagia bagi seluruh umat manusia karena kehadiran mereka di muka bumi adalah keselamatan bagi manusia.

Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa Allah swt telah menetapkan bumi tidak pernah kosong dari seorang hujjah, karena tanpa adanya hujjah maka bumi akan binasa. Sejak awal penciptaan manusia sampai hari kiamat, hujjah Allah swt selalu ada, dan saat ini yang menjadi hujjah adalah Imam Zaman afs. Meskipun Allah swt berkehendak Imam Zaman afs tersembunyi, keghaiban beliau bukan berarti ketiadaan hujjah, sebab secara bahasa hujjah berarti bukti nyata untuk membuktikan kebenaran dalam suatu persoalan. Beliau memaparkan bahwa alam semesta diciptakan untuk umat manusia sebagaimana firman Allah swt.

wa sakhkhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardli jamî‘am min-h, inna fî dzâlika la’âyâtil liqaumiy yatafakkarûn
“Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Hal ini menunjukkan kemuliaan manusia yang bahkan bisa melampaui malaikat. Nabi Muhammad saw dan para imam adalah manusia, namun mereka makhluk paling mulia di alam semesta. Ustaz Umar Shahab menceritakan saat penciptaan manusia, Allah swt mendeklarasikan Nabi Adam as sebagai khalifah untuk mengelola bumi dengan nilai kebaikan. Saat itu malaikat bertanya karena membayangkan manusia yang tercipta dari tanah akan berperilaku selayaknya hewan yang merusak dan menumpahkan darah.

wa idz qâla rabbuka lil-malâ’ikati innî jâ‘ilun fil-ardli khalîfah, qâlû a taj‘alu fîhâ may yufsidu fîhâ wa yasfikud-dimâ’, wa naḫnu nusabbiḫu biḫamdika wa nuqaddisu lak, qâla innî a‘lamu mâ lâ ta‘lamûn
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Allah swt membuktikan kepantasan manusia menjadi khalifah melalui pengetahuan luar biasa dan mengutus para nabi serta rasul sebagai hujjah untuk menuntun manusia ke jalan kebenaran. Setelah Nabi Muhammad saw, risalah dilanjutkan melalui para imam as sebagai pelanjut sekaligus hujjah. Ustaz Umar Shahab menegaskan wajibnya setiap orang mengenal hujjah Allah swt sesuai sabda Nabi Muhammad saw bahwa barangsiapa meninggal dunia tanpa mengenal hujjah zamannya, maka matinya sebagai mati jahiliyah. Beliau mengingatkan bahwa imam ditentukan oleh Allah swt sebagai mandataris-Nya, bukan dipilih manusia. Meskipun Imam Zaman afs ghaib, jemaah harus bersyukur karena telah dikenalkan kepada beliau. Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa orang yang mati dalam kecintaan kepada nabi dan keluarganya akan mati syahid dan diampuni. Rasa syukur ini diwujudkan melalui ibadah sesuai Surah Al-Kautsar.

innâ a‘thainâkal-kautsar
“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1)

fa shalli lirabbika wan-ḫar
“Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS. Al-Kautsar [108]: 2)

inna syâni’aka huwal-abtar
“Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kautsar [108]: 3)

Surah ini mengajarkan manusia beribadah sebagai bentuk terima kasih kepada Allah swt, yang kemudian diwujudkan dengan berbagi. Ustaz Umar Shahab merinci tiga hal yang harus dilakukan. Pertama adalah mencintai mereka dengan hati, ikut gembira dalam kebahagiaan mereka dan bersedih dalam kedukaan mereka, sebagaimana Imam Jafar Shadiq as yang menyukai majelis yang menghidupkan urusan Ahlul Bait. Kedua adalah berwilayah, yang bermakna setia, membela, dan bergabung. Beliau menyatakan kesetiaan kepada maksumin dan menekankan bahwa pihak yang ingin memerangi wakil Imam Zaman atau menyerang marja harus sadar bahwa di belakang Rahbar terdapat ratusan juta manusia yang sedia mengorbankan diri.

Ketiga adalah tasyayu atau mengikuti jalan mereka secara mutlak. Mengutip Imam Ali Zainal Abidin as, beliau menjelaskan bahwa beragama yang benar bukan dengan mengakali agama atau rasio yang tidak sempurna, melainkan dengan pasrah mengikuti Allah swt, Nabi saw, dan para imam as yang maksum. Beliau menekankan pentingnya mempelajari akidah dan menjalani fikih Ahlul Bait agar benar-benar menjadi pengikut Imam Ali as yang selamat di hari kiamat. Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Syaikh Mohammad Sharifani.