Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) kembali menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 22 Januari 2026, dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah utama dan diterjemahkan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mendalam mengenai konsep ketundukan mutlak, yang pada pertemuan sebelumnya telah dikupas dari sisi makna dan kedudukannya. Kali ini, beliau menguraikan secara komprehensif mengenai tanda-tanda nyata serta buah yang dipetik oleh seseorang yang telah mencapai kedudukan taslim atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa tanda pertama dari ketundukan adalah adanya keimanan. Beliau menegaskan bahwa seseorang yang benar-benar tunduk pastilah memiliki iman di dalam hatinya. Beliau merujuk pada kisah Nabi Isa as dalam Al-Qur’an ketika menghadapi kaumnya yang mulai mengingkari kebenaran.

fa lammâ aḫassa ‘îsâ min-humul-kufra qâla man anshârî ilallâh, qâlal-ḫawâriyyûna naḫnu anshârullâh, âmannâ billâh, wasy-had bi’annâ muslimûn “Ketika Isa merasakan kekufuran mereka (Bani Israil), dia berkata, ‘Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para hawari (sahabat setianya) menjawab, ‘Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 52)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pernyataan para sahabat setia Nabi Isa as tersebut menunjukkan bahwa ketundukan mereka sebagai muslim atau orang yang berserah diri merupakan buah langsung dari keimanan kepada Allah swt. Tanda kedua yang beliau paparkan adalah keikhlasan. Seseorang yang tunduk diperintahkan untuk menjadikan seluruh aspek kehidupannya hanya untuk Allah swt semesta alam, sebagaimana terekam dalam firman-Nya.

qul inna shalâtî wa nusukî wa maḫyâya wa mamâtî lillâhi rabbil-‘âlamîn “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.’” (QS. Al-An’am [6]: 162)

lâ syarîka lah, wa bidzâlika umirtu wa ana awwalul-muslimîn “Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.” (QS. Al-An’am [6]: 163)

Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa setelah menyatakan keikhlasan dalam ibadah dan hidup, seseorang barulah disebut sebagai orang yang berserah diri. Selanjutnya, beliau menyebutkan tanda ketiga adalah menjauhi kesyirikan. Beliau menjelaskan bahwa ketundukan kepada Allah swt harus didahului dengan kepercayaan yang bersih dari syirik, mengikuti jalan lurus yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as.

qul innanî hadânî rabbî ilâ shirâthim mustaqîm, dînang qiyamam millata ibrâhîma ḫanîfâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.’” (QS. Al-An’am [6]: 161)

Adapun tanda keempat menurut penjelasan Syaikh Mohammad Sharifani adalah ketakwaan dan pelaksanaan salat secara konsisten. Beliau menyampaikan bahwa perintah untuk berserah diri kepada Tuhan semesta alam selalu beriringan dengan perintah untuk tidak memohon kepada selain Allah swt dan kewajiban mendirikan salat serta bertakwa kepada-Nya.

qul a nad‘û min dûnillâhi mâ lâ yanfa‘unâ wa lâ yadlurrunâ wa nuraddu ‘alâ a‘qâbinâ ba‘da idz hadânallâhu kalladzistahwat-husy-syayâthînu fil-ardli ḫairâna lahû ash-ḫâbuy yad‘ûnahû ilal-huda’tinâ, qul inna hudallâhi huwal-hudâ, wa umirnâ linuslima lirabbil-‘âlamîn “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah kita akan memohon pada sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kita, dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang (kufur dan sesat), setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di bumi, dalam keadaan kebingungan,’ sedangkan dia mempunyai kawan-kawan yang selalu mengajaknya ke jalan yang lurus (dengan mengatakan), ‘Ikutilah kami.’?” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]: 71)

wa an aqîmush-shalâta wattaqûh, wa huwalladzî ilaihi tuḫsyarûn “Dan agar melaksanakan salat serta bertakwa kepada-Nya.’ Dialah Tuhan yang hanya kepada-Nya kamu semua akan dihimpun.” (QS. Al-An’am [6]: 72)

Setelah menguraikan tanda-tandanya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan berbagai karunia atau buah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang telah mencapai kedudukan berserah diri. Pertama, mereka akan memperoleh ketenangan batin yang luar biasa, di mana rasa takut dan sedih akan diangkat oleh Allah swt.

balâ man aslama waj-hahû lillâhi wa huwa muḫsinun fa lahû ajruhû ‘inda rabbihî wa lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn “Tidak demikian! Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 112)

Kedua, orang yang berserah diri akan mencapai maqam tawakal yang sempurna, yaitu menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah swt. Beliau mencontohkan nasihat Nabi Musa as kepada kaumnya agar bertawakal jika mereka benar-benar muslim.

wa qâla mûsâ yâ qaumi ing kuntum âmantum billâhi fa ‘alaihi tawakkalû ing kuntum muslimîn “Musa berkata, ‘Wahai kaumku, jika kamu sungguh-sungguh beriman kepada Allah, bertawakallah hanya kepada-Nya apabila kamu benar-benar orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).’” (QS. Yunus [10]: 84)

Ketiga, Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan bahwa buah dari ketundukan adalah mendapatkan kebaikan dan keteguhan hati sehingga iman mereka tidak mudah digoyahkan oleh ujian seberat apa pun. Beliau merujuk pada ayat yang menjelaskan bahwa bagi mereka yang melaksanakan pengajaran Allah swt dengan patuh, hal itu akan lebih baik dan menguatkan iman mereka.

walau annâ katabnâ ‘alaihim aniqtulû anfusakum awikhrujû min diyârikum mâ fa‘alûhu illâ qalîlum min-hum, walau annahum fa‘alû mâ yû‘adhûna bihî lakâna khairal lahum wa asyadda tatsbîtâ “Seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik), ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Seandainya mereka melaksanakan pengajaran yang diberikan kepada mereka, sungguh itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS. An-Nisa’ [4]: 66)

Keempat, mereka akan dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang saleh, sebagaimana kedudukan yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as. Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa ketundukan Nabi Ibrahim as saat diperintahkan untuk berserah diri menjadikannya sebagai hamba pilihan yang saleh di dunia dan akhirat.

wa may yarghabu ‘am millati ibrâhîma illâ man safiha nafsah, wa laqadishthafainâhu fid-dun-yâ, wa innahû fil-âkhirati laminash-shâliḫîn “Siapa yang membenci agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Kami benar-benar telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Baqarah [2]: 130)

idz qâla lahû rabbuhû aslim qâla aslamtu lirabbil-‘âlamîn “(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Berserahdirilah!’ Dia menjawab, ‘Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 131)

Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan bahwa pencapaian maqam taslim membawa limpahan nikmat duniawi dan hidayah menuju jalan yang lurus. Beliau menguraikan bagaimana sosok Nabi Ibrahim as menjadi imam yang patuh dan selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah swt.

inna ibrâhîma kâna ummatang qânital lillâhi ḫanîfâ, wa lam yaku minal-musyrikîn “Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok anutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. An-Nahl [16]: 120)

syâkiral li’an‘umihijtabâhu wa hadâhu ilâ shirâthim mustaqîm “(Ibrahim) bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya (dan Allah) telah memilih serta menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl [16]: 121)

wa âtainâhu fid-dun-yâ ḫasanah, wa innahû fil-âkhirati laminash-shâliḫîn “Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl [16]: 122)

Selain itu, beliau menambahkan bahwa orang yang berserah diri akan selamat dari ketakutan terhadap penguasa yang sewenang-wenang. Beliau memberikan contoh kaum Nabi Musa as yang meski berada dalam ancaman Firaun, mereka diminta untuk tetap bertawakal sebagai bukti ketundukan mereka kepada Allah swt.

fa mâ âmana limûsâ illâ dzurriyyatum ming qaumihî ‘alâ khaufim min fir‘auna wa mala’ihim ay yaftinahum, wa inna fir‘auna la‘âlin fil-ardl, wa innahû laminal-musrifîn “Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir‘aun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Yunus [10]: 83)

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa pahala yang sangat tinggi telah disiapkan di sisi Allah swt bagi mereka yang memiliki sifat-sifat mulia, termasuk bagi kaum muslimin dan muslimat yang benar-benar tunduk dan taat.

innal-muslimîna wal-muslimâti wal-mu’minîna wal-mu’minâti wal-qânitîna wal-qânitâti wash-shâdiqîna wash-shâdiqâti wash-shâbirîna wash-shâbirâti wal-khâsyi‘îna wal-khâsyi‘âti wal-mutashaddiqîna wal-mutashaddiqâti wash-shâ’imîna wash-shâ’imâti wal-ḫâfidhîna furûjahum wal-ḫâfidhâti wadz-dzâkirînallâha katsîraw wadz-dzâkirâti a‘addallâhu lahum maghfirataw wa ajran ‘adhîmâ “Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 35)

Menutup penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa puncak dari ketundukan adalah perolehan petunjuk, rahmat, dan kabar gembira langsung dari Allah swt melalui Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah saw.

wa yauma nab‘atsu fî kulli ummatin syahîdan ‘alaihim min anfusihim wa ji’nâ bika syahîdan ‘alâ hâ’ulâ’, wa nazzalnâ ‘alaikal-kitâba tibyânal likulli syai’iw wa hudaw wa raḫmataw wa busyrâ lil-muslimîn “(Ingatlah) hari (ketika) Kami menghadirkan seorang saksi (rasul) kepada setiap umat dari (kalangan) mereka sendiri dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.” (QS. An-Nahl [16]: 89)