Skip to main content

Dunia modern ditengarai oleh paradoks yang mencolok. Di satu sisi, kerja menjadi pusat kehidupan manusia: waktu diatur oleh jam kantor, identitas dilekatkan pada profesi, dan harga diri sering ditentukan oleh produktivitas. Namun, di sisi lain, kerja justru menjadi sumber kegelisahan eksistensial. Burnout, alienasi, dan krisis makna meluas, bahkan di tengah kemajuan teknologi dan kemakmuran material. Manusia bekerja lebih cepat, lebih lama, dan lebih efisien, tetapi sering kali tidak tahu untuk apa ia bekerja. Dalam situasi ini, mistik—yang kerap dianggap kuno atau eskapis—justru menawarkan perspektif yang sangat relevan. Tradisi mistik Hindu dan Irfan Syi’ah memandang kerja bukan sekadar alat produksi atau sarana akumulasi, melainkan jalan spiritual: ruang latihan batin, penyucian diri, dan pembentukan makna hidup. Dengan cara ini, kerja tidak dihapus, tetapi ditransformasikan.

Dalam Bhagavadgita, kerja tidak pernah dipahami sebagai sekadar kewajiban sosial atau ekonomi. Ia adalah bagian dari struktur kosmis (dharma). Ketika Arjuna ingin menarik diri dari tugasnya, Kresna tidak menawarkan pelarian spiritual, melainkan reinterpretasi kerja itu sendiri. Inilah inti karma yoga. Prinsip paling terkenal dari karma yoga menyatakan bahwa manusia berhak atas kerja, tetapi tidak atas buahnya. Dalam konteks modern, ajaran ini terdengar subversif. Dunia kerja kontemporer justru memuja hasil: target, bonus, capaian, dan angka. Nilai manusia direduksi menjadi output yang terukur. Mistik Hindu melihat keterikatan pada hasil sebagai sumber penderitaan. Bukan kerja yang menindas manusia, melainkan ego yang melekat pada hasil kerja. Ketika identitas seseorang sepenuhnya ditentukan oleh keberhasilan profesional, kegagalan sekecil apa pun dapat menghancurkan harga diri. Karma yoga menawarkan pembebasan dari jebakan ini dengan menggeser pusat makna dari hasil ke kesadaran. Kerja, dalam perspektif ini, menjadi praktik spiritual aktif. Ia dilakukan dengan disiplin, tanggung jawab, dan kesungguhan, tetapi tanpa ketergantungan emosional pada hasil. Dengan demikian, karma yoga bukan ajaran kemalasan, melainkan kritik mendalam terhadap produktivisme yang menguras jiwa. Ia mengajarkan bahwa pembebasan (moksa) dapat dicapai di tengah dunia kerja, bukan dengan melarikan diri darinya.

Tradisi mistik Syi’ah (irfan) memandang kerja melalui lensa wilayah—hubungan spiritual dan etis dengan Ahlulbait—yang menautkan tindakan manusia dengan nilai keadilan, kebenaran, dan kesetiaan moral. Dalam dunia modern yang sering memisahkan etika dari efisiensi, perspektif ini menjadi sangat relevan. Imam Ali bin Abi Thalib, figur sentral dalam spiritualitas Syi’ah, adalah simbol integrasi antara kerja keras dan kebebasan batin. Ia bekerja secara fisik, mengelola tanah, serta menggali sumur, namun tidak pernah membiarkan dunia menguasai hatinya. Dalam Nahj al-Balaghah, Imam Ali berkali-kali mengingatkan bahwa dunia adalah sarana, bukan tujuan. Pernyataan ini bukan ajakan untuk antikerja, tetapi kritik terhadap penjajahan batin oleh dunia. Dalam konteks modern, penjajahan ini tampak ketika kerja menghilangkan dimensi etis: korupsi dibenarkan demi target, eksploitasi dianggap efisiensi, dan ketidakadilan disamarkan sebagai kompetisi. Mistik Syi’ah menolak pemisahan antara kerja dan moralitas. Kerja hanya bernilai spiritual jika ia selaras dengan ‘adl (keadilan) dan haqq (kebenaran). Amal yang merugikan manusia lain, betapapun menguntungkan secara ekonomi, kehilangan nilai ruhaniahnya.

Doa-doa dalam Sahifah Sajjadiyyah karya Imam Ali Zainal Abidin memperlihatkan dimensi batin kerja. Di sana, usaha manusia selalu disertai pengakuan akan keterbatasan dan ketergantungan pada Tuhan. Dalam dunia modern yang mengagungkan self-made man, tradisi ini mengingatkan bahwa kerja tanpa kerendahan hati mudah berubah menjadi kesombongan struktural. Kesadaran akan Tuhan (takwa) menjaga kerja agar tidak menjelma menjadi pemujaan terhadap diri sendiri. Dalam kerangka irfan Syi’ah, khususnya melalui pemikiran Mulla Sadra, kerja dipahami sebagai bagian dari transformasi eksistensial manusia. Setiap tindakan membentuk wujud batin. Kerja bukan aktivitas netral; ia mengangkat atau merendahkan eksistensi pelakunya. Dengan demikian, pilihan etis dalam kerja—jujur atau curang, adil atau eksploitatif—bukan sekadar soal moral sosial, melainkan soal arah keberadaan manusia itu sendiri.

Baik mistik Hindu maupun irfan Syi’ah bertemu pada satu kritik fundamental terhadap dunia modern: kerja kehilangan makna karena diputus dari dimensi transenden dan etis. Manusia modern bekerja keras, tetapi sering merasa kosong karena kerja direduksi menjadi alat akumulasi, bukan sarana aktualisasi spiritual. Karma yoga mengkritik keterikatan pada hasil; mistik Syi’ah mengkritik keterikatan pada dunia dan kekuasaan. Keduanya menempatkan ego sebagai masalah utama. Ego modern tidak selalu bersifat individual; ia sering bersifat sistemik—tertanam dalam struktur ekonomi, budaya korporasi, dan ideologi kesuksesan. Dengan mengembalikan kerja pada kerangka spiritual, mistik tidak menolak profesionalisme atau kemajuan. Sebaliknya, ia menuntut tanggung jawab yang lebih dalam: bekerja dengan kompeten, tetapi juga dengan kesadaran, keadilan, dan keikhlasan. Kerja menjadi sarana pembebasan, bukan perbudakan.

Dalam tradisi Syi’ah, peristiwa Karbala menjadi simbol bahwa nilai tindakan tidak diukur dari keberhasilan duniawi. Prinsip ini dapat dibaca ulang dalam konteks kerja modern sebagai perlawanan spiritual terhadap sistem yang menormalisasi ketidakadilan. Bekerja secara jujur di tengah budaya manipulatif, menolak eksploitasi meski merugikan karier, atau menjaga martabat manusia dalam sistem yang dehumanistik—semua ini adalah bentuk kerja bermakna dalam perspektif mistik. Demikian pula dalam mistik Hindu, bekerja tanpa keterikatan adalah bentuk resistensi terhadap budaya yang memaksa manusia terus mengejar lebih. Ia membebaskan manusia dari kecanduan pencapaian dan membuka ruang bagi kedamaian batin.

Mistik Hindu dan irfan Syi’ah mengajarkan bahwa kerja bukan sekadar soal bertahan hidup, tetapi cara manusia hadir di dunia. Kerja adalah cermin batin: di sanalah ego diuji, nilai dipertaruhkan, dan makna dibentuk. Dunia modern tidak kekurangan kerja, tetapi kekurangan makna. Mistik tidak menawarkan solusi teknis, melainkan transformasi kesadaran. Dalam Hindu, kerja menjadi yoga—jalan penyatuan yang membebaskan dari keterikatan. Dalam Islam Syi’ah, kerja menjadi amal dan kesetiaan—jalan penyucian diri dan keadilan. Di tengah dunia yang mengukur manusia dari hasil, mistik mengingatkan bahwa yang paling menentukan bukanlah apa yang kita capai, melainkan siapa kita saat bekerja.

Referensi:

Al-Sahifah al-Sajjadiyyah – Imam Ali Zainal Abidin
Bhagavadgita
Divine Justice – Murtadha Muthahhari
History of Islamic Philosophy – Henry Corbin
Islamic Spirituality: Foundations – Seyyed Hossein Nasr
Nahj al-Balaghah – Imam Ali bin Abi Thalib
The Bhagavadgita – S. Radhakrishnan
The Burnout Society – Byung-Chul Han
The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism – Max Weber
The Transcendent Philosophy of the Four Journeys – Mulla Sadra