Dalam peringatan 47 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran yang digelar di ICC Jakarta, Dian Wirengjurit, yang pernah mengemban tugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Islam Iran periode 2012-2016, menyampaikan refleksi mendalam mengenai fenomena revolusi tersebut. Beliau membagi pandangannya ke dalam dua sudut pandang utama, yakni refleksi bagi bangsa Indonesia serta konteks geopolitik dunia saat ini. Sebagai seorang diplomat yang melihat langsung kenyataan di lapangan, beliau menegaskan bahwa kajiannya bersifat objektif dan berusaha mendobrak bias media massa internasional yang sering kali tidak memahami realitas sebenarnya di Iran. Beliau mencatat telah berbicara di lebih dari 70 forum sejak gejolak Juni lalu, di mana publik selalu menantikan pandangan berbasis pengalaman langsungnya daripada sekadar analisis jarak jauh.
Dian Wirengjurit membandingkan Revolusi Iran dengan tiga revolusi besar dunia lainnya: Revolusi Prancis yang mengubah monarki menjadi republik demokrasi, Revolusi Soviet yang menuju negara komunis, dan Revolusi Amerika Serikat yang mengklaim diri demokratis. Namun, menurutnya Revolusi Iran memiliki keunikan tersendiri karena tidak hanya meruntuhkan monarki yang telah berusia ribuan tahun, tetapi juga mendirikan sistem Islam yang belum ada padanannya di dunia modern. Keberhasilan ini ditopang oleh tiga elemen utama yang tidak terpisahkan, yakni iman, kepemimpinan, dan rakyat. Beliau memberikan catatan kritis bagi Indonesia, di mana persatuan atas dasar keimanan belum sepenuhnya terwujud meski mayoritas penduduknya beragama Islam, padahal idealnya Islam bisa menjadi motor penggerak negara untuk maju seperti negara-negara besar lainnya.
Salah satu poin paling menyentuh dalam pidato Dian Wirengjurit adalah mengenai kualitas kepemimpinan. Beliau mengontraskan para pemimpin dunia yang setelah berhasil menumbangkan rezim lama justru memilih tinggal di istana mewah, sementara Ayatullah Khomeini tetap tinggal di sebuah rumah kecil pinjaman temannya hingga akhir hayat. Beliau mengaku selalu terharu setiap kali mengunjungi rumah tersebut, mengingat seorang pemimpin besar bisa saja memilih hidup mewah di hari tuanya setelah masa penderitaan yang panjang. Prinsip kesederhanaan ini juga tercermin pada protokoler presiden Iran saat ini yang iring-iringannya sangat sederhana dan menggunakan kendaraan apa adanya buatan dalam negeri. Hal ini sangat kontras dengan realitas di Indonesia, di mana para pejabat hingga tokoh agama sering kali menunjukkan gaya hidup mewah dengan mobil mahal dan pengawalan yang berlebihan.
Ketangguhan Iran dalam menghadapi embargo brutal dari negara-negara Barat juga menjadi sorotan utama. Dian Wirengjurit menjelaskan bahwa secara teori ekonomi, seluruh industri di Iran seharusnya kolaps, namun kenyataannya negara tersebut sama sekali tidak hancur. Negara mampu memenuhi lima kebutuhan dasar rakyatnya secara penuh, mulai dari bahan bakar minyak, pangan, kesehatan, hingga pendidikan. Bahkan, di tengah tekanan sanksi, Iran berhasil membangun industri otomotif dalam negeri yang kuat dan menjadi eksportir terbesar di kawasannya. Beliau membandingkan hal ini dengan Indonesia yang sejak masuknya investor besar pada tahun 1974 berencana membangun industri otomotif nasional, namun setelah 50 tahun tetap tidak mampu mewujudkannya, sementara Iran yang terus dicoba dengan embargo justru sukses mengekspor produknya.
Mengenai dinamika rakyat Iran, beliau memberikan analisis mengenai demonstrasi yang dilakukan generasi muda. Menurutnya, anak muda yang turun ke jalan tersebut adalah mereka yang tidak merasakan kepahitan di masa rezim monarki dan saat ini mengalami periode sanksi ekonomi yang diperberat atas tuduhan senjata nuklir. Terkait masalah inflasi, beliau meyakini Iran tidak akan kolaps karena memiliki sumber daya alam yang melimpah, belajar dari stabilitas negara-negara seperti Zimbabwe atau pecahan Yugoslavia yang pernah mengalami inflasi lebih parah. Selain itu, beliau menyoroti masalah korupsi yang menurutnya di Iran tidak seburuk kondisi di Indonesia saat ini. Penegakan hukum di sana dinilai sangat tegas dan pro-rakyat, di mana pemerkosa bisa dijatuhi hukuman mati dengan proses yang cepat. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya saat menangani kasus pemerkosaan warga negara Indonesia di sana, di mana pengadilan sangat menghargai permintaan korban terkait vonis bagi pelaku.
Di akhir pidatonya, Dian Wirengjurit menyentuh ranah geopolitik dengan menyatakan bahwa Iran telah berhasil membuka mata dunia melalui konsistensinya menolong Gaza dan memerangi Israel. Sebagai seorang diplomat, beliau tetap percaya bahwa dialog adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan internasional. Namun, dalam konteks saat ini, beliau memandang ketegasan Iran sangat diperlukan karena Amerika Serikat saat ini dipimpin oleh figur yang beliau sebut sebagai orang yang tidak waras. Ketegasan Iran inilah yang menurutnya berhasil mengurungkan niat Amerika Serikat dan Israel untuk memulai serangan, sehingga celah bagi perundingan tetap terbuka. Beliau pun menutup dengan pesan bahwa meskipun ada upaya penolakan terhadap pandangannya karena dianggap beraliran sama dengan mayoritas di Iran, menjadi duta besar di negara seunik itu bukanlah hal yang mudah namun memberikan pelajaran berharga tentang kedaulatan bangsa.



