Skip to main content

Dalam Malam Doa dan Penghormatan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang diselenggarakan di ICC Jakarta pada Kamis, 9 Juli 2026, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan sejumlah nasihat mengenai amalan yang dianjurkan dalam syariat ahlul bait as bagi orang yang baru dimakamkan. Beliau juga menjelaskan makna penghormatan kepada orang-orang saleh sebagai bagian dari pengagungan syiar Allah swt serta mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kehidupan dan wafatnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Pada awal ceramahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam syariat ahlul bait as terdapat anjuran menunaikan salat dua rakaat pada malam pertama setelah seorang mukmin dimakamkan. Salat tersebut dikenal sebagai salat Lailatul Dafn, salat Wahsyah, atau salat Hadiah. Beliau menerangkan bahwa salat itu terdiri atas dua rakaat. Pada rakaat pertama, setelah membaca Surah Al-Fatihah, dianjurkan membaca Ayat Kursi. Adapun pada rakaat kedua, setelah Surah Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Qadr sebanyak sepuluh kali.

Beliau menjelaskan bahwa salat tersebut sebaiknya dikerjakan secara terpisah untuk setiap orang yang hendak dihadiahkan pahalanya. Namun, apabila tidak memungkinkan, satu salat juga dapat diniatkan sekaligus untuk beberapa orang yang dimakamkan pada malam yang sama.

Secara khusus, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak seluruh jamaah agar pada malam itu, sebelum tidur, menunaikan salat Wahsyah dan menghadiahkan pahalanya kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang baru memasuki malam pertama pemakamannya. Beliau juga mengusulkan agar amalan tersebut menjadi kebiasaan setiap malam setelah salat Magrib dan Isya dengan menghadiahkan pahala salat Wahsyah kepada seluruh mukmin dan mukminat yang wafat pada hari itu.

Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung prosesi pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang disaksikan masyarakat melalui berbagai media elektronik. Menurut beliau, jutaan manusia yang mengiringi pelepasan jenazah merupakan taufik yang sangat besar dari Allah swt. Beliau menjelaskan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei gugur syahid pada bulan Ramadan akibat kejahatan orang-orang yang sangat zalim. Setelah itu, jenazah beliau dibawa melewati makam tujuh Imam dan akhirnya dimakamkan di samping Imam Ridha as di Masyhad. Menurut beliau, penghormatan yang demikian besar bukanlah suatu kebetulan, melainkan anugerah Allah swt yang diberikan kepada hamba-Nya yang memang layak menerima kemuliaan tersebut.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip firman Allah swt dalam Surah Al-Hajj yang menerangkan pentingnya mengagungkan syiar-syiar Allah.

Wa man yu‘aẓẓim sya‘ā’irallāhi fa innahā min taqwāl-qulūb.

“Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj [22]: 32)

Beliau menjelaskan bahwa pengagungan syiar Allah swt tidak terbatas pada salat atau ibadah ritual lainnya. Salah satu wujud nyata pengagungan syiar Allah ialah memberikan penghormatan kepada hamba-hamba Allah swt yang sepanjang hidupnya telah menunaikan kewajibannya sebagai mukmin yang bertakwa, mengabdikan seluruh kehidupannya untuk berjihad di jalan Allah swt, serta memperjuangkan kemuliaan dan izah kaum muslimin.

Menurut beliau, kehadiran para jamaah dalam majelis malam itu juga merupakan bagian dari ta’zhim sya’airillah. Meskipun tidak dapat hadir secara langsung mengiringi prosesi pemakaman di Iran, berkumpul untuk mendoakan dan memberikan penghormatan kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap syiar-syiar Allah swt.

Beliau kemudian mengingatkan sebuah hadis yang menerangkan bahwa siapa saja yang mengikuti iring-iringan jenazah seorang mukmin, Allah swt akan mengampuni dosa-dosanya. Dari hadis tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah merenungkan besarnya jumlah manusia yang mengiringi pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di berbagai kota, mulai dari Teheran, Qom, Najaf, Karbala, hingga Masyhad. Menurut beliau, jutaan manusia datang dengan penuh kerelaan, kesedihan, tangisan, dan air mata untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengajukan pertanyaan kepada jamaah mengenai apa yang menyebabkan begitu banyak orang memadati jalan-jalan demi mengiringi kepergian Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau menjelaskan bahwa jawabannya dapat ditemukan dalam hadis Rasulullah saw yang menerangkan bahwa apabila seorang mukmin diperlakukan secara tidak adil, diremehkan, tidak diketahui kedudukan dan kualitasnya, menjadi sasaran gunjingan, ejekan, maupun penghinaan, maka Allah swt akan menggantinya pada akhir kehidupannya dengan rahmat yang sangat luas. Allah swt akan menumbuhkan rasa cinta di hati manusia sehingga mereka menangisi dan mengantarkan kepergiannya dengan penuh penghormatan.

Beliau menjelaskan bahwa selama puluhan tahun kehidupan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, berbagai tuduhan dan perkataan yang tidak pantas diarahkan kepada beliau maupun keluarganya. Meskipun menjadi pemimpin sebuah negara besar, beliau tidak pernah mengizinkan anak-anaknya tampil memanfaatkan kedudukan ayahnya, tidak membiarkan mereka terlibat dalam transaksi bisnis yang memanfaatkan kekuasaan, dan tidak menjadikan mereka mengumpulkan kekayaan melalui jabatan tersebut. Namun, masih ada orang-orang yang tetap melontarkan berbagai tuduhan yang tidak benar. Baru pada akhir hayat beliau masyarakat mengetahui bahwa beliau tidak meninggalkan kekayaan sebagaimana yang selama ini dituduhkan dan tidak menjadikan anak-anaknya sebagai pewaris kekuasaan.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, seluruh perlakuan zalim yang diterima Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sepanjang hidupnya kemudian ditebus oleh Allah swt pada akhir hayat beliau melalui besarnya cinta, tangisan, dan penghormatan yang diberikan oleh jutaan manusia. Beliau menegaskan bahwa sunnatullah tersebut juga terjadi pada Rasulullah saw, para Imam ahlul bait as, dan orang-orang beriman lainnya. Ketika semasa hidup mereka tidak dikenali secara layak, bahkan menjadi sasaran cibiran dan penghinaan, Allah swt akan menebus kezaliman itu pada akhir kehidupan mereka dengan menghadirkan rasa cinta, kesedihan, dan tangisan manusia yang mengantarkan kepergian mereka.