Khutbah Jumat ICC Jakarta pada Jumat, 2 Oktober 2026, mengangkat pembahasan tentang dosa dan bagaimana seorang manusia dapat menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Dalam khutbah tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan rangkaian pembahasan mengenai dosa yang telah disampaikan selama beberapa bulan terakhir, mulai dari faktor-faktor penyebabnya, berbagai dimensinya, hingga dampak yang ditimbulkan dalam kehidupan manusia.
Setelah berbagai persoalan tersebut dibahas, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa masih terdapat satu pertanyaan besar yang perlu dijawab, yaitu apa yang harus dilakukan manusia agar tidak melakukan dosa. Beliau menjelaskan bahwa para ulama telah memberikan banyak petunjuk mengenai jalan yang dapat ditempuh untuk menghindari kemaksiatan. Bahkan, terdapat kemungkinan lebih dari sepuluh cara yang dapat dilakukan. Dari berbagai jalan tersebut, beliau menguraikan tiga hal penting yang dapat membantu manusia menjaga dirinya dari perbuatan dosa.
Hal pertama yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani adalah pentingnya menyadari bahwa Allah swt senantiasa hadir dan menyaksikan seluruh perbuatan manusia. Kesadaran ini perlu ditanamkan dalam diri setiap orang agar dalam keadaan apa pun manusia selalu merasa berada di hadapan Allah swt.
Beliau mengutip perkataan Imam Khomeini yang menyatakan bahwa seluruh alam berada di hadapan Allah swt. Karena segala sesuatu berada di hadapan-Nya, tidak sepantasnya manusia melakukan perbuatan dosa dalam keadaan mengetahui bahwa Allah senantiasa menyaksikannya. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kesadaran mengenai kehadiran Allah merupakan salah satu hal yang dapat mencegah seseorang melakukan kemaksiatan.
Untuk menjelaskan persoalan tersebut, beliau mengingatkan bahwa banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah swt mengetahui dan menyaksikan segala sesuatu. Di antaranya adalah firman Allah:
Innallāha ‘alā kulli syai’in syahīd.
“Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hajj [22]: 17)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlepas dari kesaksian Allah swt. Begitu pula dalam ayat lainnya, Allah menegaskan bahwa pengetahuan dan kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu.
Alā innahū bikulli syai’in muḥīṭ.
“Ingatlah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS. Fussilat [41]: 54)
Syaikh Mohammad Sharifani juga membacakan ayat yang mengingatkan manusia bahwa kesaksian Allah swt sudah cukup atas segala sesuatu yang terjadi.
Awa lam yakfi birabbika annahū ‘alā kulli syai’in syahīd.
“Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat [41]: 53)
Dalam ayat lainnya, Allah swt berfirman:
Alam ya‘lam bi-annallāha yarā.
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-‘Alaq [96]: 14)
Beliau kemudian mengingatkan firman Allah yang menegaskan bahwa seluruh perbuatan manusia senantiasa berada dalam pengawasan-Nya.
Inna rabbaka labil-mirṣād.
“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr [89]: 14)
Bahkan, pengawasan Allah swt tidak hanya mencakup perbuatan yang tampak secara lahiriah, tetapi juga sesuatu yang tersembunyi dalam diri manusia. Allah mengetahui pengkhianatan yang dilakukan melalui lirikan mata dan mengetahui segala sesuatu yang disembunyikan dalam hati. Sebagaimana firman-Nya:
Ya‘lamu khā’inatal-a‘yuni wa mā tukhfiṣ-ṣudūr.
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” (QS. Ghafir [40]: 19)
Melalui ayat-ayat tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa apa pun yang dilakukan manusia tidak pernah terlepas dari pandangan Allah swt. Tidak ada tempat yang dapat menyembunyikan manusia dari pengawasan-Nya. Bahkan, sesuatu yang hanya terlintas dalam hati dan tidak diketahui oleh orang lain tetap berada dalam pengetahuan Allah.
Beliau kemudian mengutip sebuah riwayat dari Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as yang mengingatkan manusia agar takut melakukan kemaksiatan ketika berada dalam kesendirian. Dalam riwayat tersebut, Imam Ali as menyampaikan, Ittaqul-ma‘āṣī fil-khalawāt, yang berarti agar manusia takut melakukan maksiat di tempat-tempat yang sepi.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ketika seseorang berada sendirian, mungkin muncul perasaan bahwa tidak ada orang lain yang melihat perbuatannya. Dalam keadaan seperti itu, seseorang terkadang merasa lebih leluasa melakukan kesalahan. Padahal, justru pada saat itulah manusia harus semakin berhati-hati terhadap perbuatan dosa.
Imam Ali as melanjutkan nasihat tersebut dengan menjelaskan bahwa Zat yang menyaksikan manusia melakukan kemaksiatan dalam kesendirian adalah Zat yang kelak akan menjadi hakim atas perbuatannya. Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa apabila hakim yang akan memberikan keputusan juga merupakan saksi yang mengetahui secara langsung seluruh perbuatan seseorang, tidak ada tempat bagi orang tersebut untuk menghindar dari pertanggungjawaban.
Kesadaran seperti inilah yang menurut beliau harus benar-benar tertanam dalam diri manusia. Allah swt harus selalu hadir dalam kesadaran seseorang sebagai Zat yang menyaksikan seluruh perbuatannya, baik ketika berada di hadapan orang banyak maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Untuk memberikan gambaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung keberadaan kamera pengawas atau CCTV yang banyak dipasang di berbagai tempat. Manusia terkadang tidak berani melakukan kesalahan ketika mengetahui bahwa gerak-geriknya sedang direkam oleh kamera. Akan tetapi, beliau mengingatkan agar manusia tidak hanya takut kepada pengawasan CCTV, sementara melupakan pengawasan Allah swt.
Menurut beliau, pengawasan Allah jauh melampaui seluruh kemampuan teknologi yang dimiliki manusia. Tidak ada satu pun gerakan, tindakan, ataupun perbuatan manusia yang terlepas dari pandangan-Nya. Allah swt secara langsung mengetahui dan mengawasi seluruh aktivitas manusia tanpa ada sesuatu pun yang tersembunyi.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa pengawasan Allah juga dapat dipahami melalui kenyataan bahwa seluruh alam semesta merupakan ciptaan dan hamba Allah swt. Segala sesuatu yang berada di alam ini tunduk kepada ketentuan-Nya dan mengikuti kehendak-Nya.
Beliau mengingatkan bahwa seluruh perbuatan manusia selalu berlangsung dalam lingkup tempat dan waktu. Sementara itu, tempat dan waktu juga merupakan bagian dari ciptaan Allah yang tunduk kepada kekuasaan-Nya. Karena itu, bumi yang menjadi tempat manusia menjalani kehidupannya kelak akan memberikan kesaksian mengenai perbuatan yang dilakukan di atasnya. Demikian pula waktu yang dilalui manusia akan menjadi saksi atas segala sesuatu yang dikerjakannya.
Selain bumi dan waktu, para malaikat juga akan memberikan kesaksian mengenai amal perbuatan manusia. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, para imam maksum as juga akan menjadi saksi atas perbuatan hamba-hamba Allah. Bahkan, anggota tubuh manusia sendiri kelak akan memberikan kesaksian mengenai perbuatan yang dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh tersebut. Tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya akan memberikan laporan mengenai apa yang telah dilakukan manusia selama menjalani kehidupan dunia.
Dengan demikian, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, manusia sesungguhnya berada dalam pengawasan yang sangat luas. Bukan hanya Allah swt yang mengetahui segala sesuatu, tetapi seluruh ciptaan yang berada dalam kekuasaan-Nya juga dapat menjadi saksi atas perbuatan manusia. Karena itu, seluruh perkembangan teknologi digital yang memungkinkan manusia melakukan pengawasan tidak dapat dibandingkan dengan luasnya pengawasan Allah swt.
Untuk memperjelas persoalan tersebut, beliau menceritakan sebuah riwayat mengenai seseorang yang datang kepada Imam Husain as dan bertanya apakah dirinya boleh melakukan perbuatan dosa. Imam Husain as kemudian menjawab bahwa orang tersebut boleh melakukan dosa sepuasnya apabila mampu memenuhi lima persyaratan yang beliau sebutkan.
Persyaratan pertama adalah tidak memakan rezeki yang berasal dari Allah swt. Apabila seseorang mampu memperoleh makanan dan menjalani kehidupannya tanpa menggunakan rezeki Allah, barulah orang tersebut dapat melakukan dosa sesukanya.
Persyaratan kedua adalah melakukan perbuatan dosa di tempat yang tidak dapat dilihat oleh Allah swt. Adapun persyaratan ketiga adalah melakukan dosa di tempat yang berada di luar kekuasaan dan kendali Allah. Dengan kata lain, seseorang harus mampu menemukan tempat yang tidak berada dalam wilayah kekuasaan-Nya.
Persyaratan keempat adalah kemampuan untuk melepaskan diri dari malaikat maut. Apabila malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya, orang tersebut harus mampu menghindar dan menolak kematian yang telah ditetapkan baginya.
Sementara itu, persyaratan kelima adalah kemampuan untuk melampaui kekuasaan para malaikat penjaga neraka dan surga. Apabila seseorang hendak dimasukkan ke dalam neraka, orang tersebut harus mampu keluar dari neraka atas kehendaknya sendiri. Begitu pula apabila dirinya tidak diperkenankan memasuki surga, orang tersebut harus mampu masuk tanpa mendapatkan izin dari para malaikat penjaganya.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kelima persyaratan tersebut menunjukkan bahwa manusia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah swt. Seluruh rezeki berasal dari Allah, tidak ada tempat yang tersembunyi dari pandangan-Nya, tidak ada wilayah yang berada di luar kekuasaan-Nya, dan manusia pun tidak mampu menolak kematian ataupun menentukan sendiri nasibnya di akhirat. Karena itu, beliau menegaskan bahwa apabila seseorang benar-benar menyadari bahwa Allah swt senantiasa menyaksikan seluruh perbuatannya, kesadaran tersebut akan menjadi penghalang yang kuat bagi dirinya untuk mendekati dosa.
Setelah menguraikan pentingnya menyadari pengawasan Allah swt, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mengenai cara kedua untuk menghindari dosa, yaitu mengenali hakikat diri dan memahami kedudukan manusia dalam alam penciptaan. Beliau menjelaskan bahwa manusia harus menyadari siapa dirinya, bagaimana kedudukannya, dan betapa tinggi martabat yang telah diberikan Allah swt kepadanya. Kesadaran mengenai kedudukan tersebut diperlukan agar manusia tidak menjatuhkan dirinya sendiri dari kemuliaan yang seharusnya dijaga.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, manusia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt, terlebih seorang mukmin. Hati orang-orang beriman merupakan tempat yang mendapatkan perhatian khusus dari Allah. Bahkan, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa hati seorang mukmin merupakan haram Allah, yakni tempat suci yang memiliki kehormatan dan harus dijaga.
Beliau mengingatkan bahwa apabila hati seorang mukmin merupakan tempat suci milik Allah, manusia tidak seharusnya menempatkan sesuatu selain Allah di dalamnya. Kesucian dan kehormatan hati harus dijaga agar tidak ternodai oleh sesuatu yang dapat menjauhkan manusia dari Allah swt.
Untuk menjelaskan makna kehormatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan contoh mengenai Kota Makkah, Masjidilharam, dan Ka’bah. Tempat-tempat tersebut memiliki kedudukan yang suci dan terhormat sehingga manusia diperintahkan untuk menjaga kehormatannya. Istilah haram dalam penjelasan beliau berkaitan dengan sesuatu yang mempunyai kehormatan dan kesucian yang tidak boleh dilanggar.
Dalam sebuah riwayat yang beliau sampaikan, hati seorang insan mukmin bahkan digambarkan sebagai Ka’bah yang hakiki. Melalui penjelasan ini, beliau mengingatkan bahwa manusia mukmin memiliki kehormatan yang sangat tinggi. Karena itu, menjaga hati dari segala sesuatu yang dapat menodainya merupakan bagian penting dari usaha menjaga kedudukan manusia di hadapan Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa manusia datang ke dunia untuk menjalankan suatu perniagaan. Namun, perniagaan yang dimaksud bukanlah semata-mata perdagangan materi atau usaha memperoleh keuntungan duniawi. Perniagaan yang sesungguhnya adalah bagaimana manusia memanfaatkan kesempatan hidupnya untuk memperoleh rida Allah swt dan mendatangkan perhatian-Nya kepada dirinya. Dalam kaitan ini, beliau mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan, Al-‘ārifu man ‘arafa nafsahū, yang menjelaskan bahwa orang yang memiliki makrifat adalah orang yang mengenal dirinya sendiri.
Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa pengenalan terhadap diri tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa manusia itu dan bagaimana kedudukannya. Setelah seseorang mengenali dirinya, langkah berikutnya adalah berusaha membebaskan dan menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang dapat menjauhkannya dari Allah swt.
Beliau menegaskan bahwa seseorang yang menyadari kemuliaan kedudukannya di sisi Allah seharusnya tidak ingin mengotori dirinya dengan perbuatan dosa. Manusia telah diberikan kedudukan yang tinggi, sehingga tidak sepantasnya manusia sendiri menjatuhkan dan merendahkan kedudukan tersebut melalui kemaksiatan.
Untuk menggambarkan keadaan manusia yang tidak menyadari nilai dirinya, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah riwayat dari Imam Maksum as yang mengungkapkan keheranan terhadap perilaku manusia. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa seseorang akan bersungguh-sungguh mencari barang miliknya apabila barang tersebut hilang. Akan tetapi, ketika manusia kehilangan dirinya sendiri, sering kali manusia justru tidak berusaha mencarinya kembali.
Beliau menjelaskan bahwa kehilangan diri dalam riwayat tersebut bukan berarti manusia kehilangan keberadaan fisiknya, melainkan kehilangan kedudukan dan kehormatan yang semestinya dimiliki. Ketika manusia melakukan perbuatan yang merendahkan martabatnya, dirinya telah jatuh dari keadaan yang seharusnya.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, manusia sering memberikan perhatian yang sangat besar terhadap barang-barang miliknya yang hilang, tetapi tidak memberikan perhatian yang sama ketika kehilangan kemuliaan dirinya akibat perbuatan dosa. Padahal, kehilangan kedudukan diri merupakan persoalan yang jauh lebih penting untuk diperhatikan. Karena itu, mengenali diri dan menjaga kehormatannya menjadi salah satu jalan yang dapat mencegah manusia melakukan kemaksiatan.
Memasuki pembahasan berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan cara ketiga untuk menghindari dosa, yaitu senantiasa mengingat alam akhirat dan berbagai keadaan yang akan dihadapi manusia setelah kehidupan dunia berakhir.
Beliau mengingatkan bahwa sebelum datang ke dunia, manusia telah melewati berbagai alam kehidupan. Manusia pernah berada di alam zar, kemudian melalui proses keberadaan dalam sulbi para leluhurnya, hingga berada dalam sulbi ayah dan selanjutnya berpindah ke rahim ibu sebelum akhirnya dilahirkan ke dunia.
Menurut beliau, seluruh perpindahan dari satu alam ke alam lainnya tersebut tidak berlangsung berdasarkan pilihan manusia sendiri. Manusia tidak menentukan kapan dirinya akan berpindah dari satu alam ke alam berikutnya. Semua proses itu berlangsung berdasarkan ketentuan Allah swt.
Demikian pula setelah kehidupan dunia berakhir, manusia akan meninggalkan alam ini untuk memasuki alam barzakh. Setelah itu, manusia akan menuju alam akhirat. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa keadaan di alam barzakh dan akhirat merupakan persoalan yang sangat besar dan berat sehingga harus mendapatkan perhatian sungguh-sungguh dari manusia.
Beliau mengingatkan bahwa banyak ayat Al-Qur’an dan riwayat yang menjelaskan berbagai kesulitan setelah kematian. Karena itu, manusia dianjurkan untuk senantiasa memohon pertolongan Allah swt agar diberikan kemudahan ketika menghadapi saat-saat tersebut.
Salah satu doa yang sering dipanjatkan adalah Allāhumma hawwin ‘alainā sakarātil-maut, yaitu permohonan kepada Allah agar memudahkan manusia ketika menghadapi sakaratul maut.
Syaikh Mohammad Sharifani juga mengutip hadis Rasulullah saw yang mengingatkan manusia agar senantiasa mengingat kematian sebagai sesuatu yang akan menghancurkan seluruh kelezatan dan kenikmatan dunia. Melalui sabda Udzkurū hādzimal-ladzdzāt, Rasulullah saw mengingatkan umatnya untuk selalu mengingat kematian.
Beliau menjelaskan bahwa seluruh kenikmatan yang dinikmati manusia selama hidup di dunia pada akhirnya akan berakhir. Karena itu, mengingat kematian merupakan salah satu cara agar manusia tidak terlalu larut dalam kesenangan dunia hingga melupakan kehidupan yang akan dihadapinya setelah meninggal.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menggambarkan keadaan manusia pada hari kiamat. Beliau menjelaskan bahwa pada hari tersebut terdapat dua pemandangan yang sangat berbeda. Di satu sisi terdapat keadaan yang begitu menakutkan bagi orang-orang yang melakukan dosa, sedangkan di sisi lainnya terdapat keadaan penuh kenikmatan bagi orang-orang beriman.
Mengenai keadaan yang menakutkan tersebut, beliau mengutip firman Allah swt:
Wa lahum maqāmi‘u min ḥadīd.
“Dan (azab) untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (QS. Al-Hajj [22]: 21)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa azab yang disediakan bagi para penghuni neraka merupakan keadaan yang sangat berat dan menakutkan. Kesulitan yang dihadapi manusia pada hari kiamat sedemikian besar sehingga seseorang akan sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Bahkan, orang-orang yang ketika hidup di dunia memiliki hubungan sangat dekat dapat saling menjauh ketika menghadapi keadaan tersebut. Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
Yauma yafirrul-mar’u min akhīh. Wa ummihī wa abīh. Wa ṣāḥibatihī wa banīh.
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa [80]: 34–36)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menggambarkan betapa berat keadaan yang dihadapi manusia pada hari kiamat. Seseorang yang selama hidup di dunia begitu dekat dengan orang tua, saudara, pasangan, dan anak-anaknya akan menghadapi keadaan yang membuatnya lebih sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Beliau juga mengingatkan bahwa manusia akan dibangkitkan untuk menghadapi suatu hari yang sangat besar, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
Mab‘ūtsūna liyaumin ‘aẓīm.
“Dibangkitkan pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin [83]: 4–5)
Namun, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa selain gambaran mengenai penderitaan tersebut, terdapat pula keadaan yang sangat berbeda bagi orang-orang beriman. Pada hari itu akan ada wajah-wajah yang berseri-seri dan mendapatkan kenikmatan. Mereka adalah orang-orang yang ketika menjalani kehidupan dunia senantiasa berada dalam naungan Allah swt.
Beliau menjelaskan bahwa orang-orang tersebut akan memperoleh kenikmatan surga, tempat Allah menyediakan segala sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Sebagaimana firman Allah swt:
Wa fīhā mā tasytahīhil-anfus.
“Dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 71)
Melalui gambaran tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa Allah swt memperlihatkan dua keadaan yang saling berlawanan, yaitu penderitaan yang akan dihadapi orang-orang yang melakukan dosa dan kenikmatan yang disediakan bagi orang-orang beriman.
Menurut beliau, apabila seseorang selalu memikirkan keadaan hari kiamat dan membayangkan akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang melakukan dosa, kesadaran tersebut dapat menjadi pengendali dalam kehidupannya. Dengan mengingat akibat perbuatannya di akhirat, seseorang akan lebih berhati-hati sebelum melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan Allah swt.
Untuk memberikan contoh mengenai kuatnya kesadaran terhadap azab akhirat, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan kisah Amirul Mukminin Imam Ali as bersama saudara beliau, Aqil bin Abi Thalib. Dalam kisah tersebut, Aqil pernah datang kepada Imam Ali as untuk meminta tambahan jatah harta dari baitulmal. Pada saat itu, Imam Ali as sedang menjabat sebagai khalifah dan memiliki tanggung jawab atas pengelolaan harta tersebut.
Ketika mendengar permintaan saudaranya, Imam Ali as mengambil sepotong besi yang telah dipanaskan, kemudian mendekatkannya kepada Aqil. Karena merasakan panas besi tersebut, Aqil terkejut dan mempertanyakan tindakan Imam Ali as. Beliau merasa heran karena kedatangannya untuk meminta tambahan harta justru disambut dengan besi panas.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa melalui tindakan tersebut, Imam Ali as ingin memberikan pelajaran kepada saudaranya mengenai akibat mengambil sesuatu yang bukan merupakan haknya. Panas besi yang dirasakan Aqil hanyalah panas yang sangat kecil dibandingkan dengan panas api neraka yang akan dihadapi manusia akibat perbuatan dosa.
Imam Ali as mengingatkan bahwa orang yang memiliki sifat rakus dan menginginkan sesuatu yang bukan menjadi haknya harus memikirkan akibat yang akan dihadapi di akhirat. Panas api neraka jauh melampaui panas besi yang berada di hadapan Aqil. Bahkan, air yang disediakan dalam gambaran azab neraka merupakan air yang mendidih dan sangat panas.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kisah tersebut memperlihatkan bagaimana Imam Ali as mengingatkan saudaranya agar tidak hanya memikirkan kepentingan duniawi, tetapi juga mempertimbangkan akibat yang akan dihadapi di hadapan Allah swt. Walaupun permintaan tersebut datang dari saudara beliau sendiri, Imam Ali as tetap memberikan peringatan mengenai beratnya pertanggungjawaban atas harta yang bukan menjadi hak seseorang.
Beliau menegaskan bahwa apabila manusia selalu mengingat keadaan hari kiamat dan memikirkan balasan yang akan diterima atas perbuatan dosa, dirinya akan lebih mampu mengendalikan tindakan selama menjalani kehidupan dunia. Kesadaran terhadap akhirat akan membuat seseorang tidak mudah tergoda untuk melakukan kemaksiatan.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menceritakan kisah lain yang berkaitan dengan kesadaran terhadap azab akhirat, yaitu kisah Salman al-Farisi ketika melewati sebuah pasar tempat para pandai besi menjalankan pekerjaan mereka. Dalam kisah tersebut, Salman melihat seorang pemuda yang sedang dalam keadaan pingsan. Orang-orang di sekitarnya berusaha memberikan pertolongan hingga akhirnya pemuda itu kembali sadar. Setelah melihat keadaannya membaik, Salman mendekati pemuda tersebut dan bertanya mengenai penyebab dirinya sampai kehilangan kesadaran.
Pemuda itu menjelaskan bahwa sebelumnya dirinya sedang membantu tuannya memanaskan besi untuk ditempa menjadi berbagai barang. Ketika melihat dan merasakan panasnya besi yang sedang dipanaskan, dirinya teringat kepada ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai azab berupa cambuk-cambuk dari besi yang disediakan bagi para penghuni neraka. Pada saat itulah pemuda tersebut memikirkan betapa dahsyatnya panas api neraka yang tentu jauh melampaui panas besi di tempat dirinya bekerja. Ketakutan yang muncul ketika membayangkan azab tersebut begitu besar hingga akhirnya beliau jatuh pingsan.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kisah tersebut memperlihatkan bagaimana seorang mukmin dapat mengingat kehidupan akhirat melalui sesuatu yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Panas besi yang dirasakan pemuda tersebut mengingatkannya kepada panas api neraka sehingga dirinya diliputi rasa takut terhadap azab Allah swt. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Salman al-Farisi mendengar kabar bahwa pemuda tersebut sedang menghadapi saat-saat terakhir kehidupannya. Salman kemudian datang untuk menjenguknya dan mendapati pemuda itu berada dalam keadaan sakaratul maut.
Dalam riwayat yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani, Salman melihat malaikat maut telah berada di hadapan pemuda tersebut dan bersiap mencabut nyawanya. Salman kemudian memohon kepada malaikat maut agar memperlakukan pemuda itu dengan baik dan lembut ketika mencabut nyawanya. Malaikat maut kemudian menjawab bahwa dirinya senantiasa memperlakukan setiap orang mukmin dengan kelembutan ketika mencabut nyawanya.
Melalui kisah tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani kembali mengingatkan bahwa manusia harus senantiasa memperhatikan perbuatan selama menjalani kehidupan dunia. Jangan sampai manusia melakukan kesalahan dan dosa tanpa memikirkan ancaman yang telah dipersiapkan Allah swt bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan.
Beliau juga mengingatkan bahwa berbagai riwayat dapat menjadi pendorong bagi manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada ahlul bait as. Kedekatan dengan ahlul bait as merupakan salah satu hal yang beliau tekankan dalam kaitannya dengan keselamatan manusia pada hari kiamat.
Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa setiap mata pada hari kiamat akan menangis, kecuali mata yang menangis karena penderitaan Imam Husain as. Beliau juga menyampaikan riwayat mengenai keutamaan mata yang menangis pada malam hari karena mengingat dan menyesali dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Dengan mengingat berbagai riwayat tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jemaah untuk senantiasa memperhatikan amal perbuatan, menyesali dosa yang telah dilakukan, dan menjaga kedekatan dengan ahlul bait as. Kesadaran bahwa Allah swt senantiasa mengawasi manusia, pengenalan terhadap kemuliaan diri, serta ingatan terhadap kematian dan kehidupan akhirat merupakan tiga jalan yang beliau jelaskan untuk membantu manusia menjauhi perbuatan dosa.
Memasuki khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan dua hal yang berkaitan dengan perkembangan di tengah masyarakat Indonesia. Hal pertama yang beliau sampaikan adalah apresiasi terhadap penyelenggaraan sebuah konferensi internasional mengenai salat yang telah berlangsung di Indonesia pada pekan sebelumnya. Beliau menjelaskan bahwa konferensi tersebut menghadirkan undangan dari berbagai negara, khususnya negara-negara Islam, untuk membahas persoalan salat dan pentingnya kedudukan salat dalam kehidupan umat.
Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan rasa syukur kepada Allah swt karena masyarakat Indonesia memiliki perhatian yang besar terhadap pelaksanaan salat. Kepedulian tersebut tidak hanya terlihat di tengah masyarakat umum, tetapi juga pada para pejabat dan penyelenggara pemerintahan yang memberikan perhatian terhadap persoalan ibadah.
Beliau membandingkan keadaan tersebut dengan masyarakat yang hidup dalam lingkungan budaya yang tidak mengenal atau tidak memberikan perhatian terhadap salat. Karena itu, menurut beliau, kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pelaksanaan ibadah salat merupakan sesuatu yang sangat layak disyukuri.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyebutkan bahwa terdapat sekitar satu juta masjid dan musala di Indonesia yang beroperasi dan menjadi tempat masyarakat menjalankan ibadah salat. Keberadaan tempat-tempat ibadah tersebut, menurut beliau, menunjukkan besarnya perhatian masyarakat Indonesia terhadap salat.
Meskipun demikian, beliau mengingatkan bahwa masih terdapat jarak yang jauh antara salat yang dijalankan manusia pada umumnya dan salat hakiki sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang suci. Akan tetapi, perhatian dan kepedulian yang telah tumbuh di tengah masyarakat terhadap salat tetap merupakan nikmat yang patut disyukuri. Atas dasar itu, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Menteri Agama, yang menurut beliau telah menjadi penggerak dalam penyelenggaraan konferensi internasional mengenai salat tersebut.
Hal kedua yang disampaikan dalam khutbah penutup adalah ungkapan terima kasih dan apresiasi beliau kepada rakyat Indonesia atas dukungan yang diberikan kepada Iran dalam peperangan ketika negara tersebut diserang oleh Amerika Serikat dan Israel. Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa berdasarkan hasil jajak pendapat yang beliau rujuk, lebih dari 80 persen masyarakat Indonesia memberikan dukungan kepada Iran dalam peperangan tersebut. Menurut beliau, besarnya dukungan itu menunjukkan bahwa semangat keadilan masih hidup di tengah masyarakat dan bangsa Indonesia.
Beliau menjelaskan bahwa dalam pandangannya, bangsa Iran berada pada posisi sebagai pihak yang mengalami kezaliman dan menjadi sasaran agresi militer. Karena itu, dukungan masyarakat Indonesia terhadap Iran dipandang beliau sebagai bentuk keberpihakan terhadap bangsa yang sedang menghadapi tindakan tersebut.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa hal yang ingin disampaikan oleh bangsa Iran dan para pemimpinnya adalah keinginan untuk tidak tunduk kepada hegemoni kekuatan asing. Menurut beliau, bangsa Iran tidak ingin menerima kezaliman dan menghendaki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan pihak-pihak luar.
Beliau menyampaikan bahwa sikap tersebut merupakan sesuatu yang mendapatkan dukungan dari masyarakat Indonesia. Karena itu, beliau kembali mengungkapkan penghargaan dan rasa terima kasih kepada bangsa Indonesia yang telah menunjukkan dukungan kepada Iran. Namun, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa selain menunjukkan dukungan melalui sikap dan pandangan, terdapat hal lain yang dapat dilakukan oleh umat Islam, yaitu memanjatkan doa kepada Allah swt.
Beliau mengajak jemaah untuk senantiasa berdoa, menyampaikan selawat, dan melakukan berbagai amalan yang dapat menjadi sarana memohon pertolongan Allah swt. Melalui doa-doa tersebut, beliau berharap agar Allah swt memberikan kemenangan akhir kepada pihak yang berada di jalan kebenaran atas pihak yang melakukan kezaliman.



